
Di kediaman Alimin.
Acara haul telah selesai tepat di jam lima sore. Semua para tamu telah pulang.
Sarmi, Johan, Biah, Johansyah, Geo dan Syakila masih berada di rumah Alimin. Mereka sedang berbicara di teras rumah.
”Hardin, kamu tahu kuburannya Sardin? Tolong antar aku ke kuburannya. Aku ingin menjenguknya.” pinta Syakila.
Alimi, Nesa, Sarmi, Johan, Biah saling pandang.
”Aku juga ingin mengunjungi tempat istirahat terakhir Sardin.” ucap Geo.
”Kalau begitu, aku antar kalian ke sana. Kita naik mobil saja.” ucap Hardin.
”Pergilah, hati-hati dalam berkendara. Kalian pergi pakai mobilnya Papa saja Hardin. Ini kunci mobilnya Papa.” Alimin menyerahkan kunci mobilnya pada Hardin.
Hardin mengambilnya. ”Iya, Pa. Kalau begitu, kami pergi dulu.” ucapnya, berpamitan.
”Hum.”
Hardin, Syakila, dan Geo berdiri dan pergi ke mobil Alimin. Mereka masuk ke dalam mobil. Syakila dan Geo duduk di belakang.
Hardin menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dalam beberapa menit, mereka telah sampai di pemakaman umum. Hardin menghentikan mobil di tempat parkiran pemakaman.
Di pemakaman.
Geo, Hardin, dan Syakila turun dari mobil. Dari tempat parkiran, Syakila bisa melihat kuburan baru. Mata Syakila berkaca-kaca melihat gundukan tanah yang masih terlihat basah itu.
Geo menggenggam tangan Syakila. ”Kamu bisa? Kalau tidak bisa kita balik saja.”
”Aku bisa.” jawab Syakila dengan yakin.
Mereka bertiga berjalan masuk ke area pekuburan. Semakin dekat dengan kuburan Sardin, semakin gemetar yang di rasakan Syakila.
Kebersamaannya dengan Sardin kembali terngiang dalam benaknya, mengiringi langkah kakinya menuju pusara pria itu.
Mereka telah sampai di depan kuburan Sardin. Syakila membaca nisan yang tertancap di atas gundukan tanah itu, yang bertuliskan nama pria yang sangat melekat di hatinya.
”Sardin. Maaf, aku dan Syakila baru sempat datang mengunjungi mu. Kamu pergi begitu cepat. Dan aku belum sempat meminta maaf juga berterima kasih padamu. Sardin. Aku minta maaf, aku sempat menjadi penghambat cinta kamu dan Syakila. Aku juga sangat berterima kasih padamu. Terima kasih, kamu mempercayakan Syakila, wanita yang spesial bagimu, padaku. Aku berjanji, aku akan menyayangi Syakila, menjaga Syakila, seperti kamu menyayangi dan menjaganya dalam hidupmu. Karena aku mencintai Syakila.” tutur Geo.
Geo melihat Syakila. Wanita itu masih terdiam melihat nisan Sardin. Matanya berkaca-kaca. Geo menggenggam jemari tangan Syakila.
”Bisa tinggalkan aku sendirian di sini?” pinta Syakila. Suaranya sangat pelan.
”Hah!” Geo dan Hardin terkejut. Mereka saling pandang.
”Kalian, tunggulah aku di mobil saja.” ucap Syakila lagi, tanpa memandang mereka.
Geo menurut. ”Baiklah, kamu jangan lama-lama di sini.” dia pergi dari sana, juga mengajak Hardin ikut dengannya. Mereka pergi ke mobil, menunggu Syakila di mobil.
Geo tahu, ada hal yang ingin Syakila curahkan pada Sardin. Hal, yang tidak ingin dia dan Hardin mendengarnya.
”Apa tidak apa-apa, meninggalkan kakak sendirian di sana?” tanya Hardin.
”Kamu meragukan kakak mu?”
Hardin menggeleng.
”Tidak apa-apa. Kita lihat dia dari sini saja.” Mereka berdua bersandar di mobil, melihat Syakila. Mereka melihat Syakila menghapus air matanya dan memegang nisan Sardin.
Di kuburan Sardin.
Air mata Syakila terus mengalir membasahi pipinya.
”Kakak, sungguh di sayangkan perjalanan cinta kita yang berliku berakhir seperti ini. Meskipun begitu, aku senang, aku adalah wanita pertama dan terakhir yang terlukis indah di relung hatimu. Terima kasih, kakak. Terima kasih, atas segala rasa yang kakak berikan pada Syakila. Syakila tidak akan melupakan segala kenangan yang sudah kita ukir bersama dari kecil sampai sekarang. Nama kakak, wajah kakak, akan selalu tertanam di hati Kila. Kakak sudah pergi dengan membawa dan mengubur cinta kita. Biarkan Kila mengubur cinta kita di lubuk hati Kila. Kila sudah ikhlas melepaskan kepergian kakak. Meskipun masih ada kekesalan di hati Kila, kila memaafkan kakak. Kila dapat memahami maksud kakak. Kakak hiduplah dengan tenang di sana. Kila di sini baik-baik saja untuk kakak. Kila pergi dulu kak, Geo dan Hardin sudah menunggu Kila.”
Syakila menghapus air matanya. Dia menghela nafas dan beranjak berdiri. Dia menatap nisan Sardin seakan sedang menatap wajah pria itu.
Dia berbalik badan dan pergi dari sana. Dia menghampiri Geo dan Hardin.
”Sudah?” Geo menghapus sisa air mata Syakila.
Syakila mengangguk.
”Ayo, kita pulang.” ajak Geo.
Syakila kembali mengangguk.
Mereka masuk ke dalam mobil. Syakila dan Geo duduk di belakang. Hardin mulai menjalankan mobilnya.
Syakila bersandar di punggung kursi, dia memandang di luar jendela mobil.
__ADS_1
”Masih memikirkan dia?” tanya Geo.
”Sedikit.”
”Masih belum bisa merelakan kepergiannya?”
”Aku sudah ikhlas. Hanya saja... kenangan bersamanya selalu terbayang.”
Geo terdiam sesaat. Dia sangat tahu bagaimana sedihnya saat di tinggalkan orang yang terpenting dalam hidup.
”Aku akan pergi ke kota A besok. Beni telah menghubungi ku. Ada kerjaan di perusahaan yang membutuhkan ku. Apa kamu mau ikut dengan ku besok? Atau masih ingin di sini?”
”Iya, aku ikut. Aku istrimu, aku akan ikut kemana kamu pergi.” Syakila menjawab, namun, pandanganya masih mengarah keluar jendela.
Geo tersenyum bahagia. ”Baik. Besok sore, kita akan berangkat ke kota A.”
”Iya.”
Mereka telah sampai di kediaman Alimin. Mobil di parkirkan di dalam bagasi. Mereka turun dari mobil.
Mereka berjalan menghampiri Nesa, Alimin, Sarmi, Johan dan Biah yang masih duduk berbincang di teras rumah. Mereka duduk di kursi.
Mereka tidak banyak berkata dan bertanya pada Syakila, saat melihat mata Syakila yang masih sembab. Mereka tahu, wanita itu baru habis menangis.
”Em...ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang sekarang.” ucap Johan.
”Mama, Syakila ingin bermalam di sini. Besok pagi, baru Syakila pulang di rumah.” ucap Syakila.
Sarmi melihat Nesa dan Alimin. Mereka berdua mengangguk.
”Iya. Kalau begitu, Mama, Om, dan Bibimu pulang dulu.” pamit Sarmi.
”Iya.”
Kalau kakak tidur di sini. Kakak pasti tidur di kamarnya Sardin. Kalau begitu, aku pulang di rumah mama dulu. Nanti baru ke sini lagi. benak Hardin.
”Mama, Hardin ikut Mama pulang.” ucap Hardin pada Sarmi.
Sarmi kembali melihat Nesa dan Alimin. Mereka berdua mengangguk.
”Baiklah. Ayo, kita pulang. Nesa, Alimin. Kami pulang dulu.” panit Sarmi.
”Iya, kalian hati-hati di jalan.” sahut Nesa dan Alimin.
”Mama, Papa. Maaf, Hardin ikut Mama ku pulang ke rumah.” pamit Hardin pada Nesa dan Alimin.
Sarmi, Johan, Biah, dan Hardin pergi ke mobil. Mereka masuk ke dalam mobil Johan. Dan perlahan, mobil berlalu meninggalkan halaman parkir rumah Alimin.
”Ayo, kita masuk ke dalam.” ajak Nesa pada Syakila dan Geo juga pada suaminya.
”Iya, Ma.” sahut Syakila.
”Iya, Tante.” sahut Geo.
Mereka masuk ke dalam rumah. Alimin langsung pergi ke kamarnya. Geo juga pergi ke kamar Sardin.
Syakila berjalan ke arah dapur. Nesa menahannya. ”Tidak usah memasak, Syakila. Mama dan Papa sudah kenyang. Mama lihat kamu masih lemah. Kamu juga baru keluar dari rumah sakit, pagi tadi. Sebaiknya, kamu pergilah istirahat. Suami mu juga sudah menunggu mu di kamar.” tuturnya.
Syakila menurut. ”Iya, Ma.” dia pergi ke kamar Sardin. Nesa juga pergi ke kamarnya.
Di kamar Sardin.
Syakila menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia mengedarkan pandangan mencari Geo. Dia tidak melihat Geo di ranjang. Dia melihat ke kamar mandi.
Mungkin dia sedang mandi. benak Syakila.
Syakila melihat foto-foto yang terpajang di dinding kamar Sardin. Dia terpaku melihat foto dia dan Sardin yang sama-sama tersenyum, menghadap di depan.
Foto yang di ambil oleh seseorang, menggunakan handphone milik Sardin. Di foto itu, Sardin menyandarkan dagunya di bahu kanan Syakila, agar tinggi wajahnya Sardin dan wajahnya Syakila sama.
Kalau saja tiga hari yang lalu tampak baik-baik saja, kamar ini akan menjadi saksi suci berlabuhnya cinta kita. benak Syakila.
Syakila menghela nafas. Dia sedikit terkejut mendapati tangan Geo yang melingkar di perutnya. Dagu Geo di sandarkan di bahu kanannya, persis seperti foto dirinya dan Sardin, yang ada di dinding itu.
”Melamun lagi?”
Syakila terdiam.
Geo mencium pundak Syakila. ”Ayo istirahat.” ajaknya.
”Aku ke kamar mandi dulu.”
Geo melepaskan pelukannya. Dan menarik dirinya.
__ADS_1
Syakila pergi ke kamar mandi.
Geo melepaskan bajunya dan berbaring di ranjang. Pandanganya memandang langit-langit kamar.
Dia mendengar pintu kamar mandi yang terbuka. Syakila berjalan ke ranjang. Dia deg degan melihat Geo yang bertelanjang dada.
”Sini.” Geo menepuk ranjang di sampingnya.
Syakila naik di atas ranjang. Dia berbaring membelakangi Geo. Geo tidur menyamping dan memeluk tubuh Syakila.
”Geo...”
”Ssttss! Aku hanya memeluk mu. Kalau pun aku ingin. Aku tidak akan melakukan nya di sini.” bisik Geo.
Syakila terdiam. Dia membiarkan Geo memeluk dirinya. Geo mencium leher syakila dan membuat tanda di sana.
”Aah.” jerit Syakila dengan pelan.
Geo tersenyum. Jika dia ingin melanjutkan Syakila tidak akan menolaknya. Tapi, dia tidak ingin melakukannya di kamar Sardin.
”Tidurlah!” titah Geo. Dia sendiri telah memejamkan matanya.
Syakila terdiam. Matanya masih terbuka lebar. Dia tidak bisa tidur. Detak jantungnya yang cepat, membuatnya gelisah. Dia membalikan badan menghadap Geo.
Dia melihat Geo telah memejamkan mata. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Geo. Tangannya memeluk tubuh Geo. Dia memejamkan mata. Nafasnya mulai terdengar lembut.
Geo membuka mata dan mencium kening Syakila dan kembali memejamkan mata. Mereka tidur saling memeluk.
.. ...
Di alam bawah sadar Syakila.
”Kakak. Sudah lama menunggu di sini?” tanya Syakila.
”Iya.” Sardin memegang tangan Syakila dan menuntunnya duduk di sampingnya.
”Kenapa wajah mu cemberut?” tanya Sardin.
”Kakak lebih tahu jawabannya.” ketus Syakila.
”Kila. Maafkan kakak, kakak tidak bisa menepati janji kakak untuk kita pergi ke China. Kakak juga minta maaf, meninggalkan kamu di hari yang spesial buat kita.”
”Kila sedih, kecewa, saat kakak memberiku mahar sebuah janji. Dan janji itu kakak menyerah kan aku pada Geo. Kenapa kak?”
”Kakak minta maaf, kamu marah sama kakak kan? Maaf, ya. Kakak menggunakan kelemahan mu untuk menikah dengan Geo. Kakak memberikan mu padanya karena dia mencintai kamu dengan tulus, seperti kakak yang mencintai kamu. Kamu juga masih mencintai Geo. Syakila, maaf, kakak menyembunyikan penyakit kakak yang memburuk darimu. Kakak sudah tidak kuat lagi untuk menghadapi penyakit kakak. Tapi, kakak tidak bisa pergi dengan tenang meninggalkan Syakila. Kakak juga tidak ingin Syakila berlarut dalam kesedihan jika kakak pergi. Untuk itulah kakak memberikan mu pada Geo. Adanya Geo di samping mu, kakak tenang. Dan sekarang kakak lebih tenang lagi setelah kakak berbicara dengan Syakila, mengeluarkan semua beban di hati dan di pikiran kakak.”
”Kila merasa kakak sangat kejam.” air mata Syakila mengalir di kedua pipinya.
Sardin menghapus air mata Syakila. Dia membawa wanita itu kepelukannya. Syakila membalas memeluk Sardin. Bahkan dia memukul dada Sardin, melampiaskan kekesalannya. Sardin menahan pukulan Syakila, sampai dia tidak merasakan Syakila memukul dada nya lagi.
”Sudah puas memukul ku? Masih marah? Masih kesal padaku? Aku tidak ingin kamu marah sama aku. Jika memukul ku bisa menghapus marah mu, aku berikan dada ku untuk kamu pukul. Yang penting kamu tidak marah lagi padaku.”
”Aku ingin membunuh mu.”
Sardin tersenyum. ”Sudah, jangan kesal dan marah lagi padaku. Jalanilah hidup baru mu sekarang. Hidup lah bahagia. Kita sudah ikhlas saling melepaskan satu sama lain.”
”Iya. Terima kasih, kakak sudah memberikan cinta yang tulus pada Syakila.”
”Kakak sudah mendengar mu berbicara seperti itu. Kakak tidak mau mendengarnya lagi. Kakak cuma mau mendengar kalau Kila tidak marah, tidak kesal, tidak akan menangis, dan akan hidup bahagia.” tutur Sardin.
”Kakak...iya, aku sudah tidak marah lagi sama kakak, tidak kesal dan Kila akan hidup bahagia untuk kakak.”
”Baiklah. Kakak sudah tenang sekarang karena adiknya kakak sudah tidak marah lagi.” ucap Sardin.
Sardin berdiri. Syakila juga ikut berdiri.
Sardin membelai kepala Syakila. ”Sekarang kakak pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, sayang.”
Syakila menahan tangan Sardin. Dia memeluk tubuh Sardin. ”Biarkan Kila memeluk kakak.” pintanya.
Sardin menghela nafas. Dia membiarkan Syakila memeluknya. Dia bahkan membalas pelukan Syakila, juga mencium pucuk kepala Syakila.
”Besok, Syakila akan memulai menjalani hidup Syakila di kota A bersama Geo.” ucap Syakila. Lebih tepatnya, Syakila berpamitan pada Sardin.
”Iya. Hiduplah dengan baik. Kakak sudah harus pergi nih. Bisa lepaskan kakak sekarang?”
Syakila melonggarkan pelukannya, dia melihat wajah Sardin. Di tariknya kepala Sardin dan dia mencium kening, kedua pipi Sardin, dan mencium bibirnya. Dia kembali memeluk tubuh Sardin. Pelukannya sangat erat.
Syakila melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi Sardin. ”Pergilah, kak!” ucapnya, tanpa berpaling muka.
Sardin tersenyum. ”Iya, terima kasih. Ingat, hiduplah dengan baik dan bahagia. Kakak menunggu kedatangan mu untuk menjengukku lagi.” Sardin melangkah mundur sambil melihat punggung Syakila.
Syakila berbalik setelah dia tidak merasakan kehadirannya Sardin. Rupanya dia salah, Sardin belum pergi jauh. Bahkan Sardin tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Perlahan tubuh Sardin menghilang.
__ADS_1
Syakila terbangun dari mimpinya. Dia duduk bersandar di punggung ranjang. Dia melihat foto Sardin yang tersenyum.
Terima kasih. Terima kasih, kakak telah hadir dalam mimpi ku. Aku akan hidup bahagia seperti yang kakak inginkan. Kakak juga hidup tenang di alam sana. Di setiap Syakila akan ke kota S, Syakila pasti akan singgah mengunjungi kakak dan tidur di kamarnya kakak. benak Syakila.