
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, sudah satu bulan lebih lamanya Syakila menjalani rumah tangga dan sebulan lebih itu juga ia tinggal bersama Geo di kediaman Albert.
Selama itu juga Syakila melewati perjalanan rumah tangganya dengan penuh cekcok sama sang suami. Beni selalu menjadi pelerai di antara mereka berdua.
Selama sebulan itu Syakila merasa bosan berada di dalam rumah. Ia tidak punya kesempatan untuk keluar dari rumah, karena Geo melarangnya.
”Beni, antar aku ke pasar, ada barang yang ingin aku beli sendiri.” pinta Syakila pada Beni setelah mereka semua selesai sarapan pagi.
"Tidak! Aku sudah bilang kamu tidak boleh keluar sedikit pun dari rumah ini!” Geo langsung menyahuti ucapan Syakila. ”Biar Beni yang belikan kebutuhan mu.”
”Tidak, aku ingin membelinya sendiri!”
Geo menggebrak meja dengan kuat. ”Apa kamu tidak dengar? Aku sudah bilang kamu tidak boleh keluar!”
Syakila memandang Geo dengan tajam, ”Beni, antar aku ke pasar sekarang!” Syakila menantang Geo. Ia beranjak berdiri.
Geo mengeraskan kedua rahangnya dan menatap Syakila dengan tajam.
"Ayo Beni, ” ajak Syakila. Ia beranjak berjalan meninggalkan dapur.
”Berani kamu melangkah keluar dari rumah ini, maka kamu jangan kembali lagi kesini!”
”Kamu mengancam ku, Geo?” Syakila memandang Geo dengan kening mengerut. ”Aku ke pasar hanya untuk membeli kebutuhan ku, mengapa kamu selalu melarang ku untuk melakukan apapun yang ku suka? Melarang ku untuk keluar rumah? Mengapa? Oh, apa kamu sudah mencintai ku, Geo? Sehingga kamu tidak ingin sedetik pun aku jauh dari mu?”
Geo tertawa sinis, ”Hahaha, kamu mengira dirimu itu siapa, Syakila? Jatuh cinta padamu? Aku, Geovani Albert jatuh cinta sama wanita seperti mu? Hahaha, bahkan kamu tidak masuk dalam kriteria sebagai kekasih ku! Jangan bermimpi aku akan jatuh cinta pada gadis pendek seperti mu! Jangan kamu berbangga aku melarang mu, kamu harus tahu siapa dirimu. Kamu hanyalah gadis penebus utang yang berprofesi sebagai pembantu pribadi ku.”
Syakila mendekatkan wajahnya pada wajah Geo, ia tersenyum kecut, ”Dan apa kamu pikir, kamu adalah pria yang ku dambakan? Sama sekali tidak, meskipun hanya kamu lelaki di dunia ini, aku tidak akan jatuh cinta padamu!”
Ia menarik wajannya dari Geo setelah mengucapkan itu. Geo menahan tangan Syakila.
”Kamu__” Geo tidak melanjutkan ucapannya, Syakila kembali menatapnya dengan kebencian.
”Geo, sudah cukup! Biarkan Syakila pergi ke pasar untuk membeli barang kebutuhannya. Cobalah kamu hargai privasi Syakila.” Beni melerai. Geo melepaskan tangan Syakila.
Selama ini Syakila selalu menurut, namun tidak untuk kali ini. Karena persediaan pembalutnya telah habis dan dia sementara kedatangan tamu. Betapa malunya dia jika Beni yang pergi ke pasar hanya untuk membeli softex untuknya.
Geo tidak menjawab ucapan Beni.
”Aku bawa kamu ke kamar, baru aku akan mengantar Syakila ke pasar.” ucap Beni lagi.
”Tidak perlu, aku bisa pergi ke kamar ku sendiri! Pergilah, antar wanita itu.” Geo melirik Syakila.
”Beni, aku pergi ke kamar dulu mengambil tas ku, tunggulah aku di mobil.” Syakila berbicara lembut pada Beni.
”Baiklah, jangan lama-lama.”
”Iya, hanya sebentar saja kok,”
Syakila pergi ke kamar untuk mengambil tasnya. Beni pergi ke depan menunggu Syakila di mobil. Mesin mobil telah di nyalakan.
Geo sendirian di dapur dengan perasaan yang tak bisa di gambarkan. Ia pergi ke depan menyusul Beni. Geo telah sampai di teras rumah. Beni yang melihat Geo, ia turun dari mobil menghampirinya.
”Kenapa Geo? Apa kamu ingin ikut?”
”Tidak usah banyak tanya, bawa aku naik ke mobil.”
Beni menghela nafas dalam-dalam. Iya menaikan Geo ke mobil di bantu bawahannya. Syakila berjalan sedikit berlari. Ia membuka pintu mobil depan.
”Duduk di belakang!”
Syakila terkejut mendengar suara Geo di belakangnya. Ia menoleh melihat kebelakang, lalu beralih melihat Beni. Beni mengedikan kedua bahu saat Syakila melihatnya.
Syakila acuh dengan ucapan Geo, ia masuk tetap masuk dan duduk di depan bersama Beni. Ia menutup pintu mobil. Beni melirik Geo dari kaca spion, Geo nampak memandang punggung Syakila dengan marah.
Wanita ini, beraninya dia mengacuhkan ku.
”Jalan, Ben.” ucap Syakila.
Beni menjalankan mobil. Hening! Selama perjalanan mereka bertiga saling berdiam, hingga mereka sampai ke pasar.
”Beni, tunggulah aku di sini saja, tidak perlu mengantar ku. Kamu, jagalah pria tanpa hati itu.” Syakila melirik Geo. Ia tahu Geo sekarang sedang meliriknya juga dengan tajam.
”Hum, jangan lama-lama,” sahut Beni.
__ADS_1
Syakila mengangguk, ia keluar dari mobil. Ia berjalan menuju toko SaSya kosmetik.
Syukurlah Beni tidak ikut dengan ku. Ini kesempatan ku, aku akan menemui om Anton sebelum aku membeli keperluan ku.
Syakila terus berjalan melewati toko dan rumah ayahnya sendiri, ia terus melangkah menemui Anton di rumahnya. Kini, ia sedang berdiri di depan pagar rumah Anton. Ia terkejut saat ada sebuah tangan bertengger di bahunya. Syakila melirik tangan tersebut.
Ini tangan seorang pria.
Syakila berbalik, ia melihat seorang pria yang masih asing di matanya. Pria itu memandangnya dengan bingung.
”Kamu siapa? Mengapa berdiri di depan rumah ku?”
Syakila tersenyum, ”Oh, maaf ini rumah mu yah. Em, namaku Syakila, aku ingin bertemu dengan seseorang. Tapi, sepertinya mungkin dia tidak tinggal disini lagi.”
”Syakila, namamu bagus, cantik, secantik orangnya. Nama ku Dian, kamu mencari siapa? Mungkin aku bisa membantu mu.”
Syakila memicingkan mata melihat Dian.
Dian? Dian...kalau tidak salah ingat nama anaknya Om Anton yang pertama kan Dian yah? Dia terlihat tampan. Dia tidak mengingat ku.
”Dian, kamu juga terlihat tampan. Aku mencari papamu, Anton. Apakah dia ada di rumah?”
”Apa?” Dian terkejut, ”Kamu mengenal papa ku? Tapi, aku tidak pernah melihat mu sebelumnya.”
Syakila tertawa kecil, ”Jika kamu tidak melupakan aku, kita sudah saling kenal sejak kecil, yah aku lebih kakak dua tahun darimu.” jelas Syakila.
”Apa? Kita saling kenal dari kecil?” Syakila mengangguk. Dian memperhatikan Syakila dengan seksama. Penglihatannya terpusat pada rantai kalung yang di lehernya. Meskipun mata kalung itu tersembunyi di balik baju Syakila, tapi ia bisa mengenali dari rantai kalung tersebut, kalau kalung itu kalung yang pernah ia lihat saat Sardin merangkainya. Dan ia juga mengingat saat itu Sardin bilang jika kalung itu untuk teman ceweknya, Kila. ”Kila? Kamu Syakila?”
Syakila tersenyum manis sambil mengangguk.
”Kamu mencari papa ada keperluan apa? Oh ya sampai lupa aku bertanya, bagaimana kamu bisa ada di sini lagi? Bukan kah mamamu sangat melarang kalian untuk kesini? Jangan bilang kamu kabur dari rumah.”
”Memangnya aku punya keberanian untuk kabur dari rumah? Apa kita akan terus berdiri dan mengobrol disini saja? Tidak mengundang ku masuk ke rumah mu dan bertemu orang tuamu?”
Dian tersenyum, ”Oh, aku lupa. Ayok kita masuk ke rumah. Mama dan papa ada di dalam.” Dian mendahului melangkah, Syakila menyusul di belakang Dian. Dian membuka pintu rumah, "Ayo masuk.”
Syakila masuk terus mengikuti Dian. Dian mengajak Syakila hingga ke ruang keluarga.
”Assalamu 'alaikum, Mah, Pa.” Dian menyapa kedua orang tuanya yang sedang santai di ruang keluarga itu. Dian menyalim punggung telapak tangan kedua orang tuanya, Syakila juga melakukan hal yang sama. Dian duduk di kursi sedangkan Syakila masih berdiri.
Gadis ini, ada kemiripan dengan Sarmi dan Halim. Apa gadis ini anak mereka berdua?
Serlina menuangkan teh kedalam dua cangkir gelas. Satu ia berikan untuk Dian, anaknya dan satu ia berikan pada Syakila. Syakila meminum tehnya. Sementara di parkiran pasar dua pria sedang kesal menunggu kedatangan Syakila.
”Lama sekali dia! Beni, turun cari dia!” titah Geo.
”Sabar sedikit, Geo. Mungkin sebentar lagi dia akan datang.” Beni menenangkan.
”Mengapa kamu tidak mengikuti dia tadi? Kalau dia tersesat bagaimana?”
”Dia tidak akan tersesat di dalam pasar ini. Aku tahu kamu khawatir pada istri mu, tapi kamu tenanglah sedikit, dia tidak akan hilang.”
”Apa kamu mau ku pukul Beni? Siapa yang khawatir dengan nya. Aku sudah gerah menunggunya disini.”
Beni tidak menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Geo juga melakukan hal yang sama, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mereka tetap menunggu Syakila di dalam mobil. Sedangkan Syakila, ia sedang mengobrol dengan Anton dan istrinya.
”Dari awal aku melihat kamu, aku bisa menebak kamu pasti anak Halim dan Sarmi. Ternyata aku benar, bagaimana kabar mamamu, Syakila?” ucap Anton.
”Alhamdulillah, mama baik-baik saja, Om.”
”Bagaimana kamu bisa kesini, Nak? Bukankah Sarmi sangat melarang kalian semua untuk kesini?”
Apa yang harus ku jawab yah? Geo melarang ku untuk memberitahu orang-orang jika aku istrinya. Tapi, apa iya aku harus berbohong pada Om Anton dan Bibi
”Em, Om, Syakila ikut suami kesini.”
”Kamu sudah menikah?”
”Iya Om, nama suami ku Geo.”
”Kenapa kamu kesini gak dengan suami mu? Biar kami bisa mengenal suami mu.”
Syakila tersenyum, ”Om, insya Allah Syakila akan membawanya kemari untuk mengenalkan pada Om dan Bibi. Om, Bibi, Syakila sudah lama disini, Syakila pamit pulang dulu.”
__ADS_1
Syakila berdiri dari duduknya, Anton, Dian, dan Serlina ikut berdiri. Mereka sama-sama mengantar Syakila hingga ke teras rumah.
”Baiklah, nanti jalan-jalan ke rumah lagi ya, Nak. Dan hati-hati di jalan.”
”Iya Om,” Syakila melangkah pergi.
”Eh, Syakila tunggu!” Anton mencegah Syakila yang sedang melangkah. Syakila berhenti, ia menoleh.
”Iya Om, ada apa?”
”Biar Dian yang mengantar mu.” tawar Anton. Syakila melihat Dian.
”Em tidak perlu Om, terima kasih, Syakila sudah di tungguin di parkiran pasar sama adik ipar ku.” tolak Syakila.
”Oh begitu, ya udah pergilah.”
Syakila mengangguk, ia balik badan dan kembali melangkah. Dian pamit pada papanya untuk menemani Syakila berjalan hingga ke parkiran. Anton mengizinkan. Dian mengejar Syakila yang sudah berada di depan toko SaSya.
”Syakila, tunggu!” ucap Dian.
”Dian, kamu kenapa?”
”Tidak apa-apa, aku hanya mau menemani mu berjalan sampai ke parkiran saja.”
”Oh, baiklah, tunggu aku yah. Ada yang ingin aku beli di dalam.” Syakila menunjuk toko di depannya.
”Tidak perlu kamu beli, cukup ambil saja barang yang kamu butuhkan. Dan bilang pada mereka kalau kamu anak dari pemilik toko ini.”
”Tidak, jangan sampai ada yang tahu aku anak dari Halim.” jelas Syakila. ”Aku masuk dulu, kamu tunggu disini.” Dian menurut. Ia duduk di depan toko tersebut menunggu Syakila. Sedangkan Syakila, ia masuk ke dalam toko.
Syakila mengambil semua barang yang di butuh kan. Dan ia juga tidak lupa membeli beberapa buah pembalut. Setelah membayar belanjaannya, ia keluar dari toko. Melihat Syakila, Dian berdiri.
”Sudah selesai?”
”Iya sudah, ayo kita jalan,” ajak Syakila. Ia menautkan tangannya ke lengan Dian. Mereka berjalan sambil bercerita, gelak tawa kadang terdengar.
Mereka hampir tiba di parkiran pasar, Beni dan Geo melihat Syakila yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria. Beni melirik Geo dari kaca spion. Ia tahu pasti Geo marah melihat itu, ia juga takut itu akan mempengaruhi pikiran Geo. Geo memang murka melihat Syakila dengan pria itu.
”Dian, cukup sampai disini saja kamu antar aku. Oh iya aku minta nomor mu.”
"Ok, nomor ku? Kamu catatlah.”
Syakila mengeluarkan handphone nya, ia mencatat nomor yang di sebutkan oleh Dian. Setelah mencatat nya, Syakila menyimpan nomor itu dengan nama Dian. Lalu ia mencoba menghubungi nomor itu. Bunyi dering terdengar dari saku celana Dian. Syakila mematikan teleponnya.
”Itu nomor ku, simpanlah ke dalam daftar kontak mu. Nanti aku akan menghubungi mu." ucap Syakila.
”Ok, aku akan menyimpan nomor mu.” Dian berbalik badan dan pergi. Syakila juga demikian. Ia berjalan mendekati mobil.
”Beni, nyalakan mobilnya.” Beni menurut. Ia menyalakan mesin mobil. Setelah Syakila semakin dekat dengan mobil. Geo menyuruh Beni untuk menjalankan mobil.
”Jalan kan mobilnya, Beni.”
”Tapi Geo__”
"Aku bilang jalankan mobilnya!” Geo menekan setiap ucapannya.
”Geo, kamu akan meninggalkan Syakila disini? Apa kamu gila?"
”Jalankan mobilnya Beni, sekarang!”
Beni menurut, ia tahu Geo sedang murka sekarang. Beni menjalankan mobil di tepat Syakila menyentuh pintu mobil. Syakila menjadi terkejut, karena mobil sudah pergi meninggalkan dia.
”Apa-apaan ini? Mengapa mereka sengaja meninggalkan aku disini?" Apa ini ulah si pria tanpa hati itu? Brengsek sekali pria itu.”
Syakila duduk sebentar di kursi panjang yang ada di parkiran itu. Ia terus memandang arah mobil yang meninggalkan dirinya itu, meskipun mobil itu tidak terlihat lagi. Syakila sangat kesal.
”Geo, apa ini gak keterlaluan, Geo? Bagaimana dia akan pulang ke rumah, Geo?"
”Diam lah Beni! Wanita semua sama saja, murahan! Cih.”
”Kamu salah paham, Geo. Aku yakin Syakila bukan gadis seperti itu, mungkin saja itu sahabat dia yang sudah lama tidak bertemu, atau mungkin saja itu keluarganya yang kita tidak tahu. Kita putar balik yah jemput Syakila.” Beni mencoba membujuk Geo.
”Tidak! Kamu tidak perlu membela dia di hadapan ku, Beni! Biar kan saja dia.”
__ADS_1
Beni terdiam. Ia menjalankan mobil dengan tidak fokus, pikirannya sedang mengkhawatirkan Syakila. Sedangkan Syakila, ia tetap menunggu di kursi parkiran. Ia berharap Beni akan datang menjemputnya.