
"Ok baby, jangan lama-lama." jawab pria itu. Halima tersenyum manis dan mengecup pipi pria itu, "Ok, sayang!" sahutnya.
Ia berdiri dari pangkuan pria tersebut dan berjalan kearah meja yang menyediakan minuman khusus untuk mereka dan mengambil segelas air non alkohol lalu ia mencampurkan serbuk bubuk kedalam minuman.
Ini kesempatan ku untuk bisa dekat dengan Halim. batin Halima.
Ia pergi mengejar Halim ke toilet, ia sengaja menunggu Halim keluar dari sana, dan ia menunggu di bibir pintu toilet utama. Saat ia melihat Halim keluar, ia berpura-pura jika ia tidak mengetahui keberadaan Halim.
Halima berjalan tanpa melihat kedepan sambil memegang gelas minuman. Halim juga yang terus berjalan sambil merapikan bajunya, ia menabrak Halima.
"Sorry," ucap Halim singkat tanpa melihat lawannya.
"Tidak apa-apa," jawab Halima sambil mengangkat wajahnya memandang Halim.
"Kamu!" ucap mereka bersamaan. Yang langsung membuat Halima tertawa kecil, "Hehehe kebetulan sekali, bikin apa kamu disini?" tanya Halima berbasa-basi.
"Di ajak teman," jawab Halim singkat.
Halima menawarkan minuman yang di pegangnya kepada Halim.
"Mau minum?" tanya Halima, "Ini minumlah," lanjutnya berucap sambil menyodorkan gelas yang di pegangnya.
"Tidak terima kasih, aku sudah minum." tolak Halim dengan halus.
"Apa ini suatu kebiasaan mu juga? Tidak menghargai pemberian seseorang?" ucap Halima kesal.
"Aku menghargai mu, tapi benar aku sudah minum bersama temanku." ucap Halim dengan sopan.
"Jika kamu memang menghargai ku, ini minumlah!" ucap Halima memaksa Halim untuk minum.
Akhirnya Halim mengambil gelas dari tangan Halima, "Aku pergi dulu, temanku sudah menunggu ku." ucapnya. Halim langsung melangkah meninggalkan Halima tanpa menunggu jawaban atau sahutan darinya.
Halima kecewa dengan sikap Halim, ia memandangi punggung Halim yang terus melangkah menjauh.
Gelasnya di ambil, tapi ia tidak meminumnya. Apa sampai di sana baru ia akan meminumnya? Aku akan mengawasinya. batin Halima.
Sebelum ia mengikuti Halim dari belakang, ia masuk ke toilet dulu mengganti bajunya yang basah. Di sana, di toilet wanita tersedia baju ganti khusus untuk mereka. Setelah berganti ia cepat menyusul Halim.
Halim yang terus melangkah ia melihat ada tempat sampah setelah pintu keluar utama toilet. Ia melirik kebelakang, ia tidak melihat sosok Halima.
Dengan cepat Halim menumpahkan isi gelas itu kedalam tempat sampah. Lalu ia pergi menemui temannya. Halim dengan tenang duduk di samping Hamid dan meletakan gelas kosong di atas meja panjang di depannya.
Hamid melihat bingung pada gelas yang baru di simpan oleh Halim, lalu ia melihat pada Halim sambil bertanya, "Dari mana gelas ini?"
"Oh, ini tadi bertemu dengan Halima di toilet, dan dia memberiku segelas minuman ini dan memaksaku untuk meminumnya." jawab Halim menjelaskan.
"Lalu kamu meminumnya?" kini giliran Denis yang bertanya.
"Tidak, aku menumpahkan isinya kedalam tempat sampah dan membawa gelasnya ke sini." jawab Halim.
Dari jauh Halima terus memperhatikan Halim meski di sampingnya ada seorang pria yang terus mencium bahunya.
"Jadi, kamu sudah tahu Halima wanita seperti apa? Atau kamu masih penasaran lagi tentangnya?" tanya Hamid.
"Hum, aku sudah tahu ia seperti apa." jawab Halim.
__ADS_1
"Memangnya tujuan kalian kesini itu mencari tahu tentang seseorang, ya?" tanya Denis yang penasaran.
"Tidak, hanya mengajak Halim saja ke tempat ini, agar dia tahu jika di kota ada tempat hiburan seperti ini." jawab Hamid berbohong.
"Sudah, habiskan minuman kalian, baru kita pulang." ucapnya lagi sambil meneguk habis minumannya.
Halim tidak melanjutkan minumnya, karena ia selalu mengingat ucapan lelaki tua yang di temuinya di masjid. Sedangkan Denis ia segera meneguk habis minumannya.
Hamid membayar minuman yang di minum dirinya dan Denis, sedangkan air putih tidak di kenakan biaya. Setelah membayar mereka pun keluar dari Club tersebut.
Halima memandang Halim yang berjalan dengan tegak dengan bingung dan kecewa. Bingung karena Halim baik-baik saja, dan kecewa karena Halim cuma sebentar saja di Club tempat ia bekerja sekaligus tempat tinggalnya.
Sepertinya dia tidak meminumnya, tidak terjadi apa-apa dengannya, jalannya saja tegak begitu.
batin Halima.
Kini mereka telah masuk kedalam mobil. Hamid menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya dengan kecepatan rata-rata.
"Bagaimana menurutmu tempat itu?" tanya Hamid meminta tanggapan Halim.
"Rame, banyak orang yang berkunjung." jawab Halim. Ia jadi teringat kepada Halima dan sikapnya itu. "Apa tempat itu juga tempat wanita pekerja ****?" tanya Halim penasaran.
"Iyah, di tempat itu memang disediakan wanita seperti itu. Tapi semua tergantung dari para pria jika datang hanya sekedar minum yah hanya minum, jika datang tujuannya untuk mendatangi wanita wanita tersebut, yah tetap akan menemuinya." ucap Halim menjelaskan.
"Apa kalian pernah datang kesana dengan tujuan itu?" tanya Halim pada Denis dan Hamid.
Denis langsung menjawab, "Tidak Bang! Mana berani saya."
Sedangkan Hamid ia terkekeh, "Aku tidak ingin jadi orang munafik, yah kadang tujuanku datang kesana untuk menemui mereka. Tapi aku baru dua kali dalam hal begitu, semenjak bercerai dari istriku." ucap Hamid berkata jujur.
"Hum," jawab Hamid singkat. Ia melirik jam tangannya, jam 9: 30 malam. "Baru setengah sepuluh nih, kita singgah di kedai-kedai di jalan yuk untuk makan sesuatu, perutku lapar." ajak Hamid.
Yang di sambut senang oleh Denis, "Boleh, boleh kebetulan aku juga sangat lapar."
"Hum, aku ikut saja." sahut Halim. Akhirnya mereka menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya untuk menikmati santapan sederhana yang terdapat di kedai.
"Kalian mau pesan apa, pesan saja!" ucap Hamid sambil melihat secarik kertas yang berisi menu makanan dan minuman.
"Aku makan bakso aja deh dan minumannya ekstra jos susu." kata Halim.
"Aku sama aja, kayak Abang Halim." sahut Denis.
"Ok" sahut Halim. Ia mendekati pria paruh baya si pemilik kedai. "Pak pesan baksonya tiga mangkok dan ekstra jos susu tiga gelas yah." ucapnya memesan makanan dan minuman. Si pemilik kedai mengangguk mengerti.
Setelah selesai memesan Hamid kembali ke posisinya. Tidak lama dari mereka menunggu makanan dan minuman mereka telah di antarkan di meja mereka oleh karyawan pria paru baya itu.
"Silahkan Bang, di cicipi makanan dan minumannya," ucapnya setelah membagikan makanan dan minumannya kepada mereka bertiga. "Ok. Terima kasih," sahut mereka bertiga bersamaan.
Mereka makan dalam diam menikmati santapan malam mereka. Setelah selesai makan, Hamid kembali membayar makanan dan minuman yang mereka makan tadi. Lalu mereka kembali ke mobil. Hamid kembali menjalankan mobilnya.
"Apa masih ingin jalan-jalan, atau kita pulang?" tanya Hamid.
"Apa kamu masih tahu tempat yang asyik di kunjungi? Jika ada mumpung jalan seperti ini, lanjut jalan aja." sahut Denis.
"Tidak, saatnya pulang! Aku ingin istirahat, mengumpulkan tenaga untuk aktivitas besok." sanggah Halim.
__ADS_1
"Yah, Bang! Gak asyik nih!" sahut Denis cemberut.
Hamid terkekeh, ia tahu peraturan yang di buat oleh Anton untuk para karyawannya sangatlah ketat. "Nanti lain kali baru kita jalan bareng lagi sepeti ini, ok?" ucapnya menghibur Denis yang cemberut.
Mau tidak mau akhirnya Denis mengiyakan, karena saat ia melihat jam di hapenya tinggal lima belas menit lagi jam sepuluh malam.
Akhirnya Hamid mengantar mereka sampai di depan rumah Anton. Denis dan Halim segera turun dari mobil.
"Makasih Hamid sudah mengajakku jalan-jalan." ucap Halim tulus.
"Makasih yah Hamid, lain kali ajak jalan lagi yah. Tapi harus di tempat yang berbeda dengan tadi." ucap Denis.
"Ok, siap!" sahut Hamid singkat. Lalu ia menutup rapat pintu mobilnya. Dan menjalankan meninggalkan kediaman Anton.
Sarmi, kamu sangat beruntung mendapatkan suami yang setia seperti Halim. Seandainya aku suami mu Sarmi, aku lebih beruntung karena kamu istri ku. Ah bego nya aku waktu dulu, Sar! batin Hamid.
Denis dan Halim memasuki rumah, yang ternyata Anton belum tidur. Halim dan Denis langsung duduk di kursi menemani Anton duduk sebentar. Anton pun menanyakan kegiatan mereka.
"Kalian sudah datang?" tanyanya ramah.
"Hum," sahut Halim singkat.
"Iya Bang," jawab Denis.
"Gimana jalan-jalannya? Kalian kemana saja tadi?" tanya Anton berbasa basi.
"Kami tadi pergi minum dan menikmati lagu DJ di Club, lalu kami singgah di kedai pinggir jalan untuk makan malam." Denis antusias menjawab pertanyaan Anton.
Halim mengangguk saat Anton melihat dirinya meminta kebenaran ucapan Denis. Halim yang sudah mengantuk ia berpamitan untuk ke kamarnya beristirahat.
"Aku ke kamar dulu yah, ingin istrahat." ucapnya sambil menguap.
"Denis juga Bang, ingin istrahat." ucap Denis ikut berpamitan.
"Ok" sahut Anton singkat. "Oh iya besok kamu akan shalat subuh di masjid?" tanyanya kepada Halim.
"Iya kalau bangun tidak telat." jawab Halim.
"Kita pergi sama-sama yah nanti." ajak Anton.
Halim mengangguk, "Hum," sahutnya.
"Baiklah, pergilah istrahat!" pintanya.
"Iya, kamu istrahat juga yah," balas Halim kepada Anton. "Hum," jawab Anton. Kini Denis dan Halim berdiri dari duduknya meninggalkan Anton duduk sendirian. Mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Apa aku bisa percaya sama Halim, jika ia ku beri kan kepercayaan untuk memulai usahanya sendiri? Aku takut jika ia nanti seperti saudaranya yang tidak bertanggung jawab waktu kerja di keluarga ku. Ia malah menghamburkan uangnya untuk urusan yang tidak berguna. Hingga ia mengkhianati istrinya. Halim boleh kah aku percaya padamu?
Anton membatin sendiri dan bertanya pada benaknya.
Sepertinya aku akan mencoba mempercayai mu, Halim. Ku harap kamu tidak mengecewakan aku, seperti kakakmu yang mengecewakan saudaraku.
batin Anton lagi.
Setelah lama berfikir sendiri, kini Anton pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
__ADS_1