Takdir Syakila

Takdir Syakila
Eps 157


__ADS_3

Di kamar Geo.


Geo membuka mata setelah mendengar pintu kamarnya tertutup. ”Kemana perginya wanita itu?” gumamnya.


Ia bangun dari tidur, ia berjalan ke arah jendela kamarnya, menyingkap sedikit kain gorden. Ia melihat Syakila sedang duduk di kursi panjang, di taman bunga.


”Apa dia tidak merasa capek? Seharusnya ia istirahat sekarang! Lihatlah, sudah tiga kali aku melihatnya menguap. Wanita itu memang keras kepala.” gumamnya.


Ia pergi dari jendela, ia mengunci pintu kamar dari dalam dan ia pergi ke kamar mandi. Ia sedang mandi.


Usai mandi, ia kembali pergi ke jendela, ia kembali melihat Syakila, wanita itu telah tertidur di kursi panjang itu.


Ia juga melihat Rosalina dan Beni yang berjalan ke teras rumah. Beni dan Rosalina baru pulang dari kantor.


”Apakah Geo dan Syakila sudah pulang ke rumah?” tanya Rosalina pada salah satu pelayan pria di rumahnya tersebut.


”Iya, Nyonya besar! Tuan muda, sedang berada di kamarnya, sedangkan nyonya muda, sedang berada di taman.” jawab karyawannya itu.


Syakila di taman? Aku akan menemuinya, aku sudah merindukan wanita itu. benak Beni.


”Beni, aku masuk ke dalam dulu, aku ingin menemui Geo. Kamu tidak ingin menemui Geo?” ucap Rosalina.


”Iya, pergilah Tante! Beni akan menyusul setelah rasa capek ku sedikit hilang.” sahut Beni.


”Baiklah! Tante masuk dulu!” ucap Rosalina lagi, sambil berdiri. Ia terus melangkah masuk ke dalam rumah.


Geo masih melihat di luar jendela kamarnya. ”Mama masuk ke dalam rumah! Apakah ingin menemui ku?” gumamnya.


Ia berbalik dari jendela, namun, ia kembali melihat ke jendela saat ekor matanya melihat Beni berjalan ke arah taman.


Ia mengerut melihat Beni yang duduk berjongkok di hadapan Syakila yang sedang tidur itu. Tatapannya semakin tajam ketika Beni menyentuh wajah Syakila. ”Brengsek!!” umpatnya, marah.


Ia lupa jika Beni menaruh perasaan kepada Syakila. Ia jadi teringat saat Beni mengatakan padanya untuk menikahi Syakila setelah ia bercerai dengan Syakila.


”Geo...ini Mama, Nak! Tolong buka pintunya!”


Geo menjauh dari jendela setelah mendengar ucapan mamanya di balik pintu kamarnya yang tertutup.


Ia segera memakai pakaian dan mengeringkan rambutnya, setelah itu, ia mengambil kursi rodanya dan duduk di sana.


Ia membuka kunci pintu dan membuka pintunya, ”Mama, baru pulang, Mah?” tanyanya.


Rosalina masuk ke dalam kamar, ia mendorong kursi roda Geo hingga ke ranjang. ”Iya, sayang! Mama baru pulang, Mama sangat merindukan mu.” jawabnya, sambil duduk di sisi ranjang.


”Bagaimana kabar mu, Nak, selama di sana? Apakah keluarga Syakila memperhatikan mu dengan baik? Apakah mereka mengucilkan mu?”


”Mama, itu semua tidak terjadi! Keluarga Syakila adalah keluarga yang hangat. Aku senang berada di tengah keluarga mereka. Mereka semua menghargai ku.”


”Benarkah yang kamu ucapkan itu sayang? Bukan kah kalian di sana selama dua Minggu? Bukan kah seharusnya lima hari lagi baru kalian datang?” tanya Rosalina, penuh selidik.


Geo tersenyum, ”Mama benar! Seharusnya lima hari lagi baru kami datang ke sini. Aku ingin aktif kembali ke kantor, itulah alasan ku pulang lebih awal. Keberadaan ku di keluarga Syakila dan berbaur dengan gurunya Syakila, membuat ku tersadar sesuatu. Meskipun fisikku begini, semangat untuk hidup dan bekerja tidak boleh mati.” ucapnya, menjelaskan.


”Iya, kah? Apakah kamu bertemu dengan Sardin? Apakah Syakila meninggalkan kamu di rumahnya dan ia pergi merawat Sardin di rumah sakit?” tanya Rosalina lagi. Ia kembali melayangkan pertanyaan, ia masih tidak percaya dengan alasan anaknya itu.


”Aku tidak tahu jika Mama mengawasi ku selama aku berada di kota S. Itu juga tidak terjadi, Mah. Syakila memang pergi menemui Sardin, tetapi, ia tidak meninggalkan aku sendirian. Ia juga punya harga diri, dan takut pada mamanya.” jawab Geo, ”Mama, apa Mama tahu Antonio dan Vian menyusul ku ke kota S?” tanyanya.


”Mama tidak tahu, Mama juga terkejut mendengar kabar mereka berdua berada di kota S. Lebih terkejut dan khawatir lagi saat Mama dengar mereka berusaha menyakiti mu. Tapi, syukurlah kamu baik-baik saja.” jawab Rosalina, ”Mama dengar kamu tidur beberapa malam di rumahnya orang, siapa dia?” tanyanya.


”Oh, itu Rivaldi, guru silatnya Syakila. Syakila membawaku ke sana untuk berobat.” jawab Geo.


”Oh, rupanya Syakila perhatian dengan mu, Mama senang mendengarnya. Lalu, bagaimana, apakah ada perubahan selama berobat di sana?”


Geo menghela nafas, ”Mama, bukan kah Mama tahu tujuan Syakila menikah dengan ku hanya untuk aku sembuh? Jika sudah sembuh, hubungan kami juga sudah berakhir. Mama tidak melupakan itu kan? Karena itulah Syakila berusaha menyembuhkan aku. Untuk perubahan, ada sedikit, kaki ku sudah tidak kaku seperti sebelumnya.” jawabnya.


”Mama tahu, Syakila dan Mama pernah membicarakan itu. Tapi, Mama tidak ingin kalian berpisah. Untuk itulah, kamu harus bisa membuat Syakila jatuh cinta padamu.” ungkap Rosalina.


”Apa? Syakila juga bicarakan itu dengan Mama?” tanya Geo dengan terkejut.


”Iya, dan Mama menyetujuinya. Itulah sebabnya Mama bilang ke kamu untuk membuat Syakila mencintaimu, jika ingin dia tetap bersamamu.”


”Untuk membuat wanita keras kepala itu jatuh cinta pada ku sangat setengah mati, Mah. Aku hanya bisa menahan dia di sisi ku selamanya.”

__ADS_1


”Apa kamu yakin bisa menahan Syakila di sisi mu? Dia wanita yang keras kepala dan pendiriannya kuat. Mama ragu untuk mempercayai mu untuk itu.”


”Kita lihat saja, Mah! Aku akan mengikat dia di sisi ku, bagaimana pun caranya.”


”Geo, wanita juga punya kebutuhan biologis, bagaimana jika dia menceraikan mu di pengadilan dengan alasan itu? Kamu akan kalah, sayang.” ucap Rosalina dengan sedih. ”Jadi, buat dia untuk mencintai mu. Hanya itu yang bisa mengikat hubungan mu dengan dia.” ucapnya lagi, menasehati.


”Iya, Mah. Aku akan berusaha.” jawab Geo.


Geo dan Rosalina sama-sama melihat ke arah pintu, saat alarm bunyi pintu terbuka terdengar. Mereka melihat Syakila dan Beni yang melangkah masuk ke dalam kamar.


Geo menatap Beni dengan tajam, menit berikutnya, ia merubah ekspresi tatapannya menjadi lembut. Syakila duduk di samping Rosalina, dan Beni, ia ikut duduk di samping Syakila.


”Mama,” sapa Syakila, ia menyalami tangan Rosalina.


”Syakila, bagaimana kabar mu, Nak?”


”Baik, Mah.” jawab Syakila.


”Geo, bagaimana pengobatan mu di sana? Aku dengar kamu berobat dengan semangat.” tanya Beni.


”Iya, kak Beni. Geo sangat antusias dengan pengobatannya, sayangnya, perubahannya hanya sedikit.” jawab Syakila dengan sedih. Ia yang menjawab pertanyaan Beni. ”Tapi, syukurnya kaki Geo sudah tidak kaku lagi, sudah mudah untuk di gerakkan. Aku akan melatihnya untuk berdiri dan berjalan nanti, aku yakin secepatnya dia akan sembuh.” ucapnya lagi.


”Oh, itu adalah berita bagus! Aku akan membantu mu untuk melatih Geo.” sahut Beni, dengan tersenyum melihat Syakila.


Geo terlihat tidak senang, Kamu merasa senang? Kamu ingin menikahi Syakila setelah aku bercerai dengan Syakila? Jangan bermimpi, Beni!! Aku tidak akan menceraikan Syakila, sampai kapan pun! benaknya.


”Boleh, itu akan lebih bagus! Karena ada penyemangat nya. Jadi, akan ada dorongan dari dalam dirinya untuk berlatih dan terus berlatih.” ucap Syakila.


”Mama, Beni, bolehkah keluar? Aku ingin istirahat!” ucap Geo, ia sudah tidak tahan lagi, ia seperti tidak terlihat di sana, padahal, dialah yang menjadi bahan pembicaraan.


”Eh,” Rosalina dan Beni sama-sama terkejut dengan ucapan Geo.


Apakah Geo memang ingin istirahat atau....apa dia tidak senang dengan sesuatu? Tapi, apa itu..? benak Rosalina dan Beni.


”Baiklah!” sahut Rosalina dan Beni, kemudian. Mereka beranjak berdiri dan berjalan keluar dari kamar Geo.


”Aku bantu kamu berbaring.” ucap Syakila. Ia membantu Geo berbaring. Ia menarik selimut menutupi tubuh Geo. ”Istirahatlah, aku keluar dulu.” ucapnya, berpamitan.


Syakila menghela nafas, ”Baiklah,” sahutnya. Ia naik ke atas ranjang. Ranjang yang hanya ukuran untuk satu badan itu terasa sempit untuk mereka berdua. Syakila tidur dengan jarak lima centi meter dari Geo. Dan tidur, tanpa beralaskan bantal, karena bantal hanya satu yang tersedia, itupun Geo yang memakainya.


Iya, sebelum mereka kembali ke kota A, Geo menelfon anak buahnya untuk menggantikan ranjang sesuai dengan keinginan Geo, kursi sofa di keluarkan, kursi meja hias juga di keluarkan. Bahkan tikar, selimut, yang lainnya juga di keluarkan dari lemari Geo.


Dan menyimpan bantal hanya satu di ranjang tersebut. Ia sengaja melakukan itu, agar Syakila tidur berdekatan dengannya di atas ranjang yang sempit itu.


Geo melihat Syakila yang gelisah tidurnya. Ia merentangkan tangannya, ”Jika tidak ingin tidur di bantal yang sama dengan ku, tidurlah di lengan ku.” ucapnya.


Syakila membuka mata, melihat Geo. ”Aku memang tidak terbiasa tidur tanpa bantal, apa tidak mengapa tidur di lengan mu? Lengan mu akan kram dan sakit.” sahutnya.


”Tidak, kemari dan tidurlah berbantal di lengan ku.”


Syakila menurut, ia mendekatkan dirinya pada Geo, ia tidur di lengan pria itu, ia mencium kembali aroma segar di leher Geo, ”Bolehkah aku tidur sambil memeluk mu?” tanyanya.


Geo tersenyum, ”Silahkan,” jawabnya.


Syakila merapatkan tubuhnya ke Geo, ia memeluk tubuh pria itu, hidungnya menghirup aroma segar di leher pria itu. Tanpa ia sadari, perlakuannya itu menaikkan hasrat Geo.


Pria itu sudah terbawa nafsu, namun, ia menahan reaksi alami tubuhnya tersebut. Wanita ini sangat mampu membuat orang bergairah. Perasaan ini sangat menyiksa, rasanya aku ingin mengekang wanita ini di bawahku. benaknya.


Aroma yang segar, lembut, dan menenangkan dari ceruk leher Geo, membuat Syakila tenang dan tertidur dengan cepat.


”Syakila, apa kamu sudah tidur?” tanya Geo.


Namun, ia tidak mendapat jawaban dari sang pemilik nama tersebut. Ia memiringkan badannya, melihat Syakila. Ternyata wanita itu memang telah tertidur pulas.


Geo tersenyum, ia membelai wajah cantik alami Syakila, ia mencium kening, pipi, mata, wanita itu dan memeluk tubuh Syakila dengan erat.


Syakila, jika kamu sudah terbiasa tidur seperti ini dengan ku, aku yakin, hatimu akan mencintaiku. benaknya. Ia juga ikut tertidur lelap.


.. ..


Di ruang keluarga, kediaman Alber.

__ADS_1


”Beni, apakah Antonio dan Vian masih di kota S?” tanya Rosalina.


”Iya, Antonio sedang merawat Vian di rumah sakit. Geo masih memiliki hati nurani kepada mereka berdua, makanya ia tidak membunuh Vian dan Antonio. Apakah karena dia memikirkan aku?”


”Iya, karena hanya mereka keluarga aslimu.” jawab Rosalina, berterus terang.


”Keluarga asli? Tante dan Geo juga keluargaku. Aku memang tidak ingin kehilangan kedua keluargaku. Tapi, jika Antonio dan Vian masih tetap mengganggu Geo, aku tidak bisa tidak memiliki hati. Mungkin mereka berdua lebih baik mati di tangan ku.” ucap Beni.


”Berhenti dulu memikirkan Antonio dan Vian. Usiamu kini sudah seharusnya menikah. Apakah ada kekasih mu atau wanita yang kamu sukai sekarang? Tante akan membantu melamarnya untukmu.”


”Ah, eh, em, Tante. Tante tidak perlu repot-repot. Beni belum ingin menikah sekarang. Masih banyak mimpi yang belum terwujud.” jawab Beni.


”Apakah kamu masih mengharapkan Syakila?” tanya Rosalina, penasaran.


Beni terkejut melihat Rosalina, ia memegang leher belakangnya. ”Ah, Tan... Tante...” ia berasa malu.


”Tidak usah malu seperti itu. Tante tahu perasaan mu kepada Syakila. Tapi, bisakah kamu tidak mengharapkan Syakila lagi. Geo sekarang menyukai Syakila. Dan Tante tidak ingin mereka bercerai.”


Beni terdiam, Bagaimana ini? Ternyata Tante memperhatikan ku. Baiklah, aku mengalah saja... Jika Syakila jodohku juga gak akan kemana. benaknya.


Ia menghela nafas, ”Aku memang menyukai Syakila. Awalnya aku tidak ingin menampilkan rasa sukaku itu. Tetapi, melihat sikap Geo yang selalu kasar pada Syakila, dan mendengar kenyataan perjanjian Syakila dan Geo. Aku mulia mengharapkan Syakila menjadi istriku setelah perjanjian dia dan Geo selesai.” ungkapnya.


”Tapi, jika memang Geo menyukai Syakila, dan menyayangi Syakila. Dan Syakila juga sebaliknya, maka aku...aku akan berhenti berharap pada Syakila.” ucapnya lagi.


”Tante akan mencarikan pasangan yang cocok dengan mu.” ucap Rosalina sambil membelai lengan Beni.


”Terima kasih, Tante.” sahut Beni.


”Ini sudah mau masuk malam. Tante pergi memasak dulu untuk makan malam.” ucap Rosalina sambil berdiri.


”Aku akan membantu Tante memasak.” sahut Beni, ia juga ikut berdiri.


”Baiklah, ayo kita pergi bersama.” ajak Rosalina.


Mereka berdua pergi ke dapur.


.. ..


Di kamar Geo.


Geo terbangun masih dengan memeluk tubuh Syakila. Ia melihat Syakila masih tertidur.


Apa tidurmu nyenyak? Aku juga tidur dengan nyenyak. Syakila, ku mohon tetaplah di sisi ku. Jangan pergi dariku. Aku sungguh-sungguh telah jatuh hati padamu. Apa yang harus ku lakukan untuk mengurung mu di sini? Apakah aku menanamkan benihku di rahimmu? benaknya.


Ia membenarkan posisi tubuhnya, saat melihat mata Syakila bergerak, ia juga memejamkan mata.


Syakila terbangun, sekilas ia melihat ke arah pintu, pintu kamar baru saja di tutup, dan ia melihat bayangan Rosalina yang baru keluar dari kamar.


Apakah aku tidak salah lihat? Ternyata Geo tidak bohong, Mama memang tahu kata sandi kamar ini. Tadi sempat aku menangkap senyuman Mama. Jadi benar ini semua yang mengaturnya adalah Mama. benaknya.


Ia melihat Geo, pria itu masih tertidur. Syakila duduk di atas ranjang.


”Aku bisa tertidur nyenyak di lengan Geo, bahkan aku memeluk tubuhnya. Perasaan apa ini? Seharusnya aku menolak tawaran dia tadi berbantalkan lengannya saat tidur.” gumam Syakila dengan pelan.


”Tapi, jika tidak menghirup aroma segar dan menenangkan dari ceruk lehernya mungkin kau tidak bisa tidur dengan nyaman seperti ini. Apakah aku sudah mulai menyukai wangi khas tubuh darinya?” gumam Syakila lagi, sambil melihat Geo.


Aku sangat berharap ucapan mu itu benar, Syakila. Aku ingin kamu menyukai semua yang ada pada diriku. benak Geo.


”Sebaiknya aku pergi mandi sekarang dan memasak untuk makan malam.” gumam Syakila lagi sambil turun dari ranjang.


Ia mengambil handuk dan pakaian ganti lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Geo membuka matanya. ”Wanita bodoh! Seharusnya kamu tahu, sekarang kamu sudah mulai menyukai ku. Sekarang kamu sudah punya perasaan khusus padaku.” gumamnya pelan.


Ia kembali memejamkan mata ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Syakila telah selesai mandi.


Ia pergi ke meja hias, menyisir rambut panjangnya. Setelah itu, ia keluar dari kamar.


Geo kembali membuka mata dan duduk bersandar di ranjang. Ia kembali memikirkan perkataan Syakila yang akan menceraikan dirinya dan juga perkataan mamanya.


”Sebelum Syakila menyadari buku akad nikah kami tidak sah, aku harus merubahnya menjadi sah dahulu, lengkap dengan tanda tangan kami berdua.” gumamnya.

__ADS_1


”Ucapan mama membuatku tersadar, jika saja Syakila menceraikan ku di pengadilan, tentu saja dia yang akan menang. Pertama, buku nikah tidak sah. Yang kedua keadaan fisikku yang cacat, jadi, tidak bisa memberikan kebutuhan biologisnya. Dan lagi, dalam buku nikah itu, tidak ada wali dari Syakila.” gumamnya lagi.


__ADS_2