Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 151


__ADS_3

Di dalam klinik, kediaman Rivaldi.


”Mengapa air matamu terus mengalir? Tidak sedia ku cium? Hum?” tanya Geo, tangannya menghapus air mata di pipi Syakila.


Syakila menggeleng.


”Untuk sementara kamu tidak saya izinkan menggunakan handphone.” ucapnya lagi.


Syakila mendongak, melihat Geo.


”Kenapa? Tidak terima?” tanya Geo.


Pria ini masih terlihat emosi jika aku mengatakan yang jujur, apakah tambah memancing emosinya? benak Syakila.


Syakila kembali menggeleng, sambil menunduk, matanya melirik hape dan kartunya yang sudah hancur dan terbelah.


Hapeku, kartuku, bagaimana jika Sardin menghubungi ku? Besok aku tidak bisa bertemu dengannya untuk memberitahu ini padanya. benaknya.


Ia menghela nafas.


”Mengapa menghela nafas?” tanya Geo.


”Tidak apa-apa. Aku...aku bersihkan lantainya dulu.” jawab Syakila sambil berdiri dari pangkuan Geo.


”Tidak perlu!” sahut Geo. ”Ijan!” panggilnya.


Ijan segera masuk ke dalam ruangan, ”Saya, Tuan.” sahutnya.


”Bersihkan lantainya!” titahnya. Ia menarik tangan Syakila, hingga wanita itu kembali terduduk di pangkuannya.


Ijan membersihkan pecahan mangkok juga hape dan kartu yang berceceran di lantai.


Tuan ada-ada saja. Mengapa harus memecahkan mangkoknya tuan Rivaldi, langsung saja hancurkan hape dan kartunya nyonya Syakila. Agar nyonya tidak akan berbelit memberikan alasan yang bohong. benaknya.


”Sudah, Tuan. Saya pamit keluar!” ucapnya.


”Belikan Syakila satu stel pakaian! Ijan, berikan sedikit pelajaran untuk hama tikus!!” ucap Geo, ia melirik Syakila.


Syakila terkejut, matanya terbelalak. Ia mendongak melihat Ijan, kemudian melihat Geo.


Apakah hama tikus yang di maksud adalah Sardin? benaknya.


”Ge.. Geo. Aku mohon, jangan sakiti Sardin! Dia tidak bersalah, akulah yang memaksa dia untuk memeluk dan mencium ku.” ucapnya, melindungi Sardin.


”Kamu melindungi dia?”


Syakila terdiam, ia tidak tahu ingin mengangguk atau menggeleng, kedua hal itu tidak ada bedanya untuk Geo. Ia menunduk, berfikir sesuatu.


”Geo, bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi ku? Aku tidak pernah melarang mu untuk mencintai, ataupun bertemu dengan wanita yang kamu cintai. Aku juga tidak pernah menyakiti wanita yang kamu sayangi. Ku mohon, jangan sakiti Sardin. Kamu sangat tahu berartinya dia bagiku.” ucapnya menjelaskan.


Nyonya, jika saja tuan tidak mencintai mu, dia akan membiarkan kamu memacari siapapun. Tetapi sekarang, kamu tidak bisa berbuat apa-apa, nyonya. Tuan, tidak akan membiarkan seorang lelaki pun berdekatan dengan mu selain, saudara mu dan saudaranya tuan sendiri. Tuan juga tidak akan mempedulikan wanita di luar sana yang tergila-gila padanya. Jadi, jika nyonya menyayangi Sardin, maka jangan bermohon pada tuan untuk melindungi pria itu. benak Ijan.


”Sayang sekali, tidak masuk dalam perhitungan ku!” sahut Geo, berbisik di telinga Syakila. ”Ijan, keluarlah! Kerjakan apa yang ku perintahkan!!” titahnya.


”Baik, Tuan!” sahut Ijan. Ia keluar dari dalam ruangan.


Syakila menggeleng, ia berdiri, ia mengejar Ijan. Geo menahan tangannya, Syakila melepas paksa tangannya dari genggaman Geo. Ia berlari cepat.


”Jika kamu melangkah selangkah lagi! Jangan salahkan aku tidak berbelas kasih, jika kamu masih ingin mendengar ”dia” sehat, maka keluarlah dari ruangan ini!” ucap Geo, mengancam.


Syakila menarik kembali tangannya yang sudah memegang handle pintu. Ia berdiri mematung.


Sardin.... jangan terjadi apa-apa dengan mu... Lelaki brengsek ini mengancam ku dengan Sardin. benaknya.


”Aku..aku ingin pulang! Aku pergi!” ucapnya. Ia kembali memegang handle pintu.


”Siapa yang mengizinkan mu untuk pergi?!” tanya Geo dengan ketus. ”Kembali!!” ucapnya lagi.


Ijan...berani kamu menyentuh Sardin...aku akan memberimu pelajaran yang setimpal!! benak Syakila. Tangannya terkepal erat, Geo menyadari itu.


”Apa kamu tidak dengar? Kembali!!” ucap Geo lagi.


Syakila menurut, ia berjalan kembali menghampiri Geo.


”Pergi mandi!!” titahnya.


”M..mandi? Di sini?” tanya Syakila terkejut.


”Iya, pergilah mandi! Kamar mandinya di sana, perlengkapan mandi lengkap. Jangan ragu, itu perlengkapan mandi ku sendiri bukan milik Rivaldi. Mandi yang bersih! Aku tidak ingin mencium aroma tubuh ataupun parfum orang lain di tubuh mu!!” ucap Geo, menerangkan.


Brengsek!! Apa laki-laki ini sedang cemburu? benaknya.


Ia berjalan ke arah kamar mandi. Ia pergi mandi.


”Brengsek!! Apa aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Sardin? Mengapa dia begitu mencintai Sardin? Apakah Sardin yang lebih layak menjadi pendampingnya di bandingkan aku?” gumam Geo dengan pelan.


Ceklek! Suara pintu terbuka. Geo melihat ke arah pintu.


”Tuan, ini pakaian untuk nyonya.” ucap Ijan.


”Letakkan saja di situ! Ijan, abaikan saja Sardin. Aku tidak ingin wanita ku berpikiran aku orang terlalu kejam karena cemburu.” ucap Geo.


Ijan terdiam, ia terkejut dalam hatinya. Apakah ini tuan ku Geo? Baru sekarang dia membebaskan orang begitu saja, tanpa menyentuhnya sedikit. Tuan memang benar-benar telah mencintai nyonya Syakila. Berbeda sekali sikapnya terhadap Dawiyah dan Yulia dulu. Ini...tuan ku...sedikit berhati lembut. Apakah ini baik untuk tuan ku? Atau kah ini semacam triknya untuk mendapatkan hati nyonya Syakila? benaknya.

__ADS_1


”Baik, Tuan.” sahutnya kemudian.


Geo menaikkan tangannya ke atas, menyuruh Ijan segera pergi dari ruangan itu. Ijan mengerti, ia mengangguk dan pergi.


Syakila baru selesai mandi, handuk melilit di badannya yang putih mulus itu. Titik titik air masih membasahi sebagian kulitnya.


Geo menelan saliva nya dengan kasar, miliknya kembali bergairah.


Sial! Baru melihatnya saja begini sudah membangkitkan gairah ku! benaknya.


”Itu pakaian untuk mu, cepatlah berganti!” ucapnya sambil memalingkan wajahnya.


Syakila melirik Geo dengan ketus. Laki-laki brengsek!! benaknya.


Ia mengambil pakaian yang di beli oleh Ijan, ia kembali ke kamar mandi untuk berpakaian. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi. Ia tampak cantik dengan pakaian yang di kenakan nya sekarang.


”Aku sudah selesai, boleh aku pulang sekarang?” tanyanya lembut.


”Tidak! Pergilah masak, aku lapar! Setelah makan malam, baru kamu boleh pulang.” jawab Geo, masih terdengar ketus.


”Baik.”


Syakila pergi keluar. Ia melangkah menuju rumah Rivaldi. Ia berpapasan dengan Rivaldi yang hendak keluar rumah.


”Syakila, kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya khawatir. Ia melihat Syakila dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Ia tidak melihat ada bekas luka atau memar di sana.


”Aku tidak apa-apa, Al. Jangan khawatir, Geo seperti itulah jika penyakit alergi dan traumanya kambuh.” sahut Syakila, menjelaskan.


”Jadi, kamu tahu tentang trauma dan alerginya?” tanya Rivaldi, tidak percaya.


Syakila mengangguk, ”Iya.” jawabnya.


”Kamu tahu, apa keluargamu juga tahu?”


Syakila kembali mengangguk.


”Jika tahu begitu, mengapa kamu dan keluarga mu menyetujui menikah dengannya? Apa sudah tidak ada laki-laki lain di dunia ini, Syakila?” ucap Rivaldi, sedikit ketus.


”Maaf, Al. Ini masalah pribadi ku, aku tidak bisa membahasnya dengan mu.”


”Apa dia alasan kamu putus dari Sardin?” tanya Rivaldi lagi, mengabaikan ucapan Syakila.


”Maaf, Al. Di mana letak dapur mu? Aku ingin memasak buat Geo.” ucap Syakila.


Rivaldi menghela nafas, ia tahu Syakila mengalihkan pembicaraan. Ia mengalah.


”Masuk saja, kamu belok kiri.” ucapnya, menerangkan.


Syakila membuka pintu, ia melangkah masuk. Ia pergi ke dapur. Di sana, ia melihat bibi art Rivaldi ingin memasak.


”Eh, iya, Non.” jawab sang bibi, sembari tersenyum.


”Maaf, Bi, Syakila akan merepotkan Bibi, Syakila bisa meminjam dapurnya Bibi? Syakila ingin memasak.” ucap Syakila lagi.


”Oh, mari, Non. Silahkan!” sahut sang bibi, sembari mundur ke belakang.


”Terima kasih, Bi.” ucap Syakila.


Syakila mulai memilah bahan untuk di masaknya. Ia tidak enak juga hanya untuk memasakkan Geo seorang. Akhirnya ia berniat memasak untuk mereka semua. Ia tidak ragu meminta bantuan sang Bibi untuk mempercepat proses masak.


.. ..


Di rumah sakit, tempat Antonio di rawat.


”Apakah Geo sudah meninggalkan kota ini?” tanya Antonio.


”Belum, Tuan.” jawab Seva.


”Apa kalian sudah menemukan di mana keberadaan dia sekarang?”


”Belum, Tuan?”


”Rumah Syakila?” tanya Antonio lagi.


”Belum, Tuan. Akses tentang mereka berdua sepertinya sengaja di tutup rapat-rapat, Tuan. Kita tidak bisa mencari informasi tentang mereka.” jawab Seva, menjelaskan.


”Kita harus habisi Geo di kota ini! Ini adalah kesempatan kita. Geo dalam kondisi fisik yang buruk. Kita harus menghabisi dia saat dia sedang sendirian.” ucap Antonio, matanya terpancar dendam yang begitu membara.


”Apa kalian sudah mengatur orang untuk mengawasi setiap bandara dan pelabuhan, di seluruh kota ini?” tanyanya.


”Sudah, Tuan. Untuk itulah, kami tahu, jika Geo masih berada di kota ini.” jawab Seva.


”Di mana Vian? Apa dia tahu tentang kondisi ku?”


”Tuan Vian sudah tahu kondisi, Tuan. Ia sedang mencari keberadaan Geo untuk membalas dendam mu.”


”Apakah ada orang ku yang mengikuti Vian?”


”Ada, Tuan.”


”Bagus! Bagaimana keadaan mu, juga yang lain?”


”Semua baik-baik saja, Tuan.”

__ADS_1


”Hum, pergilah! Aku ingin sendiri. Urus semua biaya administrasi, besok kita keluar dari sini.”


”Baik, Tuan.” sahut Seva. Ia meninggalkan ruangan Antonio.


Antonio duduk bersandar di sandaran ranjang, ia melihat langit-langit ruangannya.


Syakila, mungkin aku berhalusinasi mendengar suara mu di sini. Al hasil, aku mencari mu di setiap sudut dan kamar di rumah sakit ini, aku tidak menemukanmu. benaknya.


Ia sempat mengira Geo di rawat di rumah sakit yang sama dengannya, saat samar-samar ia mendengar suara Syakila dari luar ruangannya.


Ia keluar dari ruangan dan mencari sosok suara merdu tersebut. Namun, ia tidak menemukan Syakila.


”Mungkinkah karena aku merindukan mu, aku berhalusinasi mendengar suara mu di sini, Syakila?” gumamnya pelan.


.. ..


Di depan pagar kediaman Rivaldi.


”Apa kamu sudah pastikan jumlah orang di dalam sana?” tanya Vian pada salah satu anak buahnya.


”Iya, Tuan. Mereka tidak banyak, di dalam sana pemilik rumah hanya bertiga saja, Tuan. Tuan Rivaldi dan seorang bibi art juga satu anak buahnya, yang membantunya mengobati pasien. Sementara Geo, dia hanya bersama Ijan dan Nona Syakila. Mereka semua pria berjumlah empat orang.” jawab anak buahnya, menerangkan.


”Bagus!! Tunggu setelah Syakila keluar dari rumah itu, baru kita sergap rumah ini. Target kita hanya Geo dan Ijan. Mengerti!!”


”Mengerti, Tuan. Tapi, bagaimana jika pemilik rumah dan anak buahnya menolong Ijan dan Geo, juga menyerang kita,Tuan?”


”Berikan mereka sedikit teguran! Jangan sampai mati! Tujuan kita hanyalah Geo! Jika sudah mendapatkan Geo, bawa dia keluar hidup atau mati dari rumah ini.” ucap Vian, pandangannya penuh dengan kebencian.


”Baik, Tuan.”


Vian kembali masuk ke dalam mobilnya. Sang anak buah tetap berada di tempatnya, memantau rumah Rivaldi.


Geo, ayah mu menyusahkan adikku, ibumu membunuh adik ipar ku, dan kamu ingin membunuh anak kemenakan ku? Kalian sekeluarga niat sekali ingin menghabisi keturunan kami. Tidak akan ku biarkan!! Setelah aku menghabisi mu, aku tinggal mencari keberadaan anak dan istri Halim yang sudah memenjarakan adik dan ibuku dan membunuh mereka berdua. Satu keluarga itu akan ku habisi!! benak Vian.


Vian telah mengatur orangnya dalam beberapa posisi, untuk mengelilingi rumah Rivaldi yang tidak terlalu besar itu. Malam ini misinya untuk membunuh Geo harus tuntas.


.. ..


Di dalam rumah Rivaldi.


”Makan malam, malam ini terlihat sangat nikmat!” puji Rivaldi. Ia menyendok makanan. Mencicipi sedikit makanan tersebut.


”Rasanya pas! Sangat nikmat dan enak. Aku baru tahu kamu pintar masak Syakila. Sungguh istri idaman.” ucap Rivaldi lagi, sambil tersenyum melihat Syakila.


”Diam! Makanan saja makanan mu!” ucap Geo. Ia tidak bisa mendengar pria lain memuji Syakila.


Rivaldi terdiam, ia memakan makanannya. Begitu juga dengan Syakila, sang Bibi, Ijan, dan anak buah Rivaldi. Mereka semua makan dengan diam.


Beberapa menit berlalu, mereka telah selesai makan. Geo dan Rivaldi kembali ke klinik. Syakila membantu sang bibi membereskan meja makan dan dapur. Sedangkan Ijan dan anak Buha Rivaldi duduk bersantai di lantai dua rumah Rivaldi.


”Apa kamu merasakan ada hal yang aneh, Ijan?” tanya anak buah Rivaldi.


”Kamu juga merasakannya?” jawab Ijan dengan pertanyaan.


”Iya,”


”Kita waspada saja!” sahut Ijan, ia berdiri.


”Kamu mau kemana?” tanya anak buah Rivaldi.


”Kamu tetaplah di sini. Aku pergi menemui tuan ku sebentar.” jawab Ijan, ia melangkah pergi, menemui Geo di klinik Rivaldi.


Ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia sampai pada klinik Rivaldi, ia membuka pintu klinik. Ia melihat Geo yang memperhatikan ponselnya dan Rivaldi yang serius melihat laptopnya.


Ia melangkah masuk menghampiri Geo, ia menunduk, mendekatkan bibirnya pada telinga Geo. ”Di luar sana, sepertinya ada seseorang yang mengintai rumah ini. Saya curiga ini adalah sekelompok orangnya Vian, pamannya Antonio.” bisiknya pelan.


”Hum, panggil Syakila ke sini.” ucap Geo.


Rivaldi memicing melihat Geo dan Ijan, Apa yang mereka bicarakan? Mengapa Geo meminta Syakila ke sini, apakah Syakila membuat kesalahan lagi? benaknya.


Ia melihat Ijan yang keluar dari kliniknya. ”Geo, ada apa dengan Syakila?” tanyanya, penasaran.


”Tidak apa-apa. Rumah mu bakalan kedatangan tamu malam ini, tapi, aku belum siap untuk menjamu mereka saat datang.” jawab Geo.


Kening Rivaldi mengerut, ”Apa maksud mu? Kedatangan tamu? Kamu belum siap menjamu? Hei, ini rumah ku!” ucapnya, ia mengerti sesuatu, ”Oh, jadi, di luar sana mereka sudah bersiap diri? Mengapa aku harus menampung orang seperti mu, yang mempunyai banyak musuh? Aku tidak ingin rumah ku dan klinik ku hancur berantakan.” lanjutnya berucap.


”Kamu tenang saja, selama Syakila ada di rumah mu, mereka tidak berani berbuat apa-apa.” sahut Geo.


Pintu klinik terbuka, Rivaldi dan Geo melihat ke arah pintu. Syakila masuk bersama Ijan.


”Geo, ini sudah jam sembilan malam, apa aku boleh pulang sekarang?” tanya Syakila.


”Kamu tidurlah di sini malam ini.” ucap Geo.


”Apa?! Geo, aku....”


”Tidurlah di kamar ku. Beritahu bibi untuk mengantar mu ke kamar ku.” ucap Rivaldi memangkas ucapan Syakila.


”Hum, malam temani aku bermalam di rumahnya guru mu. Pergilah istirahat!” sambung Geo.


”Tapi...”


”Tidak ada kata ”Tapi” Syakila!!” ucap Rivaldi dan Geo bersamaan. ”Pergilah istirahat! Tidurlah di kamarnya guru mu!” lanjut Geo berucap.

__ADS_1


Syakila menurut dengan terpaksa, ia melangkah keluar dari ruangan Rivaldi. Ia membanting sedikit kasar saat menutup pintunya.


__ADS_2