
Kediaman Sarmi.
”Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu?” tanya Geo, ia bingung melihat raut wajah Syakila yang terlihat ketakutan. ”Apakah Gun menakuti mu?” tanyanya lagi, sambil melihat Syakila yang duduk di kursi hadapannya.
”Tidak,” jawab Syakila.
”Apa kamu menghafal nomornya kakak mu atau Hardin?”
”Aku hanya hafal nomor Hardin.”
”Jika begitu, ini, ambillah. Telfon Hardin.” ucap Geo, sambil memberikan handphonenya pada Syakila.
Syakila mengambilnya, ia menggeser layar handphone Geo, Dia tidak menggunakan sidik jari atau kata sandi pada ponselnya! Bukankah orang penting seperti dia banyak rahasia yang tertampung di handphone? Tapi, kenapa dia tidak melindungi handphonenya dengan kata sandi atau sidik jari? Apa dia gak takut jika saja handphonenya berada di tangan orang yang salah, akan mencuri data-data penting darinya? benaknya, sambil melirik Geo.
”Kenapa melirikku? Apa kamu punya niat buruk pada ponsel ku?” tanya Geo lagi, ia menyadari lirikan Syakila.
Syakila menggeleng, ia melihat layar handphone, ”Tidak, untuk apa aku berniat buruk pada sebuah benda mati seperti ini? Tidak ada untungnya bagiku.” jawabnya, ia menekan tanda memanggil dan menekan nomor telfon Hardin.
”Kamu menyindir ku? Karena aku membanting hapemu?” tanya Geo, matanya menyipit memandang Syakila.
”Tidak,” elak Syakila. Ia menghubungi Hardin. Panggilan terhubung.
”Halo, ini siapa?”
”Hardin, ini kakak! Kakak ada di teras rumah sekarang! Tolong kamu bukakan pintu rumah, kami ingin masuk!” jawab Syakila.
Hardin bergegas bangun, ia berjalan keluar dari kamar, ”Iya, kak. Hardin sudah berada di depan sekarang. Hardin akan bukain pintunya.” ucapnya, ia langsung mematikan sambungan telfon.
Ia membuka pintu rumah, ”Kakak, sudah lama berada di teras? Mengapa tidak mengetuk pintu saja?” ucapnya lagi.
Syakila mendorong kursi roda Geo masuk ke dalam rumah, ”Kakak tidak ingin mengganggu tidur orang lain, makanya kakak menelfon mu.” sahutnya, ia kembali menutup pintu, namun, tidak menguncinya.
”Lalu, kenapa kakak menelfon ku dengan nomor yang lain? Sejak kapan kakak punya nomor baru? Jika Hardin tidak hafal suara kakak, Hardin akan matikan telfonnya tadi.” ucap Hardin.
Syakila melirik Geo, Geo menyadarinya. ”Hape dan kartunya kakak mu sudah rusak! Dan itu tadi nomor telepon ku, jika kamu memberikan nomor ku pada sembarang orang, kamu akan tanggung resikonya! Cukup anggota keluarga saja yang tahu nomor ku. Jika ingin menghubungi Syakila, telfon saja lewat nomor ku! Mengerti?!” ucapnya.
Hardin melihat Syakila, Syakila mengangguk.
”Iya, mengerti kakak ipar.” sahut Hardin.
”Hardin, sepertinya kakak Fatma belum bangun. Kamu buatlah sarapan, kakak mau mandi dulu, setelah mandi baru kakak datang membantu mu masak, bisa?” ucap Syakila.
”Bisa, kak. Kakak mandi saja, Hardin ke dapur dulu.” sahut Hardin. Ia langsung beranjak ke dapur, tanpa mendengar sahutan Syakila.
Syakila juga mendorong kursi roda Geo, masuk ke kamarnya.
.. ..
Di kamar Syakila.
”Aku mandi duluan, baru aku mandikan kamu ya, Geo.” ucap Syakila, sambil berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil baju ganti dan handuk.
”Kita mandi bersama saja, waktu kita gak lama lagi.” sahut Geo, mengusulkan.
Syakila melihat Geo, ”Tidak, kita tidak boleh mandi bersama!” tolaknya, ”Kalau begitu, aku mandikan kamu dulu.” ucapnya lagi. Ia menaruh pakaian dan handuknya di atas ranjang.
Ia mendorong kursi roda Geo ke kamar mandi. Geo tersenyum licik, Syakila tidak menyadarinya.
Syakila membuka pakaian atas Geo, lalu melepas celana panjang Geo, ia membiarkan celana boxer yang menutupi area pribadi pria itu.
Ia memindahkan Geo ke kursi roda satunya, kursi roda yang biasa di pakai untuk mandi. Ia membawa Geo ke bawah air shower. Syakila menyalakan airnya.
Geo menarik Syakila ke dalam pangkuannya, sehingga air membasahi tubuh mereka berdua.
”Geo!” Syakila berontak, ia ingin berdiri, ada yang mengganjal pada dirinya saat merasakan sesuatu yang di dudukinya mengeras dan bergerak.
Namun, Geo menahan Syakila tetap di pangkuannya. ”Ststst! Jangan melawan, kita mandi berdua saja biar cepat!” ucapnya dengan pelan berbisik di telinga Syakila, tangannya melepas baju Syakila.
Syakila menahan tangan Geo, ”Jika kamu begini, aku akan keluar, Geo! Kamu mandi saja sendiri!” ucapnya, dengan ketus. Ia beranjak berdiri.
Geo tetap menahan Syakila, tidak membiarkan wanita itu lepas dari pangkuannya. Ia memegang kedua tangan Syakila dengan kuat, dan melepas pakaiannya.
__ADS_1
”Geo, ku mohon, jangan begini! Jangan membuat ku membenci mu! Hubungan kita punya batasan! Jangan ingkari semua kesepakatan kita!” ucap Syakila, memelas.
Geo tidak mendengarkan Syakila, ia terus membuka seluruh pakaian wanita itu hingga kulit putih, mulusnya terekspos. Geo merasakan air mata Syakila yang jatuh di bahunya.
”Apa yang kamu takutkan? Kita suami istri, hal seperti ini sudah sepantasnya kita lakukan. Lagi pula, meskipun kamu merasakan gairah ku, apa yang bisa aku lakukan padamu? Sudahlah, kita mandi bersama saja. Aku tidak bisa melakukan hal lain padamu.” ucapnya, suaranya terdengar berat, gairahnya memang sedang memuncak, apalagi saat matanya melihat ke dada Syakila.
Syakila menyeka air matanya, ia akan menurut kali ini saja. Lagi pula, yang di katakan Geo adalah benar, apa yang bisa di lakukan Geo, padanya? ”Baiklah.” ucapnya, mengalah.
Geo tersenyum, ”Badan kita sudah basah, mandikan aku, setelah itu aku mandikan kamu.” ucapnya dengan pelan, tangannya memutar kran, mematikan air tersebut.
Syakila mengangguk, ia berdiri dari pangkuan Geo. Ia memakaikan sampo dan sabun pada Geo, dengan gemetar. Yah, badannya gemetar, ia tidak biasa dan baru kali ini memandikan Geo dengan tubuhnya yang hanya memakai bra untuk menutupi buah dadanya dan ****** ***** untuk menutupi aurat bawahnya.
Sebenarnya, Geo juga gemetar dan jantungnya berdebar saat ini, namun, ia menutupi kegugupannya itu. Sesekali, ia menelan kasar saliva nya.
Syakila memutar kran air, air kembali mengalir, ia membilas badan Geo. Seperti biasa, untuk area pribadi Geo, Geo sendiri lah yang membersihkannya.
Setelah dirinya bersih, Geo menahan Syakila di pangkuannya kembali, ia mematikan kran air, mengambil sampo dan memakai kan sampo pada rambut Syakila.
Ia mengambil sabun, Syakila menahan tangan Geo, ”Biar aku sendiri yang pakai sabun.” ucapnya, tanpa memandang Geo.
”Biarkan aku saja! Lepaskan tangan mu!”
Syakila merasa ragu, Geo melepaskan tangan Syakila yang memegang tangannya yang sedang memegang sabun mandi itu.
Ia mulai memakaikan sabun pada badan Syakila, ia membuka bra Syakila dan bebas memakaikan sabun pada belakang Syakila.
Syakila terkejut, ia menahan bra yang hampir terjatuh dengan mengapit tali bra dengan kedua ketiaknya.
Geo terus memakaikan sabun pada tubuh Syakila, hingga bra yang di tahan Syakila jatuh di lantai. Syakila terus menunduk, tidak berani menatap Geo, meskipun wajah pria itu berhadapan dengan wajahnya.
Syakila merasakan desiran darah hangat mengalir di kulitnya ketika tangan lembut Geo menyabuni tubuh depannya juga paha dan kakinya.
Geo tersenyum kecil, ia menyadari hal itu dari nafas Syakila. Ia menyalakan kran, air keluar menyirami tubuh mereka berdua.
Geo membelai lembut kulit putih, mulus Syakila. Ia memberikan pijatan lembut di dada Syakila.
Syakila terkejut, tubuhnya semakin gemetar. Ia juga merasakan di bawah sana semakin mengeras dan terus bergerak.
Geo tidak menahan diri lagi, ia mulai memberikan ciuman ringan pada Syakila. Kening, pipi, hidung, dan turun ke bibir wanita itu. Ia ******* bibir Syakila dengan lembut dan penuh gairah. Tangan kanannya masih beraktivitas di dada Syakila, tangan kirinya menahan tubuh Syakila. Syakila terbuai, tanpa sadar, ia membalas ciuman lembut Geo. Nafas berat mereka berdua saling bersahut.
Geo tersenyum. Ia terus membuat Syakila mabuk akan sentuhan lembutnya, ”Ah..” kata itu lolos dari bibir Syakila. Membuat Geo semakin bergairah.
Syakila terkejut, ia menutup mulutnya. Ia lebih terkejut, saat merasakan bibir Geo di dadanya, bahkan salah satu buah dadanya sudah berada di dalam mulut pria itu dan sedang menghisap nya.
”Geo, sudah! Aku sudah selesai mandi! Aku harus bantu Hardin menyiapkan sarapan!” ucapnya, menahan, menghentikan aktivitas Geo yang menurutnya sudah terlewat batas.
Geo menahan kedua tangan Syakila, ia memberikan tanda di buah dada Syakila, lalu menghentikan aktivitasnya. Ia memeluk erat tubuh Syakila itu, ”Syakila, jika aku tidak kekurangan, aku ingin sekali menikmati tubuh mu saat ini juga sampai puas.” bisik nya di telinga Syakila. Ia mencium bahu Syakila dan memberikan tanda di sana.
”Geo, tolong, lepaskan aku!” ucap Syakila. Tubuhnya masih bergetar, dan jantungnya masih berdetak dengan cepat.
Geo mengalah, ia melepaskan pelukannya. Syakila beranjak berdiri, mematikan kran air yang mengalir itu.
Ia mengambil handuk milik Geo dan melilitkan handuk itu pada tubuhnya. Lalu ia keluar dan dari kamar mandi, meninggalkan Geo di dalam sana.
Geo tersenyum, ”Syakila, tubuh mu sudah mulai menerima sentuhan ku! Perlahan-lahan, kamu akan mulai menyukai ku, dan kamu akan memberikan tubuh mu dan hatimu untukku. Aku menantikan hari itu, Syakila.” gumamnya.
Syakila berdiam diri sejenak, bersandar di pintu kamar mandi. Jantungnya masih berdebar, tubuhnya masih gemetar. Ia memejamkan mata, menghela nafas berkali-kali.
Syakila! Apa yang sudah kamu lakukan, hah?! Mengapa kamu membiarkan dirimu di sentuh Geo begitu saja? Mengapa? Apa kamu sudah mulai mencintainya?
Tidak! Aku tidak mencintainya! Ini...ini aku hanya masuk dalam jebakan kelembutan Geo saja. Hah, Geo cukup kali ini saja kamu berbuat begitu padaku! Lain kali, aku tidak akan menuruti mu!
Sardin...maaf kan aku... gumamnya. Ia merasa bersalah pada Sardin.
Ia membuka mata, melihat handuk dan pakaiannya di atas ranjang. Ia melirik pintu kamar mandi yang tertutup. Ia melangkah menuju ranjang.
Ia memakai pakaiannya, lalu melilitkan handuk miliknya ke rambutnya. Ia memegang handuk milik Geo, dan melihat ke kamar mandi.
Ia kembali menghela nafas berkali-kali. Lalu, ia beranjak berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Ia menunduk saat Geo melihat dirinya yang membuka pintu kamar.
Ia menghampiri Geo, mengeringkan rambut dan badan pria itu. Lalu, ia membantu Geo berdiri, ”Berpeganglah padaku, aku akan melilitkan handuk ini di badan mu.” ucapnya, dengan menunduk. Ia masih enggan melihat wajah pria yang sudah membuatnya mendesah, hanya karena sebuah sentuhan ringan.
__ADS_1
Geo menurut, ia berpegang erat pada tubuh Syakila, Syakila melilitkan handuk di badan Geo. Baru ia mendudukkan tubuh Geo di kursi roda satunya.
Ia mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar mandi. Ia membantu Geo berpakaian.
”Aku keluar dulu, ingin melihat Hardin di dapur.” ucapnya, masih enggan melihat wajah Geo.
”Hum,” jawab Geo.
Syakila keluar dari kamar. Ia pergi ke dapur, ”Kamu sudah selesai memasak semua sarapannya?” tanyanya pada Hardin, ia melihat makanan telah Hardin susun di atas meja dengan rapih.
”Iya, kak. Tinggal tunggu yang lain bangun untuk sarapan. Aku pergi mandi dan bersiap dulu kak.” jawab Hardin.
”Tunggu, kakak ikut kamu ke kamar, ada yang ingin kakak bicarakan dengan mu.” ucap Syakila.
”Iya, kak. Ayo.” ajak Hardin.
Mereka berjalan ke kamar Hardin.
”Apa yang ingin kakak bicarakan dengan ku?” tanya Hardin, setelah Syakila duduk di pinggir ranjangnya.
”Di mana hape mu yang biasa itu? Apa masih bagus? Kartunya masih aktif?” tanya Syakila.
”Iya, masih bagus dan kartunya masih aktif, kadang aku memakai hape itu untuk menelfon teman-teman ku.” jawab Hardin.
”Hardin, hape itu, kamu kasihkan kakak saja ya. Kamu pakai hapemu yang baru saja itu. Tapi, kakak mohon! Jangan sampai Geo tahu ini.”
Hardin memicing melihat Syakila, ”Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar? Apa hapenya kakak, Geo yang menghancurkannya?” tanyanya, selidik.
”Tidak! Hanya saja, Geo melarang kakak untuk membeli handphone baru. Karena kakak tidak bisa menjaganya.” jawab Syakila, dengan berbohong. ”Jadi, bisakah kamu menutupi ini dari Geo?” ucapnya lagi dengan melihat Hardin dengan wajah memelas.
”Baiklah, demi kakak ku, aku berjanji tidak akan menceritakan ini pada Geo. Jadi, jika aku menghubungi kakak, lewat nomor ini saja!” jawab Hardin.
”Tidak, tidak! Kamu tetap hubungi kakak lewat nomor Geo. Jika tidak, dia akan curiga jika aku punya handphone.”
Hardin mengangguk mengerti. Ia berjalan ke arah meja di samping jendela. Ia membuka laci dan mengambil handphone tersebut. Ia kembali menghampiri Syakila yang masih duduk di ranjangnya.
”Ini kak, hapenya.” ucapnya, sambil memberikan handphone tersebut pada Syakila.
Syakila tersenyum senang meraih handphone tersebut, ”Terima kasih, adikku sayang yang super ganteng.” ucapnya, memuji.
”Udah, tidak perlu memuji ku. Itu saja yang ingin kakak bicarakan, atau masih ada hal lain lagi?”
”Tidak ada. Kamu mandilah dan bersiap, kakak keluar dulu.” ucap Syakila sambil berdiri.
”Iya, kak.”
Syakila keluar dari kamar Hardin dengan hati senang, ia kembali menuju dapur. Ia menyendok sarapan satu piring dan minuman satu gelas, membawanya keluar dari dapur.
”Syakila? Kapan kamu pulangnya? Dan itu untuk siapa sarapannya?” tanya Fatma, yang berpapasan di bibir pintu dapur.
”Tadi kak, Hardin yang bukakan pintu rumah, sarapan ini untuk Gun, anak buahnya Geo. Aku pergi dulu kak, bawakan ini padanya, dia ada di mobil.” ucap Syakila, ia langsung pergi setelah berucap.
Ia menghampiri mobil Gun, mengetuk kaca mobil. Kaca mobil turun perlahan, Syakila melihat raut wajah Gun yang baru bangun.
”Kamu tidur? Maaf, maaf, sudah mengganggu tidurmu. Aku bawakan kamu sarapan.” ucapnya, sambil memperlihatkan nampan yang di bawanya pada Gun.
Gun membuka pintu mobil, ia mengambil nampan yang berisi sarapannya itu. ”Terima kasih, Nyonya.” ucapnya tulus.
”Sama-sama. Kamu makanlah dulu, kalau sudah selesai makan, simpan saja piring kosongnya di atas meja di teras rumah. Aku masuk dulu, kami juga akan sarapan. Atau...kamu bergabung saja sarapan dengan kami di dalam rumah.”
”Ah, tidak usah, Nyonya! Aku sarapannya di sini saja ” tolak Gun.
”Baiklah, aku pergi. Kamu makanlah!” ucap Syakila. Ia memutar badan, meninggalkan Gun di sana. Ia kembali masuk ke dalam rumah.
Ia berjalan ke kamarnya, ”Geo, ayok kita ke dapur, sarapannya sudah siap.” ucapnya, dengan menunduk. Ia berjalan ke belakang Geo, memegang pegangan kursi roda
”Sedari tadi kamu bicara padaku dengan menunduk. Apa kamu tidak ingin melihat wajahku? Apakah wajah ku ini sangat menjijikan untuk kamu lihat?” tanya Geo.
”Tidak, bukan begitu! Kamu jangan salah paham padaku. Aku ..”
”Kenapa? Kamu malu padaku karena hal di kamar mandi itu?” tanya Geo, memangkas ucapan Syakila.
__ADS_1
”Tidak usah bahas itu! Sekarang kita pergi sarapan.” sahut Syakila, ia mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar pergi ke dapur.