
Hari ini, Sarmi dan Mila bersama dengan keluarga dari pihak Halim, sedang di sibukkan dengan acara memasak untuk menggelar pengajian ke tiga harinya almarhum ibu mereka.
Mereka bekerja dengan serius mempersiapkan segalanya. Begitu juga para lelaki, mereka juga ikut bekerja membantu pekerjaan sang istri agar pekerjaan mereka cepat selesai.
Setelah semuanya selesai, Sarmi menyiapkan makan siang untuk mereka. Suasana ramai di kediaman rumah Halim, sangat di nantikan oleh Sarmi. Tapi sayangnya, mereka berkumpul untuk menggelar pengajian ke tiga harinya sang ibu. Sedangkan impian Sarmi, semua keluarganya bisa berkumpul seperti ini sejak lama. Meskipun itu hanya seminggu sekali, tapi sayang itu tidak pernah terwujud.
Setelah masing-masing menikah dan memiliki rumah sendiri-sendiri, mereka seakan sudah lupa dengan adanya saudara. Untuk berkumpul enggan sekali, kalau Edi, Sarmi masih bisa mengerti, ia dan sekeluarga tidak tinggal di kampung. Ia sendiri juga memilih tinggal di kebun menemani sang ibu.
Usai makan siang. Sarmi bersama adik iparnya mengumpul dan mencuci semua piring kotor. Setelah itu mereka merapikan dapur. Lalu, mereka beristirahat.
Mereka semua sedang berkumpul di halaman rumah Halim yang di pasang tenda. Mereka duduk di lantai yang beralaskan beberapa lapis tikar. Mereka bercanda tawa bersama dengan beberapa orang yang sudah datang berkunjung. Disitulah nantinya pengajian akan di gelar, karena rumah Halim, tidaklah besar untuk menampung para tamu nanti.
Malam yang di tunggu-tunggu pun tiba. Para lelaki dan anak-anak yang akan mengaji sudah memenuhi tenda tersebut. Para ibu-ibu berkumpul di dalam rumah yang pintunya terbuka.
Pengajian pun sedang berlangsung. Usai pengajian pak imam memulai untuk membaca doa. Dan di saat itulah, Sarmi beserta adik dan kakak iparnya, juga saudara iparnya dari pihak sang suami mulai menyiapkan makanan untuk para ibu-ibu dan bapak-bapak juga anak-anak yang mengaji.
Begitu panjang doa yang di panjatkan oleh pak imam Masjid. Kini ia membaca doa selamat.
”...Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanataw wafil aakhirati hasanataw waqinaa 'adzaabannar. wal hamdulillahi robbal 'aalamiin. Aamiin.” pak imam mengakhiri doanya.
”Aamiin.” sahut para semua yang hadir disitu.
Acara makan pun sedang berlangsung. Mereka makan dengan tenang, menikmati santapan mereka. Usai makan. Perlahan lahan para tamu bapak-bapak dan ibu-ibu mulai berpamitan pulang. Sedangkan anak-anak yang mengaji mereka masih setia di tempatnya. Karena pak imam Masjid masih duduk juga di tempatnya.
Pak imam masih mengajak Halim beserta saudaranya untuk berbincang. Lama, mereka berbincang, pak imam pun undur diri.
Halim beserta yang lainnya bersalaman dengan pak imam, dan mengucapkan terima kasihnya. Halim membagikan satu persatu amplop kepada anak-anak yang mengaji itu. Meskipun hanya sedikit isi dari amplop itu, yang terpenting adalah niat tulus Halim untuk mereka.
Setelah mereka pulang. Halim di bantu dengan saudaranya, membuka tenda yang terpasang itu. Merapikan kembali seperti semula. Dan para anak-anak mereka telah tertidur. Saat ibu-ibu pada pulang, mereka memasang tikar nya dan tidur. Sedangkan Sarmi dan yang lainnya sedang mencuci piring dan membersihkan dapur.
Setelah usai karena rasa capek, mereka segera beristirahat. Mereka tertidur pulas.
.. ..
Denis sangat kesal sekali, karena malam ini ia berjanji dengan Samnia untuk bertemu di Club. Namun, ia batalkan pertemuan dengan kekasih nya, hanya karena barang pecah belah yang di kirim Halim untuk jualan barunya sudah datang. Jadi, ia di sibukkan dengan membongkar barang Halim. Ia menyimpan barang-barang itu di gudang Anton. Setelah Halim datang, baru ia sendiri yang akan membongkar dan mengaturnya di toko baru yang Halim beli sebelum pulang ke kampung.
”Ini semua demi, Abang. Jika bukan demi Abang, aku lebih memilih untuk bertemu dengan kekasih ku.” gerutu Denis.
Dengan seiring berjalannya waktu, Samnia mulai membuka hati untuk Denis. Ia mulai menerima kenyataan jika Denis adalah kekasihnya.
Beruntung Halim membuka rekening uang. Denis mengajarkan Halim cara mentransfer uang dari rekening ke rekening melalui handphone genggam. Jadi, dengan gampang Halim mentransfer uang ke rekening Albert. Untuk membayar cicilan bunga dari pinjamannya. Sehingga tidak membebankan Denis, untuk di cari-cari oleh rentenir dari utusan Albert.
Waktu terus berlalu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Mulfa sudah sangat bosan berada di dalam sel.
”Kakak, kita sudah berada sekian bulan disini, masa kita tidak bisa keluar dari sini secepatnya? Sedangkan dari pengadilan, jelas-jelas bilang kita tidak bersalah. Kita hanyalah korban. Lalu, mengapa kita masih berada disini?” ucap Mulfa dengan cemberut.
Halima tersenyum dan dengan sabar ia menjelaskan kepada adiknya untuk bersabar.
”Sabar Mulfa, beberapa menit lagi kita akan ke pengadilan. Ini adalah sidang terakhir, sidang keputusan dari pak hakim. Setelah ini, kita akan segera keluar dari sini. Jadi, kamu sabar. yah.”
”Hum, baiklah kak.” sahut Mulfa dengan lemas. Membuat Halima mengacak rambut coklat Mulfa.
Selama aku berada disini, mengapa Halim tidak pernah menjenguk ku, yah? Bahkan, di dalam sidang juga dia tidak ada. Hanya Hamid yang kadangkala datang menjenguk ku di sini. Kemana Halim?
batin Halima.
”Saudara Halima, ayo kita pergi ke pengadilan sekarang.” ucap pengacara Halima. Halima di sediakan pengacara khusus oleh Fahroni untuk mendampinginya dalam kasus ini.
”Baik Pak.” sahut Halima.
Halima dan Mulfa beserta pengacara dan beberapa staf kepolisian pergi ke pengadilan. Sidang kali ini adalah sidang keputusan dari hakim. Mereka semua telah berkumpul, Elsa dan Kevin sangat marah memandang Halima. Bukan hanya pertemuan kali ini saja, tetapi dalam beberapa kali pertemuan dalam menghadiri sidang, Kevin dan Elsa memandang Halima dengan tidak senang. Halima acuh saja terhadap mereka. Hakim ketua pun mulai membacakan hasil putusannya.
__ADS_1
Suasana menjadi ricuh seketika, setelah ketua hakim beserta para jaksa meninggalkan ruangan sidang. Usai hakim memutuskan bahwa Elsa dan Kevin terbukti bersalah. Dan resmi menjadi tahanan polisi dan juga di haruskan membayar denda.
”Brengsek kamu Halima! Kamu akan menerima akibat dari ini, nanti!” ancam Kevin. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengancam Halima. Kedua tangannya di tahan oleh polisi.
Sedangkan Elsa yang sudah sembuh luka di betisnya, ia melangkah cepat ke arah Halima dan menampar juga menarik rambut Halima dengan kuat.
”Kamu, beraninya menipu kami seperti ini, Halima!” ucap Elsa dengan penuh penekanan di setiap kalimat yang di lontarkan.
"Argh!” Halima merintih kesakitan. Rambutnya semakin di tarik kuat oleh Elsa. ”Ka-kalian yang mu-mulai duluan.” ucap Halima membela diri dengan terbata menahan sakit pada kepalanya.
”Itu juga karena mu, Halima! Ingat, anakku menderita karena mu!”
”Aku, aku tidak melakukan apapun pada Kevin. Argh!” bantah Halima.
Polisi yang mengawali Halima dan Elsa segera datang menghampiri dan melerai mereka. Dan menarik paksa tubuh Elsa, meninggalkan Halima.
”Aku akan membalas perlakuan mu ini, setelah aku bebas dari sini, Halima! Kamu lihat saja!” ancam Elsa dengan suara lantang.
Mulfa memeluk Halima dengan menangis. ”Kakak, aku takut kak. Mereka mengancam kakak.”
Halima menenangkan Mulfa dengan menepuk punggungnya pelan-pelan. ”Ssstsstt, sudah jangan nangis. Mereka tidak akan bisa melakukan apapun pada kita. Jangan kamu takut!”
”Tapi kak, mereka masih punya anak buah ya_”
Halima memegang kedua pipi Mulfa. Sehingga mereka saling memandang. ”Dengar, tidak akan terjadi apa-apa sama kita, selama mereka di dalam penjara ataupun setelah mereka keluar dari penjara nanti. Kita dalam perlindungan hukum. Kamu tidak dengar ucapan pak Hakim tadi?”
”Iya kak, aku dengar. Tapi kan_”
”Tidak ada tapi tapi, Mulfa. Percaya sama kakak, yah.” ucap Halima meyakinkan Mulfa.
Mulfa mengangguk. ”Iya kak.”
”Iya, Pak.” sahut mereka.
Mereka pun kembali ke kantor polisi mengikuti Fahroni. Sedangkan para wanita lain, yang menjadi korban di bebaskan. Mereka di antar langsung kepada sanak saudaranya.
"Duduk Halima, Mulfa.” ucap Fahroni.
Halima dan Mulfa duduk di kursi depan meja tempat kerja Fahroni. Sedangkan Fahroni sedang duduk di bangku kebesarannya. Ia sedang menelfon seseorang.
”Selamat siang, saudara Hamid.” sapa Fahroni, setelah Hamid mengangkat telfonnya.
”Oh, selamat siang Pak Fahroni, bagaimana Pak?" sahut Hamid di sebrang sana.
”Apa waktumu luang? Datang lah kemari, ada yang harus kita bicarakan.” ucap Fahroni.
”Maaf Pak, siang ini saya tidak bisa. Bagaimana kalau malam saja, saya kesana Pak?” tawar Hamid.
”Baiklah, saya tunggu Anda selepas Maghrib.” ucap Fahroni menyetujui.
”Baik, Pak.” sahut Hamid.
Sambungan telfon pun terputus. Fahroni melihat Mulfa dan Halima bergantian.
”Kalian berdua, tunggulah saudara Hamid datang untuk menjemput kalian. Untuk sementara kalian tetap berada disini.” ucapnya tegas.
”Baik, Pak.” sahut Halima.
Akhirnya Halima dan Mulfa menunggu Hamid dengan tenang di kantor polisi. Sekarang mereka sedang berada di halaman.
”Kak, Hamid itu siapa lagi? Kakak kenal dia? Kenapa kita harus menunggunya?” Mulfa bertanya dengan bingung dan penasaran. ”Kita pulang saja sekarang, kak. Kita kerumah Mulfa dulu, Mulfa ambil beberapa barang disana sekalian uang simpanan Mulfa, lalu kita cari rumah sewaan untuk kita tinggal.”
__ADS_1
”Hamid itu, teman dari Halim. Kakak juga tidak tahu kenapa kita harus menunggu dia.” sahut Halima dengan bingung, ”Kita tunggu saja dia datang dan di saat itu juga kita akan tahu apa alasan pak Fahroni menyuruh kita menunggu dia. Dan untuk barang mu yang ada di sana, tidak usah kita ambil. Biarkan saja. Kalau kita kesana, bisa-bisa kita di tangkap dan di tawan lagi sama mereka. Apalagi nyata-nyata, mereka adalah anak buah dari Kevin.”
”Hum, baiklah. Padahal uang tabungan Mulfa masih ada lima juta loh, kak.” sahut Mulfa dengan cemberut. ”Oh yah, kak. Ngomong-ngomong, si penipu itu kenapa tidak pernah terlihat lagi yah kak dari malam itu?” tanya Mulfa lagi.
Halima tersenyum. ”Kenapa? Kamu merindukan si penipu itu?” Halima bertanya balik sambil mencubit hidung Mulfa.
”Ah kakak, apaan sih. Siapa juga yang merindukan dia?” elak Mulfa, ”Orang Mulfa hanya heran saja, kenapa dia tidak datang kesini lagi semenjak malam itu. Seharusnya kan, dia meski datang untuk melihat kita dan mengikuti kasus kita sampai selesai, kan?”
”Iya juga sih, kamu ada benarnya.” sahut Halima. Ia kembali teringat dengan ucapan Halim. Bahwa dia hanya membantu mengeluarkan dia saja dari sana setelah itu dia lepas tangan. ”Tapi, tidak ada alasan lagi buat Halim untuk datang kesini dan mengikuti kasus ini. Dia pernah katakan pada kakak, dia hanya membantu kakak keluar dari pekerjaan kakak, setelah itu ia sudah tidak akan ikut campur lagi.” lanjut Halima berucap menjelaskan. Halima tersenyum kecut.
”Oh, begitu rupanya.” Halima mengangguk menanggapi.
.. ..
Di sisi lain.
Halim, beserta anak dan istrinya sedang bersiap-siap mengemas pakaian. Subuh sebentar mereka akan pergi kepelabuhan untuk berlayar menuju kota A.
Halim mengurus kepindahan sekolah Fatma dan Syakila. Setelah tiga hari selesai acara empat puluh hari mertuanya. Setelah mengurus surat perpindahan, Halim pergi ke loket pelabuhan untuk membeli tiket.
”Papa, Mama akan membawa perlengkapan dapur dan segala perabotan ini juga, yah. Biar sampai di sana, kita tidak perlu membeli perlengkapan dapur dan segala perabotan rumah tangga lagi.” usul Sarmi.
”Tidak usah sayang. Papa sudah membelikan kebutuhan rumah tangga disana, Mama tinggal pakai saja, semua perlengkapan dapur, dan alat perabotan sudah lengkap.” jelas Halim.
”Apa benar begitu, Papa?” Sarmi bertanya memastikan.
”Iya, sayang. Papa sudah persiapkan segalanya, sebelum Papa datang kemari untuk menjemput kalian semua.” jelas Halim lagi. ”Mah, sebaiknya bilang anak-anak untuk istirahat sekarang, subuh nanti kita harus bangun. Karena subuh sebentar kita akan berangkat.”
”Iya, Papa.” sahut Sarmi. Ia pun keluar kamar dan menyuruh anaknya untuk tidur. Setelah itu, ia kembali masuk ke kamar. Ia dan Halim pun beristirahat. Mereka tidur dengan tempo seperti biasanya, mereka tidak ingin besok bangun terlambat dan ketinggalan kapal.
.. ..
Sesuai dengan ucapan Hamid. Sekarang ia sudah berada di kantor polisi. Ia langsung menuju ke meja kerja Fahroni. Hamid langsung menyapa Roni yang sedang menatap layar laptop.
”Selamat malam, Pak. Maaf sudah membuat Bapak menunggu.”
”Selamat malam, Hamid. Tidak mengapa. Mari duduk.” sahut Fahroni.
Fahroni pun menyuruh karyawannya untuk memanggilkan Halima dan Mulfa. Halima dan Mulfa segera datang ke ruangan pak Roni.
”Mulfa, Halima, silahkan duduk.” ucap Roni
Halima dan Mulfa pun duduk. Fahroni pun mulai menjelaskan maksud kehadiran Hamid pada Halima dan Mulfa.
”Halima, Mulfa, kenalkan ini saudara Hamid. Ia adalah teman dari Halim. Sebelum Halim berangkat ke kampung, ia menitip pesan kepada kalian berdua. Setelah kalian keluar dari sini, untuk sementara waktu kalian akan tinggal bersama saudara Hamid.”
Oh, pantas dia tidak datang menjenguk ku selama di sel. Ternyata, dia pulang ke kampung.
batin Halima.
”Baik, Pak.” ucap Halima tanpa penolakan.
”Baiklah, pak Fahroni. Saya minta maaf, bukannya saya tidak berlaku sopan tapi, saya harus segera pulang. Ibu saya sudah menunggu saya di rumahnya.” pamit Hamid.
”Oh iya, tidak apa-apa Hamid. Saya bisa mengerti.” sahut Fahroni. Ia memandang Halima dan Mulfa. ”Halima, Mulfa, silahkan kalian ambil pakaian kalian berdua dan ikutlah pulang bersama saudara Hamid.”
”Baik, Pak.” ucap Halima dan Mulfa serentak. Mereka pun segera mengemas pakaian mereka yang sedikit itu. Lalu, mereka kembali ke ruangan pak Fahroni.
Hamid, kembali berpamitan ulang kepada Fahroni sebelum ia pergi. Begitu juga Halima dan Mulfa mereka mengucapkan terima kasih dan sekaligus berpamitan juga kepada Fahroni.
Mereka pun keluar dari kantor polisi. Halima dan Mulfa terlihat canggung berada di dekat Hamid. Kerena memang Halima tidak terlalu mengenal Hamid, apalagi Mulfa.
__ADS_1