
”Kamu sudah lama di kota ini, Halim?” tanya Rosiana, istri Albert.
”Saya belum lama berada di kota ini, Nyonya. Saya baru enam bulan disini.” jawab Halim jujur.
”Baru enam bulan? Bagaimana, kamu tahu tentang kami?” Rosiana memandang bingung pada Halim.
”Dari teman saya, Nyonya. Dia yang menunjukan keluarga Nyonya pada saya.” sahut Halim.
”Kamu terlihat masih muda, tetapi sudah memiliki enam anak, apa kamu tidak membohongi kami?” tanya Rosiana. ” Ceritakan garis besar mu tentang keluargamu.”
”Tidak Nyonya. Saya berkata jujur, saya menikah di usia sangat mudah sekali. Anak pertama dan kedua saya sudah sekolah kelas dua SD, tahun ini sudah masuk kelas tiga SD. Sedangkan anak ketiga sampai ke enam belum bersekolah. Keluarga saya bukan keluarga yang terpandang, tidak ada keistimewaan khusus pada keluarga saya.” jelas Halim.
”Baiklah, saya percaya padamu. Kamu tunggu disini. Aku akan menyusul suamiku sebentar.” titah Rosiana.
”Iyah, Nyonya.” sahut Halim.
Rosiana pun pergi menyusul suaminya. Meninggalkan Halim sendirian di ruang tamu tersebut.
Kira-kira apa yang akan di lakukan mereka. Apa mereka sedang menyiapkan kertas kontrak peminjaman uang? Apa mereka akan mempersulit ku dalam hal pengembalian uang tersebut? Atau justru mereka akan berunding untuk tidak memberikan ku uang?
batin Halim.
Halim duduk dengan gelisah di kursinya. Ini sudah lama dari kepergian Rosiana dan Albert, tapi mereka belum juga kembali ke ruang tamu untuk menemui ku. Apa mereka mengusirku dengan halus seperti ini? pikir Halim.
Tidak lama kemudian, Albert dan Rosiana datang bersamaan. Mereka kembali duduk di tempat duduknya semula.
Albert meletakkan sebuah koper hitam dan sebuah map di atas meja. Halim menelan salivanya. Ia sedang menerka-nerka isi dari map tersebut.
”Halim,” Albert mulai bersuara.
”Iya, Tuan.”
”Di dalam koper hitam hitam ini, berisi uang senilai satu milyar, sesuai yang kamu inginkan.” ucap Albert. Ia membuka koper itu, lalu ia memutar koper di hadapan Halim.
Halim melihat jelas tumpukan uang berwarna merah di koper itu. Tersusun dengan rapi. Setelah Halim melihatnya, Albert kembali memutar koper menghadap dirinya dan menutup kembali koper itu.
Albert mengambil map yang terletak di samping koper, ia membuka map tersebut dan memberikannya pada Halim.
”Itu adalah kertas yang berisi kontrak perjanjian mengenai pengembalian uang ku. Kamu baca dan silahkan tandatangani, di atas nama mu yang tertera di lembaran itu.” tegas Albert dalam berbicara.
Halim mengambil dan melihat dan membaca isi dari lembaran kertas itu.
SURAT PERJANJIAN
Nama donatur : Albert
Nama peminjam : Halim
Besar pinjaman : Satu milyar.
Peraturan
Uang di gunakan atau tidak, itu tidak penting bagi donatur. Setelah peminjam meninggalkan rumah donatur, maka hari pengembalian uang sudah terhitung.
Uang yang di pinjam tidak berhak di kembalikan dengan cuma-cuma pada hari yang sama atau hari setelahnya dari hari peminjam meminjam uang. Kalaupun uang dikembalikan dengan utuh di hari yang sama, tidak membuat si peminjam sudah terbebas dari hutang. Si peminjam masih memiliki hutang membayar bunga pinjaman di setiap bulan.
Si peminjam di berikan kesempatan dalam satu tahun untuk mengembalikan uang kepada donatur. Dan dalam pengembalian si donatur memberi keringanan. Donatur mengambil 15% dari banyaknya uang yang di pinjam.
Apabila sewaktu-waktu si peminjam tidak bisa membayar kembali hutangnya karena alasan apapun. Maka si peminjam tidak berhak menolak keinginan atau permintaan apapun yang di minta oleh donatur kelak sebagai penebus hutang.
Saya, sebagai peminjam menyetujui isi perjanjian tersebut.
Albert. Halim.
__ADS_1
Donatur. Peminjam.
”Di dalam kertas itu semua sudah tertulis jelas. Tentu kamu bisa menghitung berapa yang harus kamu bayarkan padaku di setiap bulannya.” jelas Albert. ”Bagaimana, Halim? Jika kamu setuju maka silahkan tanda tangan. Dan ambil uang ini. Jika tidak, maka pergilah sekarang.”
Halim terdiam.
Ini sangat berat sekali untukku. Dia memberikan waktu hanya setahun apa aku mampu? Berapa yang harus ku bayar dalam setiap bulannya? Padahal aku berencana menggunakan uang itu untuk menjebak mereka saja, setelah mereka tertangkap uang itu aku kembalikan dengan utuh. Tapi ini di dalam perjanjian ini. Baiklah tidak ada pilihan lain.
batin Halim.
”Bagaimana Halim?” Albert kembali bertanya saat Halim masih terdiam.
Dengan mantap dan penuh keyakinan Halim menerima itu semua.
”Baik saya menerima isi perjanjian itu.” ucap Halim.
”Bagus, aku suka melihat mu yang seperti ini. Ambil pena ini dan tanda tangan di atas namamu.” Albert melempar pelan pena tersebut ke hadapan Halim.
Halim mengangguk. Ia mengambil pena tersebut dan menandatangani surat perjanjian tersebut. Setelah tanda tangan. Albert mengambil map itu. Ia melihat kembali tanda tangan Halim.
Albert membuka lembaran yang kedua yang ada di map itu. Ia memberikan kepada Halim.
”Ini, kertas ini kamu pegang. Untuk selalu mengingatkan mu akan utang mu. Dan yang asli ini, aku yang pegang. Apa masih ada pertanyaan sebelum kamu keluar dari rumah ku ini?”
”Iya, bagaimana saya akan membayar utang ini, maksud saya, saya akan memberikan kepada siapa saat membayarnya? Saya tahu Tuan tidak akan berlama di kota ini.” ucap Halim.
”Ternyata kamu sangat tahu kami anak muda, padahal kamu baru sekitar enam bulan disini, aku jadi penasaran siapa yang sudah mengenalkan aku padamu.” sahut Albert.
”Maaf Tuan, saya tidak terlalu mengenal Tuan. Yang mengenalkan Tuan kepada saya juga hanyalah orang biasa.” jelas Halim.
”Baiklah, kamu benar saya akan kembali ke kota pusat pada penerbangan subuh ini.” Albert mengambil kembali kertas yang ada di tangan Halim. Ia menulis nomor rekeningnya di sana, lalu ia memberikan kertas itu pada Halim kembali. Halim mengambil dan membaca nomor rekening itu. ”Itu nomor rekening ku. Kamu kirim saja uangnya di nomor rekening itu.”
”Baik, kalau begitu saja ucapkan terima kasih kepada Tuan, saya undur diri.” ucap Halim.
Albert mengangguk. Halim pun pergi keluar dari rumah Albert dengan membawa koper uang itu. Ia menemui Hamid yang sedang menunggunya.
”Lama sekali kamu di dalam. Bagaimana rupa Albert? Menakutkan kah? Ekspresi mu seperti orang yang baru keluar dari kandang macan saja.” ledek Hamid.
”Diam lah,” bentak Halim. ”Lebih baik, jalankan mobilmu, kita pulang sekarang!” pinta Halim.
Hamid menurut. Ia menjalankan mobilnya.
”Apa persyaratan yang di berikan padamu cukup berat?” tanya Hamid.
”Hum, cukup berat.” sahut Halim.
”Boleh, aku melihatnya?” pinta Hamid.
”Sampai di rumah, baru kamu lihat isi perjanjiannya. Sekarang jalankan saja mobil mu dengan benar.” sahut Halim.
Hamid pun terdiam. Ia tidak berbicara lagi. Ia fokus pada setirnya dan sesekali melirik Halim yang sedang memejamkan matanya. Sesekali Hamid mendengar Halim menghempaskan nafas kasar. Seakan Halim memikirkan sesuatu di balik diamnya itu.
Hamid menghentikan mobil tepat di depan toko Halim. Hamid dam Halim turun dari mobil langsung kerumah Halim. Halim menyimpan koper uang tersebut di kamar.
Setelah menyimpan uang itu Halim segera keluar untuk menemui Hamid. Ia memegang map yang berisi surat perjanjian itu.
Halim menyimpan map itu di atas meja. Lalu ia duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi.
”Itu isi perjanjiannya, kalau ingin melihat, bukalah.”
Hamid meraih map itu, ia membuka dan membaca isinya. Hamid terkejut saat membaca isi perjanjian itu.
”Halim, apa kamu mampu untuk membayarnya? Ini gila Halim.” ucap Hamid. Hamid menatap Halim seakan tidak percaya. Ia rela hanya demi membebaskan wanita itu, ia mengambil resiko yang sangat besar.
__ADS_1
Halim menghela nafas panjang. ”Mampu tidak mampu ku jalani saja Hamid.”
”Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu, Halim. Lalu, apa rencana mu sekarang?”
”Aku menunggu Roni datang untuk mengeluarkan Mulfa dulu dari kelompok Eagle, malamnya baru keluarkan Halima dari genggaman Kevin dan mamanya. Setelah mereka berdua aman di kantor polisi baru aku bawa Halima dan Mulfa untuk tinggal bersama kamu.” jelas Halim.
”Terserahlah, yang penting keselamatan ku kamu jamin. Dan apapun yang terjadi kedepannya lindungi anak dan istrimu. Terutama, kamu jaga perasaan istrimu, aku tidak ingin dia terluka karena adanya Halima nanti. Karena ku yakin, Halima pasti akan mengejar mu lagi untuk mendapatkan perhatian mu.” ucap Hamid menasehati. ”Aku pulang dulu.”
”Hum.” singkat Halim menjawab.
Hamid pun pergi dari rumah Halim, dan Halim ia pergi ke tokonya. Sesampai Halim disana ternyata Roni sudah ada disana. Ia lagi di ajak bicara oleh Denis. Halim menyapanya.
”Ron, sudah lama datang?”
”Eh, Halim, tidak baru saja aku duduk. Bagaimana sudah siap semua? Kita langsung pergi saja.” ucap Roni.
”Baik. Ayok kita pergi.”
Halim dan Roni pun pergi tanpa pamit kepada Denis. Halim tahu jika Denis sedang bingung Sekarang. Sejak tadi ia terus mencuri pandang dengan Halim. Namun Halim acuh saja.
Sesampainya di kelompok Eagle. Halim melihat jelas para preman yang ada di sana. Jika saja Halim tidak berjalan dengan empat orang polisi dengan senjata lengkap. Mungkin saja hari ini Halim tidak bisa keluar dengan aman dari kelompok itu.
”Dimana rumah saudara Mulfa?” salah satu dari anak buah Roni bertanya kepada salah satu pemuda yang di jumpai nya.
”Yang itu, tepat di kamar nomor satu.” ucap pemuda itu.
Roni, Halim dan yang lainnya pergi kerumah Mulfa. Mulfa yang sedang tertidur ia di bangunkan dengan suara ketokan pintu di rumahnya.
Mulfa bangun dan membukakan pintu. Ia terkejut melihat Halim datang kerumahnya dengan membawa polisi.
”Ada apa ini kak Halim?” Mulfa bertanya dengan takut sekaligus terkejut. Sedangkan para kelompok Eagle sudah berbaris samping kiri dan kanan di gang itu.
”Saudara Mulfa, maaf kami ingin menggeledah rumah Anda. Kami mendapat laporan dari saudara Halim Anda mencuri sesuatu di tokonya, karena ada barang saudara Halim yang hilang.” jelas Fahroni.
”Saya tidak mencuri apapun dari toko kak Halim, saya hanya membeli parfum saja.” jawab Mulfa dengan panik dan gemetar.
”Hai, Halim.. kau jangan menuduh Mulfa sembarangan.” salah satu di antara para preman marah kepada Halim.
”Aku tidak berbohong. Dia memang mencuri barang ku.” Halim membela diri. ” Kalau tidak percaya mari kita periksa barang-barangnya!”
”Saya tidak mau kalian mengacak-acak rumahku! Saya bukan pencuri!” Mulfa mengelak.
Halim menerobos masuk.
”Heeii..!” tiga orang dari para preman tersebut mendekati Halim dan masing-masing memegang baju Halim hendak menonjok Halim.
Fahroni menembakkan pistolnya ke udara. ”Hentikan!” teriak Fahroni.
”Saudara Mulfa, jika Anda benar tidak mencuri, biarkan kami memeriksa barang-barang mu.” ucap Fahroni dengan ramah.
Akhirnya Mulfa mengalah, ia membiarkan polisi menggeledah barang-barang nya. Dan betapa terkejutnya Mulfa, saat polisi memeriksa tasnya, ia menemukan kotak kecil, yang ia sendiri tidak tahu apa isinya.
”Saudara Halim? Apakah barang ini barang yang Anda cari?” tanya Fahroni.
”Iya Pak, itu barang saya!” sahut Halim.
”Saudara Mulfa, silahkan ikut kami ke kantor polisi!” ucap Fahroni.
”Kalian tidak bisa membawa Mulfa begitu saja dari sini.” ucap salah satu preman dengan marah. Ia memandang Halim benar-benar dengan pandangan tajam yang penuh amarah.
”Dia terbukti mencuri, jadi dia harus di bawa ke kantor polisi.” sahut Halim.
Fahroni pun membawa Mulfa ke kantor polisi. Dan para preman tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Mereka membiarkan polisi membawa Mulfa.
Tapi mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Kevin, kaki tangan sang bos.