
Di kediaman Sarmi.
”Iya, aku suaminya, Syakila!” jawab Geo datar dengan wajah angkuhnya.
”Apa kepercayaan mu terhadap istrimu hanya sebesar kuku jarimu? Apa kamu benar-benar mencintai dan mengerti istri mu?” tanya Rivaldi lagi.
Geo menggertakan kedua rahangnya, ia tidak senang dengan ucapan pria yang berdiri di hadapannya itu.
”Berhenti bicara berbelit-belit dengan ku!! Kau tidak perlu tahu sebesar apa cintaku padanya! Itu urusan ku!!” Geo tertawa mengejek, ” Hah, aku tahu, kamu pasti akan membela wanita murahan itu!” Tatapannya tajam melirik Syakila dan beralih menatap Rivaldi.
”Geo...apa maksud ucapan mu itu? Siapa wanita murahan yang kamu maksud? Dalam beberapa menit ini kamu mengatai ku dan menuduh ku dengan kasar. Apa salah ku?” ucap Syakila. Ia sudah muak di katai wanita murahan oleh Geo.
”Kamu masih bertanya apa salah mu, Syakila? Tidak kah kamu sadar diri? Wanita beristri pulang pada subuh seperti ini, di antar oleh pria lain yang bukan muhrim! Di mana kamu menghabiskan malam mu semalam? Coba kamu pikirkan lagi di mana letak salah mu, Syakila!?!” Sarmi yang menyahuti ucapan Syakila. Amarahnya jelas terlihat di raut wajahnya.
”Syakila tidak merasa bersalah, Mah!” sahut Syakila membela diri. Ia tidak percaya bahkan Sarmi, mama kandungnya yang mengerti dan paham sekali dengan dirinya sedari kecil hingga besar, begitu mudahnya percaya saja dengan ucapan Geo yang baru beberapa bulan menjadi menantunya itu.
Sarmi mendorong Syakila dari tempat duduknya hingga terjatuh di bawah kaki Geo. Luka pada perutnya terbuka, untuk kedua kalinya luka tersebut tertekan di lutut Geo, semakin perih ia merasakan sakitnya.
”Sarmi!” ucap Biah dan Johan.
”Mama!” ucap Hardin.
”Tante!” ucap Rivaldi.
Mereka terkejut melihat sikap Sarmi. Geo mendorong mundur kursi rodanya menjauh sedikit dari Syakila, saat Syakila berada di kakinya sambil meringis memegang perutnya. Ia memandang Syakila dengan iba.
Apa yang terjadi? Mengapa mukanya pucat begitu? Dia meringis memegang perutnya. Apakah perutnya sakit? Mengapa hatiku sakit dan sedih melihat dia tidak berdaya seperti ini?
Geo menggeleng.
Tidak!! Aku tidak boleh terpengaruh dengan muka melasnya ini! Sakit yang dia rasakan itu...pasti... karena ia dan pria ini... Ah. Kepalaku sakit memikirkannya. Syakila, hatiku tidak ingin mempercayai ini, hatiku...
”Akui kesalahan mu dan minta maaf pada suami mu!” ucap Sarmi, suaranya meninggi.
”Syakila tidak merasa bersalah, Mah. Mengapa Syakila harus minta maaf pada Geo?” sahut Syakila pelan, suaranya bergetar menahan sakit.
Rivaldi mendekati Syakila, ia membalikkan badan Syakila menghadap dirinya. Ia khawatir melihat tangan Syakila yang bergetar memegang perutnya.
”Stop!! Berhenti kalian berbuat demikian pada Syakila! Coba katakan dimana salahnya Syakila!? Aku ingin mendengarnya!!” ucapnya kemudian dengan lantang.
”Kamu sungguh menikmati malam mu hingga begitu melindunginya. Kamu bertanya seakan tidak pernah terjadi apa-apa dengan kalian berdua. Akting kalian sungguh bagus!” Geo menjeda ucapannya. ”Katakan! Berapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk merayu dia sehingga dia mau berada di atas ranjang mu?”
”Apa?!” ucap Syakila dan Rivaldi terkejut.
”A..apa maksud mu, Geo? Kamu menuduh ku, aku menjual tubuh ku pada guruku sendiri!?” lanjut Syakila berucap. Ia tidak percaya Geo akan menuduhnya serendah itu.
Geo tertawa menghina, ”Hah. Oh, jadi dia guru mu? Hebat sekali kamu Syakila, bahkan guru mu sendiri kamu ray__”
Bugh!
Tinju yang dilayangkan Rivaldi menghentikan ucapan Geo. Ia sudah tidak sabar lagi mendengar Geo terus menuduh Syakila yang tidak-tidak.
”Rivaldi!” ucap Johan, Sarmi, Hardin dan Biah bersamaan. Mereka terkejut dengan pemukulan Rivaldi yang tiba-tiba pada Geo.
Geo menyeka darah yang keluar dari ujung bibir kirinya. ”Beraninya kamu memukul ku! Kamu ingin mati rupanya!!” ucapnya dengan tenang, santai, datar, namun aura yang terpancar di mata dan wajahnya aura membunuh.
”Apa menurut mu, aku takut sama kamu?” sahut Rivaldi menantang Geo.
Syakila menggeleng, ia sangat tahu sifat Geo. Apabila sudah berkata untuk membunuh, maka sangat mudah baginya untuk melakukannya. Meskipun bukan dengan tangannya sendiri ia membunuh orang itu.
”Tidak!! Geo..jangan!! Jangan kamu lukai guru ku. Guruku tidak bersalah, aku juga tidak bersalah. Kamulah yang bersalah disini, kamu sudah salah faham dengan kami berdua.” ucapnya membela Rivaldi dan membela dirinya sendiri. Suaranya masih bergetar.
Geo tertawa, namun tawa yang begitu mengerikan. Tatapannya begitu tajam menatap Syakila dan Rivaldi bergantian.
__ADS_1
”Hahahaha...salah paham?! Aku bukan anak kecil yang bisa kamu tipu, Syakila!!” ucapnya dengan penuh penekanan dalam setiap kalimatnya. ”Apa kamu mencintai guru mu, Syakila? Bagaimana dengan Sardin? Apa Sardin sudah tidak bisa memberikan uang padamu lagi sehingga kamu cepat berpaling pada pria lain, agar pria itu bisa membiayai kebutuhan hidup mu?”
Kening Syakila mengerut memandang Geo, ”Apa? Ge.. Geo...” Syakila tidak melanjutkan ucapannya, lidahnya seakan kelu untuk berbicara lanjut. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya, Geo, menuduh dan mengatainya dengan begitu rendah, menyamakan dirinya dengan wanita yang menjual diri demi uang, di luar sana.
”Aku yang mencintai Syakila!” ucap Rivaldi menjawab pertanyaan Geo yang dilontarkan untuk Syakila.
Amarah Geo semakin memuncak dan tajam memandang Rivaldi. Johan, Biah, Hardin, dan Sarmi terkejut. Mereka tidak menduga atas ucapan Rivaldi, apakah Rivaldi benar mencintai Syakila? Ataukah hanya berpura saja demi m lindungi Syakila? Benak mereka bertanya.
Syakila sendiri terkejut, ia tidak menyangka Rivaldi, gurunya itu terpancing amarah dan mengatakan isi hatinya yang sebenarnya, jika ia mencintai dirinya.
”Aku sangat mencintai Syakila, jika kamu sudah tidak mempercayai Syakila lagi, maka ceraikan dia! Aku akan menerima dengan senang hati janda mu ini. Jandamu ini sangat berarti dalam hidup ku!” lanjut Rivaldi berucap.
Syakila memandang Rivaldi, ia tahu gurunya itu memang mencintai dirinya. Begitu berarti kah diriku di dalam hatimu? Benak Syakila bertanya.
Tubuh Geo gemetar, tangannya terkepal kuat.
Apa? Ceraikan Syakila. Memang ada niat untuk kami berpisah. Tapi, itu tidak akan terjadi! Hatiku tidak menginginkan itu! Aku membutuhkan Syakila dalam hidup ku. Bercerai? Tidak akan!
”Menceraikan Syakila, setelah dia mengkhianati ku? Hahahaha, jangan mimpi!!” jawabnya kemudian, ”Aku akan membuat perhitungan dengan mu, Syakila!! Kamu harus menanggung rasa sakit yang ku terima ini!!” ucapnya lagi dengan lantang memandang Syakila.
Ia beranjak pergi dari ruangan itu setelah selesai berucap. Syakila menangis mendengar ucapan Geo. Ia tahu Geo sangat kasar dan sangat jahat juga kejam.
”Jika begitu, lepaskan guruku! Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah. Jangan menyakiti guruku, dia telah menolong ku.” ucap Syakila pelan.
Geo menghentikan langkahnya mendorong kursi rodanya. Ia sangat tidak senang dan marah mendengar ucapan Syakila yang membela pria lain di hadapannya.
”Darah! Kakak, kamu berdarah?! Perutmu terluka?!” ucap Hardin.
Ia terkejut melihat darah yang menempel di baju, di perut Syakila. Sarmi, Rivaldi, Johan, dan Biah ikut melihat ke arah perut Syakila.
”Syakila!!” ucap mereka terkejut dan khawatir. Sarmi, Biah, Hardin, dan Johan beranjak berdiri dari duduknya dan mendekati Syakila yang berada di lengan Rivaldi.
”Syakila! Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa mendapatkan luka di perut mu?” tanya Sarmi dan Biah bersamaan.
Darah? Apakah wanita yang terluka yang di ceritakan Ijan itu adalah Syakila? Dan pria yang membawa Syakila itu adalah gurunya?
”Bagaimana bisa kamu mendapatkan luka ini Syakila?” tanya Sarmi lagi. Syakila masih tidak menjawab. Kepalanya terasa pusing dan perih di perutnya semakin sakit terasa.
”Syakila, muka mu pucat. Lukamu sudah terbuka. Aku akan mengobati luka mu.” ucap Rivaldi dengan khawatir. Ia menggendong tubuh Syakila.
”Tante, di mana kamar Syakila?” tanyanya pada Sarmi.
”Ikuti, Tante.” ucap Sarmi. Ia berjalan melewati Geo, menunjukan letak kamar Syakila. Rivaldi menyusul di belakang Sarmi sambil menggendong Syakila. Geo menyusul di belakang mereka. Ia khawatir dengan Syakila, namun, ia sembunyikan rasa khawatirnya itu.
Sarmi membukakan pintu kamar Syakila. Ia terkejut melihat handphone Geo yang sudah pecah dan terbelah di lantai.
Rivaldi masuk ke dalam kamar, ia pun terkejut melihat handphone yang rusak di lantai. Dari tingkat kerusakannya, handphone tersebut sengaja di banting, di hempaskan dengan sangat kuat.
Apakah orang yang menelfon Syakila tadi adalah Geo, suaminya Syakila sendiri? Apakah dia salah paham karena mendengar lenguhan Syakila saat terbangun dari pingsannya tadi? Ataukah mungkin karena yang mengangkat telfonnya Syakila adalah aku?
Rivaldi membaringkan tubuh Syakila di atas ranjang dengan pelan.
”Syakila, apa perutmu terasa sakit sekali?” tanyanya kemudian.
Syakila mengangguk, ”Iya," jawabnya gemetar.
”Aku jahit lukamu saja, bagaimana?” tawar Rivaldi.
”Tidak, lanjutkan kan pengobatan tradisional mu, guru. Aku tidak ingin di jahit.” tolak Syakila.
”Hum,” singkat Rivaldi menyahuti. Ia melihat Hardin, ”Hardin, tolong kamu ambilkan dua bungkus plastik yang ku simpan di atas kursi tadi.”
Hardin mengingat dua bungkusan plastik berwarna putih yang ada di dekat Sarmi, mamanya itu yang di simpan sembarang oleh Rivaldi karena terkejut melihat Syakila.
__ADS_1
”Baik, guru.”
Ia pergi ke depan, melewati Geo yang berada di bibir pintu kamar. Ia pergi terburu-buru. Setelah ia menemukan kantung plastik yang di maksud, ia bergegas secepat mungkin kembali ke kamar. Ia kembali melewati Geo yang masih berada di tempatnya, di bibir pintu.
”Ini, guru.”
Ia memberikan bungkusan plastik itu kepada Rivaldi. Rivaldi mengambilnya. Ia membuka dan mengeluarkan isi dari kantung plastik tersebut. Ia sempat menghaluskan beberapa daun Madeira Vine untuk Syakila sebelum ia mengantar Syakila pulang.
”Syakila, aku akan membuka dua kancing bajumu.” izinnya. Syakila mengangguk. Sarmi, Johan, Sarmi dan Hardin diam menyaksikan Rivaldi mengobati Syakila.
Geo, pria itu tidak senang mendengar ucapan Rivaldi, namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Syakila membutuhkan perawatan. Tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras, melihat Rivaldi yang membuka dua kancing baju Syakila dan menyibak baju Syakila memeprlihat kan luka yang ada di perut Syakila.
”Seharusnya, kamu harus beristirahat lagi saat kamu sudah sadar. Lihatlah, lukamu jadi terbuka dan berdarah lagi seperti ini. Seandainya kamu menuruti ucapan ku, luka ini tidak akan terbuka.” omel Rivaldi sambil membuka daun-daun yang tertempel di luka Syakila. Syakila terdiam, mukanya masih terlihat pucat. Rivaldi memandang wajah Syakila.
”Hardin, ambilkan infus dan selang infus yang ada di mobil ku. Kunci mobilku ada di samping bungkusan plastik yang kamu ambil tadi.” ucap Rivaldi pada Hardin.
Hardin tahu itu, ia melihat kunci saat mengambil bungkusan plastik. Ia mengangguk dan keluar dari kamar.
”Tante, tolong ambilkan aku air hangat.” perintahnya pada Sarmi.
”Biar aku yang ambilkan.” ucap Biah. Ia menahan langkah Sarmi yang sudah berbalik ingin keluar dari kamar. Sarmi mengangguk, Biah bergegas mengambil air hangat tersebut.
Biah kembali datang dengan membawa baskom berisi air hangat dan kain kecil yang halus dari dapur.
”Ini,” ia menyerahkan itu pada Rivaldi, Rivaldi mengambilnya dan menyimpannya di samping tubuh Syakila.
”Tahan, aku akan membersihkan luka mu dengan air hangat ini, dan kembali membersihkannya memakai alkohol.” ucapnya pada Syakila.
Syakila mengangguk, Rivaldi memulai membersihkan luka Syakila dengan pelan menekan luka tersebut. Syakila meringis, menggenggam seprei nya.
Geo ikut meringis melihat Syakila yang seperti itu, ia ingin berada di dekat Syakila dan menggenggam tangan Syakila, memenangkannya dan menguatkannya. Tapi sayang, itu hanya ada di hayalannya semata, kenyataannya, ia masih berdiam diri di bibir pintu kamar.
Mata Sarmi berkaca-kaca melihat Rivaldi yang serius merawat putrinya.
Ya Allah, ampuni aku. Aku sudah salah paham dengan Rivaldi dan anakku sendiri. Seharusnya aku mendengar penjelasan Syakila dan Rivaldi, aku sudah menampar dan memperlakukan Syakila dengan kasar, aku juga sudah menuduh Syakila dan Rivaldi yang tidak-tidak. Maaf kan aku ya Allah. Maafkan mama, Syakila. Maafkan tante, Rivaldi.
”Ini infusnya, guru.” ucap Hardin sambil menyodorkan bungkusan plastik yang berisi infus dan selangnya. Rivaldi mengambilnya.
Ia telah membersihkan luka Syakila dengan air hangat. Ia memasang selang infus pada tangan Syakila.
Setelah infus terpasang, ia kembali membersihkan luka Syakila menggunakan alkohol. Syakila terus meringis menahan sakit, Geo selalu ikut meringis melihat Syakila yang seperti itu, seakan ia ikut merasakan sakit yang di rasakan Syakila.
Setelah membersihkan lukanya, Rivaldi mengoleskan daun Madeira Vine yang baru untuk menutupi luka Syakila dan kembali memperban luka tersebut.
”Sudah selesai,” ucapnya sambil mencuci tangannya di air hangat yang ia gunakan untuk membersihkan luka Syakila tadi.
”Tante, tolong Tante membantu Syakila menggantikan pakaiannya. Pakaian kotor itu di buang saja.” ucapnya lagi memerintah Sarmi.
Sarmi mengangguk, ia berjalan ke arah lemari pakaian Syakila, ia mengambil baju tidur Syakila yang berkancing.
Rivaldi membuka selang infus di tangan Syakila, ”Cepat ya, Tante. Setelah mengganti bajunya, baru ku ulang pasang infusnya.” ucapnya. Sarmi kembali mengangguk.
Rivaldi berjalan keluar kamar, Hardin, Johan, dan Biah menyusul keluar, mereka kembali duduk di kursi depan. Geo tidak bergeming dari tempatnya, ia menyaksikan Sarmi mengganti pakaian Syakila. Di saat itu, Geo tersadar, jika baju Syakila sudah di ganti dengan baju lain. Baju yang di gunakan Syakila waktu pergi jalan dengannya berbeda dengan baju yang di kenakan saat ini.
Apakah pria itu sebelumnya yang menggantikan baju Syakila? Dia telah melihat tubuh putih mulus istriku, apakah di saat itu, ia tergoda untuk menyentuh Syakila? Kurang ajar! Dia mengambil kesempatan saat Syakila tidak berdaya.
Tangannya terkepal kuat memikirkan hal itu. Ia kembali melihat Sarmi dan Syakila saat mendengar suara isak tangis dari Sarmi. Sarmi telah selesai mengganti pakaian Syakila dan duduk di sisi ranjang membelai rambut Syakila. Ia mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar, mendekati Syakila dan Sarmi.
”Syakila, maaf kan Mama. Mama terlalu emosi, tidak mengontrol diri, Mama sudah menampar mu dan memperlakukan mu dengan kasar. Mama juga sudah menuduh mu.”
”Mama, Mama bicara apa? Mama tidak salah, Asya yang salah. Asya tidak mengabarkan keberadaan dan kondisi Asya pada Mama saat Asya sudah sadar. Mama dan Geo tidak sepenuhnya bersalah. Asya juga ikut salah dalam hal ini.” ucap Syakila.
Sarmi mengangguk, ”Makasih sayang. Masih banyak yang ingin Mama tanyakan padamu, Nak. Tapi, sebaiknya kamu istrahat saja dulu. Mama akan kembali ke depan, dan menyuruh guru mu kembali memasang infus ini.” sahutnya.
__ADS_1
Syakila mengangguk, Sarmi beranjak berdiri. Sebelum ia meninggalkan kamar Syakila, ia membersihkan lantai kamar Syakila.