
”Brengsek! Bagaimana bisa Marlina masuk ke kamar ku? Apa dia tahu kata sandi pintu kamar ku? Tapi, siapa yang beri tahu dia? Syakila? Mama? Atau Beni? Kurang ajar siapa yang beri tahu dia?”
”Kemana lagi wanita matre itu? Lama sekali perginya! Tidak tahu apa ada pecahan gelas di lantai!”
”Apa! Da-darah!” Geo terkejut melihat darah di lantai dan satu pecahan gelas yang sedikit besar terdapat darah. Ia melihat darah itu tercecer hingga ke pintu kamar. ”Siapa yang terluka? Cewe matre itu atau Marlina? Lukanya pasti dalam, darah yang menempel di pecahan gelas itu menjadi ukuran seberapa dalam lukanya.”
Di luar pintu kamar Geo. Syakila masih memapah tubuh Marlina.
Bagaimana bisa Syakila menenangkan Geo dengan mudah? Trik apa yang di gunakannya? Apa dia memiliki sihir?
Marlina melepaskan tangan Syakila dengan kasar dari tubuhnya.
”Lepaskan aku! Pergi dari ku! Aku tidak butuh bantuan mu! Entah sihir apa yang sudah kamu gunakan untuk menyihir Geo s__”
”Sihir? Apa maksudmu? Aku tidak pernah menyihir Geo dan aku tidak memiliki sihir apapun!” elak Syakila memangkas ucapan Marlina.
”Cih, munafik! Wanita rendahan seperti kalian selalu menggunakan segala cara untuk memikat pria kaya dan mapan. Kalau bukan dengan sihir, dengan cara apalagi kamu menenangkan Geo? Begitu mudahnya Geo tenang jika kamu sudah menyentuhnya, tentu saja itu pasti menggunakan sihir!” ucap Marlina.
Syakila memandang marah pada Marlina.
Meladeni dia akan terasa percuma! Huh, kaki ku sangat sakit, di tambah lagi kata-katanya yang memfitnah ku! Sepertinya, memang salah aku menikah dengan Geo. Kaya? Sekaya apa sih dia? Hah, tidak ada untungnya bagi ku dia kaya atau tidak. Tidak ada untungnya juga bagiku untuk merayu pria angkuh dan pemarahan seperti dia.
”Terserah padamu mau berkata apa, itu hak mu! Aku memang memiliki sihir dan aku menggunakan sihir ku untuk menenangkan Geo. Puas dengan jawaban ku?” ucap Syakila.
”Kamu!” Marlina melayangkan tangan menampar Syakila. Syakila menahan tangan Marlina.
”Jangan kamu coba-coba menampar wajah ku dengan tangan mu itu!” Syakila menghempaskan tangan Marlina dengan keras.
Ia berlalu meninggalkan Marlina. Marlina menatap punggung Syakila dengan tajam. Jalannya terpincang-pincang.
”Argh, telapak kakiku sakit sekali! Aku harus segera bersihkan lukanya sebelum akan terinfeksi.”
Syakila membuka pintu kamar dan masuk. Ia berhenti di depan pintu saat melihat Geo yang memandangnya dengan marah.
Ada apa lagi dengan pria sombong dan pemarah ini? Tatapannya, hal apa lagi yang dia marah kan?
”Mengapa Marlina bisa masuk ke kamar ku?” tanyanya dengan nada tinggi.
”Aku tidak tahu!” jawab Syakila dengan ketus.
”Benar, kamu tidak tahu?” Geo bertanya dengan menekan setiap ucapannya.
”Tentu saja! Mengapa kamu tidak menanyakan itu padanya? Bukankah kata sandi kamar mu di ketahui oleh semua keluarga mu? Dan dia keluarga mu, kan? Jadi, jangan heran dong kalau dia tahu kata sandi kamar mu! Dan tentu saja dia dengan bebas bisa keluar masuk ke kamar mu!”
”Tidak, dia tidak tahu kata sandi kamar ku, yang tahu cuma aku, Beni, mama, dan "Dia".”
Syakila memicing, Dia? Apakah ”Dia” yang di maksud itu adalah Dawiyah?
”Sudahlah, tak perlu di bahas lagi! Kamu bersihkan saja lantai kamar itu, lantainya sangat kotor!” ucap Geo lagi.
”Iya,” sahut Syakila.
Geo mendorong kursi rodanya sendiri menghadap dinding kaca dan melihat ke arah luar.
Syukurlah, sepertinya bukan kaki Syakila yang terluka. Darah itu, darahnya Marlina. Biar kan saja, itu ganjarannya sudah berani masuk ke kamar ku!
Syakila berjalan pelan menuju kamar mandi. Ia mengatur suhu air menjadi hangat dan ia menyalakan airnya. Ia membersihkan luka di telapak kakinya menggunakan air hangat tersebut.
”Ah, sakit sekali!” jeritnya pelan.
Ia mengambil tisu toilet yang ada di sana untuk membersihkan lukanya itu. Setelah bersih, ia keluar dari kamar mandi dengan membawa sapu dan skop sampah.
Jalannya masih terpincang-pincang, luka yang di akibatkan pecahan gelas itu sedikit besar dan dalam. Syakila menyapu pecahan gelas itu sampai bersih, kemudian ia mengambil pel dan mengepel lantainya.
”Oh iya, di luar sana masih ada jejak darah ku. Aku pergi bersihkan dulu.”
Syakila berjalan pelan keluar dari kamar dengan memegang kain pel. Ia membersihkan darahnya yang tercecer di sana.
”Syakila, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu repot-repot mengepel? Rumah ini tiga kali dalam seminggu ada tiga pria yang bertugas untuk membersihkan rumah.” ucap Beni.
Syakila tersenyum, ”Eh, Kak Beni. Aku tidak mengepel lantainya kok, kak. Aku hanya membersihkan darah yang lengket di lantai saja. Ini juga sudah selesai, kak Beni bikin apa kesini? Mau ketemu Geo?”
__ADS_1
Beni tersenyum senang mendengar panggilan baru dari Syakila untuknya.
Kak Beni, dia memanggil ku kakak dengan lembut. Aku suka itu.
”Iya, ada yang ingin aku bicarakan padanya mengenai pekerjaan. Kenapa? Apa Geo sedang istirahat?”
”Em, tidak kak, dia lagi duduk di kursi roda sambil melihat pemandangan di luar sana. Mari masuk kak.”
Syakila mendahului jalan. Beni mengerut melihat jalan Syakila yang pincang dan pelan.
”Syakila, apa yang terjadi dengan mu? Mengapa kamu jalan seperti itu? Apa telapak kakimu sakit?” tanyanya khawatir.
”Em, iya kak, tapi sudah tidak apa-apa, kak.”
Tanpa berkata dan minta izin, Beni menggendong tubuh Syakila. Membuat Syakila terkejut.
”Kak Beni? Apa yang kakak lakukan? Cepat turunkan aku, Kak! Aku masih bisa jalan sendiri.” berontak Syakila.
”Sudah, kamu diam saja! Jangan banyak gerak! Kakimu lagi sakit, biarkan aku membantu mu berjalan. Bukankah kamu memanggil ku kakak? Jadi, seharusnya tidak masalah kan aku membantu mu?”
Syakila terdiam. Ia menurut, membiarkan Beni menggendongnya.
”Buka pintunya Syakila.” Syakila menekan kata sandi pintu, pintu terbuka. Beni masuk ke dalam kamar masih dengan menggendong Syakila.
Geo menatap kedua insan itu dengan tatapan membunuh. Ia mengeratkan kedua rahangnya, kedua tangannya terkepal erat.
Dasar brengsek! Wanita murahan ini, beraninya dia menggoda Beni! Tadi chattingan dengan Sardin begitu mesra, sekarang dia bermesraan dengan Beni di hadapan ku!
Beni mendudukan Syakila di kursi sofa. Ia jongkok di hadapan Syakila. Ia mengambil kaki Syakila yang terluka.
”Ya ampun, Syakila! Lukanya cukup besar dan dalam, apa kamu sudah mengobatinya?" ucap Beni khawatir setelah ia melihat luka di telapak kaki Syakila cukup besar juga dalam.
Geo memicing, Luka? Kaki Syakila terluka? Jadi, darah itu? Darahnya Syakila, bukan darahnya Marlina? Lukanya dalam, mengapa aku tidak tahu jika dia yang terluka?
”Em, belum di obati kak, tapi sudah ku bersihkan pakai air hangat. Setelah selesai bersihkan lantai baru berencana aku obati, kak.” sahut Syakila.
Geo terkejut mendengar panggilan Syakila untuk Beni.
Kakak? Seberapa dekat Syakila dan Beni? Mengapa Syakila memanggil Beni dengan kakak? Lembut lagi!
Beni mengambil kotak obat di dalam laci nakas.
”Apa kalian berdua meniadakan keberadaan ku di kamar ini?” Geo bertanya dengan ketus.
”Eh, em Geo, apa maksudmu? Siapa yang mengabaikan mu? Tunggu sebentar, aku obati kaki Syakila dulu, baru aku berbicara dengan mu.” sahut Beni.
Beni kembali menghampiri Syakila. Ia membersihkan luka Syakila menggunakan alcohol. Beni menekan-nekan sedikit kapas itu ke luka Syakila.
"Ah, pelan-pelan kak, sa...sakit! Uh, pe..perih kak!” jerit Syakila pelan. Ia menggigit bibir bawahnya.
Gluk!
Geo dan Beni sama-sama menelan salivanya dengan kasar. Suara Syakila dan mimik wajah yang di tampakkan Syakila, mampu menggoda hasrat mereka berdua.
Brengsek! Sial! Apa dia sengaja mengeluarkan suara seperti itu? Cih, kalau saja bukan pria baik-baik yang sedang mengobatinya. Sudah habis dia di lahap!
”Ehm, em, maaf. Kakak akan pelan-pelan.” ucap Beni. Syakila mengangguk.
Geo masih memandang mereka berdua dengan pandangan yang tidak bisa di artikan. Beni lanjut membersihkan luka Syakila sampai benar-benar bersih.
”Em, kak ada piring kecil di dalam nakas, tolong kakak ambilkan dan obati lukaku pakai itu saja.” ucap Syakila.
Beni mengerut, ia meletakan kembali salep luka yang di pegangnya dan berdiri mengambil piring kecil yang di maksud Syakila dari dalam nakas.
”Yang ini, Asya?”
Syakila mengangguk. Beni menutup pintu laci nakas dan kembali ke arah Syakila.
”Em, pelan-pelan ya kak. Obat itu akan terasa perih saat menyentuh luka.” ucap Syakila.
”Hum, aku akan pelan-pelan. Kamu tenang saja.” sahut Beni.
__ADS_1
Geo sangat tidak senang mendengar pembicaraan mereka yang cukup dekat dan terdengar lembut itu.
”Sudah selesai, kakak melakukannya dengan lembut kan?” ucap Beni seraya tersenyum manis.
Syakila membalas tersenyum, ” Iya, makasih kakak sudah membantu mengobati luka ku.”
”Sama-sama Syakila, jangan sungkan!” sahut Beni sambil berdiri. Ia mengelus pelan kepala Syakila sambil tersenyum.
Syakila memandang Beni. Beni begitu lembut padanya. Beni juga membalas tatapan Syakila, mereka saling memandang. Membuat Geo semakin merasa tidak senang.
”Beni, kamu ingin bicarakan apa dengan ku? Bicaralah cepat! Aku ingin istrahat!” ucap Geo ketus.
Tatapan mata Syakila dan Beni terputus, mereka berdua saling senyum kaku, mereka berdua salah tingkah. Beni melihat Geo.
”Em, itu masalah pekerjaan. Sebaiknya kita bicara di ruang kerja mu saja.” sahut Beni.
”Tidak usah, bicara di sini saja.” ucap Geo. Ia melihat Syakila, ”Kamu istrahat lah!” Syakila mengangguk.
Syakila berbaring. Tanpa di suruh Geo pun, ia memang akan beristirahat. Geo dan Beni terlibat dalam percakapan yang serius mengenai pekerjaan. Syakila memperhatikan kedua lelaki itu.
Ia melihat Beni mengambil baju, jas, dan dasi Geo juga laptop Geo dari dalam lemari pakaian Geo. Beni memakaikan pakaian Geo. Setelahnya, ia menyalakan laptop milik Geo juga laptop miliknya sendiri.
”Selamat siang, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian dalam rapat ini. Jika semuanya sudah hadir, mari kita mulai rapat kali ini.” ucap Geo.
Geo dan Beni terlibat percakapan yang serius dengan anggota rapat yang lainnya. Syakila terus memperhatikan kedua pria tersebut. Ia terpukau dengan ketampanan Geo, suara khas Geo saat membuka rapat lewat zoom. Ia begitu berkharisma, setiap kata-katanya tidak terbantah oleh anggota rapat lainnya.
Siapa sebenarnya pria ini?
Perlahan-lahan mata Syakila terpejam. Ia tertidur.
Benar-benar tertidur pulas. Geo dan Beni sama-sama melirik ke arah Syakila.
”Demikian rapat kita pada hari ini, semoga kedepannya perusahaan kita semakin maju dan berkembang. Sukses untuk kita semua!” ucap Geo mengakhiri rapat.
Beni mematikan laptopnya. Sedangkan Geo sedang memeriksa cctv yang ia pasang secara sembunyi di depan pintu kamarnya.
Ia melihat Syakila yang datang dengan membawa keranjang pakaian. Marlina mengikuti Syakila dnegan diam-diam. Syakila membuka kata sandi kamar, Marlina memperhatikan. Syakila masuk. Marlina menahan pintu dan masuk ke dalam dengan diam-diam.
Oh, jadi Marlina masuk ke kamar ku secara diam-diam. Dia sudah tahu kata sandi kamar ku. Aku harus menggantinya sekarang. Jika tidak, ia akan menyusup masuk lagi ke kamar ku.
”Beni, mulai hari ini aku akan mengganti kata sandi kamar ku. Dan yang tahu kata sandinya hanya aku dan Syakila saja. Apa kamu keberatan?” ucap Geo.
Mengapa Geo tiba-tiba ingin mengganti kata sandi kamarnya? Dan tidak ingin aku dan Tante tahu kata sandinya. Apa dia....
”Em, terserah mu saja, aku tidak keberatan. Mengapa kamu tiba-tiba ingin mengganti kata sandi mu? Apa kamu sudah melupakan Dawiyah?” sahut Beni. Ia penasaran dengan alasan Geo mengganti kata sandi pintu kamarnya.
”Ini semua tidak ada hubungannya dengan Dawiyah. Untuk perasaan ku dengannya bukan urusan mu. Marlina menyusup masuk ke kamar ku secara diam-diam. Dia ingin mendekati ku, dia sudah tahu kata sandi kamar ku. Jadi, aku harus ganti, aku tidak ingin dia akan punya kesempatan kedua, ketiga, atau kesempatan lainnya untuk menyusup masuk ke kamar ku.” ungkap Geo
Beni memandang Geo bingung, ”Marlina? Mengapa dia bisa masuk ke kamar mu? Dia tahu kata sandi pintu mu dari siapa?” Beni bertanya penasaran.
”Dia mengikuti Syakila masuk ke kamar ku diam-diam. Dia juga memperhatikan saat Syakila menekan kata sandi kamar ku.” jelas Geo. ”Beni, satu hal lagi yang ingin aku bicarakan padamu,”
”Apa itu?”
”Jangan ulangi sikap mu seperti itu kepada Syakila!” ucap Geo dengan tegas memandang Beni.
”Geo, aku salah, tidak seharusnya aku menggendong Syakila seperti itu. Kamu jangan marahi dia, dia berontak saat ku gendong. Tapi, aku tetap menggendongnya, aku tidak sampai hati melihat dia jalan terpincang-pincang.” jelas Beni.
”Ku harap kamu tidak menaruh hati padanya! Kamu tahu dia istri ku kan? Jangan terlalu dekat dengannya!”
Beni terdiam. Dia memang mulai menyukai Syakila, Syakila memang sudah menikah dengan Geo. Tapi, bukankah Geo tidak pernah menganggap Syakila sebagai istrinya? Bahkan dia ingin membuat surat perjanjian pernikahan dengan Syakila, dia tidak ingin selamanya terperangkap pernikahan dengan Syakila.
”Geo, bukankah kamu tidak pernah menganggap Syakila sebagai istrimu? Kalian juga terikat dengan perjanjian untuk saling melepas jika kamu sudah sembuh. Selama itu, aku akan berusaha untuk memikat hati Syakila. Aku menyukainya, setelah kalian berpisah aku akan menikahinya.”
"Apa? Kamu!”
Geo terdiam. Apa yang di bilang Beni benar, dia dan Syakila terikat perjanjian seperti itu. Geo dan Beni saling menatap dengan tajam dengan pikirannya masing-masing.
”Beni, keluarlah! Aku ingin beristirahat! Untuk selanjutnya nanti baru kita bahas lagi.” ucap Geo.
”Hum, aku keluar sekarang.” sahut Beni.
__ADS_1
Ia beranjak berdiri. Sebelum ia keluar dari kamar Geo, ia melihat Syakila yang tertidur.
Istirahatlah dengan tenang Syakila. Cepatlah kamu buat Geo sembuh, aku sudah tidak sabar untuk meminang mu.