Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 119


__ADS_3

Perjalanan menuju MC.Mall.


Geo memicing melihat beberapa buah mobil yang mencurigakan dari pantulan kaca spion. Mobil tersebut seakan mengejar mobil mereka. Hal itu juga di rasakan oleh Syakila, anak buah Geo dan sang supir.


Mobil itu...semenjak tadi.. kelihatannya sedang mengejar mobil ini. Siapa mereka? Mengapa mengejar mobil ini? Siapa yang di incar nya? Benak mereka semua.


”Terus melaju...jangan memperlambat laju mobil...namun, tetap hati-hati!” ucap Geo.


”Baik, Tuan. Apa Tuan juga merasakan keanehan itu?” sahut sang supir.


”Hum,” singkat Geo menyahut. Ia melihat Syakila, ”Apa kamu punya musuh sebelumnya?”


Syakila mengerut, ”Musuh? Tidak, aku tidak pernah menyinggung orang lain, keluargaku juga tidak. Kami tidak punya musuh, dan tidak pernah mencari permusuhan dengan orang.” jawabnya.


Geo terdiam.


Apa mereka adalah komplotan Antonio? Apa secepat itu Antonio menemukan keberadaan ku?


Geo menghela nafas.


Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Syakila.


”Syakila, apa kamu tidak ingin menjenguk Sardin?” ucapnya kemudian.


”Apakah boleh memikirkan hal itu sekarang? Kita lagi di kejar oleh orang!”


”Boleh, kenapa tidak! Jadi, apa kamu mau?”


”Hah! Geo, yang benar saja!?”


”Aku tidak sedang bercanda, Syakila. Lagi pula, mobil itu belum tentu juga mengejar kita. Bagaimana? Kamu mau?”


”Kalau seperti itu, baiklah. Aku tidak akan sungkan lagi. Tapi, bagaimana dengan mu?”


”Aku akan pulang ke rumah. Kamu tidak perlu takut, aku akan menjelaskan pada mama jika ia menanyakan tentang mu. Kamu temui saja lah sahabat mu itu.”


”Hum,” singkat Syakila menyahut.


”Jalan lah terus, sesampainya di simpang empat itu, belok kiri dan sampai di pertigaan jalan, ambil haluan kanan. Antar Syakila ke rumah sakit. Lalu, ambil jalan sempit, baru kembali ke jalan utama.” titah Geo dengan serius.


” Baik, Tuan.” sahut sang supir lagi.


Syakila terdiam dan terkejut, Geo sangat mengenal jalanan di kota S ini, padahal ia tinggal di kota A. Pikir Syakila.


”Kamu sangat memahami jalanan dan belokan di sini yah.” ucapnya.


”Hum, aku juga pernah tinggal di kota ini, itulah sebabnya, aku mengetahui sebagian besar jalanan di sini.”


Syakila melihat ke belakang, mobil yang mengejar mereka, sudah tidak kelihatan lagi.


”Kamu pernah tinggal disini, apakah kamu tidak pernah menyinggung seseorang selama kamu tinggal di sini?” tanya Syakila penasaran.


”Pernah, itu kamu dan Sardin. Jadi, apakah orang-orang itu suruhan kalian berdua untuk menyakiti ku?”


”Apa! Kamu..kamu, bagaimana bisa berpikir seperti itu? Mana mungkin aku dan Sardin nekat melakukan hal seperti itu! Apalagi nyata-nyata aku di sampingmu, apakah aku bodoh? Aku membahayakan nyawaku sendiri disini bersamamu? Dan Sardin, kamu tahu sendiri dia sedang terbaring di rumah sakit, bagaimana bisa dia mengatur hal yang ke kanak-kanakan begini? Jika kami berdua memang ada dendam dengan mu, kami akan langsung berhadapan dengan mu sendiri. Tidak akan membahayakan nyawa orang yang tidak bersangkutan.”


”Siapa tahu saja kan? Siapa yang tahu niat buruk seseorang? Lagi pula, aku tidak menuduh kalian berdua. Aku hanya menjawab pertanyaan mu saja. Sudah, jangan berbicara lagi!”


Syakila terdiam. Geo juga terdiam, ia melihat ke arah kaca spion.


Mobil itu sudah ketinggalan jauh dari mengejar mobil kami. Syakila akan merasa aman jika dia turun ke rumah sakit. Cepat atau lambat, mungkin saja mobil itu akan menemukan mobil kami. Biarlah Syakila ku antar ke rumah sakit, lalu aku akan menyuruh anak buah ku yang lain menjemputnya dengan mobil yang lain.


”Turunkan aku di pertigaan jalan saja. Aku akan jalan kaki dari sana ke rumah sakit.” ucap Syakila kemudian.


Geo tidak menanggapi, ia hanya melirik Syakila. Mobil terus melaju, mereka hampir tiba di pertigaan jalan.


”Berhenti di depan rumah sakit, aku tidak ingin istriku berjalan kaki ke rumah sakit dari pertigaan jalan.” ucap Geo sambil melihat Syakila.


Syakila menunduk di tatap lembut oleh Geo.


Kenapa jantungku berdetak seperti ini lagi?


Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit.


”Turunlah, jam sembilan malam aku akan menyuruh seseorang menjemput mu.” ucap Geo.


”Eh, tidak perlu Geo, aku akan menelpon Hardin untuk menjemput ku nanti.”


”Baiklah, aku akan menunggumu di rumah.”


Syakila mengangguk dan tersenyum. Ia turun dari mobil. Setelah Syakila menghilang dari pintu keluar masuk rumah sakit, barulah Geo menyuruh supirnya menjalankan mobil.


”Jalankan mobil. Suruh seseorang menyelediki mobil nomor plat DT 5432 warna hitam itu. Dan share lokasi kita pada yang lain. Kembali ke jalan utama!” ucap Geo.


”Baik, Tuan.” sahut sang supir dan anak buahnya.


Sang supir memutar arah kembali ke jalan utama. Dan anak buah tersebut mengirim pesan kepada seseorang untuk menyelidiki mobil yang di perintahkan Geo. Setelah itu, ia share lokasi mereka kepada anak buah Geo yang lain.


Setelah mendapat sinyal dari handphone Geo, anak buah Geo cepat bergerak. Beberapa orang dengan senjata lengkap memasuki mobil dan jalan menuju lokasi yang di share oleh Geo.

__ADS_1


Dan yang lainnya, menyelidiki mobil dengan nomor plat yang dikirim Geo.


”Tuan, itu salah satu mobil yang mengejar kita tadi.” ucap anak buah Geo, menunjuk mobil yang berjarak empat buah mobil dari mobil mereka.


”Pelan kan laju mobil, arahkan mobil di jalan yang sepi. Biarkan mereka menemukan kita. Keluarkan pistol ku dan ambil pistol kalian. Bilang kepada yang lain untuk memblokir jalan kesini dari arah atas dan bawah.”


Sang anak buah meraih koper dari bawah bangku, ia menyerahkan pistol milik Geo padanya. Ia juga memberikan pistol pada sang supir dan untuk dirinya sendiri. Setelah itu, anak buah Geo, mengirim pesan kepada mereka sesuai perintah Geo.


Mereka mengambil jalanan yang jarang di lalui kendaraan lain, laju mobil di perlambat, sesuai dengan pemikiran Geo, dua mobil yang mengejarnya telah berada di depan dan di belakang mobilnya.


Mobil di depannya berhenti menghalangi jalan mobil mereka. Sang supir menghentikan mobil. Mobil di belakang pun berhenti. Mereka turun dari mobil dan berjalan mendekati mobil Geo. Mereka nampak tidak membawa senjata.


Geo, anak buahnya, dan sang supir telah menyetel pistolnya.


”Jangan gegabah! Jika mereka bertindak baru kita bertindak. Cari tahu apa yang mereka inginkan!” ucap Geo.


”Baik, Tuan.”


Mereka telah dekat pada sisi mobil.


Tok tok tok, salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil, anak buah Geo menurunkan kaca mobilnya.


Orang itu melihat penghuni dari mobil, tapi mereka tidak melihat wanita yang di carinya.


”Kalian siapa? Ada perlu apa dengan kami?” tanya anak buah Geo pada pria di sampingnya itu. Sang supir, anak buah Geo, dan Geo sendiri tampak tenang menghadapi mereka.


”Di mana wanita yang bersama kalian?” sahut pria tersebut dengan pertanyaan.


Geo menatap tajam pada pria itu.


Jadi, yang mereka incar adalah Syakila? Itu artinya mereka bukanlah anak buah Antonio. Tapi, siapa mereka? Mengapa mencari Syakila?


”Ada perlu apa mencari teman wanitaku?” tanya Geo.


”Kalian tidak perlu tahu! Katakan di mana dia? Atau.. kalian ingin nyawa kalian habis saat ini!” ancamnya pada Geo.


”Ijan, turun!” titah Geo.


Sang anak buah mengerti. Ia membuka pintu mobil dengan kasar, hingga membuat pria yang bersandar di pintu mobil itu tergeser dari posisinya.


”Kurang ajar!” teriak pria itu.


Secepat kilat, Ijan meninju muka pria tersebut.


”Beraninya mengancam kami dan berteriak pada kami! Berapa nyawamu! Hah?!” ucap Ijan dengan marah sambil terus meninju pria itu hingga jatuh tersungkur.


Para preman itu bergabung menghajar Ijan. Perkelahian pun terjadi.


”Gung, turun! Bereskan semua, sisakan satu orang, bawah ke gudang untuk di selidiki.” titah Geo pada sang supir.


”Baik, Tuan.”


Ia turun dari mobil, ia membantu Ijan menghajar para berandalan itu. Tidak segan-segan, ia menusuk dan membunuh mereka dengan pisau yang ada di tangannya.


Beberapa dari mereka ternyata menyembunyikan senjata di balik bajunya. Mereka menembakkan pistol, pistol mengenai kaki Gung. Dengan cepat, Gung mengeluarkan pistolnya dan menembak orang yang menembaknya tadi.


Geo membantu anak buahnya dari dalam mobil, ia menembak satu persatu para berandalan itu. Ia melihat dari mereka tinggal tersisa tiga orang. Ia menyimpan pistolnya.


Anak buahnya kembali ke mobil dengan menyergap seseorang yang tersisa dari mereka. Ia memukul pria itu hingga pingsan dan menaruhnya di bangku paling belakang dengan keadaan diikat.


”Ijan, ambil kemudi. Jalankan mobil ke gudang.”


”Iya, Tuan.”


Ia dan Gung bertukar posisi. Geo melihat Gung, ”Apa lukamu parah?” tanyanya.


”Tidak, Tuan. Pelurunya, hanya peluru biasa saja. Dan juga pelurunya tidak masuk terlalu dalam dari kulit. Tidak membahayakan nyawa ku, Tuan.”


Geo tidak menanggapi lagi. Mobil melaju kencang menuju gudang mereka yang berada di kota S ini. Gudang itu, tidak berada jauh dari mall yang didirikan oleh Geo.


”Tuan, itu adalah orang-orang dari dua mobil yang kita lumpuhkan, lalu, bagaimana dengan orang-orang dari dua mobil yang lainnya? Jika mereka tahu Nyonya sedang berada di rumah sakit, atau tidak sengaja mereka melihat Nyonya di luar rumah sakit menunggu jemputan adiknya. Bagaimana, Tuan?” ucap Ijan khawatir.


”Syakila akan baik-baik saja! Mereka pasti tidak akan menemukan Syakila. Tambahkan laju mobil!”


Ijan menambah laju mobil. Laju mobil berkurang ketika mereka telah memasuki area gudang. Mobil terus masuk ke dalam dan berhenti di parkiran mobil gudang tersebut.


Ijan membantu Geo turun dari mobil, sedangkan Gung menyiapkan kursi roda Geo. Gung mendorong kursi roda Geo, sedangkan Ijan, ia menggendong pria yang di sekap nya. Mereka masuk ke dalam gudang.


Para anak buah Geo yang berkumpul di sana menyambut kedatangan Geo.


”Tuan, selamat datang!”


”Hum. Gung, pergilah ke ruang perawatan. Di sana ada dokter yang akan merawat mu. Ijan, bawa orang itu ke ruang bawah tanah, buka ikatannya. Dan sadarkan dia dan dapatkan informasi dari dia.” titah Geo.


”Baik, Tuan.” sahut Ijan dan Gung.


Mereka berdua mengerjakan titah dari tuan mereka. Geo pergi ke ruangannya.


”Bagaimana, situasi di villa?” tanyanya.

__ADS_1


”Belum ada pergerakan dari mereka, Tuan. Dari pantauan cctv luar yang terhubung dengan laptop disini, mereka terus mengintai villa, Tuan.”


”Apakah kalian sudah menemukan keberadaan Antonio?”


”Belum, Tuan. Kami mengikuti anak buah dari Antonio secara diam-diam, tetapi, mereka hanya berkunjung di warung makan saja dan kembali memantau villa kita, Tuan. Mereka tidak pernah menemui Antonio.” jawab anak buahnya sambil menunduk.


”Hum, ikuti terus mereka. Dan pantau terus villa. Jika menemukan sesuatu, jangan gegabah untuk bergerak, tunggu perintah ku!”


”Baik, Tuan.”


”Keluar lah!”


Anak buah tersebut keluar dari ruangan. Geo mengambil handphonenya. Ia mencari kontak nama istriku di dalam daftar kontak di hapenya. Ia menelfon nomor tersebut.


”Nomornya tidak aktif.” ia mematikan telfonnya. ”Oh, iya, semenjak mama memberikan handphone Syakila, ia belum mengaktifkannya. Mungkin dia akan aktifkan saat menelfon Hardin nanti.” gumamnya.


Ia mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan, ia memasuki lift pribadinya dan menuju ruang perawatan. Semenjak ia duduk di kursi roda, Beni menyiapkan segalanya untuk kemudahan Geo, seperti menyediakan lift pribadi untuk menuju ruangan kemanapun yang ia pergi.


”Bagaimana keadaan mu?” tanyanya pada Gung yang sedang berbaring di kasur perawatan.


Gung terkejut mendengar suara Geo yang tiba-tiba. Ia bangun dari baringnya.


”Berbaring saja!” cegah Geo.


Gung menurut, ia kembali membaringkan dirinya, ”Aku baik-baik saja, Tuan. Pelurunya sudah di keluarkan. Aku hanya butuh istirahat dua tiga hari saja untuk menunggu luka ini kering.”


”Hum, istrahat lah sesuai yang di anjurkan padamu. Di mana Jeni?”


”Dia keluar dengan buru-buru setelah merawat ku. Sepertinya, dia di telfon oleh istrinya tadi.


”Apakah ada masalah dengannya?”


”Tidak, Tuan. Istrinya hanya mengalami sedikit perubahan emosional, istrinya sedang hamil muda. Jadi, ia pergi buru-buru untuk menenangkan istrinya.”


”Oh, istrahat lah. Tiga hari kedepan, kembalilah menjadi supir ku. Aku keluar dulu.”


”Baik, Tuan.”


Geo keluar dari ruang perawatan, ia kembali menggunakan lift menuju ruang bawah tanah. Ia menghampiri Ijan yang sedang menanyai pria yang bersimpuh di hadapannya.


”Apa sudah menemukan informasi yang ku cari?”


Ijan dan pria tersebut terkejut mendengar suara Geo yang terdengar seram dan sangat intimidasi.


”Belum, Tuan. Ia masih tetap menutup mulutnya rapat-rapat, meski sudah di gertak dan kukunya di cabut juga di cambuk, ia masih enggan untuk bersuara.” ungkap Ijan.


”Ambilkan aku besi panas itu!” titah Geo.


Tanpa berkata, Ijan melangkah mengambil besi yang masih di panaskan di pembakaran. Pria yang sedang bersimpuh itu gemetar ketakutan melihat besi yang di pegang Ijan. Besi panas yang baru dikeluarkan dari pembakaran. Ia melihat Geo.


”Ampun, Tuan. Jangan hukum aku! Jangan lukai aku! Aku akan bicara, Tuan. Aku akan memberitahu mu.” ucapnya ketakutan.


”Bicaralah!”


Ijan berhenti di samping Geo, ia masih memegang besi panas itu.


”Maaf, Tuan. Aku tidak tahu siapa orang yang menyuruh kami. Kami hanyalah sekelompok berandalan yang menerima upah untuk mencari wanita tersebut.” ungkapnya.


”Benar kamu tidak tahu? Atau kamu hanya menutupi identitasnya saja!” gertak Ijan.


”Tidak, Tuan. Aku bicara yang jujur. Aku benar-benar tidak tahu mereka siapa. Mereka bukan hanya menyewa kami, tapi, mereka juga menyewa para preman lainnya untuk memburu wanita itu.”


”Lalu apa yang akan kalian lakukan jika sudah menangkap wanita itu?” tanya Geo dengan menahan marah.


”Kami akan menyerahkannya pada orang itu.”


”Apa kalian tahu ciri-ciri orang yang menyuruh kalian itu?”


”Mereka berjumlah empat orang, mereka memakai baju yang sama dengan tulisan Eg.”


”Eg?” bersamaan Geo dan Ijan berucap terkejut.


”Iya, Tuan.”


Geo terdiam.


Eg? Bukankah kelompok ini sudah ku hancurkan? Siapa lagi yang membangun kelompok ini? Mengapa dia mengincar Syakila? Apakah Antonio di balik ini semua? Apakah dia sudah tahu tentang Syakila dan menyelidikinya? Apakah dia tahu Syakila adalah anak dari Halim?


”Ijan, lepaskan lah dia.”


”Tapi, Tuan__” ucapan Ijan terpangkas dengan tatapan tajam dari Geo. ”Baik, Tuan.”


”Terima kasih, Tuan ” ucap pria itu bersujud di kaki Geo. Dengan langkah cepat, ia keluar dari ruang bawah tanah itu.


”Bilang kepada mereka untuk membiarkan pria itu keluar dari gudang. Dan ikuti dia diam-diam.”


”Baik, Tuan.”


Kini Ijan mengerti maksud dari tuannya itu membebaskan pria tersebut. Ia ingin mencari tahu keberadaan ke empat orang itu dari pria tersebut.

__ADS_1


__ADS_2