Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 149


__ADS_3

Di kantor Sardin.


”Ini kantor kakak?” tanya Syakila dengan takjub melihat bangunan tinggi berlantai enam, kantor milik Sardin.


Sardin tersenyum, ia mengacak rambut Syakila. ”Iya, sayang. Kenapa? Kamu bangga dengan kekasihmu ini, yang masih muda tapi bisa membangun sebuah kantor yang megah seperti ini?” ucapnya, membanggakan diri.


”Um....sedikit! Wah, sepertinya kakak tidak bisa banyak bersantai, bangunan tinggi enam lantai ini, ada berapa banyak karyawan di dalamnya? Tanggung jawab kakak besar sekali!” ucap Syakila lagi, ia masih melihat bangunan dengan tulisan ”Mitra Tv Ss” di depan bangunan paling atas, bangunan tersebut


”Kakak, Ss itu apa?” tanya Syakila penasaran.


”Ss? Itu merupakan huruf depan dari namamu dan namaku. S besar dari namamu dan s kecil di depannya adalah namaku.” jawab Sardin, menjelaskan.


”Benarkah?” sahut Syakila, ia masih memandang bangunan tersebut.


”Jika kita duduk saja di dalam mobil dan mengagumi bangunan di depan matamu ini, bagaimana bisa kakak mengerjakan tanggung jawab kakak sekarang? Ayo kita turun, masih ada yang ingin kakak kerjakan di dalam.”


Sardin turun dari mobil, ia membuka pintu mobil satunya, menyodorkan tangan, membantu Syakila turun dari mobil.


”Kakak terlalu berlebihan, Kila bisa turun sendiri, tidak perlu seperti ini.” omel Syakila, namun, tangannya terulur menyambut tangannya Sardin. Ia turun dari mobil.


Sardin tidak melepaskan tangan Syakila, ia tetap memegang tangan itu, membawanya masuk ke dalam kantornya.


”Siapa wanita itu, yang bersama dengan bos?”


”Wanita itu tampak cantik, apa dia kekasihnya bos?”


”Wah, wanita itu serasi sekali dengan bos, ini pertama kalinya bos mengajak wanita ke kantornya.”


”Bahagia sekali dia bisa menjadi nyonya pemilik kantor ini, aku jadi iri.”


”Iya, beda bangat dengan wanita sebelumnya, dia datang dengan sendirinya di kantor, itu pun, bos kita tidak mengheraninya.”


Syakila selalu mendengar bisikan-bisikan dari para karyawan Sardin dari semenjak mereka masuk ke dalam kantor hingga mereka masuk ke dalam lift.


”Apa benar ucapan mereka?” tanya Syakila.


Kening Sardin mengerut, ”Ucapan mereka? Siapa? Oh, kamu mendengar bisikan-bisikan mereka?”


Syakila mengangguk.


”Bagaimana menurut mu?” tanya Sardin, sambil melihat Syakila lembut.


”Em, mungkin benar! Siapa wanita yang mereka bicarakan?” tanya Syakila lagi.


Sardin mencubit hidung Syakila dengan pelan, ”Itu benar, sayang, bukan mungkin benar! Wanita itu yang pernah aku ceritakan padamu.”


Syakila mengingat wanita itu, ”Oh, dia tunangan mu yang itu. Aku sudah tahu.” ucapnya.


”Dia bukan tunangan ku, sayang! Baru calon!” elak Sardin.


Ting! Pintu lift terbuka. Sardin kembali menggenggam tangan Syakila, membawanya ke dalam ruang kerjanya. Sardin di tahan oleh sang sekretaris saat melewati ruang sekretaris.


”Pa, sebentar lagi rapat akan di mulai.”


”Hum, apa semua sudah di persiapkan?”


”Sudah, Pak. Semua rangkuman ada di map, di meja kerja bapak.”


”Baiklah, bilang pada karyawan yang bekerja di bidang ini untuk rapat, 15 menit lagi dari sekarang.” ucap Sardin.


”Baik, Pak.” sahut sang sekretaris.


Sardin kembali melangkah masuk ke dalam ruangannya, masih memegang tangan Syakila.


”Sekretaris mu cantik!” ucap Syakila.


”Kamu yang paling cantik!”


”Gombal!” Syakila mencubit pelan perut Sardin, sambil tersenyum malu.


Sardin memegang tangan Syakila, mencium tangan tersebut, ”Kakak tidak sedang menggombal, kamu memang paling cantik di hati kakak, di mata kakak. Cuma kamu!” ucapnya lembut.


Syakila tertunduk, tersipu malu.


”Kamu duduk di sini, kakak akan pergi rapat dulu. Jika ada yang kamu butuhkan, tinggal bilang saja kepada wakil sekretarisnya kakak, yang ada di luar sana. Setelah rapat selesai, kakak akan mengajak mu makan.” ucap Sardin dengan lembut.


”Iya, kakak. Pergilah rapat, Syakila akan menunggu kakak di sini.” sahut Syakila.


”Hum,”

__ADS_1


Sardin pergi meninggalkan ruang kerjanya, ia pergi ke ruang rapat. Syakila sedang melihat-lihat isi ruang kerja Sardin.


Ia duduk di bangku kebesaran Sardin, ia tersenyum dan terpana melihat foto dirinya yang terpajang di atas meja Sardin.


”Apa foto-foto ini yang membuat dia bergairah dan bersemangat dalam bekerja membangun kantornya ini?” gumamnya.


”Ini adalah foto di mana aku dan Sardin masih kecil, ini di kebun.” gumamnya lagi, sambil melihat fotonya yang di ambil diam-diam oleh Sardin, sewaktu ia dan Sardin berada di kebun.


”Ini adalah foto aku dan dia saat sama-sama menanam bunga, di depan rumah ku, di kampung. Siapa yang ambil foto ini yah? Kok aku gak tahu.” gumamnya saat melihat foto dirinya dan Sardin yang menanam bunga mawar, yang di berikan oleh Sardin.


”Dan ini adalah foto ku ketika aku latihan. Dan foto ini ketika aku dan dia makan bersama. Tapi, bagaimana dia bisa mengambil foto kami berdua, sedangkan dia tidak sedikit pun memegang hape, di saat kami bersama?” gumamnya lagi.


”Foto-foto ini, apakah sudah lama berada di sini? Dia sedang rapat, aku ingin melihatnya.”


Ia keluar dari ruangan Sardin, ia menemui wakil sekretaris nya Sardin, seperti yang Sardin ucapkan padanya.


”Permisi Mba, bisa mengantar saya di ruangan rapat?” ucapnya ramah pada wakil sekretaris tersebut.


”Oh, iya, Bu. Mari ikut saya.” jawab wakil sekretaris tersebut.


Ia berdiri, berjalan duluan di depan. Syakila menyusul di belakangnya sambil melihat-lihat isi kantor tersebut, banyak karyawan yang berhadapan dengan komputer. Ada juga yang sedang menulis, ada yang mencetak sesuatu, ada juga yang sedang beristirahat.


”Ini Mba ruangan rapatnya. Saya bantu buka kan pintunya, Mba?” tanya wanita tersebut.


”Oh, tidak usah. Nanti saya sendiri saja. Terima kasih, kamu boleh kembali ke tempat kerjamu.”


”Baik, Bu.” sahut wakil sekretaris tersebut, ia pergi meninggalkan Syakila.


Syakila melihat Sardin yang sedang duduk mendengarkan argumen-argumen dari para anggota rapat, dari dinding kaca yang setinggi lehernya.


Sardin nampak begitu gagah dengan kaca mata yang bertengger di matanya. Keseriusannya dalam bekerja, membuat kharismanya semakin terlihat, elegan, smart. Sesekali, ia melihat pria itu tersenyum, membuat wajah pria itu semakin terlihat tampan.


”Sempurna!” ucap Syakila tanpa sadar.


Beberapa jam berlalu, semua anggota rapat berdiri, mereka saling berjabat tangan dengan Sardin.


”Eh, rapatnya sudah selesai kah?” ia melihat jam di layar hapenya, pukul 12.25. ”Hah, apa aku berdiri di sini selama satu jam lebih?”


Ia meninggalkan ruangan rapat tersebut, kembali menuju ruangan Sardin. Tidak lama dari ia masuk ke dalam ruang kerja Sardin, Sardin pun masuk ke dalam ruangannya.


”Maaf, rapatnya sedikit lama, sudah membuatmu menunggu ku selama itu.” ucap Sardin, ia duduk di samping Syakila. Tangannya melonggarkan dasinya, punggungnya bersandar di punggung sofa.


”Hum, kakak istirahat sebentar, boleh? Kepala kakak agak sakit.” jawab Sardin. Ia merebahkan tubuhnya di kursi sofa tersebut, dan kepalanya, ia letakkan di paha Syakila.


”Istirahatlah!” sahut Syakila, ia memijat ringan kepala Sardin. Membuat Sardin merasa rileks, ia tertidur.


Syakila memandang wajah tidur pulas Sardin, ia membelai wajah pria itu dengan lembut sambil tersenyum.


.. ..


Di kediaman Rivaldi.


”Kita istirahat sekarang! Perubahan sudah mulai terlihat, meskipun kamu belum bisa melangkah, paling tidak, kamu sudah bisa berdiri tanpa ada yang membantu mu. Kita pelan-pelan saja.” ucap Rivaldi.


”Ok, bantu aku duduk! Rasanya kaki ku akan patah berlatih berdiri terus.” sahut Geo. Keringat mengucur membasahi pakaiannya, lelah, dan haus sangat menyiksanya.


”Hum, kita langsung ke rumah ku saja, ini sudah waktunya makan siang. Bibi pasti sudah menyiapkan makanan.” ucap Rivaldi, sambil mendudukkan Geo di kursi roda.


”Ok, perut ku juga lapar.”


Rivaldi mendorong kursi roda Geo masuk ke dalam rumahnya, mereka langsung menuju ke dapur.


”Bi, makanannya sudah siap?” tanya Rivaldi.


”Eh, iya, Tuan. Makanannya sudah siap, duduklah di meja makan, Tuan.” sahut sang Bibi.


Rivaldi duduk di kursinya, dan Geo berada di sampingnya. Sang bibi datang dan menata makanan di atas meja.


Rivaldi memberikan piring kepada Geo, ”Sendok lah makanan mu.” ucapnya.


Geo menyendok makanannya, setelah ia selesai, giliran Rivaldi yang menyendok makanannya.


Mereka berdua makan bersama, makan dengan diam. Beberapa menit kemudian, mereka telah selsai makan. Rivaldi mendorong kursi roda Geo meninggalkan ruang dapur, mereka pergi ke klinik Rivaldi.


”Sebelum kamu istirahat, aku akan membuatkan kamu obat untuk tulang mu dan untuk alergi mu.” ucap Rivaldi.


”Hum,” sahut Geo.


Rivaldi pergi ke ruang obatnya, membuatkan obat untuk Geo. Geo, pria itu pergi ke ranjangnya, ia melihat hapenya di sana. Hape yang jatuhkan di atas tanah karena cemburu dan marah pada Syakila.

__ADS_1


Ia menghidupkan hapenya, beberapa notifikasi pesan berbunyi semenit setelah mengaktifkan handphone tersebut.


Matanya memicing melihat ke layar hape, ia sedang membaca chat antara Sardin dan Syakila.


”Jadi, sekarang mereka sedang berduaan di rumahnya Sardin? Sementara di sana tidak ada orang di rumah itu? Hanya mereka berdua saja?” gumamnya, dengan marah.


”Dasar wanita ******! Beraninya kamu berduaan dengan pria yang bukan muhrim mu, di dalam ruang yang sunyi itu!!” gumamnya lagi. Tangannya terkepal kuat, amarahnya jelas terlihat di wajah tampannya.


”Geo, ada apa? Mengapa kamu membuat suhu dalam ruangan ku semakin dingin? Siapa lagi yang membuat mu marah? Tidak bisa kah kamu mengontrol sedikit emosi mu?” ucap Rivaldi. Ia datang dari tempat ruang obatnya sambil membawa obat dua mangkok.


”Urusan ku! Apa peduli mu?” sahut Geo dengan ketus.


”Ini, sebaiknya kamu meminum habis kedua obat mu ini.” ucap Rivaldi, sambil memberikan mangkok obat kepada Geo. Ia masih melihat amarah di mata dan wajah Geo.


Geo mengambil dan meminumnya, setelah isi mangkok tersebut habis, Rivaldi memberikan satu mangkoknya lagi. Geo meminum habis obat itu dan kembali memberikan mangkok kosong itu pada Rivaldi.


”Kamu istirahat lah! Jangan menguras tenaga untuk berfikir, tenaga mu sudah banyak terkuras saat melakukan kemoterapi tadi.” ucap Rivaldi, menasehati.


”Kamu pergilah, tinggalkan aku sendiri di sini!” sahut Geo dengan datar.


”Kamu tidak ingin istirahat? Aku akan membantu mu berbaring!”


”Aku bisa sendiri! Pergilah!” jawab Geo, masih terdengar ketus.


Rivaldi mengalah, ia pergi dari ruangan kliniknya sendiri. Geo menelfon Ijan. Telfon tersambung.


”Kamu di mana?” tanyanya.


”Masih berada di depan kantor tuan Sardin, Tuan. Ada perlu apa, Tuan? Katakan saja!”


”Mereka berdua sedang berada di kantornya Sardin?”


”Iya, Tuan. Setelah saya meninggalkan nyonya, mobil tuan Sardin datang, dia membawa nyonya di kantornya.” sahut Ijan, menerangkan.


”Hum,” singkat Geo menyahuti. Ia mematikan sambungan telfon untuk Ijan dan menelfon Syakila.


.. ..


Di kantor, ruangannya Sardin.


Syakila meraih handphonenya yang berbunyi, ia melihat ke layar, matanya memicing.


Kenapa dia menelfon? benaknya.


”Siapa yang menelfon?” tanya Sardin.


”Geo.”


”Kamu akan pergi sekarang? Makanan mu belum habis. Habiskan dulu makanan mu baru boleh pergi.” ucap Sardin, wajahnya terlihat tidak semangat lagi, ia tidak rela Syakila pergi.


”Iya,” Syakila menurut, ia mengabaikan panggilan Geo. Sardin tersenyum senang. Paling tidak, di hati Syakila, dialah yang masih utama.


Geo terus mencoba menghubungi Syakila, namun, wanita itu tetap mengabaikan. Bahkan hapenya di buat silent agar Syakila dan Sardin tidak terganggu dengan dering hape. Hingga makanan Syakila habis, Geo tidak berhenti mencoba menghubungi Syakila.


”Kakak, aku pulang sekarang. Terima kasih, untuk hari ini. Meskipun kita akan berpisah lagi, tapi, ingat! Cinta Kila tetap hanya untuk kakak. Kila berharap semoga ini semua cepat selesai, dan kita berdua bisa bersatu dalam hubungan yang sakral.” ucap Syakila.


”Iya, kakak juga berharap seperti itu. Kila, kakak akan merindukan mu, dan selalu merindukan mu. Jaga dirimu baik-baik selama di sana. Hatiku yang ada padamu, jaga dengan baik. Jangan biarkan hatimu terisi dengan hati yang lain, cukup hatiku saja yang menemani hatimu.” ucap Sardin dengan lembut, sambil membelai wajah Syakila.


Syakila mencium tangan Sardin yang membelai wajahnya, ”Aku akan menjaga hati, tubuh, dan jiwa ku untuk kakak. Kakak jangan khawatirkan itu.” sahutnya dengan lembut pula.


Syakila berdiri dari duduknya, Sardin ikut berdiri, refleks Sardin memeluk erat tubuh Syakila. Syakila terkejut, diam mematung, perlahan ia membalas pelukan Sardin.


Lima menit berlalu, Sardin melepas pelukannya, ia mencubit dagu Syakila, perlahan wajahnya maju ke depan mendekati wajah Syakila, ia mencium, *******, dan menggigit pelan bibir Syakila.


”Pergilah!” ucapnya dengan membelakangi Syakila. Menutupi wajahnya yang memerah, juga menutupi gairahnya.


Syakila menghela nafas, ”Terima kasih, ciumannya dan pelukannya. Kila akan merindukan hal ini. Kila pergi, jaga diri kakak.” ucapnya. Sardin sengaja tidak menyahuti, dan masih membelakangi Syakila.


Syakila keluar dari ruangan Sardin. Wajahnya masih memerah, tersipu malu. Pikirannya masih membayangkan akan pelukan dan ciuman mendadak Sardin.


Ia meninggalkan kantor Sardin, Sardin melihat wanita itu dari dinding kaca ruangannya.


Syakila, jika status mu bukan istri orang. Mungkin saja aku sudah hilang kendali, aku mungkin akan melakukan hal yang lebih lagi dari sekedar ciuman. benaknya.


Ia melihat Syakila sudah menaiki mobil, ia memutar badan, kembali duduk di kursinya. Ia mengingat kembali ciuman dan pelukannya pada Syakila.


”Jika aku bertanya padanya bolehkah untuk memeluk atau menciumnya, ia pasti tidak akan mengizinkannya. Aku kira dia akan marah padaku setelah aku mendadak mencium dan memeluknya. Syakila, aku sudah mulai merindukan mu. Harumnya tubuh mu dan manisnya bibir mu masih terasa.” gumamnya sambil memegang bibirnya.


Ia menyalakan laptop, melihat kembali hasil dari rapat beberapa jam yang lalu, namun, pikirannya tidak fokus. Laptop ia matikan kembali, di pikirannya masih terngiang tentang Syakila. Wanita yang di cintai nya dari kecil, wanita yang ia mengikat janji untuk mengawini nya.

__ADS_1


__ADS_2