Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 31


__ADS_3

Kini mereka sampai di Club. Denis dan Halim mencari keberadaan Samnia.


"Mana dia, Bang?" tanya Denis.


"Mungkin belum datang, kita tunggu sebentar sambil duduk di sana, yuk!" ajak Halim. Denis mengangguk. Mereka pergi ke tempat duduk di mana mereka duduk waktu pertama Halim datang ke Club saat di ajak oleh Hamid.


Samnia yang baru tiba di Club ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan Club mencari sosok Halim. Ia melihat dua lelaki sedang duduk di bangku di depan bartender. Dari samping ia bisa mengenali wajah Halim.


Dengan senyum sumringah Samnia menghampiri Halim. Ia meletakan tangan kanannya di bahu Halim dan tangan kirinya ia bertongka pinggang. Halim terkejut saat merasakan sebuah tangan bertengger di bahunya. Ia menoleh untuk melihat tangan siapa itu. Halim segera menepis tangan Samnia dari bahunya.


Mendapat perlakuan begitu membuat Samnia manyun, namun di detik berikutnya ia kembali ceria dan menyapa Halim.


"Hai kak Halim, sudah lama menunggu ku?" Samnia bertanya. Ia belum menyadari jika di sebelah kirinya ada Denis yang sudah cemberut melihat keakraban Samnia kepada Halim.


"Samnia, duduklah!" pinta Halim. "Kamu tidak ingin menyapa Denis? Dia ada di sebelah mu." lanjutnya Halim berucap sambil menunjuk Denis.


"Kak Denis, kamu di sini juga?" tanya Samnia pada Denis dengan bingung.


"Iyah, hai Samnia ini pertemuan kita yang kedua. Kamu mau minum apa? Biar ku traktir." ucap Denis menyahuti Samnia sekaligus menawarkan minuman untuknya.


Samnia terdiam, ia sedang memikirkan untuk memesan minuman apa, ia melirik minuman Denis dan Halim. Terlihat berbeda.


"Kak Halim meminum apa itu?" tanya Samnia.


"Oh, ini hanya segelas air putih biasa, kalau Denis ia meminum minuman bersoda ringan. Kamu mau? Biar Denis pesankan." jawab Halim.


Samnia mengangguk, Denis segera memesankan minuman itu untuk Samnia tanpa di suruh lagi. Halim segera menghabiskan minumannya yang tinggal sedikit itu. Lalu dia berdiri dari duduknya.


"Denis, Abang pergi ke toilet dulu. Samnia sambil menunggu minuman mu, silahkan berbicara berdua dulu dengan adikku Denis."


"Tapi kak Halim!" wajah Samnia menggambarkan kekecewaan.


"Kamu tenang saja, aku hanya ke toilet, kamu bicaralah dengan Denis, dia adikku yang baik kok!" ucap Halim menghibur Samnia yang cemberut.


"Baiklah!" jawab Samnia sambil menunduk. Halim mengkode Denis lewat matanya untuk memberitahu Samnia jika dirinya sudah menikah. Setelah melihat anggukan kepala Denis, Halim segera pergi ke toilet.


"Denis," panggil Samnia pelan masih dengan menunduk.


"Hum," sahut Denis singkat.


"Sepertinya kak Halim tidak menyukai ku..." ucap Samnia masih dengan nada pelan mencurahkan hatinya.


"Tidak, em maksudku. Abang ku tidak mungkin tidak suka padamu. Siapa yang bilang kalau Abang ku tidak menyukai mu?" Denis mencoba menghibur Samnia yang terlihat sedih.


Samnia menegakkan kepalanya seketika, dengan tersenyum senang ia berkata, "Benarkah? Berarti kak Halim menyukaiku."


"Tentu saja Abang ku menyukai mu dan mengaggap mu seperti adik, seperti aku!" jelas Denis.


Wajah Samnia kembali cemberut, "Tapi aku maunya lebih dari itu kak Denis!" Samnia kembali menundukkan kepalanya, "Apa kak Halim sudah punya pacar kak?"


Huh, Abang Halim memang bisa membuat para gadis jatuh cinta padanya, padahal Abang Halim tidak pernah merayu seorang wanita pun. Dengan memandang secara fisik saja para wanita terkagum padanya, gimana kalau Abang Halim tebar pesona dan sengaja merayu para wanita. Waduh! Banyak wanita yang dengan sukarela melemparkan dirinya ke pelukan Abang Halim tanpa di minta. Eh! berfikir apa aku ini. Astaghfirullah, Abang Halim maafkan pikiran kotorku ini.


batin Denis.


"Kenapa kak Denis diam saja, jadi benar yah kak Halim sudah punya pacar?" Samnia kembali bertanya dengan wajah sesedih mungkin. Ketika Denis terdiam.

__ADS_1


"Em, iya Abang ku sudah punya pacar. Bahkan ia sudah menikahi pacarnya itu, dan Abang Halim sudah memiliki anak dari pernikahannya tersebut." jawab Denis.


"Apa!" Samnia terkejut, "Kak Halim sudah menikah dan sudah punya anak? Kak Denis jangan membohongiku.."


"Aku tidak membohongi mu, Samnia! Tapi ini kenyataannya, Abang ku itu memang sudah menikah dan mempunyai anak." jelas Denis.


"Hu hu hu berarti aku terlambat, padahal aku menyukai Kak Halim." ucap Samnia dengan sedih.


"Menyukai tidak harus menjadi pacar, kan?" ucap Halim yang baru saja datang dari toilet.


Samnia terkejut, ia menyembunyikan mukanya yang basah karena air matanya. Dengan menunduk, ia menghapus air mata di pipinya.


Halim menyadari itu. Ia mengelus kepala Samnia, "Anggap saja aku sebagai kakak mu, seperti aku yang menganggap mu adik. Ehm, kamu tidak tahu ada seorang pria yang jatuh hati padamu saat pertama melihatmu, loh!"


Samnia mengangkat kepalanya melihat Halim, "Benarkah itu kak? Siapa pria itu?" tanyanya penasaran.


"Pria itu orangnya baik, kakak yakin dia bisa membuatmu bahagia. Dia juga orangnya setia." jawab Halim menceritakan karakter pria tersebut.


"Kakak yakin sekali jika dia pria baik, dan setia. Kakak mengenal nya?" tanya Samnia penasaran.


"Hum, kakak mengenalnya dan sangat kenal, pria itu ada disini sekarang." jawab Halim sambil melirik Denis yang sedang gugup.


"Eh, iya kah? Di mana dia?" tanya Samnia sambil mengedarkan pandangannya lagi ke seisi Club.


Aku di sini Samnia! Di sampingmu, lihat lah di sampingmu bukan di tempat lain, Samnia!


batin Denis.


Halim menghentikan kepala Samnia yang tengok kanan, kiri, dan kebelakang nya. Halim memusatkan kepala Samnia di samping kirinya tepat di hadapan Denis yang lagi memandangi Samnia. "Dialah pria itu. Di sampingmu sendiri!" ucap Halim seketika.


A apa! Kak Denis menyukaiku, benarkah? Baiklah coba saja dulu menerimanya, itupun kalau dia menyatakan perasaannya, dari pada aku jomblo. Gak enak di ledekin teman-teman terus.


Denis yang di tatap semakin gugup. Ia menjadi salah tingkah. Dan sikapnya itu mengundang tawa Halim, namun Halim menahan tawanya hingga ia hanya tersenyum saja melihat sikap Denis.


"Samnia, Denis, sepertinya kalian harus punya waktu berdua untuk berbicara. Jadi kalian berbicaralah dulu, Denis. Abang akan keluar sebentar. Setelah selesai bicara cepatlah keluar dan kita pulang." ucap Halim.


"Iya Bang," sahut Denis.


Halim keluar dari Club membiarkan Samnia dan Denis untuk berbicara. Halim memandangi jalanan kota yang semakin ramai di lalui pengendara motor dan mobil, juga para pejalan kaki.


Tidak sengaja pandangan Halim terpusat pada seorang wanita yang di tampar oleh seorang lelaki. Wanita tersebut tidak berani melawan. Namun di detik berikutnya wanita tersebut berlari dengan ketakutan setelah ia melihat di belakang pria yang menamparnya tiga pemuda dengan pakaian hitam berlari ke arahnya.


Hati Halim tergerak untuk menolong wanita tersebut, ia melihat ada jalan kecil yang mengarah jalan di mana wanita itu lari. Halim segera berlari ke arah itu.


Halim bersembunyi di balik dinding yang penerangannya temaram. Dengan jelas ia mendengar beberapa suara langkah kaki. Dan mendengar teriakan seorang pria yang menyuruh wanita itu untuk berhenti berlari.


Ketika langkah wanita tersebut mendekati dinding persembunyian Halim, Halim menarik tangan wanita tersebut. Hingga wanita itu terkejut dan ingin teriak, namun Halim segera menutup mulut wanita itu dengan tangannya. Halim berbisik pelan di telinga wanita tersebut.


"Sttts, jangan berisik! Nanti mereka tahu keberadaan kita disni. Diam lah! Kamu aman sekarang!"


Wanita itu menjadi lega setelah mendengar suara pria yang masih menutup mulutnya dengan tangannya.


Halim? Oh Ya Rabb terima kasih.


Halima bersyukur dalam benaknya.

__ADS_1


"Dimana wanita itu! Cari dia cepat! Beraninya dia memukul bos kita! Berpencar cepat! Temukan dia!" ucap salah satu pria yang mengejar Halima.


Deg deg deg


Suara detak jantung Halima dan Halim bersamaan. Halima membalikkan badannya menghadap Halim dan memeluk tubuh Halim.


Halim tidak membalas pelukan Halima namun ia tidak melepaskan pelukan wanita itu, Halim mengerti akan situasi yang di hadapi wanita tersebut.


"Bos, kami tidak menemukan wanita itu. Larinya terlalu cepat." ucap salah satu pria melapor kepada sang bos.


"Cari dia di tempat lain! Kita harus temukan dia malam ini ataupun di hari mendatang, dan bawa dia pada bos besar kita." sahut seorang pria selaku bos mereka.


Halim bisa mendengar langkah kaki mereka yang sudah menjauh dari tempat dimana ia bersembunyi. Halim segera melepaskan tubuh wanita itu dari tubuhnya.


"Sekarang kamu aman! Pulanglah ke rumahmu!" pinta Halim.


Halima menggeleng, "Tolong temani aku sebentar disini." ucap Halima sambil memandang Halim.


Di penerangan temaram itu, Halim bisa melihat samar wajah wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang baru saja di tolongnya. Dan dengan di perkuat oleh nada suaranya, Halim bisa menebak wanita itu adalah Halima.


"Halima!"


Halima mengangguk, "Iya ini aku, terima kasih sudah menolongku." ucap Halima tulus tanpa memandang Halim.


"Hum, sebaiknya kamu pulanglah!" sahut Halim. Lalu ia melangkah kan kakinya untuk pergi. Namun Halima menahan tangan Halim.


"Ku mohon, temani aku sebentar saja!" pinta Halima.


Halim menghela nafas panjang, ia tidak menyahut ucapan Halima, namun ia juga tidak meninggalkan Halima. Ia berdiri kembali bersandar pada dinding tersebut sambil bersedekap memandang lorong sempit dimana ia berada sekarang.


Melihat Halim yang tidak pergi, Halima sedikit tenang. Ia mulai terisak. Ia mendudukkan dirinya perlahan di tanah. Halim terkejut melihat sikap Halima. Namun ia cuek saja. Ia tetap pada posisinya.


"Kamu tidak ingin bertanya, mengapa aku begini?" ucap Halima di sela isaknya.


"Aku tidak ingin tahu." sahut Halim.


Halima tertawa pilu. Meskipun Halim tidak ingin mengetahui tentang dirinya, tapi Halima tetap akan bercerita, entah Halim akan mendengarnya atau tidak. Yang ia ingin hanya melepaskan sebagian perasaan sesaknya yang sudah lama ia tanggung.


"Pria yang menampar ku, dia marah saat aku berlari menabrak nya. Dan ketiga pria yang mengejar ku mereka adalah anak buah dari seorang bos yang ingin aku layani nafsunya."


Halima terhenti sebentar, ia ingin mendengar apakah Halim akan merespon ucapannya atau tidak.


"Bukankah itu pekerjaanmu?" Halim bertanya dnegan bingung. Karena setahunya Halima memang bekerja untuk itu.


Halima terdiam entah apa yang harus dia jawab. Pandangan masyarakat dan pandangan Halim memang benar, karena Halima bekerja di sana dan tinggal di sana.


"Aku.. aku tidak seperti itu." ucap Halima sedikit gemetar.


Halim terkejut mendengar ucapan Halima.


Apa maksudnya dia tidak seperti itu? Dia masih ingin menyembunyikan identitasnya padaku? Atau mungkin saja benar apa ucapannya? Aku tidak boleh terlena dengan ceritanya.


batin Halim.


"Tidak perlu kamu menjelaskan siapa dirimu, sebaiknya kamu pulang sekarang! Aku juga ingin pulang! Adikku sudah lama menunggu ku, mungkin sekarang sedang mencari ku." sahut Halim. Ia kembali melangkah, Halima kembali menahan Halim dengan memegang tangannya.

__ADS_1


"Tolong, jangan dulu pergi!" pinta Halima. "Aku... aku ingin kamu menolongku." pintanya lagi.


"Aku sudah menolong mu, sekarang aku pergi!" sahut Halim. Ia menepis tangan Halima dan benar-benar pergi meninggalkannya. Ia kembali ke Club menemui Denis dan Samnia.


__ADS_2