Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 162


__ADS_3

Di kantor Geo, lantai dua belas.


Wanita itu tahu Geo telah kembali bekerja di kantor, berita itu ia tahu dari salah satu akun medsos karyawan di perusahaan Geo yang meng-upload berita tersebut, beserta foto Geo.


Berkat ucapan Marlina yang pernah mengatakan jika Geo masih mencintainya, ia memberanikan diri untuk menyapa Geo langsung di perusahaannya.


Ia telah menanti Geo selama ini untuk datang menemuinya di apartemen. Namun, pria itu tidak kunjung datang untuk menemui nya.


Lift berhenti di lantai dua belas. Wanita itu tersenyum sembari merapikan rambut dan pakaiannya, kemudian, ia keluar dari lift.


Ia terus melenggang pergi ke ruangan CEO. Tanpa mengetuk pintu, wanita itu melenggang masuk ke dalam ruangan Geo.


”Dawiyah?” ucap Beni, terkejut. Ia melirik Geo, pria itu sedang menatap Dawiyah dengan tidak senang. ”Siapa yang suruh kamu datang kemari?” tanya Beni, dengan ketus.


Dawiyah mengacuhkan Beni, ia terus melangkah, mendekati Geo. ”Kenapa? Terkejut melihat ku, sayang?” tanyanya, sambil membelai wajah kanan Geo.


”Jangan sentuh aku! Pergi dari hadapan ku, sekarang juga!” ucap Geo, ia menghempaskan tangan Dawiyah dengan kasar dari wajahnya.


”Jangan kasar padaku! Lihatlah, aku sedang terluka.” sahut Dawiyah, sambil menunjukan luka memarnya, mencari belas kasih dari Geo. ”Kamu tahu, luka ini karena ulah salah satu karyawan mu. Ini sakit sekali, sayang.” ucapnya lagi, sambil duduk di pangkuan Geo.


”Pergi dariku, Dawiyah! Aku tidak membutuhkan kamu lagi!” ucap Geo dengan marah, mendorong Dawiyah dari pangkuannya, hingga wanita itu jatuh ke lantai.


”Geo, aku tahu kamu marah sama aku. Kamu marah karena aku tiba-tiba pergi darimu saat kita akan bertunangan. Tapi Geo, aku punya alasan untuk itu. Tolong, dengarkan penjelasan ku.” sahut Dawiyah, matanya berkaca-kaca, tatapannya dan raut wajahnya begitu sedih.


”Alasan apalagi yang ingin kamu gunakan Dawiyah untuk menipu Geo? Jangan kamu mempermalukan dirimu sendiri, dengan alasan yang tidak jelas untuk menipu Geo.” ucap Beni, ia mendekati Geo, berdiri di samping pria itu.


Dawiyah berdiri, ia kembali mendekati Geo.


Beni menahan Dawiyah. ”Cukup! Kamu dan Geo sudah berakhir semenjak kepergiaan mu itu! Jangan ganggu Geo lagi! Lebih baik, kamu pergi dari sini!” ucapnya.


Dawiyah menangis, ia berlutut di hadapan Geo, ”Geo, bukankah kamu masih mencintai ku? Ku mohon, dengarkan penjelasan ku. Aku terpaksa harus pergi waktu itu, ada orang yang mengancam ku untuk membunuh orang tuaku jika aku lanjut bertunangan dengan mu. Untuk melindungi orang tuaku, aku melarikan diri di hari pertunangan kita. Tolong, percaya padaku, Geo. Aku masih mencintai mu.” ucapnya, berbohong.


”Apa kamu kira aku percaya dengan omong kosong mu itu! Bahkan orang tuamu saja tidak tahu kamu kabur kemana dan kabur bersama siapa!! Jangan mengkambing hitamkan orang tuamu!!” ucap Geo.


”Jika kamu punya rasa malu! Pergilah dari sini! Geo sudah cukup tersiksa karena ulah mu! Pergi dari sini, jangan ganggu suaminya orang!” sambung Beni.


Dawiyah terkejut, ”A..apa!? Geo... Geo sudah menikah? Ini tidak mungkin! Tidak ada media satupun yang memberitakan pernikahan Geo!” ia memegang kedua lutut Geo, ”Geo, ucapan Beni bohong kan? Kamu belum menikah kan? Kamu tidak mudah jatuh cinta dan tidak gampang berinteraksi dengan wanita lain! Geo, jangan membuat alasan sudah menikah untuk menolak ku.” ucapnya.


”Sayang sekali, ucapan Beni, benar! Aku telah menikah, dan istriku jauh lebih cantik darimu! Jadi, pergilah dari sini, jangan pernah kembali untuk mencari ku! Hubungan kita sudah lama berakhir!” ucap Geo dengan tegas, ”Pergi!” usirnya.


”Ge... Geo! Tidak, aku tahu kamu mencintaiku, ya kan? Apartemen kita, masih menggunakan kode sandi yang lama, bukankah itu artinya kamu masih mencintai ku?” ucap Dawiyah penuh percaya diri.


”Jangan menjadi tidak tahu malu, Dawiyah!” sahut Geo, ”Beni, suruh satpam kesini!” titahnya.


Beni menurut, ia menelfon ke lantai satu, bagian informasi. ”Suruh beberapa orang satpam datang ke lantai dua belas, keruangan CEO!” titahnya.


”Baik, Pak!” sahut petugas ruang informasi tersebut. Tut tut tut telfon terputus.


”Jika kamu masih ingin memiliki muka, maka pergilah dengan baik dari sini tanpa di usir secara paksa oleh satpam di kantor ini!” ucapnya, kemudian sambil melihat Dawiyah dengan tajam.


”Geo, ku mohon! Percaya padaku! Aku mencintaimu!” ucap Dawiyah, memohon.


”Pergilah! Aku tidak mencintai mu lagi! Apartemen itu, sekarang sudah atas namaku, jangan tinggal di apartemen itu lagi!” ucap Geo, tanpa melihat Dawiyah.


”Tidak, Geo!”


”Pergi dari sini!” usir Geo dan Beni bersamaan.


Tok tok tok! ”Pak, permisi!” ucap seseorang dari luar pintu.


”Masuk!” ucap Beni.


Pintu terbuka, nampak dua orang satpam berjalan masuk ke dalam ruangan.


”Seret wanita itu dar sini! Lihat wajahnya! Peringatkan siapapun yang mengizinkan wanita ini masuk ke sini, maka akan di pecat tanpa ampunan!” ucap Geo.


”Baik, Pak.” sahut kedua satpam itu. Mereka berdua memegang lengan Dawiyah, menyeret wanita itu keluar dari ruangan sang CEO.


”Geo! Dengarkan aku...aku mohon! Jangan perlakukan aku seperti ini.. Geo!” teriak Dawiyah sambil berontak, melepaskan diri dari kedua satpam itu.


Namun, sampai ia keluar dari ruangan Geo, Geo nampak tidak perduli dengan teriakannya.

__ADS_1


”Wanita ******! Beraninya muncul lagi di hadapan ku! Cinta? Heh, siapa yang mencintai mu! Aku muak dengan wanita yang gampangan menghambur ke pelukan pria yang mempunyai kekuasaan dan kedudukan!” gerutu Geo, sambil membayangkan lagi kenangan pahit saat ia bersama Yulia dan juga Dawiyah yang sama-sama berselingkuh darinya.


”Geo, sudah, kamu tenang! Sekarang lanjut kerjakan file ini, tinggal beberapa file dan dokumen lagi yang harus kita periksa, setelah itu, kita pulang.” ucap Beni, menenangkan Geo.


”Hum,” sahut Geo, ia mengambil tisu basah di atas mejanya dan menggosokkan tisu itu pada tangan dan wajahnya yang di sentuh oleh Dawiyah.


”Wanita sialan!” umpatnya marah sambil melempar tisu itu ke tong sampah.


Ia dan Beni kembali memeriksa file dan dokumen yang tersisa.


Di dalam lift para karyawan.


”Lepaskan aku! Lepas!” bentak Dawiyah, sambil berontak.


”Diam! Atau aku akan membuat mu pingsan dan membuang mu dari tingkat lima ini!” ancam salah satu satpam tersebut.


”Lepaskan tangan kalian dari lenganku! Kalian kira aku takut dengan ancaman kalian?! Tidak akan!! Lepaskan aku!” ucap Dawiyah, masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman kedua satpam itu.


Namun, kedua satpam itu acuh saja, mereka semakin mencengkram erat lengan Dawiyah.


”Argh! Kalian ingin membunuh ku?!” teriaknya.


”Jika tidak ingin mati, diam lah!” bentak sang satpam.


Ting! Lift berhenti di lantai satu, pintu terbuka. Satpam tersebut kembali menyeret Dawiyah keluar dari lift.


”Lepaskan aku! Aku bisa keluar sendiri!” bentak Dawiyah.


Sang satpam tetap acuh, terus menyeret Dawiyah. ”Lihatlah baik-baik! Wanita ini di larang masuk ke dalam perusahaan ini! Ini titah dari sang atasan! Jika ada yang mengizinkan wanita ini masuk ke sini, maka akan di pecat tanpa ampunan!” ucap salah satu satpam tersebut.


Semua karyawan yang bertugas di lantai satu melihat dengan seksama wajah Dawiyah. Mereka semua memperhatikan Dawiyah, menghafal baik-baik rupa wanita itu, agar kedepannya tidak akan membuat kesalahan.


”Baik,” ucap sebagian dari karyawan di lantai satu tersebut.


Sang satpam terus menyeret Dawiyah hingga keluar dari kantor Geo. Mereka mendorong kasar tubuh Dawiyah, hingga Dawiyah kembali terjatuh lagi.


Ia berdiri sambil membersihkan debu di telapak tangannya, ”Brengsek! Aku akan mengingat wajah kalian berdua! Jika aku menikah dengan Geo, kalian berdua lah yang pertama ku pecat dan akan ku masukkan kalian ke daftar hitam dari perusahaan ini!” ucapnya, mengancam.


”Hahaha. Kami tunggu hari itu, Nona!” sahut kedua satpam tersebut sambil tertawa mengejek.


”Menikah? Hahahaha, aku tidak percaya! Siapa yang mau menikah dengan kamu, Geo! Temperamen mu sangat buruk! Apalagi sekarang kondisi fisik mu yang lemah, siapa yang mau menikah sama kamu?! Aku pun tidak ingin, tapi, demi Antonio, aku rela!”


”Tidak! Aku tidak akan menyerah Geo! Aku pasti akan meluluhkan hatimu lagi! Aku tahu kamu masih mencintaiku! Aku akan menunggu mu di apartemen kita!” Dawiyah terus bergumam.


Ia menyalakan mobilnya, melihat kembali perusahaan Geo lalu, ia meninggalkan perusahaan itu.


Di pasar.


”Aku turun di sini saja!” ucap Syakila.


”Tapi, Nyonya, tuan memintaku mengantar nyonya sampai ke rumah Anton.” sahut sang supir, masih menjalankan mobil dengan kecepatan ringan.


”Sudah, hentikan mobilnya, ada sesuatu yang ingin ku beli di toko itu. Jika Geo bertanya padamu, katakan saja kamu sudah mengantar aku ke rumah paman Anton.” ucap Syakila.


”Tapi..”


”Ingin hentikan mobilnya, atau aku lompat dari sini!” ancam Syakila, ia telah membuka pintu mobil belakang.


”Jangan Nyonya!” cegah sang supir, ia menepikan mobil di pinggir jalan.


Syakila segera turun dari mobil, melenggang pergi begitu saja. Sang supir menggelengkan kepalanya. Ia kembali menjalankan mobil kembali ke perusahaan.


Syakila pergi ke rumah almarhum ayahnya, yang di tinggali oleh Denis dan istrinya.


”Assalamu 'alaikum,” ucapnya sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka itu.


”Wa 'alaikum salam, masuk, sayang!” sahut Samnia, istri Denis.


Syakila masuk ke dalam rumah. Matanya memicing melihat dua wanita yang memakai cadar. Satu di antaranya sedang menggendong seorang anak wanita. ”Apakah ini tante Ima dan tante Mulfa?” tanyanya, sembari duduk di samping Denis.


”Iya, Syakila. Ini tante Ima. Bagaimana kabar mu? Bagaimana kabar nya mama mu? Apakah baik?” jawab Halima.

__ADS_1


”Kabar Syakila dan mama baik tante. Itu anaknya Tante? Imut sekali, namanya siapa Tante? Oh, iya, di mana om Hamid, Tante?” sahut Syakila.


”Masa kamu gak mengenal om Hamid, Syakila! Om yang duduk, yang berkacamata, di samping Om Denis adalah Om Hamid.” ucap Samnia.


Syakila melihat pria yang di samping Denis, keningnya berkerut, ”Ini...bukannya Om yang menjual pakaian itu bukan?” tanyanya, penasaran.


Hamid tersenyum, ”Ingatan mu ternyata kuat, Syakila. Iya, ini Om, yang menjual pakaian itu.” jawabnya.


”Kenapa Om gak menegur Syakila saat itu? Berarti anak manis itu adalah Syakila, anaknya Om?” tanya Syakila lagi.


”Om minta maaf, Om belum mengenal mu saat itu. Om baru tahu kamu sekarang. Iya, itu adalah anak Om dengan Tante Ima, namanya Syakila.” jawab Hamid.


Syakila berdiri, ia mendekati Halima, ”Hai, Syakila, mau Bibi gendong?” tanyanya pada anak kecil berusia lima tahun itu.


”Syakila tidak mau, tidak kenal Bibi.” jawab Syakila kecil. Membuat mereka semua tertawa.


”Syakila, kamu sudah kembali mengajar?” tanya Denis.


Syakila menoleh, ia berjalan kembali ke tempat duduknya, ” Iya, Om. Baru tadi Syakila kembali mengajar. Kenapa Om?” tanyanya.


”Tidak apa-apa. Om cuma tanya saja.” jawab Denis.


”Em, Denis. Aku dan istriku pamit pulang dulu. Terima kasih, atas undangan makan siangnya.” ucap Hamid.


”Iya, lain kali, jalan-jalan lagi ke sini ya Hamid. Anakku senang bermain dengan anakmu.” sahut Denis.


”Sesekali, kamu jalan-jalan lah ke rumah ku Denis, masa aku terus yang berkunjung ke rumah mu.”


”Oh, iya, baiklah. Kapan-kapan kami yang akan berkunjung ke rumah mu.” sahut Denis.


”Baiklah, kami permisi dulu. Assalamu 'alaikum.” pamit Hamid. Ia dan sang istri juga adik iparnya beranjak berdiri dan berjalan keluar rumah.


”Wa 'alaikum salam wr.wb. Hati-hati di jalan.” sahut Samnia, Denis, dan Syakila bersamaan.


”Iya, terima kasih.” sahut Hamid. Kini mereka pergi dari kediaman Denis.


”Syakila, kamu sudah makan siang Nak?” tanya Samnia.


”Sudah Bibi. Si kembar mana Bi?”


”Si kembar lagi istirahat, mereka capek bermain dengan Syakila kecil.” jawab Denis. Ia duduk kembali di tempatnya.


”Om, sebenarnya ada yang ingin Syakila tanyakan sama Om.” ucap Syakila, dengan serius.


”Apa yang ingin kamu tanyakan? Siapa tahu saja Om bisa jawab. Tapi, kalau Om gak bisa jawab, kamu gak boleh merasa kecewa. Ok?”


”Baik, Om.” jawab Syakila.


Denis dan Samnia serius memandang wajah Syakila.


”Om, aku pernah mendengar isu bahwa almarhum papa selingkuh dengan tante Halima dan juga papa pernah menjebak tante Mulfa di penjara. Apakah betul itu Om?” tanya Syakila.


Denis melirik Samnia. Samnia membisu. ”Dan kamu apakah kamu percaya jika papa mu akan berbuat itu?” tanyanya.


Syakila menggeleng.


”Sebenarnya Om juga kurang tahu hal itu. Tapi, selama almarhum papa mu di sini, beliau selalu menjaga dirinya dari wanita manapun. Papamu tidak pernah menyelingkuhi mama mu. Papamu adalah orang yang setia. Kalau untuk Mulfa. Om juga kurang tahu hal itu, hanya saja dulu Kevin pernah mendatangi Om untuk memberitahu papamu untuk membebaskan Mulfa dari penjara. Tapi, untuk menjebak Om kurang tahu. Almarhum papamu cuma bilang kalau Mulfa memang mencuri kalung yang papamu belikan untuk mamamu.” ucap Denis, mengungkapkan.


”Mengapa kamu menanyakan ini?” tanyanya, kemudian.


”Syakila hanya ingin mencari tahu, apa penyebab kematian ayah dulu. Siapa itu Kevin, Om?” tanya Syakila lagi.


”Kevin adalah mantan pacar dari Halima. Kevin lah yang berseteru dengan almarhum papamu dulu.” jawab Denis.


”Syakila, Om pesankan sama kamu untuk tidak mengungkit masalah yang sudah berlalu selama bertahun-tahun. Jangan menyelidiki ini lagi. Ok?”


”Syakila tidak janji Om.” jawab Syakila. ”Om, Syakila ingin tidur di kamarnya almarhum papa, bolehkah?”


”Kenapa tidak boleh! Kuncinya ada tergantung di paku, di samping pintu kamar. Kamarnya orang tuamu tidak pernah di buka setelah mamamu meninggalkan rumah ini.” ungkap Denis.


”Baiklah, Om, kalau begitu, Syakila istirahat dulu.”

__ADS_1


”Iya,” sahut Denis.


Syakila beranjak berdiri, ia berjalan ke kamar orang tuanya. Ia melihat ada kunci yang menggantung di situ, sesuai dengan perkataan Denis. Ia mengambil kunci itu dan membuka pintu kamar.


__ADS_2