Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 105


__ADS_3

Di kediaman Kevin.


”Tuan, kami gagal membawa nona Syakila. Sepertinya, dia adalah gadis yang memiliki sedikit ilmu bela diri. Ia menghajar babak belur ketiga rekan ku yang lainnya.”


Vian nampak marah. Ia memutar kursinya menghadap anak buahnya yang melapor itu. Ia menggebrak meja dengan kuat sambil berdiri.


”Sudah ku bilang, jangan menggunakan kekerasan padanya! Mengapa kalian tidak mendengar ku?!”


Bawahannya tersebut gemetar ketakutan.


”Maaf, Tuan. Kami membujuknya dan mengajaknya dengan baik untuk datang memenuhi panggilan Tuan. Tapi, dia menolak, kami mengancamnya, ia merasa tertantang. Jadi, ia menantang balik pada kami, kami tersulut emosi dan meladeni tantangannya.”


”Kalian tidak berguna!”


”Maaf, Tuan. Selain itu, nona Syakila juga memberi pesan kepada Tuan.”


Vian mengerut. ”Pesan?” ia menatap bawahannya yang masih ketakutan itu.


”Iya, Tuan. Nona Syakila berpesan ”Jika Tuan ingin bertemu dengannya, maka Tuan lah yang harus mendatangi nona dengan baik. Bukan malah menyuruh nona yang mendatangi Tuan” itu pesannya, Tuan.”


Vian menyeringai, ”Gadis ini sepertinya tidak merasa takut pada apapun juga. 'Menarik', cari tahu kelemahannya dan informasi detail tentang dirinya.”


”Baik, Tuan.”


”Pergilah!” ucap Vian memerintah.


”Baik, Tuan.”


Bawahannya itu pergi meninggalkan ruangan pribadi Vian. Vian tersenyum sendiri melihat ke layar handphone yang menampilkan foto Syakila.


”Gak nyangka, ternyata kamu memiliki seni bela diri. Bersiaplah, tidak lama lagi kita berdua akan bertemu, sayang!” gumamnya.


.. ..


Di kediaman Albert. Di kamar Geo.


”Sudah bangun?”


Syakila mendudukkan dirinya bersandar di sandaran ranjang.


”Iya, sudah jam berapa ini?” tanyanya. Suaranya masih terdengar serak khas orang bangun tidur.


”Ini sudah jam enam sore?"


”Hah, jam enam? Aku..aku tertidur selama lima jam, bahkan jam berangkat pun sudah lewat!! Mengapa kamu tidak membangunkan aku, Geo?”


Kelihatannya sudah gak sabar sekali ingin melihat kekasihnya. Huh, apa dia tidak menganggap ku yang disini, di depannya?


”Sekarang kamu sudah bangun, pergi ganti pakaian mu. Tidak usah mandi, tunggu lukamu kering, baru boleh mandi.”


”Tapi,__”


”Tidak ada kata tapi!! Cepatlah, aku tunggu kamu di bawah. Dan tidak usah membawa pakaian, sampai di kota S saja baru ku belikan pakaian baru untuk mu.”


”Tidak perlu membuang-buang uang mu untuk membeli pakaian baru untuk ku. Bajuku masih banyak di rumah ibu ku. Bukankah aku ke kota ini tidak membawa pakaian ku?”


Geo terdiam.


Segitu tidak maunya kamu berbelanja memakai uang ku. Kamu lebih senang menggunakan uang yang di berikan oleh Sardin, 'kan untuk kamu membelanjai kebutuhan mu?


”Baiklah, terserah kamu. Aku tunggu kamu di bawah, cepat lah!” ucapnya dengan tersenyum masam.


Syakila mengangguk. Geo keluar kamar. Syakila berdiri, ia pergi ke toilet. Ia mencuci muka dan menyikat giginya. Setalah itu, ia mengganti pakaiannya dan pergi menyusul Geo. Ia turun ke bawah menggunakan tangga.


”Kamu sudah siap, sayang?” tanya Rosalina.


”Iya, Mama.” sahut Syakila, ia berjalan mendekati Geo. Ia berdiri di belakang Geo dengan memegang kursi rodanya.


”Mama titip Geo bersamamu, tolong jaga dia dengan baik.”


”Mah, Geo bukan anak kecil lagi untuk selalu di jagain. Meskipun Geo duduk di kursi roda, tapi Geo masih mampu untuk menjaga diri.” sahut Geo.


”Mama, Mama jangan khawatir, Syakila akan menjaga Geo dengan baik, meskipun Geo menolak untuk di jaga.” ucap Syakila sambil tersenyum kecil dan melirik Geo.


”Sudah, cukup bicaranya. Ayo kita berangkat sekarang, Mama jaga dirimu dengan baik. Geo akan menghubungi Beni untuk segera kembali ke sini.” ucap Geo.


”Kamu tidak perlu mengganggu ketenangan Beni, biarkan ia bersenang-senang di sana. Semenjak kamu sakit, ia terus saja meluangkan waktunya untuk bekerja dan merawat mu. Mama akan baik-baik saja di sini, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu.”


Geo terdiam.


Mama benar, selama ini Beni selalu berada di sisiku mengurusku dan mengambil alih pekerjaan ku. Baiklah, aku tidak akan menghubunginya, biarkan saja dia menikmati waktu senggangnya di sana.


”Baik, Mah. Terserah Mama saja, Geo dan Syakila pergi dulu.” pamitnya.


”Iya, kalian berdua berhati-hati lah!”


"Iya, Mama.” sahut Syakila dan Geo.


Mereka berdua keluar dari rumah di antar oleh Rosalina. Mereka naik mobil, Rosalina menatap mobil yang membawa anak dan anak mantunya itu dengan senyum kecilnya.

__ADS_1


Semoga kedekatan mereka bisa menimbulkan perasaan yang mendalam di antara mereka berdua. Geo, kamu harus berfikir seribu kali lagi untuk membiarkan Syakila pergi dari genggaman mu. Jangan lepaskan dia, Geo. Dia adalah pasanganmu yang baik.


Rosalina terus memandang mobil tersebut yang kian menjauh dan menghilang dari pandangan matanya.


Rosalina menghembuskan nafas beratnya. Ia memutar badan dan kembali ke dalam rumah. Ia mendudukkan dirinya di kursi sofa dan bersandar di sandarannya.


”Ah, sekarang tinggal aku sendiri di rumah besar ini. Albert, apakah kamu melihat anak kita dari sana? Begitu banyak beban yang dia dan aku pikul setelah kepergian mu. Albert, kematian mu masih dalam misteri. Demi mengungkapkan kematian Halim yang sebenarnya dan membersihkan nama baik keluarga kita, kamu kehilangan nyawa. Albert, apakah kamu sudah tahu siapa pelakunya dan pelaku tersebut merasa terancam dan membunuh mu? Mengapa begitu mudah musuh membunuh mu, sedangkan kamu bukanlah orang yang lemah? Albert mengapa kamu tidak meninggalkan bukti sedikit pun untuk mengungkap kematian mu, sayang?” gumamnya.


Roslaina memejamkan mata. Ia menghayal kan kembali perjalanan hidup dirinya dan Albert.


.. ..


Di perjalanan menuju bandara.


”Bagaimana lukamu?” tanya Geo.


”Uda mendingan,” sahut Syakila dengan memejamkan mata.


”Hum, kamu masih mengantuk? Tidurlah, sampai di bandara baru ku bangunkan kamu.”


”Tidak, aku tidak mengantuk, aku hanya memejamkan mata saja.”


”Kamu sedang memikirkan apa?”


”Kita bukan sedekat itu untuk saling membicarakan urusan pribadi.”


Geo terdiam memandang Syakila yang masih memejamkan matanya. Ia menghempaskan nafas kasar.


”Setidaknya, hubungan kita adalah suami istri, meskipun itu hanya sementara, tidak bisakah kita saling terbuka dan berbagi segalanya?”


Syakila membuka mata, melihat Geo yang menatapnya.


”Setelah kita sampai di kota S, kita akan tinggal di rumah Mama ku. Ku harap, kita berdua bisa bersikap biasa di hadapan Mama dan keluarga ku. Tapi, untuk urusan pribadi, kita tidak saling mengurus itu. Dan ku harap, kamu tidak bersikap kasar dan arogan di hadapan keluarga ku seperti awal kamu bertamu di kediaman ku.”


Mengapa hatiku sedih mendengar bicaranya seperti ini? Aku sudah tahu dia dan aku tidak mungkin bersama, dan pernikahan ini hanya sementara. Kenyataannya telah aku tahu, tapi mengapa sangat sakit hatiku mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya itu? Apakah aku benar-benar sudah terpikat olehnya? Syakila, pertemuan pertama kita di awali dengan kebencian, apakah kita akan berakhir juga dengan kebencian?


Geo terdiam, ia dan Syakila masih bersitatap. Syakila memalingkan muka dan kembali memejamkan mata.


”Iya, aku tahu. Jadi, mulai sebentar malam kita harus bersandiwara dengan baik sebagai suami istri yang saling mencintai dan bahagia di hadapan keluarga mu.”


Syakila kembali membuka mata, melihat Geo. Geo memalingkan muka.


”Tetap ada batasan, dan kamu jangan mencari kesempatan itu untuk melakukan hal yang tidak-tidak.” ucap Syakila.


”Aku tahu. Lagi pula, apa yang bisa aku lakukan dengan kondisiku yang seperti ini! Kamu jangan khawatir. Bukan kah kamu sudah mendengar kata aku pria yang tidak berguna? Jadi, tidak perlu kamu berpikiran yang tidak-tidak.”


Mereka berdua saling terdiam. Kini mereka telah tiba di bandara. Beberapa orang datang menghampiri mereka dan membawa mereka ke pesawat pribadi Geo. Syakila bingung melihat pesawat tersebut, ini bukan pesawat yang di pakai sebelumnya, pikirnya.


”Bukan, ini milik teman terbaik ku, aku meminjam darinya. Kenapa? Kamu suka? Aku akan membelikannya untuk mu, jika kamu menyukainya.”


”Tidak, aku hanya bertanya saja. Karena pesawat ini tidak sama dengan pesawat mu yang pertama.”


”Ayo kita masuk ke dalam. Jangan membuat pilotnya menunggu lama.”


Syakila mengerucutkan bibirnya, ia di bantu dengan anak buah Geo membantu Geo masuk kedalam pesawat.


”Lewat sini, Nyonya.”


Anak buah Geo mengarahkan Syakila untuk terus mendorong kursi roda Geo ke kamar pribadi Geo. Anak buah tersebut membuka pintu kamar Geo dengan lebar.


”Silahkan, Tuan, Nyonya, untuk beristirahat.” ucapnya.


”Hum,” sahut Geo.


”Iya, terima kasih.” sahut Syakila ramah.


Anak buah tersebut tercengang melihat Syakila.


Nyonya ini sangat ramah dan tidak sombong. Tidak sama dengan wanita-wanita Tuan yang lainnya.


”Sama-sama, Nyonya.” sahutnya dengan tersenyum. Ia menutup kembali pintu kamar Geo setelah Syakila dan Geo masuk ke dalam kamar.


”Aku ingin istrahat.” ucap Geo.


”Aku akan membantu mu berbaring.”


Syakila membantu Geo berbaring di ranjangnya. Syakila menarik selimut menyelimuti tubuh Geo.


”Jika kamu ingin istrahat, istrahat lah di ranjang ini. Di sini tidak tersedia sofa panjang untuk tempat tidur mu.” ucap Geo.


Syakila terdiam. Ia pergi ke samping jendela pesawat, ia duduk di kursi yang tersedia di sana, ia melihat pemandangan dari ketinggian. Pandangannya melihat ke luar jendela, tetapi pikirannya sedang berfikir tentang keadaan Sardin. Geo melihat Syakila dari ranjangnya, menit selanjutnya ia tertidur. Syakila pun tertidur di tempat duduknya.


Satu jam dua puluh dua menit kemudian, pesawat pribadi Geo telah mendarat dengan sempurna di bandara kota S. Anak buah Geo melihat Geo di kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Geo.


Geo terbangun mendengar ketukan pintu kamar, ia melihat Syakila yang juga tertidur di tempat duduknya.


Gadis ini, keras kepala sekali! Dia lebih aman tidur di sana kah, dari pada tidur di ranjang ku?


”Masuk!” ucap Geo.

__ADS_1


Anak buahnya tersebut membuka pintu kamar setelah mendapat perintah tuan nya. Ia masuk ke dalam kamar langsung menuju ranjang Geo.


”Kita sudah sampai, Tuan.” ucapnya dengan sopan.


”Hum, bantu aku bangun.”


Anak buah tersebut membantu Geo bangun dan mendudukkan Geo di kursi rodanya.


”Kamu keluar lah.” titahnya pada anak buahnya.


”Baik, Tuan.”


Ia keluar dari kamar. Geo mendorong kursi rodanya ke arah Syakila. Ia menepuk pelan pipi Syakila untuk membangunkannya.


”Syakila, bangun!”


Syakila membuka matanya. Ia terkejut melihat Geo di hadapannya.


"Geo? Bagaimana kamu bisa di hadapan ku? Apa aku sedang bermimpi?”


Syakila mencubit kulitnya, ”Aduh, sakit! Ini bukan mimpi.”


”Kamu memang tidak bermimpi!”


”Bagaimana kamu bisa...”


”Aku di bantu sama anak buah ku. Kita sudah sampai, ayo kita turun.” sahut Geo memangkas ucapan Syakila.


Tanpa bersuara Syakila mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar dan keluar dari dalam pesawat. Kedatangan Geo di kota S di sambut oleh anak buahnya yang ada di kota tersebut.


”Tuan, mari lewat sini!”


Anak buah Geo menuntun perjalanan mereka menuju mobil. Geo dan Syakila naik ke dalam mobil.


”Maaf, Tuan. Apakah kita akan ke villa?” tanya sang supir.


”Tidak, kita ke rumah istriku.”


"Baik, Tuan.”


Sang supir menyalakan mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Sarmi.


.. ..


Di kota pusat. Kediaman Albert.


”Bibi, tunggu!” teriak Marlina, ketika pintu rumah kediaman Albert akan di tutup.


Sang bibi menahan diri untuk menutup pintu rumah. Ia melihat Marlina sedang berjalan sedikit berlari sambil mendorong koper pakaian menuju arahnya.


”Bibi, apakah Beni ada di rumah?”


”Iya, Nona, Tuan muda baru saja datang. Sekarang ada di kamarnya.” sahut sang bibi.


Marlina berlalu masuk ke dalam rumah, ia menyimpan koper pakaian di lantai bawah, ia melangkah menaiki anak tangga hingga ke kamar Beni. Ia membuka pintu kamar Beni, namun tidak bisa. Pintu kamar Beni terkunci dari dalam. Marlina kembali turun ke lantai bawah untuk menunggu Beni.


Beni selesai mandi juga sudah selesai berganti.


”Syakila, aku merindukan mu. Aku ingin bertemu dengan kamu setelah sampai di sana, sebelum aku bertemu dengan yang lain.” gumamnya sambil tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.


Ia keluar dari kamar dan mengunci pintunya. Dengan sedikit berlari, ia menuruni anak tangga.


”Marlina? Kamu sudah datang?” sapanya saat melihat Marlina yang duduk di kursi sofa.


”Iya, aku sudah datang. Ayo berangkat, Dawiyah menunggu kita di bandara.” sahut Marlina. Ia berdiri dari duduknya.


”Dawiyah?” Beni terperanjat kaget.


Haruskah sekarang Dawiyah menemui Geo? Ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bertemu.


”Iya, Dawiyah. Dia ingin bertemu dengan Geo, aku melarangnya, tapi, kak Antonio memaksaku untuk membawa Dawiyah bersama ku ke kota A. Terpaksa aku menurut dan bilang pada Dawiyah untuk menunggu kita di bandara.” ucap Marlina menjelaskan.


”Ayo berangkat! Tunggu apa lagi? Kamu kepikiran untuk pertemuan Geo dengan Dawiyah?” ucapnya lagi.


Beni terdiam.


”Sudah lah, kamu tidak perlu memikirkan itu! Lebih baik lagi mereka bertemu. Geo juga ingin bertemu dengan Dawiyah, 'kan? Jadi, biarkan mereka berdua bertemu. Ayo kita berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi dengan bengong seperti itu.” ucap Marlina lagi.


Ia mendorong koper pakaiannya, mendahului jalan keluar dari rumah. Beni mencari bibi di dapur.


”Bi, tidak usah masak. Ini kunci kamar Beni. Beni kembali ke kota A dulu, Bi. Bibi jagalah rumah baik-baik.”


Sang bibi mengambil kunci kamar tersebut.


”Gak makan dulu, Den?”


”Iya, Bi. Terima kasih, Bi. Aku pergi sekarang.” pamit Beni.


”Iya, Den.”

__ADS_1


Beni berjalan keluar dari rumah, sang Bibi mengikuti langkah Beni dari belakang. Beni keluar rumah. Sang bibi menutup pintu rumah dari dalam dan menguncinya.


Beni dan Marlina masuk ke dalam mobil, mereka melakukan perjalanan menuju bandara.


__ADS_2