Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 141


__ADS_3

Di perusahaan Geo, kota A.


”Antonio! Sudah berapa kali aku memberitahu mu untuk tidak mencari gara-gara dengan Geo!! Tapi, mengapa kamu tidak mendengarkan ucapan ku!?”


Beni sangat stres memikirkan permusuhan yang terjadi pada dua saudara tirinya. Antonio dan Geovani Albert adalah saudara tirinya dari ayah yang berbeda.


Ia yang tahu alasan kematian ibunya karena keserakahan ibunya sendiri, dan ia juga tahu kematian ayahnya, Albert di sebabkan oleh siapa. Ia telah memperingatkan Antonio, namun sayang, Antonio tidak mengindahkan peringatannya.


Sudah berkali-kali ia memberitahu Antonio bahwa ia hanyalah salah paham kepada orang tua Geo atas kematian mama mereka. Tapi, Antonio lebih mempercayai apa yang ia lihat pada kejadian hari itu, kejadian yang menewaskan mama kandung mereka.


Karena keegoisannya yang tidak mau menerima kenyataan, Antonio mencari cara untuk membunuh mama Geo, namun, tidak pernah berhasil. Alhasil, ia mengincar dan membunuh Albert di saat Albert sendirian tanpa seorang anak buah di sampingnya.


Ia membunuh Albert, karena dua alasan. Yang pertama untuk membalaskan dendam kematian mamanya, yang kedua karena Albert memiliki bukti yang valid jika Kevin, papanya Antonio adalah orang di balik tercemarnya nama baik Geovani dan keluarganya.


Beni mengetahui hal itu, tetapi ia menutupi dari Geo, ia menutupinya bukan karena ingin melindungi Antonio. Tetapi, ia tidak ingin permusuhan di antara kedua kakak tirinya semakin berlanjut. Untuk itulah, ia menolak Geo saat Geo menugasinya untuk menyelidiki di balik kematian Albert, ayah kandung mereka berdua. Ia pun selalu mempersulit orang yang di tugaskan oleh Geo untuk menyelidiki kasus tersebut, tentu saja, itu ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Keluarganya hanyalah Antonio dan Geo sekarang, jika mereka berdua saling membunuh malah ia yang akan kehilangan mereka berdua di waktu bersamaan, dan itu bukan yang ia inginkan.


”Apa karena kamu yang tidak menganggap ku sebagai adik mu, makanya kamu tidak mendengarkan ku, Antonio?”


Beni berdiri dari duduknya, berjalan ke arah jendela kantornya.


”Baiklah, jika kamu tidak mendengarkan ku!! Aku tidak akan bersedih atas kematian mu nanti!”


Ia berhenti bergumam. Ia merogoh saku celananya, meraih handphone. Ia menelfon seseorang.


”Halo, bos!” terdengar sapa seorang pria di sebrang sana.


”Hum, katakan padaku, apa yang terjadi di sana?”


”Bos, Kedua saudara mu saling bertengkar. Antonio, dia masih di rawat di rumah sakit. Sedangkan Geo, aku tidak tahu keadaannya. Tetapi, di saat dia keluar dari villa, aku melihat ada luka tembakan di lengannya dan luka-luka kecil di jari-jari tangannya.” ungkap pria tersebut.


”Mengapa kamu tidak melaporkan ini padaku lebih awal?! Tentang keberadaan Antonio di kota S juga, mengapa tidak memberitahu ku?! Hapemu juga tidak aktif saat ku hubungi?! Kamu tidak ingin bekerja lagi?!!” ucap Beni dengan marah.


”Hah, tidak! Tidak, bos! Aku masih ingin bekerja dengan bos!! Aku punya tanggungan yang harus ku biayai. Maaf, bos. Hapeku baru selesai di perbaiki, itulah alasannya nomor ku tidak bisa di hubungi.” sahut pria itu membela diri.


”Sudah lah! Selama kedua saudara ku ada di sana, laporkan padaku apa yang mereka lakukan.”


”Baik, bos!”


Tut tut tut Beni memutuskan sambungan telfonnya. Ia menugaskan seseorang untuk memantau Antonio, setelah ia tahu Antonio berada di kota S.


Malam hari di kota S.


Hal romantis yang di berikan Geo di sore hari, di taman bunga, membuat Syakila sedikit menjaga jarak dari Geo.


Hal itu membuat Geo tidak senang, namun, ia tetap menahan emosinya agar tidak bersikap keras pada Syakila.


Bahkan di meja makan pun, Syakila menolak suapan yang di berikan oleh Geo. Seluruh anggota keluarga Syakila, tidak ada yang berkomentar tentang penolakan Syakila.


Meskipun hal itu membuat kecurigaan di benak masing-masing, namun, mereka tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga Syakila dan Geo.


Hingga makan malam berakhir, suasana tetap hening.


Di kamar Syakila.


”Kamu ingin tidur di sofa?” tanya Geo dengan datar.


Setelah Syakila membaringkan Geo di atas ranjang, ia mengambil bantal dan selimut dan pergi ke sofa.


”Iya,” sahut Syakila.


”Kenapa? Apa aku membuat kesalahan padamu? Sikap mu berubah padaku semenjak kita kembali dari taman? Apalagi sikap mu di meja makan tadi? Apa yang sudah ku lakukan padamu? Coba katakan padaku!”


”Tidak ada!! Itu hanya perasaan mu saja, sudahlah, jangan bahas hal yang tidak penting! Tidurlah, besok kita harus bangun pagi.” sahut Syakila sambil membaringkan dirinya di sofa.


Ia menarik selimut menutupi dirinya dan memejamkan mata.


Tidak penting? Menurut mu ini tidak penting?Tapi, bagiku ini sangat penting! Benak Geo.


”Kamu lupa? Pintu tidak terkunci! Jika mama mu masuk ke kamar tiba-tiba, apa yang akan di pikirkan olehnya melihat kita begini? Dan kamu...apa yang akan kamu katakan jika mama mu bertanya mengapa kita tidurnya terpisah?” ucapnya kemudian.


Syakila membuka mata, melihat Geo. Ucapan pria itu benar, mamanya melarang Syakila untuk mengunci pintu ketika tidur, di saat ia sedang sakit. Ia bangun dari tidurnya.


”Terima kasih sudah mengingatkan aku, aku lupa untuk mengunci pintu. Mama ku melarang mengunci pintu sebelumnya karena aku sedang sakit. Sekarang aku sudah sembuh, tidak akan masalah jika pintu kembali ku kunci.” sahutnya sambil berjalan ke arah pintu.


Geo tidak senang melihat punggung wanita itu yang berjalan ke arah pintu, wanita itu mengunci pintu dan berjalan kembali ke sofa. Ia mengingat kembali ciumannya dengan Syakila di taman.


”Apa karena aku mencium mu tadi sore yang membuat mu menjaga jarak dari ku? Atau kamu takut akan perasaan mu yang sebenarnya kepada ku?” tanyanya.


Syakila berhenti tepat di dekat sofa, ia berbalik, melihat Geo.

__ADS_1


Perasaan ku yang sebenarnya? Apa perasaan ku yang sebenarnya?


”Tidak!” elaknya, ia kembali berbaring, menarik selimut dan memejamkan mata.


”Tidurlah, jangan banyak berfikir!” ucapnya lagi.


Geo menghela nafas, Sudahlah, biarkan saja dia. Tenang Geo...tenang.. menghadapi wanita keras kepala ini harus sabar dan tenang.


Ia melihat ke arah Syakila, wanita itu sudah terlihat tidur.


Apakah dia benar-benar sudah tidur? Besok, dia akan membawaku kemana? Siapa temannya ini?


”Syakila,” panggilnya.


Namun, tidak ada sahutan dari sang pemilik nama.


”Sudahlah, dia sudah tidur! Sebaiknya aku juga istrahat. Entah, kejutan apa besok yang menanti.” Gumamnya.


Ia memejamkan mata, memaksa dirinya untuk tidur.


.. ..


Keesokkan paginya.


Pagi-pagi sekali Syakila sudah bangun dari tidurnya. Ia pergi mencuci muka dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi.


”Kakak, kakak disini?” tanyanya pada Fatma.


Ketika ia sampai di dapur, rupanya Fatma, kakaknya itu juga berada di sana dan sedang membuat sarapan.


”Iya, kamu juga ingin membuat sarapan?”


”Iya,”


”Kakak sementara membuat sandwich, ini hampir selesai. Kamu buatlah jus untuk minuman dan tata meja makan.”


”Iya, kak. Asya tata meja makan dulu baru buat minuman.” sahut Syakila.


Ia sudah mulai menata meja makan, menaruh piring, gelas, menyediakan air cuci tangan, menyiapkan air putih biasa. Setelah itu, ia pergi ke kulkas melihat ada buah apa saja di sana.


”Kakak, Asya harus membuat jus apa? Di sini ada alpukat, jeruk dan apel.” tanyanya.


”Buat saja jus jeruk dan jus alpukat di cerek yang sedang. Jadi, siapa yang ingin minum jus jeruk atau jus alpukat, tinggal mereka tuang sendiri.” jawab Fatma.


”Kamu buatlah jus mu, kakak sudah selesai membuat sandwich, kakak pergi mandi dulu. Kakak tinggal ya.”


”Iya, kakak.” sahut Syakila sambil mengambil beberapa buah jeruk dan alpukat segar dari kulkas. Sedangkan Fatma, ia telah pergi dari dapur.


Syakila mengupas kulit jeruk dan alpukat, setelah itu ia mencuci bersih kedua buah tersebut. Setelah bersih, ia mulai membuat jus.


Jus sudah selesai di buat, ia menaruh kedua cerek yang berisi jus jeruk dan jus alpukat di atas meja.


Setelah itu, ia pergi ke kamar. Ia membuka pintu, melihat langsung ke ranjang. Geo masih tertidur. Ia masuk dan berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil baju ganti juga handuk.


Setelah mengambilnya, ia terus melangkah ke kamar mandi, ia bersiap untuk mandi. Beberapa menit kemudian, ia telah selesai dengan ritual mandinya.


Setelah ia berganti di kamar mandi, ia keluar dari sana, ia menyisir rambut basahnya dan memakai handbody juga kream muka. Setelah selesai, ia berjalan ke arah ranjang.


”Geo, ayo bangun! Ini sudah pagi.” ucapnya pelan membangunkan Geo.


Geo membuka mata, ia terpeson melihat Syakila yang sudah rapi dan harum itu. Ia menarik tangan Syakila, membuat wanita itu terkejut dan tertarik ke atas badan Geo.


Geo memeluk tubuh harum itu dan mendaratkan ciumannya ke jidat Syakila.


Cup...


”Itu adalah ciuman selamat pagi untuk mu,” ia berucap sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya.


Syakila berdiri tegak, wajahnya memerah karena malu.


”Apa kamu hanya akan berdiri diam di situ? Tidak ingin membantu ku membersihkan diri?” ucap Geo lagi dengan lembut.


Syakila tersadar, ”Eh, em...aku...aku siapkan pakaian ganti mu dulu, baru membantu mu mandi.” sahutnya sambil berjalan ke arah lemari pakaian.


Tanpa ia sadari, ia mengambil pakaian untuk Geo, yang warnanya sama seperti yang ia kenakan. Ia meletakkan pakaian Geo di atas ranjang.


Setelah itu, ia membantu Geo bangun dan memapahnya ke kursi roda. Ia mendorong kursi rodanya ke kamar mandi. Ia membantu Geo mandi, seperti biasanya.


Setelah selesai, Syakila membantu Geo mengenakan pakaiannya, ia tersadar, jika pakaian Geo warnanya sama dengan pakaiannya sendiri.

__ADS_1


Apa pakaian ini yang aku siapkan untuk Geo? Kenapa serasi dengan pakaian ku? Kenapa aku baru sadari sekarang setelah ia kenakan? Ah, sudahlah! Jangan banyak berfikir.


”Sudah selesai, ayo kita sarapan pagi dan pergi ke rumah teman ku.” ucapnya kemudian.


Ia mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur.


”Kamu semangat sekali mengantar ku pada teman mu. Aku tidak tahu siapa teman mu ini, apakah wanita atau pria? Jika wanita, apa kamu ingin aku terlihat memalukan histeris di depannya?” ucap Geo.


”Kamu terlalu berpikir berlebihan! Kalau pun itu wanita, kamu tidak akan histeris. Jangan samakan teman-teman ku dengan wanita-wanita yang yang mengejek mu itu!”


”Ini bukan masalah mengejek atau tidak, Asya! Jika hawa kulit ku tidak cocok dengan hawa kulit teman mu itu, aku tidak bisa kalau...”


”Tidak akan! Tidak akan ku biarkan kamu seperti itu!” sahut Syakila memangkas ucapan Geo.


Geo terdiam, ia tersenyum senang. Syakila, gadis itu peduli akan reputasinya di khalayak umum. Mereka telah sampai di dapur. Semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan.


Sarmi mulai mengambil sarapannya, Fatma pun begitu, sekalian mengambil sarapan suaminya. Syakila juga berlaku sama seperti Fatma, melayani Geo. Barulah yang lain mengambil sarapannya masing-masing.


Mereka makan dengan diam, menghabiskan sarapannya, dan bersiap melakukan aktivitasnya. Kini di meja makan tinggal Sarmi, Fatma, Geo, dan Syakila. Sedangkan suaminya Fatma, telah pergi bekerja setelah selesai sarapan. Begitu juga dengan Hardin, Ita, Yuli, dan Endang, mereka pergi ke sekolah setelah selesai sarapan.


”Mama, aku dan Geo akan pergi ke rumah teman ku. Aku sudah berjanji dengan teman ku untuk bertemu.” pamit Syakila pada Sarmi.


”Ke rumahnya siapa?” tanya Sarmi penasaran.


”Ke rumahnya Aldi, mungkin agak lama kami pulang ke rumah. Jika malam, kami belum datang juga, Mama tidak perlu menunggu kami untuk makan malam.”


Geo terdiam, keningnya mengerut, Aldi? Apakah Rivaldi? Gurunya? Untuk apa dia membawaku ke sana? Oh, dia ingin menitipkan aku di sana dan dia sendiri pergi ke rumah sakit untuk menemui Sardin! Pintar juga otak mu, Asya!!


Sarmi juga terlihat bingung, Untuk apa pergi ke sana? Bukan kah Geo dan Rivaldi tidak terlalu akur? Dan mereka saingan cinta! Oh, iya Syakila pernah berkata untuk membawa Geo berobat pada gurunya. Jadi, ini alasannya.


”Baiklah, kalian pergilah! Hati-hati dalam perjalanan. Syakila, telfon Mama jika terjadi sesuatu. Mama tidak ingin kejadian itu terulang kembali, atau apakah Mama harus menemani kalian?” ucap Sarmi kemudian.


”Ah, tidak. Tidak perlu Mama, Mama pergilah bekerja. Syakila dan Geo akan berhati-hati. Baiklah Mah, kami berdua pergi dulu.”


Syakila beranjak berdiri dari duduknya, dan ia berdiri di belakang kursi roda Geo. Ia mendorong kursi roda Geo keluar dari dapur.


”Geo, apa kamu tidak apa, jika kita naik taksi?” tanya Syakila.


”Mengapa harus naik taksi? Kita pergi naik mobil ku! Ijan sudah menunggu kita di depan.”


"Hah, benarkah? Bagaimana Ijan bisa tahu jika kita akan bepergian hari ini?”


”Apa kamu mulai bodoh, Asya? Me...”


”Ah, iya aku lupa! Mereka selalu ada dan siaga di depan rumah ku untuk berjaga-jaga dan melindungi mu.” pangkas Syakila, ”Apa kamu seorang bos yang kejam? Membiarkan mereka tidak beristirahat?”


Geo menyeringai jahat, ”Seharusnya kamu tidak perlu bertanya lagi, bukan kah kamu sudah tahu kekejaman ku yang tergolong kecil?”


Syakila terdiam, teringat kembali kekejaman yang pernah di lakukan Geo padanya.


Itu kekejaman yang tergolong kecil, katanya!! Bagaimana jika kekejamannya yang besar? Apakah dia semengerikan itu?


”Apa kamu sudah mulai takut?” tanya Geo.


”Ti...tidak! Me...mengapa harus takut?” elak Syakila.


”Oh, aku kita kamu sudah mengingat kembali kekejaman ku padamu, dan kamu merasa ketakutan sekarang.”


Syakila terdiam, Bagaimana dia tahu pikiran ku? Apa dia bisa membaca pikiran?


”I..itu mobil mu,” Syakila mengubah topik pembicaraan.


Setelah mereka dekat dengan mobil, Syakila membuka pintu belakang, dengan di bantu Ijan, mereka menaikkan Geo ke mobil.


”Kita kemana, Tuan?” tanya Ijan, setelah ia masuk ke mobil.


”Tanya Nyonya mu, kita akan pergi kemana!” sahut Geo.


”Nyo... Nyonya? Jangan panggil sembarangan! Aku bukan Nyonya mu. Jalan saja, nanti aku arahkan jalannya.” ucap Syakila.


”Mengapa sekarang kamu menolak panggilan mu itu? Kamu memang Nyonya muda keluarga Albert, kamu istriku!” sahut Geo.


”Tidak benar! Ja...”


”Jalankan mobilnya, Ijan!” perintahnya pada Ijan, sengaja memangkas ucapan Syakila. Ijan mengangguk dan mulai menjalankan mobil.


”Jangan berisik lagi, aku tidak ingin konsentrasi ku terganggu!” ucapnya lagi sambil mengeluarkan hapenya.


Syakila tidak berani berbicara lagi, ia melirik Geo yang fokus melihat ke layar hape.

__ADS_1


Aura pria ini sungguh kuat jika sudah berbicara, apalagi bicaranya yang datar tanpa ekspresi! Menakutkan, bulu ku saja merinding! Padahal nada suaranya biasa saja.


Ia menyapu tengkuk lehernya sendiri sambil melihat di luar kaca mobil.


__ADS_2