
Di gudang Geo, kota S.
”Bagaimana, Tuan? Apakah kita pulang sekarang?” tanya Ijan.
Geo melihat pergelangan tangannya, ia melirik jam yang melingkar di sana. Jam menunjukan pukul 20.35.
Apakah Syakila sudah pulang ke rumah? Ataukah masih berada di rumah sakit?
”Hubungi Syakila.” ucapnya.
Ijan mengangguk, ia meraih handphonenya, mencari kontak Nyonya muda di kontaknya. Ia menelfon nomor kontak tersebut.
Ijan menggelengkan kepala, ”Nomornya tidak aktif, Tuan.”
Geo terdiam.
Itu artinya dia masih di rumah sakit. Aku akan menunggunya di rumah saja.
”Kita pulang.” ucapnya kemudian. Wajahnya datar menyembunyikan rasa khawatir dan gelisahnya. Namun, Ijan bisa menangkap rasa gelisah itu.
”Baik, Tuan.”
Ijan mendorong kursi roda Geo keluar dari ruang bawah tanah menaiki lift pribadi Geo. Mereka sampai pada ruangan utama gedung.
”Aku pulang, kalian jaga diri baik-baik. Berikan informasi tentang orang tadi pada Ijan, juga penyelidikan mobil itu, berikan pada Ijan. Aku memberikan waktu dua jam, informasinya harus ada dan tepat.” ucap Geo pada anak buahnya.
”Baik, Tuan.”
”Ijan, ayo pulang.”
Tanpa berkata lagi, Ijan mendorong kursi roda Geo keluar dari gudang menuju mobil, mereka masuk ke mobil. Ijan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju kediaman Sarmi.
”Tuan, apa gak sebaiknya kita jemput nyonya sekalian saja di rumah sakit?” ucap Ijan memberi usul.
”Tidak perlu, aku sudah mengatakan padanya untuk menunggunya di rumah, maka aku akan menunggunya di rumah.” tegas Geo.
”Tapi, daripada Tuan yang gelisah dan tidak tenang begitu, leb__”
”Tidak,” singkat Geo menyahut, menyela ucapan Ijan. Sahutan singkat itu membuat Ijan tidak berbicara lagi. Ia fokus menyetir sesekali ia melirik Geo yang duduk dengan gelisah.
Tuan...tuan...apa susahnya sih tinggal jemput nyonya di rumah sakit? Biar Anda tidak khawatir dan gelisah begitu. Aku rasa, Tuan begitu mencintai nyonya muda yang sekarang, di banding kedua mantan pacarnya dulu.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah Sarmi. Ijan mendorong kursi roda Geo masuk kedalam rumah yang pintunya masih terbuka.
”Assalamu 'alaikum,” sapa Rio sambil mengetuk pintu yang memang terbuka itu.
”Wa 'alaikum salam,” sahut semua orang yang ada di sana.
Geo menggerakkan jari tangannya ke atas, memberikan tanda pada anak buahnya untuk segera pergi. Ijan mengerti.
”Selamat malam, Tuan, Nyonya tua. Saya permisi.” pamit Ijan pada Geo dan Sarmi.
”Hum,” sahut Geo. Sarmi menanggapi dengan mengangguk.
Ijan meninggalkan kediaman Sarmi, ia kembali ke gudang.
”Kamu pulang sendirian, Nak? Syakila dimana? Bukankah kalian perginya bersama? Mengapa pulangnya tidak?” tanya Sarmi.
”Mama, tadi ada sedikit masalah pada pekerjaan ku yang ada di kota ini. Jadi, aku menyuruh Syakila untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Sardin, dan aku pergi untuk menyelesaikan urusan ku. Dan urusan ku itu baru selesai sekarang.”
”Lalu, mengapa tidak menjemput Syakila setelah urusan mu selesai?”
”Syakila tidak ingin merepotkan ku. Dia tahu, aku pasti capek. Jadi, dia akan meminta Hardin untuk menjemputnya.”
Geo melihat Hardin, ”Apa Syakila sudah menghubungi mu?” tanyanya.
”Belum, kakak ipar.”
”Tunggulah telponnya. Dia akan menelpon mu. Aku ke kamar dulu.” ucap Geo sembari mendorong kursi rodanya sendiri ke kamar.
”Bagaimana kalau aku langsung pergi untuk menjemputnya saja? Ini juga sudah jam setengah sepuluh malam.” usul Hardin.
Geo menghentikan kursi rodanya. ”Hum, pergilah jemput dia.”
Geo lanjut mendorong kursi rodanya pergi ke kamar.
Wanita itu, mengapa hapenya gak di aktifkan? Seharusnya ia sudah menelfon adiknya. Tapi, ternyata...tidak. Wanita ini membuatku semakin khawatir saja.
Hardin juga masuk ke kamarnya, ia mengambil jaket dan helm juga kunci motornya.
”Mama, aku pamit, pergi jemput kakak.”
”Iya, hati-hati saat berkendara.”
”Iya, Mama. Assalamu 'alaikum.” Hardin menyalim punggung telapak tangan mamanya.
”Wa 'alaikum salam.”
Hardin keluar rumah sambil memakai helmnya. Ia menghidupkan mesin motornya, lalu, ia menjalankan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Sardin di rawat.
....
Di rumah sakit.
Syakila masih terduduk di bangkunya melihat Sardin yang masih setia dengan tidur panjangnya.
__ADS_1
Nesa, mamanya Sardin terus bercerita kepada Syakila tentang keseharian Sardin. Syakila mendengarkan cerita Nesa tanpa menyanggah ataupun menyahutinya. Bahkan, ia tidak fokus mendengar cerita Nesa.
Pikirannya saat ini berputar kembali di saat ia dan Sardin sewaktu kecil, sewaktu mereka masih di kampung halaman. Ia mengingat akan kebersamaan, canda tawa, dan janji yang mereka berdua ikrar kan sebelum akhirnya mereka berdua terpisah.
Syakila mengambil dan menggenggam tangan Sardin. Ia menghela nafas.
”Kakak, kakak mau tidur sampai kapan? Apa kakak gak mau melihat Kila? Kakak tidak mau mendengar suara Kila lagi? Kakak tidak merindukan Kila?”
Nesa terdiam dari bercerita.
Apa Syakila tidak mendengarkan ceritaku sepanjang ku bercerita tadi? Sepertinya begitu, baiklah, sebaiknya aku keluar saja dari sini. Membiarkan Syakila bersama Sardin.
Nesa berdiri, ia melangkah keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan dengan Syakila. Ia membuka pintu, ia menoleh melihat Sardin dan Syakila.
Sardin, Mama harap kamu cepatlah sadar.
Ia keluar dan menutup pintu dengan pelan. Ia menghela nafas dan duduk di kursi depan ruangan, di samping suaminya.
”Ada apa, Mah?” tanya sang suami.
”Sudah beberapa hari ini kondisi Sardin masih sama seperti ini, Pa. Mama sangat sedih dengan kondisi anak kita satu-satunya itu. Kapan dia akan sadar, Pa?” keluh Nesa dengan terisak.
”Sabar, Mah. Kita terus berdoa saja pada yang kuasa. Insya Allah, dengan izin-Nya, anak kita akan segera sadar.” sahut sang suami sambil memeluk dan mengelus punggung Nesa.
Nesa mengangguk lemah. Pandangannya memandang pintu ruangan Sardin.
”Kakak, cepatlah bangun. Aku ingin mendengar suara kakak. Aku ingin mendengar tawa kakak. Bangunlah kak.”
”Baiklah, kalau kakak gak mau bangun. Kila akan pergi sekarang.”
Kila berdiri, ”Kila pergi dulu, kak. Kila gak tau kapan lagi Kila akan menjenguk kakak, Kila akan fokus untuk merawat Geo agar dia cepat sembuh.”
Syakila melepaskan pegangan tangannya. Namun, dari bawah alam sadar Sardin, ia menggenggam tangan Syakila. Syakila bahagia dalam keterkejutannya.
Ia tersenyum senang, ”Kakak, Kila tahu, kakak mendengar suara Kila. Kakak, bangunlah. Lihat Kila, Kila ada disini, di samping kakak.”
Di bawah alam sadar Sardin.
Pria itu sedang berada di dalam hutan, gelap, tanpa sinar cahaya. Ia terperangkap di sana. Ia mencari-cari jalan keluar dari hutan tersebut.
”Kakak...kakak...”
Ia mendengar sebuah suara memanggil ”kakak” tetapi, ia tidak melihat rupa dari pemilik suara tersebut. Suara itu terdengar samar-samar.
”Kakak...kakak...”
Lagi-lagi ia mendengar suara itu, ia berlari dalam kegelapan itu, ia berputar-putar di hutan, mencari asal suara yang masih memanggil ”kakak” itu. Ia melihat ada sedikit cahaya yang bersinar. Ia berlari, menuju arah sinar itu.
”Kakak...kakak...kak Sardin.”
Perlahan, pemilik suara yang memanggilnya terlihat jelas, ia melihat seorang gadis yang sedang mencari-cari dirinya.
”Kakak, kakak...kak Sar__”
”Syakila.” ucap Sardin menyela ucapan Syakila.
Syakila menoleh kebelakang saat mendengar namanya di sebut. Ia tersenyum senang melihat pria yang berdiri di hadapannya itu, ia berlari, memeluk erat pria itu.
”Kakak, akhirnya aku menemukan kakak. Kila sudah mencari-cari kakak. Kakak kemana saja?” tanya Syakila.
Sardin melepaskan pelukan Syakila, ”Kakak tersesat di hutan yang gelap. Kakak mencari-cari jalan keluar, tapi, kakak tidak menemukan titik terang untuk keluar. Hingga akhirnya, samar-samar kakak mendengar suaramu memanggilku, kakak mencari asal suara mu dan menemukan setitik cahaya. Kakak mengikuti arah cahaya itu, dan semakin jelas kakak mendengar suaramu.”
Sardin kembali memeluk Syakila. Lima menit kemudian, ia melepaskan pelukannya. Syakila dan Sardin saling memandang dan tersenyum, Syakila menggenggam tangan Sardin.
”Kakak, ayo kita pulang sama-sama.”
”Iya,” Sardin membalas menggenggam tangan Syakila.
Mereka berjalan bersama dengan bergandengan tangan.
”Kakak, cepatlah bangun. Sadarlah kak, lihatlah, Syakila ada disni, di samping kakak.” ucap Syakila
Dari tidurnya, samar-samar Sardin mendengar suara Syakila yang berbicara padanya. Perlahan... matanya terbuka.
Syakila tersenyum senang melihat Sardin yang telah sadar, ia semakin erat menggenggam tangan Sardin.
”Kakak, kakak sudah sadar?”
Sardin masih terlihat lemah, ia melihat Syakila, pandangannya masih sayu.
”Ki..Kila.” ucapnya pelan.
”Iya, kak. Ini Kila, kak. Ini Kila, Kila datang untuk kakak.”
Syakila memeluk tubuh Sardin yang masih terbaring lemah itu dengan sangat erat dan kuat. Matanya berkaca-kaca.
”Aduh!” keluh Sardin. Ia merasakan sakit di seluruh badannya.
Syakila melepaskan pelukannya, ia melihat Sardin dengan khawatir.
”Kakak kenapa? Di mana yang sakit?”
”Pelukan mu terlalu erat dan kuat, Kila. Tubuh kakak terasa sakit.”
”Maaf, maaf. Kila tidak sadar dan tidak sengaja, kak. Kila sangat bahagia, akhirnya kakak sadar. Kakak, Kila panggil dokter dulu untuk memeriksa kondisi kakak.”
__ADS_1
Sardin mengangguk.
Syakila keluar dari ruangan, Nesa dan suaminya melihat Syakila.
”Syakila...ada apa, Nak? Mengapa matamu berkaca-kaca? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?” ucap mereka berdua bersamaan.
”Tidak ada hal buruk yang terjadi, Tante. Tante, Om, kak Sardin sudah sadar. Kila akan pergi panggil dokter dulu.” ucap Syakila sembari tersenyum senang.
”Apa? Apakah itu benar, Syakila?” tanya Nesa sembari tersenyum bahagia dalam tangisnya. Tanpa menunggu jawaban Syakila, Nesa berlari masuk ke ruangan rawat Sardin.
”Syakila, kamu masuklah kembali ke dalam temani tante dan Sardin. Biar Om yang panggil dokter.” ucap papa Sardin.
”Baiklah, Om. Syakila masuk ke dalam dulu.”
”Hum,”
Papa Sardin pergi mencari dokter, Syakila kembali masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Sardin dan Nesa, ia tersenyum melihat betapa lembut Nesa memperlakukan anak semata wayangnya itu.
”Terima kasih, Nak. Terima kasih, Kamu sudah sadar. Mama sangat khawatir memikirkan kamu.”
”Maaf kan Sardin, Mah. Sardin sudah membuat Mama khawatir.”
”Kamu memang selalu membuat Mama khawatir, dan kali ini kamu sangat keterlaluan. Mama tidak akan memaafkan mu.” sahut Nesa merajuk.
”Benarkah Mama tidak akan memaafkan ku?”
”Dasar bodoh!” Nesa memukul pelan jidat anaknya itu, ”Bagaimana bisa Mama marah lama-lama dengan kamu.”
Syakila tersenyum mendengar dan melihat kedekatan ibu dan anak itu.
Sebaiknya aku pulang sekarang, aku tidak akan mengganggu kemesraan keluarga ini. Lagi pula, ini sudah jam sembilan lewat, mama dan Geo pasti menunggu ku di rumah.
Syakila berjalan pelan mendekati kedua orang itu. Ia berdiri di samping Nesa.
”Ehm, Tante, kak Sardin, ini sudah malam aku pamit pulang.”
”Jangan!” cegah Sardin.
Syakila dan Sardin saling bertatapan. Nesa melihat mereka berdua dengan sedih.
Bolehkah aku berharap kalian berdua bisa bersatu? Apakah itu mungkin?
”Eh, kamu sudah mau pulang, Nak?” tanya Nesa kemudian.
Syakila tersenyum melihat Nesa, ”Iya, Tante. Syakila mau pulang ini sudah jam setengah sepuluh malam. Mamaku dan Geo pasti khawatir karena aku belum pulang di rumah.”
Syakila melihat Sardin, raut wajah lelaki itu terlihat sedih. Ia tahu, pria itu tidak inginkan dirinya pulang.
”Yang pentin, kak Sardin sekarang sudah sadar, nanti aku akan datang berkunjung lagi.”
”Baiklah, Tante tidak bisa menahan mu, kamu berhati-hatilah di jalan. Tante ucapkan terima kasih, karena kamu sudah berkenan mengunjungi anak Tante.”
”Tante, jangan sungkan begitu. Sardin adalah sahabat ku, sahabat terdekat ku, dia juga memiliki hubungan dengan ku, bagaimana bisa aku tenang tenang saja ketika dia sakit.”
Nesa terdiam. Ia tahu, kedua orang ini masih saling memiliki rasa, tapi sayangnya, dewa asmara tidak menginginkan mereka berdua untuk bersatu.
Syakila mendekati Sardin, menggenggam tangannya.
”Kakak, Kila pulang dulu, kakak istrahat lah yang baik. Jangan menyusahkan Tante, jangan manja, harus makan tepat waktu dan minum obat, biar kakak cepat pulih.”
”Kapan kamu akan kembali ke kota A?”
”Aku masih belum tahu, tapi waktuku di sini hanya dua Minggu. Satu Minggu telah terlewati, tinggal seminggu lagi aku berada disini. Kamu jangan banyak berpikir, kepala mu masih ada lukanya. Aku pulang dulu.”
”Iya, hati-hati di jalan.”
”Hu um. Aku pergi.”
”Iya,” sahut Nesa dan Sardin.
Syakila pergi dari ruangan itu bertepatan dengan papa Sardin datang bersama dokter.
”Kamu sudah mau pulang, Nak?” tanya papa Sardin.
”Iya, Om. Syakila pulang dulu.”
”Hum, hati-hati di jalan, Nak.”
Syakila mengangguk sambil tersenyum. Ia melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit.
Ia tiba di parkiran rumah sakit.
”Apa aku telfon adik untuk menjemput ku? Hum, lebih baik aku naik taksi saja. Tidak usah merepotkan mereka.” gumamnya.
Ia berjalan ke jalan besar menanti taksi yang akan lewat di sana.
”Bos..bos...bukankah itu gadis yang kita cari-cari?” ucap seorang pria pada temannya sambil menunjuk Syakila yang berada di sebrang jalan.
Kelompok preman itu semua melihat arah tunjuk pria tersebut, melihat ke arah Syakila yang nampak menunggu taksi.
”Iya benar, itu dia bos. Ayo bos, kita samperin dia, jangan sampai kita melewatkan kesempatan ini.”
”Ok, ayo pergi!” ucap ketua dari kelompok tersebut dengan tersenyum jahat. Mereka semua bergegas untuk menyebrangi jalan mendekati Syakila.
”Apa jam segini taksi sudah tidak ada? Mengapa dari tadi jarang taksi yang lewat, yang lewat pun ada penumpangnya.” gumam Syakila. Ia berjalan-jalan sedikit sambil menunggu taksi.
__ADS_1