
Di perusahaan Geo, di lantai 3.
”Siapa gadis itu? Sepertinya... baru kelihatan di perusahaan ini. Dia sepertinya sedang linglung mencari sesuatu. Kita samperin, yuk!” ajak salah satu karyawan yang ada di lantai 3 pada temannya.
”Iya, ayo!” temannya setuju. Mereka berdua menghampiri Syakila.
”Hei, kamu siapa? Sedang apa di sini? Apakah kamu karyawan baru di perusahaan ini?” tanya salah satu di antara mereka pada Syakila.
”Oh, halo. Nama ku Syakila... iya, saya karyawan baru di sini. Saya kesini untuk membuat kopi untuk pak ceo. Tapi... saya bingung mau ambilkan kopi di mana? Apa di kafe atau di kantin?” ucap Syakila.
”Oh, kalau layanan untuk kopi, anggur atau semacamnya dan kue untuk para karyawan di perusahaan ini... termasuk ceo, ambilnya dari kafe,” jawabnya sambil menunjuk kafe.
”Kalau untuk minuman biasa atau makanan dan cemilan lain selain kue di sini, di kantin.” ucap temannya sambil menunjuk kantin.
”Oh, ternyata begitu. Baiklah, mungkin aku akan seringkali datang ke kafe ataupun ke kantin. Siapa nama kalian berdua? Semoga saja kita bisa akrab.” ucap Syakila.
”Nama ku Nina.”
”Nama ku Ana.”
”Oh, Nina, Ana, senang bisa berkenalan dengan kalian berdua. Terima kasih, kalian sudah menjelaskan tentang kafe dan kantin padaku. Aku permisi dulu... aku harus buatkan kopi untuk ceo, jika terlambat... takutnya nanti aku di marahi.” ucap Syakila.
”Oh, iya. Silahkan, kami juga harus kembali ke kantin.” sahut Ana dan Nina. Ana dan Nina kembali ke kantin setelah Syakila masuk ke dalam kafe.
Di dalam kafe, Syakila segera membuat kopi dan mengambil beberapa potong kue untuk cemilan Geo. Setelah itu, Syakila keluar dari kafe dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring kue, lalu berjalan ke arah lift dengan hati-hati.
Syakila masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 7. Lima menit berlalu, lift berhenti di lantai 7, pintu lift terbuka. Syakila keluar dari lift. Ia melangkah menuju ruangan Geo.
”Eh, Syakila... oh, kamu sudah buatkan kopi untuk Geo. Aku baru saja ingin kebawah mengambilkan kopi untuk Geo.” ucap Beni yang menahan Syakila di depan ruangannya.
”Iya, maaf, aku tidak mengambilkan kopi untuk mu...”
”Tidak perlu. Kalaupun kamu ambilkan aku kopi, kalau Geo tahu... aku yang akan kena marah sama dia. Eh, tunggu... ini kue untuk Geo?” tanya Beni.
”Iya, kenapa? Geo gak suka ya?” Syakila balik bertanya.
”Iya, dia gak suka. Aku pernah mengambilkan untuknya beberapa potong tapi... sedikitpun dia tidak memakannya,” jawabnya.
”Kalau dia gak suka... yah, aku saja yang makan.”
”Kalau gitu aku ambil satu ya.” pinta Beni.
”Iya, ambillah.” ucap Syakila. Beni mengambil sepotong kue. ”Kalau begitu... aku masuk ke ruangan Geo dulu. Kalau aku bosan di dalam sana, bolehkan aku datang ke ruangan mu?”
”Boleh dong! Yah, itupun kalau kakak mengizinkan mu. Pergilah bawakan kopinya kakak. Entar dia gak kosen ngerjain tugasnya karena istrinya yang cantik ini belum kembali dari lantai 3.” ucap Beni di selingi senyum candanya.
Syakila balas tersenyum. ”Baiklah, aku pergi dulu.” Ia melanjutkan jalannya keruangan Geo.
*
*
Di ruangan Geo.
Tok tok tok! Syakila mengetuk pintu ruangan Geo.
”Masuk!”
Syakila membuka pintu ruangan setelah mendengar sahutan suaminya. Geo memperhatikan Syakila yang melangkah ke arahnya.
”Ini kopinya. Maaf, aku terlambat mengantarkannya padamu.” ucap Syakila. Ia menaruh gelas kopi di hadapan Geo.
”Tidak apa-apa, terima kasih.” Geo meneguk kopinya lalu meletakkan kembali di atas meja. ”Tapi... kamu gak kesasar kan, sayang?” tanyanya.
”Enggak. Aku hanya bingung saja tadi setelah berada di lantai 3. Mau ambilkan kopi dari kantin atau dari kafe. Tapi... untungnya ada Nina dan Ana yang menjelaskan ku tentang kafe dan kantin. Makanya agak lama aku datangnya.” jelas Syakila. ”Bagaimana rasanya? Enak?” tanyanya.
”Iya, sayang. Rasanya pas...”
”Syukurlah.” Syakila mengangkat nampan yang berisi kue dari meja Geo dan membawanya ke mejanya sendiri.
”Loh, kenapa kuenya di ambil semua? Untukku mana?” protes Geo.
Kening Syakila mengerut, bukankah Geo tidak memakan kue ini?
__ADS_1
”Bukankah kamu tidak suka makan kue ini?”
”Siapa bilang?”
”Beni. Aku bertemu dengan Beni barusan di luar. Dia bilang kamu tidak suka makan kue ini. Sedangkan aku sudah terlanjur membawanya, jadi... kuenya untukku saja. Kamu mau?” tawar Syakila.
”Iya, karena kamu yang ambilkan... aku jadi suka. Kalau Beni yang ambilkan, tentu saja aku menolak.” ucap Geo.
Syakila heran melihat Geo. Bukan hanya Syakila, Alifa dan Atika juga terbengong melihat Geo. ”Apa bedanya?” tanya mereka bertiga serempak pada Geo.
Syakila dan Geo sama-sama melihat Alifa dan Atika yang ikut berbicara. Alifa dan Atika menunduk seketika.
”Sudahlah, kamu duduklah di meja mu.” ucap Geo. Ia kembali meneguk kopinya lalu kembali melihat layar laptopnya.
Syakila mengangkat kursinya membawanya ke samping kursi Geo, lalu ia mengambil piring kue dan meletakkan di samping gelas Geo dan ia duduk di kursinya.
Geo melihat Syakila, ia tidak menduga Syakila akan menarik kursinya dan duduk di sampingnya.
”Kenapa? Tidak suka? Aku akan kembali ke posisi ku.” ucap Syakila. Ia beranjak berdiri.
Geo menangkap tangannya. ”Duduklah, aku hanya tidak menduga saja kamu punya pikiran seperti ini,” ucapnya.
Alifa dan Atika juga memperhatikan Geo dan Syakila. Mereka merasa iri dan cemburu Syakila bisa dekat dengan Geo, padahal Syakila baru saja masuk bekerja. Sementara mereka berdua yang sudah hampir satu bulan kerjanya belum bisa sedekat itu dengan Geo.
Syakila kembali duduk. Ia mengambil sepotong kue dan memakannya. Ia tadi mengambil lima potong kue, sepotong telah di ambil Beni, sekarang dia mengambil sepotong. Jadi kuenya sekarang sisa tiga potong.
”Siapa sebenarnya Syakila ini?” bisik Alifa pada Atika.
”Tidak tahu, yang jelasnya dia adalah musuh cinta kita.” balas Atika berbisik.
”Lihatlah, perlakuan Geo pada Syakila sangat lembut. Trik apa yang di gunakan sama Syakila, makanya Geo jinak sama dia?” kembali Alifa berbisik pada Atika.
”Gak tahu juga. Sudahlah, nanti kita tegur dia saja kalau ada kesempatan kita bertiga ketemu.” balas Atika berbisik.
”Iya, kamu benar! Kembali lihat pekerjaan kita. Jika tidak... kita akan di pecat.” ucap Alifa berbisik. Atika mengangguk.
Geo sangat serius dengan kerjaannya. Syakila memperhatikan layar laptop Geo. Kepalanya pusing melihatnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang di kerjakan oleh suaminya itu.
Syakila mengambil sepotong kue lagi. Ia menggigit nya, kemudian, ia menyuapi Geo kue bekas gigitannya itu. Geo memakannya tanpa mengeluh ataupun merasa jijik.
Apakah Geo menyukai wanita yang agresif seperti Syakila ini? Apa aku perlu mencobanya? benak mereka berdua.
Syakila kembali menggigit kuenya, setelah itu menyuapi Geo lagi.
”Kopinya, sayang.” ucap Geo.
Syakila mengambil gelas kopi dan menyuapi Geo. Geo meminumnya beberapa teguk, Syakila kembali meletakkan gelasnya.
Syakila melihat air minum, ia beranjak berdiri dan melangkah menghampiri air minum di dispenser. Geo hanya memperhatikan saja.
Syakila mencari gelas dari dalam lemari kecil yang ada di dispenser tersebut. Dia mengambil gelas dan menuang airnya ke dalam gelas. Syakila meminumnya. Kemudian, ia mengisi lagi gelas tersebut dengan air dan kembali ke mejanya dengan membawa air tersebut.
”Geo, ini air putih mu. Aku keluar dulu ya, aku ingin menemui Beni.” izin Syakila.
”Tidak boleh! Kamu sekretaris pribadi aku, kamu hanya boleh ada di ruangan ku saat di kantor. Dan kamu boleh keluar saat aku keluar.” jelas Geo.
”Apa aku tidak boleh menemui Beni?” Sekali lagi Syakila bertanya.
Geo terdiam sesaat melihat Syakila. ”Pergilah,” ucapnya, namun, wajahnya tidak ikhlas.
Melihat wajah tidak ikhlas Geo, Syakila kembali duduk di kursinya.
”Loh, gak pergi?” tanya Geo.
”Gak, aku di sini saja,” jawabnya. Padahal ia sungguh bosan berada di ruangan tanpa melakukan hal apapun. Ingin membantu Geo, tetapi ia tidak mengerti dengan bidang pekerjaan suaminya tersebut.
Pintu ruangan Geo terbuka, semua mata melihat ke arah pintu. Beni melangkah menghampiri Geo.
”Ada apa?” tanya Geo ketus.
”Loh, kok marah-marah sih? Apa salah ku coba!” ucap Beni dengan bingung. Ia melihat Syakila dan bertanya melalui pandangan mata. Syakila mengangkat kedua bahunya, pertanda ia tidak tahu.
”Bawel!! Katakan ada apa?”
__ADS_1
”Kamu sudah lihat berkas kerja sama kita dengan perusahaan dari kota C, belum? Siang ini kita ada rapat dengan karyawan dari perusahaan tersebut.” ucap Beni.
”Oh, hampir lupa... aku akan mempelajarinya.” sahut Geo. Ia melirik dua gadis yang menjadi sekretaris nya itu. Atika dan Alifa tertunduk, mereka lupa memberitahu Geo tentang ini.
”Baiklah, aku keluar dulu.” Beni mengambil kue yang tinggal sepotong itu dan memakannya. Ia berbalik dan melangkah pergi. Pintu ruangan di tutup oleh Beni yang baru saja keluar.
”Kesalahan selama hampir sebulan ini sudah mencapai lima kali, sesuai peraturan jika dalam sebulan kesalahan kalian mencapai tujuh kali... kalian akan di turunkan pekerjaannya.” ucap Geo memperingatkan Alifa dan Atika.
”Maaf, aku lupa untuk memberitahu mu, sayang.” ucap Alifa, wajahnya di buat sesedih mungkin agar mendapatkan simpatik Geo.
”Iya, sayang. Aku juga minta maaf, tidak memperhatikan hal ini. Aku tidak akan ulangi lagi, sayang.”
Syakila terkejut, sektretaris dari ceo bolehkah mengatakan kata sayang pada ceo-nya?
Syakila melirik Geo. Geo sendiri melihat Syakila lalu kembali melihat Alifa dan Atika dengan marah. Lalu berkata, ”Lancang sekali!! Siapa yang mengajari kalian untuk memanggilku dengan "Sayang" Hah?”
”Em... nyonya...” jawab mereka berdua.
Kening Syakila mengerut, Nyonya? Apakah yang mereka maksud mama Rosalina? Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Apakah mama yang mengatur mereka berdua di sini untuk Geo? benak Syakila. Ia melirik Geo.
Geo terdiam, ia kembali melihat Syakila yang ada di sampingnya. ”Nanti aku jelaskan sampai di rumah,” bisiknya pelan pada Syakila. Syakila mengangguk.
”Jangan ulangi lagi! Kalian berdua di sini hanya bekerja! Jangan berbuat macam-macam dan jangan lancang! Perhatikan peringatan yang sudah sering aku ucapkan pada kalian!” ucap Geo dengan tegas.
”Sayang, apakah ada toilet di sini?” tanya Syakila pada Geo.
”Iya, itu.” Geo menunjuk toilet yang ada di dalam ruangannya. Syakila beranjak ke toilet.
Alifa dan Atika kembali di buat bengong. Bukankah barusan saja Geo menyampaikan tidak boleh manggil dia dengan "sayang" Kenapa Syakila yang memanggilnya sayang... Geo tidak marah? Lalu, toilet pribadi Geo... bukankah dia selalu melarang orang untuk menggunakannya? Kenapa... dia malah membiarkan Syakila memakainya?
”Geo... kamu juga tidak boleh lupakan keberadaan kami di sini karena punya tugas khusus dari ibumu, selain bekerja. Kami tidak bisa mengabaikan perintah ibumu begitu saja.” ucap Alifa.
”Kami tidak tahu apakah Syakila asisten pribadi yang di kirimkan oleh ibumu juga atau tidak. Kamu harus adil sama kami. Berikan kebebasan pada kami seperti kamu memberi kebebasan pada Syakila, kami bertiga akan bersaing secara bebas. Kalaupun pada akhirnya kamu ingin menikahi kami bertiga sekaligus, kami berdua tidak akan keberatan.” sambung Atika.
”Hum? Siapa yang ingin menikah bertiga sekaligus?” tanya Syakila yang baru keluar dari toilet. Ia memandang kedua gadis yang menjadi sekretaris Geo, ia juga memandang suaminya itu, meminta penjelasan. Ia berjalan kembali ke mejanya.
”Em__”
”Syakila, awalnya aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi... aku harus katakan sekarang. Aku dan Alifa sama seperti mu, sama-sama gadis yang di kirimkan oleh nyonya Rosalina untuk menarik perhatian Geo. Jadi... aku meminta Geo untuk bersikap adil kepada kita bertiga karena tujuan kita sama, menjadi istri dari Geo.” pangkas Atika menjelaskan pada Syakila.
”Oh, jadi... Geo berharap bisa memiliki tiga istri sekaligus?” tanya Syakila pada Geo.
”Tidak, sayang. Cukup satu yang menjadi istriku... kamu. Tidak ada yang lain lagi.” jawab Geo.
Syakila melihat Atika dan Alifa. ”Apakah sekarang sudah jelas? Geo tidak ingin memiliki tiga istri, cukup aku yang menjadi istrinya. Jadi... aku sarankan pada kalian berdua, buang jauh-jauh pikiran kalian untuk menikahi Geo. Itu tidak akan mungkin. Bekerjalah dengan benar, jangan memimpikan hal yang tinggi yang tidak bisa kalian gapai.” ucap Syakila menasehati Alifa dan Atika.
”Tidak bisa begitu! Syakila, kita harus bersaing secara adil untuk mendapatkan perhatian dan cinta Geo. Kamu ingin melawan aturan yang di buat nyonya Rosalina?” tanya Alifa pada Syakila.
”Aku sama sekali tidak tahu aturan yang di buat oleh Rosalina pada kalian berdua. Yang aku tahu adalah Geo suami ku, milikku seorang. Aku tidak mau berbagi suami dengan siapapun.” tegas Syakila.
Geo tersenyum senang melihat istrinya.
”Jika kalian berdua masih punya angan-angan untuk memiliki Geo, kalian berdua akan aku pecat dari sini.” ancam Syakila.
”Heh! Memecat kami? Kamu punya wewenang apa? Aku dan Atika punya selebaran kertas yang di tandatangani oleh nyonya Rosalina dan di setujui oleh semua dewan direksi perusahaan ini, untuk tidak bisa memecat kami berdua dari perusahaan ini.” ucap Alifa.
Geo terdiam. Benarkah mama membuat pernyataan itu? Mama benar-benar membuatku pusing, benaknya.
”Sejak kapan kalian di tempatkan di perusahaan ini?” tanya Syakila pada Alifa dan Atika.
”Kurang tiga hari lagi kami genap satu bulan di sini.” Alifa yang menjawab.
Syakila terdiam. Itu artinya mama mengatur mereka di sini setelah aku bercerai dengan Geo. Mungkin saja Geo tidak tahu hal ini... karena selama itu Geo selalu berada di dekatku. Mama melakukan ini dengan sengaja, mama membawa dua gadis ini untuk mencegah penyakit Geo kambuh saat Geo bercerai dengan ku. Aku tidak bisa menyalahkan mama, menyalahkan Geo juga menyalahkan dua wanita ini. Ini semua hanyalah salah paham. Kalaupun seandainya aku tidak menikah lagi dengan Geo, sudah pasti satu di antara Alifa dan Atika yang akan menjadi istrinya Geo. Nanti aku dengar bagaimana Geo menjelaskannya padaku tentang hal ini, benaknya.
Syakila menghampiri Geo, ia duduk di pangkuan Geo dan mencium bibir Geo.
Atika dan Alifa terkejut dengan keberanian Syakila. Syakila benar-benar tidak takut pada Geo. Apa karena Syakila belum pernah melihat murka Geo di saat Geo sedang marah, makanya Syakila berani? Nyonya Rosalina juga berpesan pada Alifa dan Atika untuk tidak takut pada Geo. Tapi... melihat tatapan tajam dari Geo saja sudah membuat mereka menciut.
Geo membalas ciuman Syakila, beberapa menit mereka terbuai dalam ciuman.
Geo hanya milikku, hanya aku yang berhak mencintai Geo. Yang lain tidak boleh! Aku harus menegaskan hal ini pada kedua wanita ini. benak Syakila.
”Geo hanyalah milikku... kalian berdua bahkan wanita lain yang ada di luar sana tidak bisa dan tidak berhak mengambil Geo dariku. Meskipun Geo ingin memiliki istri lebih, dia harus melangkahi mayat ku dulu.” tegas Syakila berucap pada Atika dan Alifa, setelah Syakila melepaskan ciumannya dengan Geo.
__ADS_1
”Kalian berdua sudah dengar? Aku hanya milik dari Syakila. Ucapan Syakila tentang ancamannya memecat kalian, dia sangat berhak dan punya wewenang untuk itu. Jadi... kalian dengarkan baik-baik nasehat Syakila.” ucap Geo dengan tegas.
Alifa dan Atika tidak terima di ancam oleh Syakila yang sama-sama menjadi orang suruhan Rosalina untuk menggaet Geo.