Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 181


__ADS_3

Keesokan paginya, di kamar Geo.


Syakila bangun lebih awal. Ia pergi ke dapur mempersiapkan sarapan pagi. Setelah beberapa menit ia memasak, masakannya telah siap.


Ia menata makanan itu di atas meja makan. Setelah itu, ia pergi kembali ke kamar.


Ia mengambil pakaian ganti dan langsung pergi ke kamar mandi. Ia sedang mandi. Setelah selesai mandi dan berganti, ia keluar dari kamar mandi.


Ia menghampiri Geo yang masih tidur. ”Geo! Bangun, Geo.” ia membangunkan Geo dengan pelan, menepuk pipinya.


Geo terbangun, ”Um..Syakila, ada apa?” tanyanya.


”Hum? Ini sudah pagi, Geo! Kamu ingin tidur terus? Bangunlah! Aku akan membantu mu mandi, setelah itu, kita turun sarapan.”


”Oh...baiklah! Bantu aku yah, maaf, merepotkan mu terus.” ucap Geo.


Syakila tersenyum, ”Selama kita masih dalam kontrak perjanjian pernikahan, ini adalah tugas ku sebagai istri.” ia membangunkan Geo dan memapahnya ke kursi roda.


Tidak bisakah kamu bilang saja ”Ini adalah tanggung jawab ku sebagai seorang istri ” tanpa embel-embel ”selama masa kontrak perjanjian” segala! benak Geo.


Syakila mendorong kursi roda Geo ke kamar mandi. Ia memandikan Geo seperti biasanya. Setelah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi.


Syakila terus melangkah ke lemari pakaian, ia mengambilkan pakaian Geo, dan membantu memakainya pada Geo.


”Sudah selesai! Yuk, kita turun ke dapur! Mama dan Marlina pasti sudah menunggu kita di sana.” Syakila tersenyum manis.


Geo terpana sesaat dengan senyum manis Syakila, terlihat cantik, sangat cantik apalagi senyumnya itu di perindah dengan lesung pipinya, ia membelai pipi Syakila dan menatapnya lembut, ”Cantik! Sangat cantik!!” ucapnya tanpa sadar.


Syakila salah tingkah di buatnya, perlahan senyumnya memudar. Ia berdiri dari jongkoknya dan pergi mengambil tas sampingnya dan kembali mendekati Geo.


Syakila mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar. Dengan menggunakan lift, mereka pergi ke dapur.


Sesampainya di dapur, ternyata Rosalina, mamanya Geo dan Marlina telah duduk di kursi menanti Geo dan Syakila.


”Maaf, Mah, Marlina, sudah membuat kalian menunggu.” ucap Syakila. Ia memposisikan kursi roda Geo pada tempatnya. Ia pun duduk di kursi, di samping Geo.


”Gak apa-apa. Kami juga baru duduk kok, beberapa menit yang lalu.” Marlina yang menjawab.


Sedangkan Rosalina, ia masih menunjukkan wajah kesal dan kecewanya pada Syakila. Syakila menyadarinya, namun, ia acuh saja. Ia sudah bertekad untuk tidak mempedulikan hal itu lagi.


Rosalina mulai menyendok makanannya, Syakila juga menyendokkan makanan untuk Geo. Lalu, ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Setelah itu baru Marlina mengambil makanan.


Mereka makan dengan diam. Sesekali mereka saling melirik. Beberapa menit berlalu, mereka telah selesai makan.


Syakila mengumpulkan piring kotor yang ada di atas meja. Geo menahan tangan Syakila, ”Pergilah bekerja! Di sini, biar Marlina yang bersihkan.” ucapnya.


Syakila melihat Marlina, Marlina tersenyum kecil sambil mengangguk.


”Baiklah! Maaf, Marlina, sudah merepotkan mu.”


”Tidak, kok! Tidak merepotkan! Aku juga di sini bukan tamu, aku termasuk keluarga di kediaman ini.” jawab Marlina.


”Baiklah, kalau begitu! Aku akan berangkat kerja. Geo, Mama, Syakila pergi dulu.” ia mencium punggung telapak tangan Geo dan punggung telapak tangan Rosalina.


”Iya, hati-hati! Kamu perginya di antar supir saja, yah.” sahut Geo.


”Hah! Gak usah, Geo! Aku naik taksi atau bis saja.” tolak Syakila. ”Aku pergi, assalamu 'alaikum!”


”Wa 'alaikum salam!” sahut Geo, Marlina, dan Rosalina.


Syakila pun pergi dari sana. Ia pergi ke sekolah menggunakan taksi.


Rosalina menghela nafas, ”Marlina, Tante pergi ke depan bersama Geo. Kamu bersihkan ini yah.” ia berdiri di belakang kursi roda Geo.


”Iya, Tante! Serahkan saja pada Marlina.”


”Hum.” Rosalina mendorong kursi roda Geo keluar dari dapur.


Marlina pun mulai membersihkan meja makan juga dapur.


Di teras rumah.


”Geo! Apa itu sebabnya kamu mengeluarkan kursi sofa dari kamar mu?” tanya Rosalina.


Geo menghela nafas berat, ”Iya, Mah. Setelah kursi sialan itu tidak ada, barulah Syakila tidur di ranjang. Meskipun ada jarak, tapi, setidaknya dia sudah mulai tidur di ranjang.” ungkapnya.


”Mama minta maaf, Mama memaksa mu memasukkan sofa itu ke kamar mu lagi.” Rosalina tampak sesal. ”Nanti Mama akan suruh mereka untuk mengeluarkan kembali sofa itu dari kamar mu.”


Geo kembali menghela nafas, ”Tidak perlu, Mah! Biarkan saja sofa itu di sana.”


Rosalina memandang anaknya itu, ”Apa kamu sudah bisa menarik perhatiannya?”


Geo menggeleng, ”Cinta nya begitu besar untuk Sardin. Geo tidak bisa menandingi nya. Aku iri pada Sardin mendapatkan wanita yang begitu mencintainya.” Geo menjeda ucapannya.


”Ini salah Geo sendiri.” ia menunduk, ”Awal bertemu dengan Syakila, aku dan dia memang sudah berselisih. Apalagi...aku berfikir yang tidak-tidak tentang Syakila. Menuduhnya, memakinya, dan aku bersikap kasar pada Syakila. Bahkan hampir membunuhnya. Mana bisa Syakila akan terpikat oleh ku, hanya karena aku bersikap baik padanya. Hubungan kami yang membaik ini, aku baru sadar... Syakila adalah orang terbaik di hatiku...aku jatuh cinta padanya.” ungkapnya.


Rosalina menepuk bahu Geo. Geo tersenyum kecut, ”Tapi dia tidak mencintai ku!”

__ADS_1


Rosalina menghela nafas kasar. Ia terdiam melihat Geo.


Jadi, sekarang Geo sudah tidak mencintai Dawiyah lagi. Dia mencintai Syakila. Tapi Syakila tidak mencintainya, Syakila mencintai Sardin. Siapa itu Sardin? benak Marlina. Ia menguping pembicaraan Rosalina dan Geo.


”Assalamu 'alaikum!”


Rosalina dan Geo melihat ke depan, mereka berdua tersenyum. ”Beni! Kamu sudah datang.”


”Hum, Beni sudah datang Tante, Geo.” Beni mempercepat langkahnya sampai ke teras rumah. Ia duduk di kursi berhadapan dengan Geo.


”Tante ambilkan minum dulu. Kamu temani Geo.”


Beni mengangguk.


Mendengar itu, Marlina bergegas pergi ke ruang keluarga. Ia duduk membaca majalah yang ada di atas meja.


”Marlina, di depan ada Beni, adik mu. Kamu tidak ingin menemuinya?” ucap Rosalina. Ia berhenti sebentar di ruang keluarga saat melihat Marlina duduk seorang diri.


”Oh...iya, Marlina akan melihat nya.” Marlina menutup majalah dan beranjak berdiri.


Rosalina tersenyum sambil terus melangkah ke dapur, mengambilkan air minum untuk Beni.


Marlina tiba di teras, ia gugup berhadapan dengan Beni dan Geo. Meskipun Beni adalah adiknya, jika Beni sudah marah dan menunjukkan kekuasaannya, Marlina tidak bisa apa-apa.


”Beni, kamu sudah datang? Apa urusan di sana sudah selesai?” Marlina duduk di kursi yang di duduki oleh Rosalina tadi.


”Iya.” jawab Beni singkat.


Rosalina datang dari dapur dengan membawa nampan berisi makanan dan air minum. Ia meletakkan nampan itu di atas meja. ”Beni, Tante sekalian mengambilkan makanan untuk mu. Kamu pasti belum makan kan?”


”Iya, Tante. Terima kasih, Tante sudah repot-repot. Seharusnya, Beni masuk dan duduk makan di dapur.”


”Tante tidak repot! Ayo makan dulu. Tante masuk ke dalam dulu. Di sini ada Marlina dan Geo yang temani kamu.” ucap Rosalina.


”Iya, Tante.” sahut Beni.


Marlina berdiri, ”Em... Marlina ingin ke kamar. Tidak ingin mengganggu Beni dan Geo.” ucapnya, ia langsung bergegas pergi.


Melihat Marlina yang berlalu, Rosalina pun pergi ke kamarnya. Tinggal Beni dan Geo. Beni mulai memakan makanannya.


”Mana handphone ku!” tanya Geo.


Beni menghentikan tangannya saat hendak menyuap mulutnya. ”Ada di dalam mobil, entar aku ambilkan.” ia meletakkan piring nasi nya di atas meja.


”Gak usah! Kamu duduk makan saja.” cegah Geo.


Beni kembali meraih piring nasinya dan melanjutkan makan.


Sang supir segera menghadap Geo, ”Ya, Den?” ucapnya sambil menunduk.


”Tolong ambilkan tas handphone di dalam mobil Beni.” titah Geo.


”Baik, Den!” Sang supir langsung bergegas ke mobil Beni. Ia mengambil tas berisi handphone dan kembali menghadap Geo. ”Ini, Den!” ia memberikan tas itu pada Geo.


Geo mengambilnya. ”Terima kasih.” ucapnya. Sang supir mengangguk dan pergi dari sana.


”Bukalah! Jika kamu tidak suka, hape itu aku saja yang ambil. Kamu nanti beli sendiri.” ucap Beni. Ia telah selesai makan.


Geo membuka dan melihatnya.


”Hape itu keluaran terbaru dan terbatas. Harganya pun lumayan menguras kantung. Tapi, di dalam terdapat aplikasi-aplikasi yang canggih. Sangat bagus di gunakan untuk melacak keberadaan seseorang dengan pasti Dan tepat. Dan juga sangat pas di pakai untuk bekerja.” ungkap Beni.


”Jika sudah begitu... mengapa aku menolak hape ini. Jika kamu suka, kenapa gak beli aja sekalian untuk mu.”


”Handphone ku masih bagus, masih bisa di gunakan. Jika sudah rusak, aku akan membeli handphone yang lebih canggih dari punya mu. Dan tentunya pakai duit mu.”


”Hum... bagaimana perusahaan di sana, sudah aman?” tanya Geo.


”Iya, semua sudah terkendali. Untung saja mereka belum berhasil untuk menggoyahkan perusahaan sedang milik mu. Jadi, aku masih bisa menyelamatkan nya. Tapi...”


”Perusahaan yang sudah di ambil alih oleh Antonio, biarkan saja! Anggap saja kita bersedekah padanya.” pangkas Geo.


Beni terdiam sesaat. ”Sudah selidiki siapa yang sudah mencoba mencelakai mu?” tanya Beni.


”Hum....siapa lagi...kakak tiri tercinta kita! Antonio bersama pamannya, Vian!” jawab Geo.


Antonio selalu melakukan hal salah...lagi dan lagi...Baik, jika memang harus berkelahi dan menghilangkan nyawa...aku tidak keberatan untuk menghabisi nyawa kakak tiri ku itu. Aku sudah cukup memperingatkan nya. benak Beni.


”Bagaimana hubungan mu dengan Syakila?” tanyanya, kemudian.


Geo menghela nafas, ”Tidak bisa mengharapkan cinta Syakila untuk ku. Cinta nya terkunci hanya untuk Sardin seorang. Aku...pria mapan, tampan, rupawan, kalah telak dari pria seperti Sardin. Sungguh menyedihkan untukku. Apa karena aku duduk di kursi roda makanya dia tidak mencintai ku?”


Beni menghela nafas, ”Kamu jangan merendahkan dirimu sendiri. Lalu, apa kamu akan melepaskan dia untuk Sardin? Bagaimana dengan Dawiyah?”


”Dawiyah? Aku tidak mencintainya lagi.” jawab Geo. ”Aku juga tidak akan melepaskan Syakila untuk Sardin.”


Beni terdiam.

__ADS_1


.. ..


Di sekolah tempat mengajar Syakila.


”Sudah mau pulang Bu Syakila?” tanya salah satu teman kerja Syakila.


”Iya, Bu! Jam mengajar ku telah selesai. Dan aku juga tidak perlu menggantikan jadwal mengajar guru yang lain. Aku pulang duluan.” Syakila melangkah keluar dari ruang guru.


Ia mengambil hapenya dari tas dan menghubungi seseorang. Telfon tersambung.


”Halo, sayang!” sapa Sardin.


”Sayang, jemput Syakila, bisa?”


”Ok. Bisa sayang! Tunggu saja.” sahut Sardin.


”Ok, kak! Syakila akan tunggu kakak di depan gerbang yah.”


”Iya, sayang.” jawab Syakila. Tut tut tut! Syakila memutus sambungan telfon dan menyimpan kembali hape tersebut ke dalam tas.


Ia berjalan hingga ke depan gerbang sekolah. Ia berdiri di sana.


”Bos! Bos! Itu nona Syakila.” ucap seseorang dari sebrang jalan sana yang melihat Syakila berdiri di depan gerbang sekolah.


”Ok, aku turun samperin dia. Kalian tunggu di sini.” ucap Antonio. Ia turun dari mobil. Ia pergi menghampiri Syakila di depan sana.


”Syakila.” sapa Antonio. Ia telah berada di hadapan Syakila.


Kening Syakila mengerut melihat Antonio, ia sedang mengingat-ingat siapa pria yang ada di hadapannya itu. ”Antonio?” ucapnya.


Antonio tersenyum, ”Rupanya kamu masih mengingat ku. Aku senang untuk itu. Kamu baru pulang mengajar?”


Sardin bilang padaku, aku harus berhati-hati dengan Antonio dan Vian. Aku tidak tahu apa alasan nya. Tapi, demi kebaikan ku...aku harus berhati-hati. benak Syakila.


”Kamu... bukankah kamu ada di kota S? Dari mana kamu tahu aku mengajar di sini?” pandangan Syakila penuh curiga melihat Antonio.


”Yah...aku pergi di kota S karena urusan pekerjaan. Dari mana aku tahu kamu mengajar di sini? Aku...mencari tahu tentang dirimu!” ungkapnya. ”Apa kamu sedang menunggu seseorang?”


”Yah...” Syakila melihat arah jalan, memperhatikan pengendara motor yang lewat juga mobil yang lewat, siapa tahu saja Sardin telah datang.


”Aku ingin bicara dengan mu, berdua.”


Mata Syakila menyipit melihat Antonio penuh curiga. ”Mau bicarakan apa? Bicara di sini saja.”


Antonio tersenyum kecil, ”Kamu begitu waspada terhadap ku. Aku sakit hati... ternyata begini cara mu memperlakukan penyelamat mu dulu.”


”Tidak usah berbasa-basi! Untuk itu...aku ucapkan terima kasih.” Syakila melihat mobil Sardin telah datang dan sedang menepi di pinggir jalan. ”Jika kamu ingin bicara, bicaralah sekarang! Aku gak ada waktu lagi dengan mu.” ucap Syakila.


”Sudah ku bilang, aku ingin bicara berdua dengan mu...ikutlah dengan ku!”


Syakila melihat Sardin yang berjalan semakin dekat dengan mereka. ”Tidak ada waktu...bicaralah! Sekarang!”


”Syakila, ayo kita pulang.” ucap Sardin. Ia berdiri di samping Syakila.


Antonio dan Sardin saling memandang.


Sardin? Jadi benar, Syakila yang dia hubungi saat itu adalah Syakila istrinya Geo. Bagus sekali! Apakah Geo tahu hal ini? Istrinya selingkuh di belakangnya dengan pria lain. benak Antonio.


Antonio? Dia...kenapa dia mencari Syakila? benak Sardin.


”Bagaimana? Kalau ingin bicara, bicaralah! Kalau gak, aku pulang!” ucap Syakila.


Antonio masih terdiam melihat Sardin.


”Kakak, ayo kita pulang!” Syakila memegang tangan Sardin dan mengajaknya jalan, melewati Antonio.


”Kamu tidak tertarik dengan Gege?” ucap Antonio.


Syakila dan Sardin menghentikan langkahnya. Mereka berbalik, melihat Antonio.


Antonio tersenyum licik. Ia tahu Syakila masih ada di belakangnya..Ia berbalik, melihat Syakila dan Sardin.


”Apa yang kamu ketahui tentang Gege?” tanya Syakila.


”Kamu ingin tahu? Bukan tempatnya kita bicara di sini. Besok, aku akan datang mencari mu untuk membicarakan ini.” Antonio berjalan pergi meninggalkan Syakila dan Sardin.


”Hei! Tunggu!” teriak Syakila.


Namun, Antonio terus melangkah pergi ke seberang jalan sana sambil memakai kacamata hitamnya.


Membuat Syakila begitu kesal, ”Sial! Dia bermain tarik ulur dengan ku!” gumamnya.


”Kamu percaya padanya? Syakila! Bukan kah kamu sudah menyerah dengan balas dendam ini? Mengapa kamu masih tertarik ingin cari tahu tentang Gege? Dan... darimana dia tahu kalau kamu mencari informasi tentang Gege? Syakila, kakak tidak percaya padanya.” ucap Sardin.


”Syakila memang sudah menyerah untuk balas dendam! Tapi, Syakila masih ingin mencari tahu siapa sosok Gege ini! Bisa saja kan memang dia yang menjadi atasan Kevin!”


”Sudah! Ayo kita pulang! Kita singgah di kedai pinggir jalan dulu yah, kita singgah makan dulu.”

__ADS_1


”Ok.” sahut Syakila. Ia masih memandang punggung Antonio yang masuk ke dalam mobil di sebrang sana.


Sardin memegang tangan Syakila dan mengajaknya masuk ke mobil.


__ADS_2