Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 142


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumah Rivaldi, guru Syakila.


Syakila kembali melirik pria yang duduk di sampingnya, yang masih berfokus pada layar handphone.


Kerjaan apa yang dia lakukan? Apakah sangat penting? Sudah hampir satu jam, ia masih berfokus pada layar handphonenya.


”Ijan, belok kanan di simpang tiga itu yah.” ucap Syakila memberi arah.


”Baik, Nyonya!” sahut Ijan.


”Jangan panggil Nyonya! Panggil saja aku Nona seperti biasanya, jangan kamu takut pada Tuan mu!” ucap Syakila tidak senang.


Ijan melirik Geo dari kaca spion, pria itu membalas menatapnya tajam. Dulu, pertama kali Nona Syakila datang ke kediaman Albert, ia memang memanggilnya dengan sebutan Nona. Tetapi, sekarang, tuannya itu menyuruhnya untuk memanggil Nyonya, bukan Nona lagi.


Jika aku berani melawan pada tuan ku, habislah aku!


”Maaf, Nyonya, saya tidak berani!” ucapnya.


”Terserahlah!” sahut Syakila pasrah. Ia tahu, semua anak buah Geo akan menuruti ucapan Geo, ketimbang dirinya, meskipun statusnya adalah istri dari Geo.


Geo tersenyum tipis melihat istrinya yang mengalah. Ia menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku.


”Apa masih lama kita sampainya?” tanyanya kemudian.


”Tidak, tidak lama lagi kita akan sampai,” Syakila melihat rumah Rivaldi setelah mobil mereka masuk di pertigaan jalan. ”Nah, di rumah yang bertingkat dua itu, yang bercat putih, itulah rumah temanku.”


Ijan dan Geo sama-sama melihat rumah yang di maksud Syakila. Ia memperlambat laju mobil ketika rumah teman Syakila semakin dekat, perlahan mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Rivaldi.


”Apa orangnya tidak ada? Rumahnya terlihat sepi!” ucap Geo bertanya sambil memperhatikan rumah yang ada di hadapannya itu.


”Em, tunggu! Aku coba telfon dia dulu, biasanya dia di rumah. Nanti agak siangan baru dia pergi ke rumah sakit menjalankan tugasnya sebagai dokter.” sahut Syakila sambil meraih handphonenya dari dalam tas.


Ia menggeser layar, mencari nama ”Guru silat” di deretan kontak. Ia menekan tombol hijau untuk memanggil setelah menemukan nama kontak Rivaldi.


Di saat Syakila menghubungi Rivaldi, hape Geo bergetar, namun, ia abaikan. Ia tahu dari nada bunyinya, merupakan nada yang ia buat khusus untuk Syakila saat ia menyadap nomor Syakila.


”Kamu tahu sekali yah jadwalnya te-man- mu itu?” tanya Geo tidak senang.


Kening Syakila mengerut melihat Geo, ”Tidak juga! Eh, iya, halo Al.” sapa nya saat Rivaldi mengangkat telfonnya. Ia sudah mengabaikan Geo.


Geo semakin menatap marah pada Syakila. Ia tidak suka mendengar panggilan Syakila yang terdengar akrab itu pada orang lain. Syakila membalas menatap Geo dengan bingung. Mereka berdua saling menatap.


”Iya, Syakila. Bagaimana? Ada yang bisa ku bantu? Apakah luka mu sudah sembuh?”


Terdengar suara di balik telfon, mengalihkan pandangan Syakila dari tatapan Geo. Ia beralih melihat kaca jendela di samping kanannya.


”Em, apakah kamu ada di rumah? Aku ingin bertemu dengan mu.”


”Ah, kamu ingin datang ke rumah ku? Ada hal apa? Ya, aku ada di rumah sekarang. Jika kamu ingin kesini, aku akan membatalkan jadwal kerjaku di rumah sakit. Kapan kamu akan datang?” ucap Rivaldi dengan senang.


”Em, eh!” Syakila terkejut tiba-tiba saja Geo mengambil handphonenya.


”Kami ada di depan pagar mu! Jika kamu ada di rumah, segeralah buka pintu pagar rumah mu ini.” ucap Geo. Tut tut tut, setelah berucap, ia mematikan sambungan telepon.


”Geo, kamu apaan sih! Tidak bisakah kamu berbicara lembut pada orang? Bukan kah kamu punya tata krama?” ucap Syakila marah sambil merampas kembali handphonenya dari tangan Geo.


”Tergantung pada siapa lawan bicara ku!”


”Terserah!” sahut Syakila masih dengan marah, ia membuka pintu mobil, ”Ijan, bantulah Tuan pencemburu mu turun dari mobil!” setelah berucap, ia keluar dari mobil, dan menutup pintu mobil dengan keras. Membuat Geo dan Ijan terkejut.


Nyonya muda ternyata bisa emosi dan melawan pada tuan. Tuan juga terlalu, cemburu nya sangat buta! Jika tuan begini terus, bisa-bisa nyonya kabur dari sisi tuan.


Ijan turun dari mobil, membuka pintu mobil belakang dan mengeluarkan kursi roda Geo. Ia membantu Geo turun dari mobil.


”Syakila, ada apa? Kenapa muka mu tidak enak di pandang begitu? Kamu kesal pada siapa? Hum?” ucap Rivaldi bertanya. Ia telah membuka pintu pagarnya. Dan melihat Syakila yang berjalan ke arahnya dengan muka cemberut.


Geo dan Ijan sama-sama melihat ke arah Syakila dan Rivaldi.


”Guru, maaf, atas ucapan suami ku di telfon.” sahut Syakila.


”Guru?” Rivaldi memasang wajah tidak senang akan panggilan Syakila barusan.


”Em...Al...”


”Apakah begini caramu menyambut tamu? Membiarkan tamu mengobrol di depan pagar!” ucap Geo memangkas ucapan Syakila.


”Oh, maaf. Aku lupa jika ada yang bertamu di rumah ku,” sahut Rivaldi, ia semakin membuka lebar pagar rumahnya, ”Syakila, Geo, masuklah!”


Ijan mendorong kursi roda Geo masuk ke dalam, Syakila dan Rivaldi masih berdiri di depan pagar.


”Maaf kan sikap suamiku. Ia sukar untuk berbicara lembut pada orang. Ku harap, kamu tidak terprovokasi dengan sikapnya itu.” ucap Syakila dengan tulus.


”Sudahlah, ini hal wajar jika seorang pria sedang cemburu dengan pasangannya. Aku bisa memaklumi itu.” sahut Rivaldi sambil tersenyum, ”Ayo, masuklah. Jika kita tetap disini, suami mu akan semakin cemburu padaku.”


”Terima kasih, Al.”


”Tidak usah berterima kasih. Oh iya, tujuan mu apa mendatangiku?” tanya Rivaldi serius.

__ADS_1


”Untuk membawa suami ku berobat padamu. Aku percaya kamu bisa menyembuhkan kakinya suamiku.”


Syakila dan Rivaldi jalan bersama sambil berbicara, hal itu semakin membuat Geo yang sudah berada di depan pintu rumah Rivaldi tidak senang.


”Boleh aku bertanya padamu?”


Syakila menoleh, melihat Rivaldi. Ia mengangguk.


”Mengapa kamu bisa menikah dengannya? Apakah pernikahan mu bahagia?”


Syakila menghentikan langkahnya, Rivaldi ikut berhenti. Mereka saling menatap. Syakila mengalihkan pandangannya seketika. Ia kembali berjalan, Rivaldi juga lanjut melangkah, sejajar dengan Syakila.


”Sudah jalannya jodoh ku. Iya, aku bahagia. Meskipun dia duduk di kursi roda, dan sikapnya terlihat kasar, ia selalu memberiku kasih sayang dan rasa nyaman.” ucap Syakila berbohong.


”Apa kamu sedang membohongi ku?”


”Tidak, pembahasan kita sampai di sini. Kita hampir sampai pada Geo. Jangan sampai ia mendengar pembahasan kita barusan.” ucap Syakila menyudahi pembicaraannya dengan Rivaldi. Ia berjalan cepat ke samping Geo, mengambil alih kendali kursi roda Geo dari Ijan.


”Hal apa saja yang kalian bahas? Terlihat sangat serius.” tanya Geo sambil menatap tajam Rivaldi.


”Bukan apa-apa. Hanya sekadar ingin tahu tujuan kalian datang kesini.” jawab Rivaldi acuh, melewati Geo. Ia membuka pintu kliniknya. ”Masuklah!”


Ia duluan masuk ke dalam, Ijan, Syakila, dan Geo menyusul di belakang. Rivaldi duduk di bangku kerjanya.


”Silahkan duduk!” ucapnya mempersilahkan Syakila duduk di kursi di depannya. Syakila mendorong kursi roda Geo sejajar dengan bangku, setelah itu, ia duduk di kursi.


”Langsung saja pada pokok pembahasan!” ucap Rivaldi, ia melihat Geo. ”Sudah berapa lama Anda mengalami seperti ini?” tanyanya.


”7 bulan,” sahut Geo.


”7 bulan? Apakah selama itu tidak pernah berobat pada dokter ahli?”


”Jika kamu bisa mengobati ku, cobalah untuk mengobati saja! Jangan banyak tanya membuang waktuku saja!” sahut Geo tidak sabar.


”Geo!” tegur Syakila. Namun, Geo mengabaikan.


Rivaldi berdiri dari duduknya, ”Baiklah, Syakila, bantu dia berbaring di ranjang.” ucapnya sambil melangkah ke bagian alat-alatnya.


Syakila membaringkan Geo di ranjang pasien, di bantu oleh Ijan. Rivaldi kembali menghampiri Geo dengan membawa refleks hammer di tangannya.


Ia memukul lutut kiri Geo. Tidak ada respon dari kakinya.


”Apa kamu tidak merasakan sakit sedikit pun saat ku memukul lutut mu?” tanyanya.


”Tidak kentara sakitnya.”


”Sama seperti yang awal.”


Rivaldi nampak berfikir, ia melihat Syakila, ”Syakila, aku perlu merontgen Geo.” ucapnya.


”Lakukan saja, Al. Aku percaya padamu!” sahut Syakila.


Geo terdiam.


”Apa sebelum kesini kalian sarapan dulu?” tanya Rivaldi lagi.


”Iya,” Syakila yang menjawab.


”Kalau begitu, kita tunggu 3 atau 4 jam, baru bisa lakukan rontgen.”


Syakila mengangguk mengerti. Mereka tetap pada posisinya masing-masing, menunggu waktu untuk rontgen. Sedangkan Rivaldi menyiapkan alat-alat sebelum melakukan pemeriksaan lanjut.


Setelah beberapa jam berlalu, Rivaldi berjalan menghampiri Geo dengan membawa suntikan di tangannya.


”Apa itu?” tanya Syakila.


”Ini adalah zat kontras, aku akan menyuntikkan ini pada kaki dan tulang belakang Geo. Agar hasil foto pada bagian tersebut dapat dilihat dengan jelas gambarnya.” sahut Rivaldi menjelaskan.


”Dan ini, kamu ganti pakaian Geo dengan baju khusus ini. Dan untuk aksesoris yang ada padanya, kamu buka.” ucapnya lagi sambil memberikan baju pada Syakila.


”Mengapa harus membuka aksesoris ku? Dan mengapa juga harus mengganti pakaian?” ucap Geo tidak senang.


Rivaldi terdiam, ia kehabisan akal untuk meladeni pria angkuh dan sombong itu.


”Geo, apa kamu gak bisa bersikap sabar dan patuh? Kamu patuh yan, kita datang kesini untuk berobat. Bukannya kamu ingin sembuh?” ucap Syakila menenangkan.


Ingin sembuh? Bukannya kamu yang paling senang jika aku cepat sembuh? Kamu sudah tidak sabar untuk terlepas dari ku? Benak Geo.


Pria itu terdiam. Syakila sudah mengganti pakaian Geo dengan pakaian yang di berikan Rivaldi. Ia juga membuka kalung yang menempel pada leher Geo, juga gelang yang ada pada tangannya kirinya dan jam tangan yang ada pada pergelangan tangan kanannya. Ia menyimpan barang-barang Geo ke dalam tas, sedangkan handphone pria itu, ia memegangnya saja.


”Al, aku sudah selesai.”


Rivaldi mengangguk mengerti. Ia segera menyuntikkan cairan zat kontras pada kaki dan tulang belakang Geo. Setelah itu, ia melakukan rontgen.


Rivaldi fokus pada foto yang dia ambil, ia melihatnya dengan teliti foto tersebut.


”Kamu masih bisa di sembuhkan. Kamu tidak lumpuh seutuhnya, luka pada tulang kaki kiri dan tulang ekor mu juga tidak begitu parah.” ucapnya memaparkan hasil rontgen pada Geo dan Syakila.

__ADS_1


Ia melihat Geo, ”Luka di tulang ekor mu dan kaki kiri mu ini karena benturan benda keras. Apa benar kamu pernah terbentur sesuatu? Dan apa kamu mengalami depresi? Yang mengakibatkan kamu kehilangan semangat untuk hidup. Dan di saat ada semangat untuk hidup, organ dan saraf di dalam tubuh mu terlanjur membeku dan sulit untuk menerima rangsangan. Boleh kamu ceritakan padaku? Aku akan mendengarkan.” ucapnya lagi memaparkan hasil diagnosanya.


Syakila tercengang, ia melihat Geo. Peristiwa apa yang sudah ia lalui yang membuat dia seperti ini?


Geo teringat kembali peristiwa yang membuatnya celaka dan jatuh ke jurang, untung saja saat itu ia berpegangan pada batu agar tidak jatuh ke dalam jurang sana bersama mobilnya. Di saat ia melompat dari mobil belakang dan kakinya memang terbentur oleh batu yang ada di sana.


”Tidak perlu kamu tahu urusan pribadi ku! Obati saja aku!” sahut Geo, wajahnya dan suaranya nampak tidak senang.


Rivaldi terdiam, ia melihat Syakila. Benarkah kamu bahagia berada di sisi pria seperti ini, Syakila?


Syakila juga nampak sedih melihat Rivaldi, gurunya itu. Ia sedih dan sedikit menyesal akan sikap Geo yang tidak menghargai dan menghormati Rivaldi sejak awal mereka datang ke rumahnya.


Pandangannya lebih terasa menyesal melihat punggung gurunya yang berjalan meninggalkan dia dan Geo di sana. Ia ingin mencegah, namun, ia tidak enak hati dan merasa malu. Jadi, ia membiarkan gurunya pergi. Syakila menunduk dan menghela nafas sesal sambil memejamkan mata.


”Apa yang kamu khawatirkan dan sesalkan? Kamu tidak senang melihat kepergian pria yang mencintaimu?” ucap Geo seketika.


Syakila membuka mata, menoleh, melihat Geo dengan pandangan tidak suka.


”Aku tidak pernah menduga jika ucapan mu dan tingkah mu sangat sopan kepada orang lain. Apa begitu cara menghormati dan menghargai seseorang?”


”Kamu mengatai ku?”


Tatapannya dingin melihat Syakila. Pandangan mereka berdua saling menusuk.


”Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Rivaldi penasaran. Saat ia kembali menghampiri Syakila dan Geo, ia melihat kedua insan itu saling bertatapan dengan pandangan yang tidak biasa.


Suara Rivaldi mengalihkan perhatian Syakila dan Geo, mereka sama-sama melihat ke arah Rivaldi.


”Tidak apa-apa, Al. Itu...apa yang kamu bawa?” sahut Syakila.


”Oh, ini? Ini minyak untuk Geo. Minyak ini bukan minyak sembarang. Minyak khusus untuk tulang.” ucap Rivaldi menjelaskan.


Ia mengoleskan minyak itu pada kaki dan belakang Geo, dengan sedikit pijatan yang langsung terpusat pada titik saraf, agar saraf saraf di kakinya aktif.


”Untuk sementara, aku belum memberikan obat atau perawatan lanjutan pada suami mu. Biarkan ia istirahat dulu di sini.” ucap Rivaldi pada Syakila.


”Aku tidak ingin istirahat! Jika sudah selesai, ayo kita pulang, Syakila.” Geo yang menyahut.


Drrrrrt drrrrrt. Bunyi handphone Syakila dan getar di handphone Geo bersamaan. Geo tersadar sesuatu.


”Jangan lihat handphone ku! Berikan padaku!” ucapnya kasar, saat Syakila hendak melihat di layar handphone Geo.


Syakila memberikan handphone itu pada Geo tanpa banyak berfikir. Ia segera meraih handphonenya dari dalam tas.


Ia melihat ke layar, Sardin memanggil. Ia melihat jam, pukul 12.00.


Rivaldi duduk di kursinya melihat Syakila yang menerima telfon dan melirik Geo yang hanya melihat tidak senang pada layar handphone yang ada di tangannya.


”Halo, kak! Ada apa?” ucap Syakila sopan.


”Apa kamu tidak jadi kesini?”


”Kamu sudah mau keluar? Apa sudah siap-siap?”


”Sedikit lagi, orang tua ku lagi mengurus biaya administrasi. Kamu datanglah!”


”Iya, apa dia sudah datang di situ?” tanya Syakila penasaran.


”Dia?” Sardin nampak berfikir, ”Oh, dia! Belum datang, mungkin sedikit lagi dia datang. Aku tidak menunggu kedatangannya, yang ku tunggu itu kedatangan mu. Cepatlah kemari!”


”Hum, aku pasti ke situ.”


”Ok, aku tunggu!” Tut tut tut, Sardin memutuskan sambungan teleponnya.


Syakila menyimpan kembali handphone ke dalam tas. Ia melihat Rivaldi dan Geo bergantian.


”Pergilah, jika kamu ingin pergi!” ucap Geo.


”Pergilah, jika kamu ada urusan. Suami mu, biar aku yang jaga.” ucap Rivaldi.


”Terima kasih!” sahut Syakila sambil melihat kedua pria itu.


”Biar supir ku yang mengantar mu.” ucap Geo dan Rivaldi bersamaan.


”Aku naik taksi saja.” tolak Syakila. ”Biar Ijan di sini untuk membantu mu,” ucapnya pada Geo. Ia melihat Rivaldi, ”Siapa tahu kamu membutuhkan sesuatu, dan meminta supir untuk membelinya atau mencarinya. Jadi, aku tidak ingin merepotkan kalian berdua. Aku pergi dulu.”


Ia melenggang keluar dari ruangan klinik Rivaldi. Geo dan Rivaldi sama-sama menghela nafas kasar.


”Wanita keras kepala!” gumam mereka berdua dengan pelan, yang hanya akan terdengar oleh telinga mereka sendiri.


Syakila menghampiri Ijan yang duduk berdua dengan supir Rivaldi di meja luar.


”Ijan, kamu masuk ke dalam. Perhatikan Geo. Aku keluar dulu.” ucapnya.


”Baik, Nyonya! Tapi, Nyonya ingin kemana? Biar saya antar.” tawar Ijan.


”Tidak perlu. Aku naik taksi saja. Aku akan pergi ke rumah sakit. Kamu masuklah kedalam, aku pergi dulu.” ucapnya berpamitan.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Ijan, Syakila melenggang pergi dengan terburu-buru. Setelah melihat Syakila sudah menghilang di balik pagar, Ijan masuk ke dalam ruangan Rivaldi, meninggalkan supir Rivaldi sendirian di luar.


__ADS_2