
Keesokan paginya Halim terbangun karena mendengar suara percikan air di kamar sebelah kamarnya.
Halim melirik jam di dinding, pukul 04:40 subuh. Ia segera mendudukkan dirinya di atas ranjang dan mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Rupanya Anton telah bangun dan sekarang sementara mandi, aku juga harus segera mandi dan bersiap untuk shalat Subuh di masjid." gumamnya.
Kamar sebelah kanan Halim memang lah kamar Anton, sedangkan kamar di sebelah kiri Halim adalah ruang baca untuk Anton, disana terdapat berbagai macam buku panduan sukses dan juga beberapa buku tentang pemahaman agama.
Setelah selesai mandi Halim segera keluar dari kamar dan di waktu bersamaan pula Anton juga baru keluar dari kamar bacanya.
"Kamu sudah bersiap untuk pergi shalat?" tanya Anton, sambil berjalan mendekati Halim yang juga sedang berjalan ke arahnya.
"Iya, kamu juga sudah rapi, mari kita pergi bersama." sahut Halim mengajak Anton.
"Hum," sahut Anton. Mereka jalan bersama keluar rumah. Dan berjalan kaki sama-sama ke masjid. Dalam perjalanan ke masjid, suara adzan Subuh sedang berkumandang. Mereka mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke masjid.
Mereka kini sedang wudhu, dan masuk kedalam masjid. Mereka menunaikan shalat subuh berjamaah, setelah dua rakaat telah usai mereka berdoa dengan khusyuk.
Ya Allah semoga niat baikku untuk Halim tidak di salah pergunakan olehnya. Tuntun lah Halim ke jalan yang lurus. Dan lindungilah Halim beserta keluarganya dari segala macam godaan duniawi yang menyesatkan. Aamiin.
doa dalam benak Anton untuk Halim dan keluarganya.
Ya Allah jadikanlah hamba orang yang taat kepada-Mu, lindungilah keluargaku dari godaan duniawi yang menyesatkan. Dan lindungilah keluarga Anton dari segala macam musibah dan bencana-Mu. Mudahkanlah segala urusan Anton dan berilah rezeki -Mu di setiap langkah kakinya. Aamiin.
doa dalam benak Halim untuk keluarganya dan juga keluarga Anton.
Setelah selesai berdoa kini mereka bersalaman, bukan hanya pada mereka berdua tetapi mereka juga bersalaman dengan para jamaah lainnya.
Halim yang sudah memakai sandalnya dan menunggu Anton keluar dari masjid, ia kembali masuk ke dalam masjid karena Anton memanggilnya.
"Halim, ada sesuatu yang ingin aku bicara denganmu." ucapnya, "Kita bicara di dalam masjid saja." ucapnya lagi mendahului langkah masuk ke masjid.
Halim menjawab dengan anggukan kepala. Dalam benaknya ia sedang berfikir kira-kira apa yang akan di bicarakan oleh Anton sepertinya sangat serius.
Apa yang akan di bicarakan denganku? Sepertinya sangat serius, terlihat dari wajahnya yang tegas. Apa ini karena semalam kami pergi ke Club?
batin Halim sambil melangkah masuk ke masjid dan duduk di samping Anton.
"Ada apa, sepertinya sangat penting?" tanya Halim setelah ia duduk.
"Iyah, ini memang sangat penting. Makanya aku mengajak mu bicara disini, supaya kita tenang dalam pembicaraan ini." sahut Anton masih dengan wajah serius memandang Halim.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, mungkin ini bersifat pribadi. Apa kamu akan keberatan?" ucap Anton bertanya untuk memulai percakapan.
"Silahkan saja bertanya, jika aku mampu menjawab akan ku jawab, jika tidak, jangan paksa aku untuk menjawabnya." sahut Halim.
"Hum," jawab Anton singkat. "Apakah kamu tahu tentang kabar kakakmu, Ikshan? Sewaktu ia bekerja dengan keluargaku di kota ini?" tanyanya
Apakah yang di maksud dengan Anton tentang perselingkuhan Ikhsan? batin Halim.
"Hum, aku tahu." jawab Halim singkat.
"Aku tidak ingin kejadian yang di alami Ikhsan, kamu juga mengalaminya." ucap Anton khawatir.
__ADS_1
"Jangan cemas, Insya Allah aku bisa menjaga diri untuk anak dan istriku." ucap Halim menenangkan Anton.
"Bisakah aku mempercayaimu?" tanya Anton dengan serius.
"Jika kamu meragukan ku, janganlah berlebihan mempercayaiku." ucap Halim sedikit kesal.
"Baiklah, aku percaya padamu. Dan ku tahu kamu adalah orang yang bertanggung jawab, maka kamu harus bertanggung jawab atas apa yang akan ku berikan padamu." sahut Anton.
Halim terdiam dengan mengkerut kan dahinya ia memandang Anton. Anton juga memandang Halim dengan tegas dan berkata padanya, "Sudah hampir tiga bulan kamu menjaga kan tokoku, dan masa itu juga aku memberimu waktu untuk mengembalikan modal ku. Dan dari uang yang sudah kamu dapatkan selama ini, modal awal ku sudah kembali. Dan mulai dari hari ini sampai seterusnya, simpanlah sendiri uangmu. Karena toko yang kamu jaga sekarang adalah toko mu. Aku memberikan mu kepercayaan penuh untuk mengelola usahamu sendiri. Dan ku harap kamu bijak dalam mengelolanya."
"Apa yang kamu bicarakan ini, benar? Apa kamu tidak main-main? Bagaimana dengan istrimu, apakah dia setuju dengan niatmu ini?" Halim mencerca Anton dengan berbagai pertanyaan.
Anton tertawa kecil, "Hahaha, aku serius dengan ucapan ku, Halim! Mengenai istriku, ia sangat setuju akan hal ini. Justru niat baik ini dari dia." ucapnya dengan tersenyum.
Halim tidak tahu bagaimana ia akan berekspresi, senang kah atau sedih kah. Yang di rasakan nya sekarang hanyalah kesyukuran pada nikmat yang Allah berikan untuknya melalui Anton.
Terima kasih ya Allah atas nikmat yang telah Engkau berikan pada keluargaku. Berikanlah selalu rahmat dan rezeki-Mu kepada Anton dan keluarganya, ya Allah. Aamiin.
batin Halim.
"Terima kasih, Anton. Insya Allah aku akan mengelolanya dengan baik." sahut Halim.
"Hum, sama-sama! Aku mempercayaimu, Halim! Jangan menodai kepercayaan ku!" ucap Anton. "Sekarang sudah tidak ada lagi yang di bicarakan. Sebaiknya kita pulang sekarang!" lanjutnya berucap.
"Hum," jawab Halim singkat. Mereka berdiri dari duduknya dan berjalan bersama-sama keluar dari masjid hingga mereka sampai ke rumah.
Anton seperti biasa ia duduk bersantai dulu di kursi teras rumahnya. Sedangkan Halim ia pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap ke toko untuk membuka jualannya.
"Hum, hati-hati!" sahut Anton. Halim mengangguk lalu kembali melangkah keluar dari teras. Namum langkahnya terhenti ketika Anton menahannya.
"Halim, tunggu!"
Halim berhenti di tempat berdirinya sekarang, ia hanya menolehkan kepalanya saja melihat Anton.
Di saat itulah Anton berkata padanya, "Apa kamu sudah siapkan kiriman untuk anak dan istrimu? Lusa malam aku berangkat ke kampung."
Oh, aku belum menyiapkan nya. Lusa malam berangkat besok saja baru aku persiapkan.
batin Halim.
"Aku belum menyiapkannya, besok baru aku siapkan titipan ku." jawab Halim santai.
"Baiklah, aku tunggu itu." sahut Anton.
Halim kembali melanjutkan jalannya pergi ke toko untuk membuka jualannya. Selama perjalanan ke tokonya ia berhati senang.
Alhamdulillah, sekarang aku punya toko sendiri. Sarmi pasti senang mendengar berita ini. Eh ngomong-ngomong aku akan memberikan apa untuk mereka yah?
batin Halim.
Kini langkahnya telah sampai di depan tokonya. Ia berhenti berpikir. Dengan bismillah ia membuka pintu tokonya dan mulai mengeluarkan dan mengatur barang-barang yang dipajang di luar biar mudah dilihat oleh pembeli.
Karena itu sudah menjadi aktivitas kesehariannya, Halim dengan cepat mengatur barang jualannya.
__ADS_1
Setelah selesai ia kini duduk bersantai di kursi di dalam sambil menunggu pembeli datang. Di saat itu ia kembali memikirkan oleh-oleh apa yang akan dia berikan untuk anak dan istrinya.
*Hum, ini pertama kalinya aku memberikan oleh-oleh untuk anak dan istriku di kampung selama tiga bulan aku berada disini.
Kira-kira oleh-oleh apa yang akan membuat mereka senang? Oh, untuk anak-anak aku berikan baju dan mainan saja. Dan untuk istriku cukup aku mengirimkannya uang, beberapa baju dan sepucuk surat.
Dan untuk mertuaku aku akan memberikannya beberapa buah baju. Begitu juga untuk kedua orang tuaku, aku akan memberikannya beberapa baju*.
batin Halim.
Ia tersenyum sendiri membayangkan betapa senangnya mereka menerima oleh-oleh darinya.
"Oleh-oleh sederhana itu pasti sudah bisa membuat anak-anak ku bahagia." gumamnya
"Baiklah, hari ini aku akan yg tutup cepat untuk mencari baju." lanjutnya bergumam.
Kesendirian Halim kini terusik saat mendengar suara seseorang di depan tokonya.
"Permisi,"
Halim berdiri dari duduknya dan melihat siapa di depan. Rupanya seorang wanita yang berpakaian seksi. "Ada yang bisa di bantu?" tanya Halim sopan.
"Iya, ini ada daftar barang yang ingin aku beli, tolong di siapkan semuanya dan di total, yah!" ucap wanita itu sambil memberikan selembar kertas yang berisikan nama barang yang di butuhkan. Halim menerima dan membacanya.
"Boleh aku duduk disitu untuk menunggu barang ku?" ucap wanita tersebut lagi. Halim tersenyum dan mengangguk, "Silahkan, saya persiapkan dulu barangnya." sahutnya.
Wanita itu duduk di bangku yang di maksud sedangkan Halim, ia masuk kedalam toko dan menyiapkan barang-barang yang sesuai dengan catatan di kertas itu.
Banyak juga barang yang di belinya, apa ini untuk di jual kembali atau untuk keperluannya sendiri?
batin Halim saat ia menyiapkan barang tersebut. Setiap barang ia mengambil sebanyak lima buah.
Kini Halim sudah selesai menyiapkan barang-barangnya, dan sekarang ia menota barang tersebut, agar gampang di cek ulang dan gampang di hitung jumlahnya.
Setelah selesai ia nota, ia mengecek kembali barangnya sambil memasukan kedalam plastik besar. Setiap barang yang di masukan ia memberikan tanda centang pada nota di nama barang tersebut.
"Sampo Dave, handbody citra, parfum soft, rexona, sabun mandi citra cair, Pepsodent 12O gr, parfum ruangan, lipstik warna coklat, bedak padat pixie, soklin lantai kecil, Ok, semua sudah masuk kedalam plastik. Tidak ada yang ketinggalan lagi. Sekarang tinggal menjumlahkan total belanjaannya." ucap Halim berkata pada dirinya sendiri.
Setelah selesai menotalkan semua, Halim keluar ke depan dengan membawa satu kantong plastik barang di tangan kirinya dan selembar nota belanjaan dan selembar kertas milik wanita tersebut di tangan kanannya.
Barangnya ia letakkan di samping kaki wanita tersebut, "Ini semua barangnya, dan ini nota belanjanya." ucap Halim sambil memberikan nota tersebut pada wanita itu.
Wanita itu menerimanya dan membaca total uangnya lalu mengambil dompet dari tas dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Halim. "Ini coba ulang di hitung, total semuanya delapan ratus lima puluh lima ribu, kan?" ucapnya sambil menyerahkan uang tersebut pada Halim.
Halim mengambil dan menghitungnya, lalu ia kembali masuk kedalam dan segera keluar dengan memegang uang senilai empat puluh lima ribu uang kembalian untuk wanita tersebut.
"Ini Kembaliannya, terima kasih sudah berbelanja disini." ucap Halim tulus.
"Sama-sama," sahut wanita itu sambil mengambil uang kembaliannya lalu memasukkan kembali kedalam dompet dan ia pergi dari toko Halim dengan membawa belanjaannya.
Halim bersyukur dalam benaknya sambil melihat punggung wanita tersebut.
Alhamdulillah masih pagi, sudah dapat rezeki luar biasa.
__ADS_1