
"Iyah begitu!" sahut Sardin.
"Tapi kakak tahu dari mana tentang ular itu?" tanya Syakila dengan penasaran.
Sardin terkekeh kecil, "Kakak di ajarin sama almarhum kakeknya kakak, Kila! Waktu kakek masih hidup kakek sering mengajari kakak tentang hal-hal yang belum kakak tahu." ucapnya menjelaskan.
"Oh, begitu!" sahut Syakila dan yang lainnya sambil mengangguk anggukkan kepalanya masing-masing.
Perjalanan mereka kali ini di lalui dengan sangat gembira karena mereka selain di bikin ketawa oleh Sardin, mereka juga di beri pengetahuan oleh Sardin tentang apa yang belum mereka tahu.
Tanpa terasa kini mereka sudah sampai di kebun, Sarmi yang dari jauh sudah mendengar suara kocak mereka, ia menghentikan aktivitas merumputnya untuk menyambut kedatangan mereka dengan senang.
"Syakila, eh ada Sardin juga?" ucap Sarmi yang terkejut dengan kehadiran Sardin di belakang Syakila.
"Iya Tante, maaf Sardin kesini mengikuti Kila dan teman-temannya." ucap Sardin.
"Tidak apa-apa Nak, Sardin! Tapi bukannya kamu akan berangkat hari ini yah, Nak?" tanya Sarmi penasaran.
"Eh, Tante tahu kalau Sardin akan berangkat hari ini?" Sardin menjawab pertanyaan tante Sarmi dengan pertanyaan juga.
"Iyah Tante di beritahu sama tetangga kebun sebelah, dia kan tetanggamu di kampung mu." ucap tante Sarmi menjelaskan.
"Oh iya, tante Ayu yah yang beri tahu Tante?" tanya Sardin lagi.
"Iyah, ayo duduk di gode gode Tante akan buatkan minuman untuk kalian." ajak tante Sarmi.
Mereka semua mengikuti langkah kaki Sarmi, mereka duduk di gode gode sedangkan Sarmi pergi membuatkan minuman teh untuk teman-teman anaknya. Sedangkan Syakila ia sedang berada di rumah, ia rindu sama neneknya, juga adik-adiknya yang lucu.
Kini tante Sarmi membagikan minuman kepada Sardin dan yang lainnya, ia juga menyediakan ubi singkong dan ubi jalar kukus kepada mereka. Lalu tante Sarmi mempersilahkan mereka untuk mencicipi makanan dan minumannya. Setelah itu ia kembali mencabut rumput.
Syakila tersenyum saat melihat neneknya sedang menumbuk sirih pinangnya. Syakila mendekati neneknya yang duduk di samping jendela kecil rumah-rumah itu.
"Nenek, mari biar Asya yang tumbuk!" ucap Syakila menawarkan diri. Ia mengambil lesung kecilnya itu dari tangan neneknya, lalu ia dengan lembut menumbuk sirih pinang untuk neneknya sampai halus.
"Kamu cucu Nenek yang paling rajin, Asya." ucap nenek memuji Syakila. Syakila tersenyum, "Terima kasih Nenek, Insya Allah Asya akan menjadi anak yang baik untuk mama dan papa juga Asya menjadi cucu yang baik untuk Nenek." sahut Syakila.
Setelah halus, Syakila memberikannya kembali kepada sang nenek. "Ini, Nek! Sudah halus sirihnya." ucap Syakila. Nenek mengambilnya lalu mengucapkan terima kasihnya, "Terima kasih cucunya, Nenek."
Syakila tersenyum, "Iyah Nenek, sama-sama." sahut Syakila. Syakila mendekati adik-adiknya yang tertidur lelap, Syakila menusuk nusuk pipi adik-adiknya dengan jari telunjuknya. Sang Nenek yang melihatnya ia menegur Syakila supaya tidak menggangu adiknya yang tidur.
"Asya! Jangan ganggu adikmu, mereka baru saja tertidur karena menangis. Kasian nanti mamamu, sulit untuk menenangkan mereka semua kalau mereka menangis bersamaan." ucap Nenek memperingati Syakila.
Syakila menghentikan kejailannya, ia kembali mendekati neneknya, lalu ia bertanya tentang adik-adiknya. "Kenapa mereka menangis, Nek?"
Sang nenek menjawabnya sambil mendesah kan nafas kasarnya di udara, "Mereka menanyakan tentang papanya, mereka rindu dengan papanya."
Syakila juga merindukan papah, gimana kabarnya papah disana, yah? Semoga papah baik-baik saja, dan selalu dalam lindungan Allah yang maha kuasa. Aamiin. batin Syakila.
"Oh," sahut Syakila dengan singkat. "Nenek, Asya turun kebawah yah? Asya mau gabung sama teman-teman Asya." pamitnya kepada sang nenek.
__ADS_1
Kini Syakila sedang bersama dengan teman-temannya, ia duduk disamping Sardin, karena ia mengkode Syakila dari telapak tangannya yang menepuk-nepuk lantai gode gode di samping kirinya.
"Maaf ya, Asya baru turun temani kalian." ucap Syakila kepada teman-temannya. "Gak papa Syakila." sahut teman Syakila kompak.
"Gak papa, Kila." sahut Sardin dengan mencubit dagu Syakila. Dan Syakila membalasnya dengan mengacak-acak rambut Sardin dengan tersenyum.
"Setelah ini, mau gak kita bermain raja dan ratu?" ucap Helena memberi usul.
"Eh, boleh-boleh! Aku yang jadi ratunya, yah?" ucap Fitria antusias menerima usulan Helena.
"Enak aja! Aku yang jadi ratunya." sahut Sartini sambil mengejek Fitria.
"Kalian gak cocok jadi ratu, yang cocok jadi ratu itu aku." ucap Arianti sambil menunjuk dirinya sendiri yang tidak mau kalah dari temannya.
"Eh enak aja, aku yang memberi usul, aku juga dong yang harus jadi ratunya." sambung Helena tidak mau kalah juga dari temannya.
Syakila geleng-geleng kepala melihat teman-temannya, begitu juga Sardin dan juga tante Sarmi yang mendengar ucapan mereka.
"Sudah-sudah, jangan berebutan untuk jadi ratu, belum bermain saja sudah ribut begini apalagi kalau sudah bermain nanti? Batal bermainnya." ucap Syakila menengahi teman-temannya yang ribut.
"Yah! Jangan di batalkan dong, yah, yah?" ucap Fitria membujuk Syakila dengan memasang wajah memelasnya. Arianti, Helena, juga Sartini ikut memasang wajah memelas mereka agar Syakila mengiyakan ucapan Fitria.
Syakila menggelengkan kepalanya dengan pelan menandakan ia tidak menerima tawaran Fitria.
"Yah! Gak seru dong!" ucap mereka kompak dengan sedih.
"Maksud Kila baik loh!" ucapnya mengawali kalimatnya. Mereka semua memandang Sardin dengan bingung.
"Coba kalau kalian bermain, ini sudah jam 4 sore dan kalau kita bermain pas di waktu pulang baru kita berhenti, bisa jadi kita kehausan juga kecapekan di jalanan, sedangkan kita tidak punya persediaan air, jika kehausan. Lalu jika kita kecapekan, bagaimana? Apa kita harus beristirahat di tengah hutan! Jam berapa nanti nyampenya di kampung? Lagi pula apa kalian tidak takut jika kemalaman di jalan?" Sardin lanjut lagi berucap menjelaskan kepada teman Syakila.
Mereka semua terdiam, di kepala mereka sudah terisi berbagai halusinasi yang menyeramkan sehingga dengan serentak mereka berucap, "Tidak, tidak! Ih gak mau kemalaman di jalan, seram!" Mereka bergidik ngeri mengucapkan itu.
"Baiklah! Tidak jadi bermain, lalu kita bikin apa untuk mengisi waktu?" tanya Arianti.
"Bagaimana kalau kita membantu Tante mencabut rumput? Setuju?" usul Sardin
"Boleh, boleh!" kompak mereka berucap, "Ayok!" ajak Fitria. Yang lainnya mengangguk. Akhirnya mereka menghampiri tante Sarmi dan membantunya mencabut rumput.
.. ..
Halim terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Halim membuka pintunya dan mendapati Denis yang menjemputnya tadi berdiri di depan pintu.
"Maaf mengganggu Istrahatnya Abang." ucap Denis dengan sungkan.
"Oh, tidak apa. Aku yang minta maaf, aku lupa waktu." ucap sesal Halim. "Bagaimana apa kita akan pergi ke toko sekarang?" tanya Halim.
"Hum, Abang cuci muka dulu! Saya tunggu di depan ya, Bang!" ucap Denis. "Hum!" sahut Halim.
__ADS_1
Halim langsung pergi ke kamar mandi yang ad ada di dapur, dan Denis sesuai perkataannya, ia menunggu Halim di depan rumah.
Tidak lama dari menunggu kini Halim sudah berdiri di depan Denis, "Bang, sudah selesai?" tanya Denis. "Ayo kita berangkat!" ajaknya kepada Halim. Halim menyahutinya, "Ayok!"
Mereka berjalan kaki menuju toko yang akan di jaga oleh Halim, "Ini Bang, toko yang akan Abang jaga." ucap Denis setelah mereka sampai di toko yang di maksud. Halim hanya mengangguk saja.
Denis membuka pintunya dan menyuruh Halim untuk masuk ke dalam. "Ayok Bang masuk ke dalam!" ajaknya. Halim mengikuti langkah Denis dari belakangnya.
Denis menjelaskan secara rinci tentang toko itu juga Denis memberikan nota barang kepada Halim untuk mempelajarinya. Agar memudahkan ia untuk menjual.
Halim mengangguk angguk mengerti di setiap penjelasan yang di ucapkan oleh Denis. "Jadi bagaimana Bang? Apa masih ada yang Abang bingung kan dari penjelasan saya, Bang?" tanya Denis.
"Kalau untuk perhitungan modal dan harga jual, saya sudah mengerti, hanya saja yang saya bingung kan hanya penyusunan barang, juga nama-nama barang aja sih." jawab Halim.
Denis tertawa kecil, "Hahaha Abang ini bisa aja, pertama saya bekerja disini juga awalnya begitu Bang. Tetapi Alhamdulillah dalam waktu Satu Minggu saya bisa menguasai semuanya, dan saya yakin Abang pasti bisa menguasainya nanti." ucapnya memberi semangat kepada Halim.
"Insya Allah." sahut Halim. "Oh iya Bang, untuk besok nanti Abang bukanya di temani saya, nanti Abang perhatikan cara menyimpan saya ya, Bang?"
"Ok, terima kasih Denis! Awalnya saya berpikir mungkin beradaptasi disini memakan waktu yang lama, ternyata Alhamdulillah semua di luar dugaan." sahut Halim sambil tersenyum.
"Hahaha, Insya Allah semua karyawan Anton di didik dengan baik oleh beliau. Pernah ada satu karyawan yang berbuat sewenang-wenang kepada karyawan lain, karyawan itu langsung di pecat tanpa memberikan kesempatan kedua untuknya." ucap Denis memberitahu kepada Halim kepribadian Anton yang tidak lain adalah saudara sepupu dari Denis.
"Oh, Alhamdulillah kalau begitu, nampaknya Anton merupakan orang yang bijaksana dan berbudi baik." ucap Halim memuji Anton.
"Iyah, Insya Allah Anton akan terus bersikap seperti itu." sahut Denis.
"Aamiin," sahut Halim mengamini ucapan Denis.
Mereka berdua masih di dalam toko, Denis mengajari Halim nama-nama barang dan posisinya. Halim sesedikit mengetahui nama-nama barang dan posisinya.
Hingga waktu menunjukan pukul 5:30 sore hari mereka baru keluar dari toko. Denis menurunkan pintunya lalu mengunci tengah dan memberi gembok pintunya. Setelah itu mereka pulang ke rumah.
... ...
Tak terasa waktu sudah mau masuk Maghrib, Sardin, Syakila dan teman-temannya kini sedang berada di jalan untuk menuju kampung. Tidak seperti biasanya yang mereka pulang melewati sungai, Sardin mengajak mereka tetap melewati kuburan.
Selama perjalanan pulang ke kampung Sardin tidak pernah melepaskan genggaman tangan Syakila. Awalnya Syakila merasa tidak nyaman dengan sikap Sardin. Tapi Sardin memohon lewat tatapan matanya untuk Syakila mengizinkan dirinya untuk menggenggam jemari tangannya.
Setelah sampai di kampung mereka berpisah kerumah masing-masing, sedangkan Sardin ia singgah sebentar kerumahnya Syakila.
Ia berpamitan dengan baik dan kembali mengingatkan Syakila untuk tidak berdekatan dengan lelaki manapun selain dirinya.
"Kakak akan pulang sekarang Kila, kakak harap Kila tidak mengingkari janji Kila ke kakak, jangan biarkan ada lelaki yang dekat dengan kamu seperti kamu dekat dengan kakak." ucap Sardin sambil memandang Syakila dengan serius.
"Iya kakak, kakak tenang saja. Jangan khawatir kan Kila disini, Kila akan menepati janji Kila untuk kakak." sahut Kila.
"Terima kasih, Kila. Kakak pergi dulu, assalamu 'alaikum." pamit Sardin.
"Wa 'alaikum salam." sahut Syakila dengan tersenyum melepas kepergian Sardin.
__ADS_1