Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 106


__ADS_3

Di bandara kota pusat.


Marlina dan Beni sampai di bandara. Mereka berdua turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke ruang tunggu.


”Itu Dawiyah, ayo kita samperin.” ucap Marlina dengan wajah datarnya.


”Kelihatannya kamu senang sekali bisa bertemu dengannya.”


”Beni, kenapa kamu rese sekali jadi orang! Siapa juga yang senang bertemu dengan dia!? Gara-gara dia, Geo jadi menderita. Apa aku senang jika mereka berdua bertemu? Iya, aku sangat senang, aku ingin melihat reaksi Geo setelah berjumpa kembali dengan Dawiyah, wanita yang di cintainya! Apa yang akan dia lakukan padanya?!” ucap Marlina dengan tersenyum licik.


”Kamu ini, kamu ingin mencelakai Geo lagi?” tanya Beni dengan wajah datarnya.


”Bagi penumpang tujuan kota A, setengah jam lagi pesawat akan lepas landas dari bandara kota pusat... ... ..” terdengar suara pengumuman dari pihak bandara.


”Tidak, ayo cepatlah! Kamu tidak dengar informasi barusan? Pesawat tujuan kota A setengah jam lagi akan berangkat. Jika kamu tidak batalkan kita berangkat kesana memakai pesawat pribadi Geo, biarlah kita bersantai dulu disini.” sahut Marlina.


”Jika kamu tidak mengajak perempuan rubah itu ikut kita, aku tidak akan membatalkan menaiki pesawat gratis untuk kembali ke kota A. Dawiyah tidak pantas menginjakkan kakinya di pesawat milik Geo__”


”Maka dari itu, kamu nekat membuat kita naik pesawat umum dan berdesakan dengan penumpang lainnya?” ucap Marlina memangkas ucapan Beni.


”Iya,” sahut Beni singkat.


Marlina mendengus kesal. Mereka berdua saling terdiam, mereka mempercepat langkah menghampiri Dawiyah yang duduk di ruang tunggu. Marlina menyentuh pundak Dawiyah.


”Dawiyah, ku kira kamu tidak jadi ikut ke kota A.” ucapnya.


Dawiyah tersenyum, ”Geo ingin bertemu dengan ku, bagaimana bisa aku menolak untuk menemuinya, 'kan?” sahutnya dengan angkuh.


Beni tersenyum mengejek mendengar ucapan Dawiyah.


”Lekas lah naik ke pesawat, kita telah membuang waktu dua puluh menit dari waktu pengumuman.” ucapnya.


Ia mendahului langkah menuju pesawat, Marlina dan Dawiyah menyusul di belakang. Mereka masuk ke dalam pesawat, Beni duduk sendirian, sedangkan Marlina, ia duduk berdua dengan Dawiyah.


Selagi menunggu pesawat berangkat, Beni kembali memandang foto-foto Syakila. Beberapa menit kemudian, terdengar kembali pengumuman pesawat akan lepas landas dari bandara. Semua penumpang mematikan handphone nya. Pesawat berangkat menuju bandara kota A.


Dalam kurun waktu tiga jam tiga puluh menit, kini pesawat telah tiba di bandara kota A. Semua penumpang turun dari pesawat dengan rapi dan tenang.


”Dawiyah, sekarang kita sudah sampai di kota A, tidak mu__”


”Aku tahu, aku tidak akan mengikuti kalian sampai di kediaman Albert. Aku pergi duluan.” ucap Dawiyah memangkas ucapan Marlina.


"Baguslah, kamu sadar diri juga.” sindir Beni.


Dawiyah tersenyum kecut. Ia melihat ke jalan raya yang banyak kendaraan berlalu lalang.


”Taksi!”


Dawiyah menghentikan sebuah taksi. Taksi berhenti, ia masuk ke dalam taksi tanpa berpamitan lagi dengan Beni maupun Marlina.


"Jalan, Bang. Kita ke apartemen jumagel home.”


Sang supir mengangguk. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan kota A dengan laju sedang mengantar penumpangnya ke tempat tujuan.


Beni dan Marlina menunggu supir pribadi keluarga Albert menjemput. Beberapa menit dalam menunggu, supir tersebut sampai di bandara.


Ia keluar dari mobil, mencari sosok Beni dan Marlina.


”Tuan, Nona, maaf, sudah membuat Tuan dan Nona menunggu lama.” ucapnya pelan dan sopan setelah ia berada di hadapan putra kedua Albert dan putri tiri dari Albert.


”Tidak apa-apa, ayo kita pergi dari sini.” sahut Beni.


Pria tersebut mengambil koper Marlina dan membawanya. Marlina dan Beni berjalan mendahului sang supir ke mobil.


Setelah di pastikan pintu mobil tertutup rapat, sang supir menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju kediaman Albert.


.. ..


Di apartemen.


Dawiyah telah sampai di apartemen yang di belikan Geo padanya. Sekarang, ia telah berada di depan pintu apartemennya.


”Mari kita lihat, apakah kata sandi pintu ini masih singkatan nama kami berdua atau tidak? Jika masih, tebakan ku benar, Geo masih mencintai ku. Hum, itu bagus! Rencana ku akan berjalan dengan lancar.” gumamnya. Ia tersenyum licik di akhir kalimat nya.


Ia menekan kata sandi pada pintu itu. Dawiyah tersenyum senang, kata sandi tersebut masih terpakai untuk apartemen nya. Pintu terbuka.


”Rupanya benar, hahahhaha. Geo, kamu memang lelaki yang tampan, berkharisma, dan kaya raya di banding Antonio.” gumamnya lagi sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Ia menutup pintu. Ia melangkah masuk ke kamarnya.


”Tapi, sayangnya, kamu tidak dapat memuaskan ku di atas ranjang. Kamu bahkan menolak ku untuk bersentuhan lebih dengan mu. Bahkan sekedar ciuman dan pelukan tidak ku dapatkan darimu. Kamu selalu menolak sentuhan ku, aku hanya mengikuti semua ucapan dan keinginan mu saja untuk mendapatkan keuntungan darimu. Kamu lelaki yang tidak berguna, lelaki impoten, selama ini tidak pernah ada lelaki yang tidak terlena dan terperdaya dengan rayuan ku. Hemp, karena kamu masih mencintai ku, baiklah, aku akan berbaik hati padamu kali ini, Geo.” gumam Dawiyah lagi sambil menjatuhkan dirinya sendiri di atas ranjang dan tersenyum licik.


.. ..

__ADS_1


Di kediaman Albert.


Beni dan Marlina turun dari mobil setelah mobil terparkir di halaman parkir kediaman Albert. Beni tersenyum senang.


Syakila, aku rindu padamu. Kamulah orang pertama yang akan ku temui.


Marlina juga tersenyum senang.


Geo, aku merindukan mu.


Rosalina yang sedang duduk di kursi sofa terkejut mendengar suara pintu rumah terbuka dari luar. Ia melihat ke arah pintu, tampak Beni dan Marlina melangkah masuk ke dalam. Sang supir ikut masuk membawakan koper Marlina.


”Beni, Marlina, kalian datang?” sapanya.


”Iya, Tante.” sahut mereka berdua.


Syakila, apa kamu di kamar? Ini masih tempo kan untuk kamu istrahat, mengapa aku tidak melihat mu di sini?


Beni dan Marlina mendekat ke Rosalina, Marlina duduk di samping Rosalina dan Beni duduk di kursi tunggal di hadapan mereka berdua.


”Apa Geo yang menyuruh mu untuk kembali, Beni?”


Beni mengerut, ”Tidak, Beni memang ingin kembali malam ini, memangnya kenapa Tante?”


”Oh, tidak apa-apa. Tante kira Geo yang menghubungi mu untuk cepat kembali menemani Tante disini.”


Beni dan Marlina mengerut bingung.


Rosalina tersenyum. ”Syakila dan Geo tidak berada di rumah sekarang, mereka berdua pergi berkunjung ke kota S. Sardin, temannya Syakila kecelakaan, ia membutuhkan kehadiran Syakila di sisinya.” ungkapnya menjelaskan pada Beni dan Marlina.


Pantas kamu tidak terlihat, ternyata kamu berangkat ke kota S. Mengapa kamu tidak memberikan ku kabar?


Beni menghela nafas kasar. ”Oh,” sahutnya singkat.


”Berapa hari mereka di sana, Tante?” tanya Marlina.


”Dua Minggu.” jawab Rosalina.


Marlina terdiam.


Dua Minggu? Artinya dua Minggu lagi baru aku bisa bertemu Geo. Oh, sayang sekali, selama dua Minggu ini aku bakal kesepian.


Beni juga terdiam.


Beni menghela nafas berat.


”Apakah kalian berdua sudah makan malam?” tanya Rosalina kemudian.


”Belum, Tante.” jawab mereka berdua.


”Kalian berdua istrahat lah dulu, aku akan memberitahukan bibi memasak untuk kalian.” ucap Rosalina sambil berdiri.


”Iya, Tante.” sahut mereka berdua lagi bersamaan.


Rosalina melangkah pergi ke dapur menemui sang bibi. Sebelum Geo berangkat, menyuruh bibi yang tinggal di rumah belakang kediaman Albert untuk pergi ke rumah utama menemani dan menyiapkan makanan untuk Rosalina, ibunya.


Beni dan Marlina juga beranjak pergi ke kamarnya masing-masing. Mereka sama-sama menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Marlina melihat langit-langit atap kamar nya.


”Geo lagi tidak ada disini. Aku akan pergi masuk ke kamar Geo jika ada kesempatan. Aku akan mencari file-file yang telah dikumpulkan Beni dan Geo untuk mencari pembunuhan Albert, sudah sejauh mana mereka menyelidiki itu, aku tidak ingin bukti itu mengarah pada Antonio.” gumamnya.


Beni sedang memikirkan sesuatu sambil memutar-mutar handphone yang berada di tangannya. Tiba-tiba ia bangun dan duduk. Ia menggeser layar handphone ke kontak telepon. Ia mencari nama Syakila dan menghubunginya. Sambungan terhubung.


”Halo, Kak Beni, tumben menelfon.”


”Em, ya, tidak apa-apa. Aku sekarang ada di rumah, baru kembali dari kota pusat.”


”Oh, kakak sudah kembali ke rumah? Kakak, aku ada di kota S sekarang.”


”Hum, aku tahu, Tante sudah memberitahu kan padaku dan Marlina.”


”Marlina?” Syakila mengulang ucapan Beni dengan dahi mengerut.


”Iya, Marlina. Kenapa?”


”Tidak apa-apa.”


Hening! Mereka berdua saling terdiam dengan handphone masih melekat di telinga mereka berdua. Entah, apa lagi yang akan di bicarakan oleh Beni maupun Syakila.


”Kamu sedang apa sekarang?” tanya Beni kemudian memecah keheningan.


”Lagi duduk-duduk bersama keluarga ku, kami baru tiba di rumah ibuku.”


”Oh, begitu. Syakila,..”

__ADS_1


”Yah..”


Beni terdiam lagi. Ia sebenarnya ingin menyampaikan rasa rindunya pada Syakila. Namun, suaranya tercekat pada tenggorokannya.


”Em, aku sudahi telfonnya. Kamu bersenang-senang lah dengan keluarga mu.”


”Apa yang ingin kamu katakan tadi? Bicaralah!” ucap Syakila.


”Tidak ada, tidak penting juga. Aku tutup telfonnya, aku pergi makan dulu. Bibi sudah memanggil untuk makan.”


”Baiklah.” sahut Syakila.


Telfon terputus. Beni mendengus kesal pada dirinya sendiri. Ia tidak berdaya akan perasaan yang timbul untuk Syakila. Ia tahu, Syakila dan Geo akan putus pada akhirnya. Dan ia ingin mengejar Syakila dari sekarang, yang statusnya masih istri Geo.


”Apa aku termasuk orang yang kejam? Hina? Bila aku mengejar mu dari sekarang, Syakila? Perasaan ini sudah melekat pada hatiku” gumamnya.


Beni keluar dari kamar, ia melangkah ke dapur. Sesampainya di sana, Marlina sudah duduk dengan sepiring makanan di hadapannya. Beni duduk berhadapan dengan Marlina. Setelah makan, mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk istrahat.


.. ..


Di kota S. Di kediaman Sarmi, di kamar Syakila.


Geo sangat suka dengan warna kamar Syakila yang bercatkan perpaduan warna hijau dan putih, serasi dengan warna kain gordennya. Dan semua barang-barang Syakila yang berwarna hijau.


Kamarnya tidak terlalu besar, namun kelihatannya begitu mewah. Letak posisi barang-barangnya juga bagus, rapi, enak di lihat dan begitu nyaman.


”Mengapa tadi kamu melirik ku sambil menyebut nama Marlina?” tanya Geo seketika, setelah matanya melihat ke seisi ruangan kamar Syakila.


Setelah mereka selsai berbincang-bincang hangat dengan seluruh anggota keluarga. Syakila dan Geo pergi ke kamar yang dulu merupakan kamar pribadi Syakila untuk beristirahat.


”Tidak apa-apa. Aku hanya mengingat hal terakhir yang terjadi sebelum Marlina meninggalkan kediaman Albert, dan sekarang...”


”Tidak usah pikirkan itu. Sebaiknya, kita istrahat dulu. Aku lelah setelah menempuh lamanya perjalanan.” sahut Geo memangkas ucapan Syakila.


”Aku akan membantu mu berbaring.”


Syakila memapah Geo ke atas ranjang empuknya. Geo menghirup aroma khas Syakila di kamar dan di ranjang yang ia tiduri sekarang. Wanginya yang menenangkan hati dan jiwa.


”Disini sangat kental sekali dengan bau khas mu. Wanginya sangat lembut dan tenang. Padahal sudah beberapa bulan kamu meninggalkan kamar ini.”


”Mama sering masuk ke kamar ku jika sudah merindukan aku. Ia membersihkan kamar ku dan menebar parfum ku ke ruangan ku ini, agar mereka tetap merasakan kehadiran ku di kamar ini.” ungkap Syakila.


”Oh, mengharukan sekali! Kamu tahu dari mana kalau mamamu sering ke kamarmu?”


”Adik ku. Kamu istrahat lah.”


Syakila menyelimuti Geo, ia membalikkan badan.


”Kamu gak istrahat?”


Syakila menoleh melihat Geo. ”Aku mandi dulu, setelah itu, aku akan keluar sebentar.”


Geo mengerut, ”Kamu akan ke rumah sakit sekarang? Tidak kah kamu terlihat lelah?”


Syakila menghela nafas berat sambil menggeleng. ”Tidak, aku akan keluar, tapi tidak ke rumah sakit. Ada tempat tujuan ku sendiri.”


Kening Geo semakin mengerut. ”Kemana? Aku temani.”


”Tidak usah, aku juga tidak akan lama perginya. Kamu istrahat lah yang cukup, dua hari ini kamu tidak istrahat dengan cukup.”


Geo mendengus kesal, Syakila berlalu dari hadapannya. Geo melihat punggung Syakila yang berjalan mendekati lemari pakaian dan mengambil satu set pakaiannya dan berjalan ke arah kamar mandi, sampai Syakila menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Mau kemana dia jika tidak pergi ke rumah sakit?


Geo memejamkan mata. Syakila telah selesai mandi dan bergantian. Ia melirik Geo di ranjang.


Dia sudah tidur, baguslah, aku akan pergi mencarikan baju untuknya. Jadi, saat dia bangun dan meminta mandi, baju gantinya sudah ada.


Syakila lanjut berjalan keluar kamar. Ia mendatangi adik laki-lakinya yang masih duduk berkumpul dengan anggota keluarga lainnya.


”Dik, antar kakak ke mall.”


”Boleh, tapi, kakak belikan aku sepatu yah.”


”Baiklah, ayo kita pergi. Mama, Bibi, Paman. Syakila pergi dulu sama Hardin.” pamitnya.


Ia dan Hardin bergantian mencium punggung telapak tangan, mama, bibi, dan pamannya tersebut.


”Hum, hati-hati di jalan, sayang.” sahut mereka semua.


”Iya,” sahut Syakila dan Hardin.


Mereka berdua pergi ke mall menggunakan motor Hardin yang baru di belinya menggunakan uang gabungan dari uang kakak-kakaknya. Padahal, ia sendiri memiliki kemampuan untuk membeli motor tersebut dari kartu kreditnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2