Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 83


__ADS_3

Di tengah perjalanan Beni dan Geo melihat sekilas seseorang yang mirip dengan Syakila sedang duduk di bangku depan bengkel dengan seorang pria.


Semoga saja itu bukan Syakila, walaupun itu Syakila pasti ada alasan mengapa ia ada di sana. Yang aku takutkan kesalahpahaman di antara Geo dan Syakila semakin bertambah


Yah, motor Denis mogok di tengah jalan, dengan terpaksa Denis dan Syakila harus singgah di bengkel untuk memperbaiki motor tersebut.


”Beni, mundurkan perlahan mobil mu.”


Beni menurut, ia memundurkan mobil dengan pelan ke belakang. Geo terus memandang arah kanannya, Beni juga demikian. Tatapan Geo sangat tajam melihat wanita itu memanglah Syakila. Apalagi sekarang Denis sedang membelai kepala Syakila.


”Jalankan mobilnya!” ucap Geo lagi tanpa memutuskan pandangan matanya pada Syakila. Beni melanjutkan perjalanannya kembali.


”Cih, percuma khawatir padanya! Bukankah sudah ku bilang, dia sedang bersenang-senang dengan pria yang di kenalnya!” Geo tertawa masam, ”Hanya saja, kali ini pria yang berbeda lagi. Cih, murahan sekali!”


Beni terdiam mendengar ucapan Geo. Ia terus mengemudi, sesekali ia melirik Geo dari kaca spion.


Tuh kan! Huff, sepasang suami-istri ini tidak bisa kah jika tidak salah paham?


Mobil Geo sampai di rumah. Beni menurunkan Geo di bantu pengawal, Beni melangkah masuk ke rumah dengan mendorong kursi roda Geo. Mereka berhenti di ruang keluarga.


”Mama begitu mempercayai wanita itu adalah wanita baik-baik, tapi lihatlah dia seperti apa!?”


Beni menghela nafas, ”Geo, bisa saja itu hanyalah kesalahpahaman. Kalian berdua belum saling mengenal, bagaimana kalian berdua sudah menafsirkan yang buruk kepada pasangan? Apa kamu ingin sembuh? Jika ingin sembuh cobalah berbaik hati padanya, kenal dia lebih dalam.” Beni mencoba membujuk.


”Tidak usah membujuk ku, Beni! Aku sudah tahu wanita seperti apa dia! Buatkan surat perjanjian pernikahan dengannya, aku tidak ingin selamanya terikat pernikahan dengan wanita seperti itu.”


”Geo, apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?”


”Beni, pernikahan ini hanyalah suatu sarana untuk kesembuhan ku, kan? Aku akan mencoba berbuat baik padanya untuk kesembuhan ku, setelah aku sembuh dia terbebas dari pernikahan ini, termasuk hutang ayahnya di anggap lunas. Lagi pula kami tidak saling mencintai.”


”Kamu buat sendiri surat perjanjian mu itu! Aku tidak mau ikut campur, dan jangan salahkan aku jika penyesalan singgah di hatimu pada kemudian hari.”


Beni melangkah ke dapur meninggalkan Geo di ruang keluarga. Tidak lama kepergian Beni, Rosalina datang bersama adik perempuan tiri Geo. Mereka berdua masuk ke dalam rumah.


”Sayang, kamu disini? Sendirian? Dimana Syakila dan Beni?”


Rosalina menghampiri Geo saat ia melihat Geo sendirian di ruang keluarga. Marlina berjalan di belakang Rosalina, ia ingin memberi kejutan kepada Geo.


”Mama, Mama sudah datang?” Geo tersenyum menyambut kedatangan Rosalina.


”Taraang! Geo, aku juga datang untuk me..ne..mui..mu.... Hah, Tan... Tante, a..apa yang terjadi sama Geo?” Marlina terkejut melihat Geo yang duduk di kursi roda.


Marlina berjalan perlahan ingin mendekati Geo. Geo menatap tajam pada Marlina.


”Pergi kamu, jangan dekati aku! Pergi!” tubuh Geo mulai gemetaran, ia berkeringat dingin.


Marlina menghentikan langkahnya, ia semakin terperanjat melihat Geo. Marlina memandang Geo dan Rosalina dengan heran. Ia berjalan lagi untuk mendekati Geo.


”Berhenti di sana! Pergi dari sini! Pergi dari hadapan ku! Pergi!”


”Geo, dia adik mu! Jangan kamu begini padanya!” Rosalina memeluk Geo untuk menenangkan nya. Marlina sendiri terkejut melihat kondisi Geo.


”Tan...Tante, apa sebenarnya yang sudah terjadi pada Geo? Mengapa dia ketakutan melihat ku? Dan mengapa Geo sampai bisa seperti ini?”


”Marlina, sebaiknya kamu pergi dulu dari hadapan Geo.” pinta Rosalina.


Apa sekarang dia anti dengan wanita? Dia sedang duduk di kursi roda, seharusnya tidak apa kan jika aku dekat padanya? Lagi pula ada Tante juga di sampingnya.


Marlina mendekati Geo, ia mengacuhkan ucapan Rosalina, ia memegang tangan Geo. Geo semakin menatap tajam Marlina. Ia menghempaskan tangan Marlina dengan kasar.


”Aku bilang kamu pergi dari sini! Jangan menyentuh ku! Pergi, jangan sampai aku membunuhmu disini!”


”Geo, kamu jangan begini, Nak! Beni! Syakila! Kalian cepat ke sini!” Rosalina menjadi panik. Ia takut, Geo akan semakin histeris.


Beni yang mendengar teriakan Rosalina, ia berlari dengan cepat ke ruang keluarga.


”Geo, Tante,” Beni mendekati Geo dan Rosalina.


”Pergi dari sini, cepat pergi!” Geo terus mengusir Marlina.


Beni memandang Marlina, ”Marlina kau pergi dulu dari hadapan Geo. Pergilah ke kamar untuk istrahat.”


Marlina menurut, ia pergi ke kamar tamu di lantai bawah yang menjadi kamarnya jika datang berkunjung di kediaman Albert. Geo mulai tenang.

__ADS_1


”Beni, bawalah Geo ke kamarnya.”


Beni membawa Geo ke kamar. Rosalina menjatuhkan dirinya di kursi sofa. Ia menghela nafas.


”Geo, apa kamu tidak bisa sembuh dari pobhia mu sekarang? Mengapa setiap kamu di kecewakan sama wanita, penyakitmu itu kambuh lagi? Kehadiran Yulia, perlahan menyembuhkan mu setalah dia menyakitimu kamu begini. Dan setelah bertemu Dawiyah kamu mulai pulih, sekarang malah lebih parah setelah dia mengecewakan mu. Sekarang kamu hanya bisa melihat dan bersentuhan dengan Syakila selain Mama. Kamu lelaki luar biasa, tapi kenapa wanita menjadi kelemahan mu?”


Setelah Beni membaringkan tubuh Geo di ranjang, ia keluar dari kamar Geo. Ia menghampiri Rosalina di ruang tengah. Beni duduk di samping Rosalina.


”Tante, Tante sudah tahu kondisi Geo seperti ini, mengapa membawa Marlina kemari?”


”Dia yang menyusul Tante di bandara, Tante sudah melarang nya untuk berjalan-jalan dulu ke sini, Tante kira dia menurut. Tapi, ternyata dia gegabah dan menyusul Tante diam-diam, setelah pesawat sudah mengudara baru dia temui Tante.” jelas Rosalina.


”Merepotkan saja!” keluh Beni.


”Di mama Syakila?” tanya Rosalina.


Di saat itu Syakila dan Denis memasuki rumah yang pintunya memang sudah terbuka.


”Syakila disini Mah, maaf Syakila baru pulang.” ucap Syakila.


Ia dan Denis terus melangkah mendekati Rosalina dan Beni. Syakila duduk di kursi yang berhadapan dengan Beni dan Rosalina, Denis duduk di samping Syakila. Ia meletakkan belanjaan Syakila di sampingnya. Beni dan Rosalina memandang Denis dan Syakila bergantian.


”Syakila, apa ada yang ingin kamu jelaskan?”


”Mama, kenalkan ini Om ku namanya Denis. Tadi Syakila pergi berbelanja di pasar di antar oleh supir. Mereka ingin menunggu ku, tapi aku melarangnya. Aku ingin pulang menggunakan taksi tapi aku takut, jadi Syakila bertemu dengan Om Denis di pasar. Syakila mampir sebentar di rumahnya Om Denis untuk makan siang, setelah itu Om Denis antar Syakila pulang. Hanya saja, di pertengahan jalan motornya Om mogok, terpaksa kami membawanya ke bengkel untuk di perbaiki.” jelas Syakila.


Syakila sengaja berbohong, dia tidak mengatakan semua kebenarannya. Ia menutupi kelakuan Geo. Syakila, aku yakin kamu gadis yang baik.


”Apa yang di bilang Syakila itu benar, maaf saya terlambat membawa Syakila pulang.” ucap Denis membenarkan ucapan Syakila. ”Karena Syakila sudah sampai disini, saya mohon diri untuk pulang.” Denis beranjak berdiri.


”Denis, tunggulah kita makan malam bersama baru Anda pulang.” tawar Rosalina.


Denis tersenyum, ”Maaf kan saya, bukan niat menolak tawaran Nyonya Albert, tetapi toko saya belum saya tutup. Sedangkan ini sudah mau masuk senja, anak dan istri saya juga pasti sudah menunggu kepulangan saya. Jadi, sekali lagi saya minta maaf, saya harus pulang.” papar Denis.


Oh, ternyata dia sudah berkeluarga. Aku percaya dia memang Omnya Syakila. Lalu, lelaki yang dia jumpai di pasar juga itu siapa yah? Apa aku menanyakan. pada Syakila? Ah, tidak, nanti juga kami akan tahu sendiri siapa lelaki itu.


”Oh, baiklah kalau begitu, saya tidak bisa memaksa Anda, terima kasih sudah mengantar Syakila kesini.”


”Jangan sungkan Nyonya Albert, Syakila adalah keponakan saya, keselamatannya sangat penting untuk kami.” Denis melihat Syakila, ia mengelus kepala Syakila, ”Jaga dirimu Kila, Om pulang dulu.” pamitnya pada Syakila.


”Hum,” singkat Denis menyahut. Ia beranjak keluar dari kediaman Albert.


”Apa masih ada lagi Om mu disini selain Denis, Kila?” tanya Beni.


”Iya, masih ada dua Om Hamid dan Om Anton. Sebenarnya, mereka bukan keluarga kandung. Tetapi, keluarga kami dan mereka sudah dekat seperti keluarga kandung.” ungkap Syakila. ”Syakila ke kamar dulu ya Mah, Beni.”


Oh, bisa jadi pria muda yang berjalan sama dia adalah anak salah satu Omnya Syakila. Aku harus susul Syakila, jangan sampai Geo marah-marah padanya karena kesalahpahamannya.


”Iya,” sahut Beni dan Rosalina.


Syakila menapaki anak tangga.


”Tante, Beni naik ke atas dulu.” Rosalina mengangguk.


Beni pergi ke atas menggunakan lift, jadi ia duluan sampai ke kamar Geo. Saat Beni masuk, ternyata Geo telah terbangun. Dan di saat itu juga Syakila masuk ke kamar. Ia melihat Beni dan Geo di atas ranjang.


Syakila terus berjalan menuju lemari pakaiannya, ia menaruh bungkusan softex di dalam lemari pakaian. Lalu ia pergi ke meja hias, ia menyimpan jepit rambut dan ikat rambut di deretan aksesorisnya. Ia tidak menyadari sedari ia masuk ke dalam kamar, tatapan mata tajam Geo selalu mengikuti langkahnya. Syakila mengambil handuk dan baju ganti baru ia pergi ke kamar mandi.


”Geo, jangan kamu marah pada Syakila. Pria yang kita lihat di bengkel bersama dia itu adalah omnya sendiri. Dan untuk pria yang di pasar itu mungkin saja salah satu anak dari omnya. Syakila sudah menjelaskan tentang pria itu pada Tante, aku juga bertanya pada Syakila tentang omnya yang di kota ini. Syakila memberi tahu semuanya jadi, aku mohon kamu jangan marah sama Syakila. Kamu hanya salah paham padanya.”


”Beni, aku bukan anak kecil yang gampang di bohongi. Jelas-jelas mamanya sendiri bilang jika Syakila di kota ini tidak punya keluarga. Dan kamu tahu Beni? Yulia dan Dawiyah juga menggunakan alasan yang sama saat aku melihat mereka bersama seorang pria. Jadi, berhentilah untuk menjelaskan sesuatu yang tidak penting.”


Beni menghela nafas.


Jika begini apakah Syakila bisa menyembuhkan Geo? Bisakah Syakila dan Geo berbaikan? Mereka berdua sama-sama keras kepala.


”Terserah kamu yang penting aku sudah menjelaskan sama kamu yang perlu ku jelaskan. Aku keluar dulu, gerah ingin mandi.” Beni berjalan keluar dari kamar Geo tanpa menunggu sahutan dari Geo.


Syakila keluar dari kamar mandi. Ia sangat cantik dengan memakai baju stelan rumahan yang berwarna biru navy. Handuk ia lilitkan di atas kepalanya. Ia tidak melihat kehadiran Beni di kamarnya. Geo terus memperhatikan langkah Syakila, Syakila pergi ke meja hias. Ia melepaskan handuk dari lilitan kepalanya dan menyisir rambut panjangnya tersebut.


Usai menyisir rambutnya, ia beranjak keluar dari kamar.


”Hei, siapa suruh kamu keluar dari kamar?”

__ADS_1


Syakila berhenti memutar handle pintu. Ia menoleh pada Geo.


”Ada apa?”


”Aku ingin mandi.”


Syakila sudah mengerti, ia mendekati Geo. Ia memapah tubuh Geo ke kursi roda, dan mendorongnya ke kamar mandi. Ia mulai memandikan Geo.


Sementara di dapur Rosalina, Beni, dan Marlina sedang bekerja sama untuk memasak.


”Tante, mengapa Geo bisa seperti itu? Apakah penyakitnya terhadap perempuan kambuh lagi?” tanya Marlina di sela-sela pekerjaannya memotong sayur.


”Iya, dan ini semakin parah. Dawiyah, mengkhianati Geo sama seperti Yulia mengkhianatinya. Jadi, kamu jangan dulu berhadapan langsung dengan Geo. Tante takut jika amarah Geo tidak bisa terkendali.” ungkap Rosalina.


”Kasihan Geo,” Marlina memasang wajah iba nya.


”Sudah, lanjut memasak. Setelah makan, kamu makanlah duluan. Tante akan temani kamu makan disini, setelah kamu makan baru kami akan memanggil Geo untuk turun makan.”


”Tidak Tante, Marlina ingin makan sama-sama. Jika di ikuti terus keinginan Geo, kapan dia bisa beradaptasi lagi dengan wanita? Lambat laun dia pasti akan terbiasa dengan kehadiran wanita.”


”Marlina, jangan mempersulit keadaan! Turuti apa ucapan Tante.” Beni menasehati Marlina.


”Terserah kakak Beni beranggapan apa? Tapi, Marlina akan tetap berada di hadapan Geo. Marlina ingin Geo cepat sembuh.”


”Kamu!” Beni menatap Marlina tajam.


”Sudah-sudah, apa yang di bilang Marlina juga ada benarnya, tidak apa-apa jika di coba dulu, siapa tau akan efektif nantinya.” ucap Rosalina.


Marlina tersenyum mendengar ucapan Rosalina. Beni mengalah. Mereka lanjut memasak.


Syakila telah selesai memandikan Geo. Dan sekarang ia sedang memakaikan kemeja lengan pendek untuk Geo. Syakila duduk menggunakan kedua lututnya. Ia mengancing kancing baju Geo.


Geo tidak bisa menahan dirinya, ia meraih wajah Syakila dengan kedua tangannya dan mencium bibir Syakila. Sontak Syakila terkejut dan memberontak. Ia mendorong kuat tubuh Geo, hingga keseimbangan kursi roda hilang.


Bruk!


Kursi roda terjatuh berikut dengan Geo. Syakila dan Geo saling memberi tatapan tajam. Mata Syakila berkaca-kaca.


”Brengsek kamu! Beraninya kamu mendorong ku!”


”Mengapa aku harus tidak berani? Kamu yang memulai kelewatan duluan! Jangan salah kan aku!”


”Hei, beraninya kamu berkata begitu! Apapun yang ku perbuat padamu itu halal, jangan kan mencium mu, mencumbu sekarang juga kamu halal untuk ku sentuh!”


”Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh ku seenak mu, aku tahu aku istrimu. Tapi aku tidak ingin bersentuhan dengan mu! Tubuhku, hatiku, jiwaku, hanya milik kekasih ku!”


”Wanita murahan, beraninya kamu bicara seperti itu padaku!”


Drrt drrt


Geo dan Syakila sama-sama memandang handphone yang berbunyi di atas nakas. Tidak lama pintu terbuka. Beni masuk kedalam kamar.


”Geo! Syakila!” Beni terkejut melihat Geo yang terjatuh bersama kursi rodanya. Ia mendekati Geo, ”Apa yang terjadi?”


Geo maupun Syakila tidak ada yang bersuara, Syakila keluar dari kamar begitu saja.


”Brengsek!” umpat Geo.


Beni memperbaiki kembali posisi kursi roda, baru ia memapah tubuh Geo dan mendudukkannya kembali ke kursi roda.


”Apa yang terjadi Geo? Mengapa sampai kamu bisa terjatuh seperti ini? Apa kalian berdua bertengkar lagi?"


”Apa tujuan mu datang kemari?” bukannya menjawab pertanyaan Beni, Geo malah mengalihkan pembicaraan.


”Aku datang memanggil kamu dan Syakila untuk makan.”


”Kalau begitu, ayo kita turun makan.”


Geo mendorong sendiri kursi rodanya. Beni masih mematung di tempatnya.


”Tunggu apalagi, Beni? Ayo turun!”


Lagi-lagi Beni menghela nafas. Ia mendorong kursi roda Geo.

__ADS_1


Apalagi yang mereka pertengkarkan? Syakila dan Geo saling bertatapan tajam. Wajah keduanya menampakkan kemurkaan, apa karena masalah tadi lagi?


Beni geleng-geleng kepala. Geo, temperamen nya sangat buruk, pikir Beni.


__ADS_2