
Kediaman Albert.
Geo menatap tajam pada mobil yang baru saja berhenti di depan rumahnya. Ia melihat Syakila turun dari mobil.
Syakila melambaikan tangan, sebelum wanita itu menutup pintu mobil. Mobil pun melaju pergi. Senyum Syakila masih terpancar saat ia membuka pintu gerbang.
Geo semakin marah melihatnya. Syakila berjalan masuk, keningnya mengerut melihat tatapan mata Geo yang tajam padanya.
”Geo? Ada apa? Mengapa menatapku seperti itu?” ia menarik kursi dan duduk di hadapan Geo.
”Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang?” tanya Geo, dengan ketus.
”Dari tempat praktek bibi Samnia! Bukan kah semalam aku sudah bilang padamu? Aku akan singgah di rumah om Anton, sepulang dari mengajar. Aku ingin bertemu dengan bibi Samnia membicarakan kemoterapi mu. Apa kamu lupa?”
Geo terdiam sesaat. Yang di katakan Syakila adalah benar! Syakila telah bilang padanya tentang itu. ”Siapa yang antar kamu barusan?” ekspresi wajahnya tidak ada keramahan untuk Syakila.
Syakila menoleh sebentar, melihat ke depan gerbang. ”Yang tadi? Itu....itu om Denis!” jawabnya berbohong.
”Om Denis?” Geo tersenyum kecut sambil menaikkan sebelah alis matanya melihat Syakila.
Syakila menjadi gugup. ”I...iya! Om Denis!” jawabnya, masih berbohong.
”Melambaikan tangan sambil tersenyum mesra!?” ia menjeda ucapannya, ”Yakin, itu om Denis?”
Syakila terdiam, ia memandang arah lain, ia tidak berani melihat mata Geo.
Geo menghela nafas, ”Aku sudah menghubungi kepala sekolah tempat mu mengajar!”
Kening Syakila mengerut melihat Geo.
”Mulai besok, kamu tidak perlu mengajar lagi!” ucap Geo lagi.
Mata Syakila membulat sempurna. ”Apa!! Geo...aku....”
”Kamu sudah di keluarkan dari sekolah! Nama mu telah di coret dari deretan guru-guru honorer! Bahkan seluruh sekolah yang ada di seluruh kota ini, telah mengingat nama mu dan tidak akan memberimu kesempatan untuk melamar menjadi guru!” pangkas Geo.
Syakila berdiri dan menggebrak meja, ”Kamu tidak bisa begini, Geo! Itu pekerjaan ku! Kamu gak berhak mematikan karir ku seperti ini! Kamu juga gak berhak mengatur ku!” ia sangat marah. Ia tidak menyangka jika Geo tega melakukan hal itu untuknya.
”Perhatikan ucapan dan tingkah laku mu di hadapan ku, Syakila!! Aku gak berhak di mananya? Kamu istriku, aku suami mu! Kalau bukan aku yang berhak mengatur mu, siapa lagi? Sardin?”
Syakila terdiam. Memang benar, selama mereka masih dalam kontrak pernikahan, Geo berhak mengaturnya.
Ada apa dengan dia sebenarnya? Siapa yang sudah membuat singa ini marah? Jika aku terus melawannya, takutnya aku tidak bisa menanggung amarahnya. Dan lagi pun, aku harus mengalah demi pekerjaan ku. benak Syakila.
Syakila kembali duduk dengan tenang dan menghela nafas. ”Geo, sebenarnya ada apa dengan kamu hari ini? Mengapa kamu tiba-tiba seperti ini sekarang? Coba...coba kamu katakan padaku, apa masalah mu?” ia serius melihat Geo yang tidak pernah merubah raut wajahnya itu. Marah, datar, tatapan tajam yang selalu ia pancarkan untuknya.
Geo semakin menatap tajam mata Syakila yang melihatnya. ”Mulai sekarang! Kamu tidak diizinkan untuk keluar dari rumah!! Jika kamu berani keluar selangkah saja, melewati pagar rumah, jangan salahkan aku mematahkan kaki mu!” ia mendorong kursi rodanya sendiri masuk ke dalam rumah.
Syakila tertawa kecut, ” Hah! Apa-apaan ini! Ini...ini tidak bisa begini!” ia masuk ke dalam rumah, mengejar Geo.
”Syakila? Kamu sudah pulang?”
Syakila menghentikan langkahnya, melihat Beni yang ada di tangga. Beni mempercepat langkahnya menuruni anak tangga.
”Beni, kapan kamu datangnya?” tanya Syakila.
”Em..tadi... sekitar jam sepuluh, sebelas! Kenapa muka mu terlihat marah? Ada masalah?” Beni berjalan menuju sofa. Ia duduk di sana.
Syakila mengikuti Beni. Ia duduk di samping Beni. ”Beni, apa kamu tahu apa yang terjadi sama Geo? Kenapa dia tiba-tiba marah sama aku dan melarang ku untuk pergi mengajar? Bahkan melarang ku untuk keluar dari rumah! Aku sungguh bingung, marahnya sama aku begitu tiba-tiba!”
Beni terdiam, Rupanya Geo benar-benar ingin mengurung Syakila di rumah! Anak itu membuat hal yang akan menyusahkan dirinya sendiri! benaknya.
”Geo melarang mu mengajar dan keluar dari rumah? Kenapa begitu? Sedari aku datang, Geo nampak baik-baik saja! Tidak ada hal apapun yang membuatnya marah.” Beni berpura-pura tidak tahu hal yang terjadi.
”Iya, Geo melarang ku untuk itu! Apalagi artinya jika bukan untuk mengurung ku di rumah!” Syakila melihat Beni dengan serius, ”Apa kamu yakin, kamu tidak tahu apa-apa mengenai ini?” ia kembali bertanya pada Beni. Ia kurang yakin jika Beni tidak tahu apapun.
”Iya, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dia.” jawab Beni, meyakinkan. ”Kenapa gak tanya aja sama dia?”
Syakila mengangguk mengerti, ia menghela nafas. ”Baiklah! Aku naik ke atas dulu.” ia berdiri dan bergegas pergi menuju tangga lift.
__ADS_1
Beni menghela nafas, Maaf, Syakila, aku berbohong padamu! Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi, tapi, aku tidak ingin ikut campur urusan kalian kali ini. benaknya.
”Lebih baik aku ke dapur, membantu tante dan Marlina memasak!” gumamnya. Ia berdiri dan berjalan ke dapur.
Di kamar Geo.
Syakila masuk ke dalam kamar masih dengan marah. Ia melihat Geo berada di depan jendela. Ia menyimpan tas nya di atas meja dan menghampiri Geo.
Syakila merubah raut wajahnya, ia duduk di lantai, di bawah kaki Geo. ”Geo! Sebenarnya kamu kenapa? Apa aku ada salah? Maaf, kan aku. Ok?” ia mencoba untuk berbicara baik-baik pada Geo.
Geo tidak menanggapi, bahkan, melihat Syakila saja enggan.
”Geo, kamu jangan begini! Lihat aku, bicaralah! Aku benar-benar minta maaf, jika aku ada melakukan salah padamu. Sebenarnya, aku bingung dengan marah mu yang tiba-tiba ini.” ia mencoba membujuk Geo, merendahkan emosi pria itu.
Geo melihat Syakila, ”Apa kamu merasa bersalah padaku? Makanya kamu meminta maaf!”
”Jujur, aku tidak tahu apa salah ku. Aku hanya meminta maaf saja padamu. Aku minta maaf sama kamu jika aku telah melukai perasaan mu.”
Geo menghela nafas, ia memutar kursi rodanya, menjauh dari Syakila. ”Jika kamu tidak tahu di mana letak salah mu, jangan meminta maaf padaku! Apapun yang ingin kamu katakan! Kamu jelaskan! Kamu tidak ku izinkan untuk keluar dari rumah!”
Syakila menjadi marah, ia berdiri. ”Aku tidak peduli dengan larangan mu! Aku sudah cukup mengajak mu untuk bicara dengan baik! Aku akan tetap pergi ke sekolah untuk mengajar! Aku akan tetap keluar dari rumah ini, seizin ataupun tanpa izin mu! Kamu jangan keterlaluan padaku! Kita ini cuma pasangan kontrak yang akan bercerai!!”
Praaanng!!!!
Syakila terkejut, vas bunga yang ada di atas meja hiasnya, telah pecah tepat di kakinya.
Tubuhnya gemetar, ketakutan. Ia masih memandangi bunga mawar yang ada di punggung telapak kakinya itu. Tanpa ia sadari, ucapannya tadi malah membangunkan singa yang masih lapar.
”Nasib mu akan sama dengan vas bunga itu, jika sekali lagi kamu berbicara keras di hadapan ku!” ancam Geo.
Syakila tahu ucapan Geo bukan hanya ancaman biasa ataupun hanya gertakan untuk menakuti seseorang. Ia yang pernah menerima kemarahan dan kekejaman pria itu, ia merasa takut.
”Bersihkan itu!!”
Tanpa berkata, Syakila jongkok memungut pecahan vas bunga yang berserakan di kakinya. Ia juga memungut bunga mawar yang tak bersalah yang menjadi pelampiasan amarah Geo.
Setelah membersihkan itu. Syakila pergi ke kamar mandi.
Geo memejamkan matanya. Sebenarnya, hatinya sangat sakit memperlakukan Syakila seperti itu.
Maaf kan, aku, Syakila. Aku terpaksa memakai kekerasan padamu! Hanya dengan kamu takut padaku, kamu akan menurut padaku dan tidak akan membuat kesalahan yang dapat memicu marah ku lagi. Dan terpaksa aku mengurung mu di rumah. Jika saja kamu mencintai ku dan percaya padaku, aku tidak akan risau, apa kata mereka tentang ku di luar sana, jika kamu mendengar keburukan tentang ku. benak Geo.
Ia keluar dari kamar, pergi ke teras rumah. Kepalanya masih pusing memikirkan SMS dari anak buahnya tadi siang.
Di dapur.
”Apa yang di keluhkan Syakila padamu, Beni?” tanya Rosalina.
”Apalagi! Geo benar-benar ingin mengurung Syakila di rumah! Syakila tidak terima, ia marah! Mungkin...dia akan kembali membenci Geo.” jawab Beni.
”Tante juga sudah menasehati Geo untuk tidak melakukan kesalahan lagi yang membuat Syakila membencinya. Tapi, watak kakak mu itu sangat keras.” ucap Rosalina dengan sedih.
Marlina tersenyum licik, Bagus! Setahu ku Syakila tidak akan mau mengikuti ucapan Geo. Dia akan membangkang pada Geo. Geo semakin marah pada Syakila, dan bisa-bisa Syakila mati di tangan Geo sendiri! Dan aku...tidak perlu repot-repot menyingkirkan Syakila dari rumah ini! benaknya
”Sudah lah, Tante! Mereka bukan anak kecil lagi, namanya juga rumah tangga, perselisihan antara suami-istri itu hal biasa.” ucap Marlina.
”Sudah, jangan di bahas lagi! Selesaikan saja masaknya. Perut ku sudah lapar, minta di isi secepatnya.” ucap Beni.
Rosalina tersenyum, ”Oh... baiklah! Kamu ingin Tante masakan apa?”
”Apa saja Tante, Beni akan selalu menyukai masakan Tante. Em...daging ini biar Beni saja yang potong. Tante dan Marlina iris bumbu dan sayur saja.” Beni mengambil daging dan memotongnya.
Rosalina membiarkan Beni mengambil pekerjaan itu. Ia melihat Marlina sudah mengupas beberapa buah bawang merah dan bawang putih. Ia mengambil sayur dan memotongnya.
Di teras rumah.
Geo terus menghela nafas. Nasehat mamanya terbesit di benaknya, juga nasehat dari Beni.
Ia melihat layar hapenya, mencari nama Anton di deretan kontak nya. Ia ragu untuk menekan tombol memanggil untuk menghubungi Anton.
__ADS_1
Beberapa menit dia berpikir, ia pun menelepon Anton. Telfon tersambung.
”Halo! Ini siapa?” tanya Anton.
”Halo! Aku Geo, Om. Nomor ini nomor baru ku.”
”Oh, Geo! Em...ada apa tiba-tiba menelfon? Oh, iya, Syakila tadi ke sini membahas tentang pengobatan mu dengan bibi Samnia.”
”Iya, Om. Syakila ingin aku melakukan kemoterapi, aku menyetujuinya.”
”Kamu setuju? Apa tidak akan jadi masalah, nantinya?”
”Tidak, Om. Rekomendasikan saja aku di tempat praktek kemoterapi di jln xxx. Tempat praktek kemoterapi itu di bawah naungan ku.”
”Oh... Syakila telah bercerita padamu ya? Nanti Om beritahu bibi Samnia.”
”Syakila sempat cerita tentang hasil percakapannya dengan bibi Samnia. Maaf, sudah merepotkan Om. Om, apa Sardin ada di sana? Boleh aku bicara dengan nya.”
Kening Anton mengerut, ”Sardin? Ada....em...apa Sardin ada membuat salah padamu? Om akan menasehati dia baik-baik.”
”Oh...tidak, Om! Ada urusan lain dengan nya, makanya aku mencarinya.” sahut Geo.
”Oh, baik. Tunggu sebentar, aku akan berikan handphone ku padanya.” ucap Anton.
”Hum!” sahut Geo.
.. ..
Di ruang keluarga, kediaman Anton.
Anton berjalan mendekati Sardin. Ia membungkukkan badannya di hadapan Sardin, ”Geo ingin bicara dengan mu.” bisik nya. Ia menyerahkan hapenya pada Sardin.
Sardin mengambil hape Anton dengan wajah bingungnya. Ia pergi ke teras rumah dan duduk di kursi.
Kenapa Geo mencari ku? Apa ini berhubungan dengan Syakila? benaknya.
Ia meletakkan hape ke telinganya. ”Halo! Ini aku, kenapa mencari ku?” ucapnya.
”Apa kamu punya waktu besok untuk bertemu dengan ku? Kita bertemu di taman dekat SD tempat Syakila mengajar.” ucap Geo.
Kening Sardin kembali mengerut, ”Ingin bertemu dengan ku? Apa ada hal yang ingin kamu sampaikan padaku? Langsung saja ngomong di sini.”
”Tidak baik bicara lewat telfon! Yang ingin aku sampaikan padamu juga bukan hanya sepatah dua kata saja. Bersiaplah besok jam 08. 00 di taman dekat SD tempat Syakila mengajar.” tut tut tut! Geo langsung memutuskan sambungan.
Sardin meletakkan hape di atas meja. Ia menghela nafas sambil memejamkan mata, memijit pangkal hidungnya.
Mengapa dia mencari ku? Apa yang ingin dia bicarakan dengan ku? Aku belum menyetujuinya, langsung putuskan saja sambungan telepon begitu. Apa semua orang kaya begitu? benaknya.
”Sudah selesai bicara dengan Geo?”
Sardin membuka mata, melihat Anton yang sudah duduk di depannya. ”Om.” ia memperbaiki cara duduknya.
”Apa yang di katakan Geo? Mengapa kamu menghela nafas dan memijat pangkal hidung mu? Apa ada sesuatu yang serius?” tanya Anton, penasaran.
”Sardin juga tidak tahu apa yang akan di katakan Geo. Dia hanya meminta ku untuk bertemu dengan nya besok.” jawab Sardin.
”Apa kamu tahu, kira-kira, apa yang ingin dia bicarakan sama kamu?”
Sardin menggeleng pelan, ”Sardin tidak tahu, Om. Mungkin saja ada sangkut pautnya dengan Syakila.” jawabnya.
Anton melihat Sardin dengan serius. ”Sardin, Om mohon sama kamu, jika kamu bertemu dengan Geo besok, sebisa mungkin hindari pertengkaran. Ok? Jika benar yang di bicarakan besok menyangkut Syakila, kamu jangan banyak komentar terhadapnya. Bisa?”
”Insya Allah, Om!” jawab Sardin dengan yakin.
”Hum! Sekarang, ayo kita masuk! Makan malam telah di siapkan oleh bibi mu.” ajak Anton.
”Iya, Om.” sahut Sardin. Ia mengikuti langkah kaki Anton yang masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan terus ke dapur.
.. ..
__ADS_1