Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 46


__ADS_3

Mulfa masuk ke dalam tahanan. Ia menangis di dalam sel. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana bisa barangnya kak Halim berada dalam tasnya.


Bagaimana bisa barangnya kak Halim berada di tasku. Kak Halim mengajak ku bicara saat aku berbelanja. Apakah kak Halim sengaja menjebak ku? Aku tidak mencuri.


batin Mulfa.


”Lepasin aku, aku bukan pencuri! Lepaskan aku! Kak Halim. Kakak menjebak ku kan?”


Fahroni dan Halim mendengar teriakan Mulfa di balik jeruji saat mereka berbalik untuk meninggalkan ruangan sel.


”Diam lah! Bersabarlah sedikit!” sahut Halim.


”Kenapa kak? Kenapa kak Halim melakukan ini pada Mulfa. Aku akan melaporkan kakak pada kak Halima. Kak Halima tidak akan memaafkan kakak!” teriak Mulfa lagi.


Halim mengacuhkan ucapan Mulfa. Ia mengajak Roni untuk meninggalkan sel tahanan. Mereka kembali pada meja kerja Fahroni.


”Terima kasih Ron. Kamu sudah membantu ku.”


”Sama-sama, Halim.” sahut Roni. ”Oh ya Halim, kamu harus berhati-hati sekarang. Kamu lihat sendiri kan, bagaimana mereka memandang mu tadi? Jadi berhati-hatilah! Mereka tidak menyerang ke polisian. Tapi, mereka akan mencari mu untuk membuat perhitungan dengan mu. Ini bukan pertama kalinya wanita yang di tampung mereka tertangkap oleh pihak polisi. Mereka akan berusaha untuk mendapatkan kembali wanita yang sudah mereka tampung.” jelas Roni.


”Apa kamu tahu tentang mereka? Mengapa mereka menampung gadis-gadis muda disana?” tanya Halim penasaran.


”Kabar tentang mereka sudah tersebar luas di kota ini. Tapi untuk menangkap mereka tanpa barang bukti tidak bisa. Untuk mencari barang bukti tentang perbuatan mereka sangat sulit di dapat. Bahkan gadis-gadis yang mereka tampung atau para orang tua dari gadis-gadis tersebut enggan untuk membuka suara untuk bersaksi. Mereka sangat teliti sekali, mereka maju satu langkah dari langkah kami.” jelas Roni lagi.


”Oh ternyata begitu.” Halim mengangguk angguk kepala. ”Baiklah Ron, untuk sementara biarkan Mulfa di dalam tahanan. Aku kembali dulu ke toko. Dan sebentar malam aku akan kembali kesini untuk menjalankan rencana selanjutnya.”


”Ok,” sahut singkat Roni. ”Aku senang bisa bekerja sama dengan mu, Halim. Jika Kevin dan mamanya bisa kami tangkap, dengan bukti yang lengkap dan juga kesaksian dari para saksi merupakan suatu kebanggaan bagi kami pihak kepolisian, karena mereka sudah lama menjadi incaran polisi.”


”Kamu terlalu memuji ku, Ron. Aku tidak tahu jika mereka adalah incaran polisi. Aku hanya berniat mengajak mu membantuku mengeluarkan Halima dan Mulfa dari genggaman mereka saja” ucap Halim. ”Baiklah, aku pulang dulu, Ron” pamit Halim lagi. Roni mengangguk.


Dengan menggunakan taksi Halim kembali ke toko. Ia disambut dengan wajah masam oleh Denis di tokonya. Halim menghampiri Denis.


”Denis, ada apa dengan wajah mu?”


Denis tidak menjawab. Ia menatap Halim. Denis berbicara pada Halim lewat lirikan mata. Ia melirik pria yang duduk di bersandar di rak barang. Halim yang tanggap ia mengerti.


Halim mengikuti arah lirikan Denis. Halim memicingkan mata melihat pria itu. Rambut yang di pirang merah, terdapat dua tindikan pada telinga kiri, memakai kacamata hitam, baju berwarna merah yang di lapisi dengan jaket kulit berwarna hitam, celana hitam yang robek pada kedua lututnya, sedang duduk bersandar di rak barang dengan memangku kaki sebelah sambil merokok.


”Maaf, siapa Anda?” tanya Halim sopan.


Pria itu berdiri dan berjalan pelan menghampiri Halim. Ia menghisap rokoknya lalu membuang asap rokok yang menggumpal di mulutnya ke wajah Halim.


Halim segera memalingkan wajahnya dan menahan nafas, lalu ia mengibas ngibaskan tangannya di depan wajahnya mengusir gumpalan asap rokok.


”Tidak perlu kamu tahu siapa aku. Aku memberikan kamu waktu selama satu jam untuk mengembalikan Mulfa padaku!” ucap pria itu.

__ADS_1


Halim menatap pria itu. ”Dia harus menjalani hukumannya, dia telah mencuri barang milikku.” sahut Halim tanpa rasa takut.


”Aku tidak ingin berlama-lama disini. Aku menunggu mu satu jam kedepan di depan gang Eagle, bawa Mulfa padaku!” ucap pria itu.


Pria itu melangkah keluar dari toko.


”Jika kamu berani, dan merasa mampu, keluarkan dia dari penjara dengan caramu.” sahut Halim.


Ucapan Halim menghentikan langkah pria itu. Ia berbalik menatap Halim.


”Aku tidak ada urusan dengan polisi, urusanku sama kamu. Kamu yang memenjarakan dia, kamu juga yang harus membebaskan dia.” ucap pria itu.


”Jika dalam satu jam ke depan kamu tidak membawa Mulfa padaku, bersiaplah untuk menerima sangsinya.” ucap pria itu lagi.


”Kamu mengancam ku? Kamu pikir aku takut padamu? Maaf sedikitpun aku tidak takut sama kamu!” sahut Halim.


”Kita lihat saja nanti! Kamu akan takut atau tidak?” ucap pria itu sebelum pergi meninggalkan toko Halim.


Ternyata Roni benar, mereka akan mencari ku. Mereka tidak ingin berurusan dengan polisi tapi mereka berurusan dengan si pelapor.


batin Halim.


Halim mengambil bangku yang di duduki pria tadi dan menaruhnya kembali di tempatnya. Di depan meja kasir.


”Apa sudah lama pria itu datang kesini?” Halim bertanya pada Denis.


”Tidak, kamu kenal dia?” jawab Halim


”Dia kaki tangan bos ketua gang Eagle, Bang. Kenapa Abang mencari-cari masalah dengan mereka? Siapa Mulfa itu, Bang?” ucap Denis.


”Abang tidak mencari masalah sama mereka, tapi Mulfa, dia mencuri barang ku. Dia mencuri kalung Emas yang baru ku beli.” jelas Halim berbohong.


”Kalung yang Abang siapkan untuk kakak ipar? Kok bisa dia culik? Emang, Abang simpan di mana emasnya?” tanya Denis penasaran.


”Abang menyimpannya di atas meja, saat ia datang berbelanja.” jawab Halim. ”Apa pria tadi bertanya sesuatu padamu tentangku?”


”Hum, dia bertanya siapa Abang, siapa istri Abang, anak Abang, siapa keluarga Abang, siapa teman dekat Abang, sia_”


”Lalu, kamu jawab apa sama dia? Abang harap kamu tidak menceritakan tentang Abang padanya.” ucap Halim menyela ucapan Denis.


”Abang tenang saja! Semua aman, Denis jawab nama Abang Halim, Abang masih sendiri, Abang disini pendatang baru, belum mempunyai teman, dan maaf Bang, Denis mengaku Abang hanya karyawan disini sama dengan Denis hanya karyawan biasa.” jelas Denis.


”Huff, syukurlah kamu jawab seperti itu. Ternyata kamu dapat di andalkan disaat hal mendesak seperti ini.” puji Halim.


Baguslah, terima kasih Denis, dengan jawaban mu itu tidak menyulitkan istri dan anak-anak ku ke depannya. Mereka juga tidak akan mengusik kalian nantinya. Biar lah ini aku tanggung sendiri.

__ADS_1


batin Halim.


”Terima kasih pujiannya, Bang. Abang tidak akan keluar lagi kan?” tanya Denis.


Halim melihat jam di dinding pukul 17 : 00.


”Denis, bantu Abang menyimpan toko yah. Abang mau ke rumah, mau mengemas barang bawaan Abang untuk pulang ke kampung.” ucap Halim.


”Yah, Abang! Padahal Denis udah mau kembali ke toko Abang Anton. Abang bisa tutup sendiri kan tokonya? Kapal juga masuknya jam dua belas malam, Bang. Abang masih punya banyak waktu.” sahut Denis.


”Abang tidak terima tawar menawar, Denis! Abang serahkan toko Abang ke kamu dari sekarang sampai Abang kembali lagi nanti dari kampung kesini, ok.” ucap Halim sambil menepuk pelan bahu Denis.


Denis mengangguk pasrah. Halim pun pergi ke rumahnya yang ada di lantai atas tokonya.


Abang Halim menyembunyikan sesuatu, aku yakin itu.


batin Denis.


Halim mengemas pakaian dan keperluan lainnya untuk ia pulang ke kampung sebentar malam. Setelah selesai mengemas, ia pergi mandi dan berganti baju. Ia segera keluar dari rumah dengan membawa koper uang dan sebuah map yang Mulfa berikan padanya. Ia pergi ke kantor polisi menemui Fahroni.


Dengan menggunakan taksi, Halim pergi ke kantor polisi. Kini ia telah tiba di kantor polisi. Ia masuk dan langsung pergi menemui Fahroni di meja kerjanya. Halim menyimpan koper uang dan map di atas meja Fahroni. Roni menatap kedua barang itu dan melihat Halim yang sedang duduk bersandar sembari memejamkan mata.


”Apa itu Halim?”


Halim membuka mata melihat Roni. Halim menyentuh koper uang. ”Ini uang Ron, isinya satu milyar. Untuk menjebak mamanya Kevin sebentar.” Lalu Halim memegang map hijau di sebelah koper uang. ”Dan ini adalah kertas kontrak pekerjaan antara Halima dan Kevin. Disitu tertulis pekerjaan yang berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan Halima sekarang.” jelas Halim.


Fahroni mengambil map itu dari tangan Halim. Ia membuka dan membaca isi dari lembaran kertas itu.


”Ini bisa menjadi barang bukti penipuan yang dilakukan Kevin pada Halima. Sekaligus bukti jika Kevin dan mamanya terlibat porstitusi. Karena disini ada tanda tangan mereka berdua. Yang mempekerjakan Halima.” ucap Fahroni. ”Map ini biar aku yang memegangnya”


”Hum, makanya aku membawa ini bersamaku, aku memang ingin memberikan itu padamu. Ron, apa kamu tidak berencana untuk menutup Club yang mereka dirikan?”


”Tidak semudah itu, Halim. Pembangunan Club tersebut terdapat izin resmi juga dari pihak kepolisian. Untuk menutup Club mungkin tidak bisa, tapi untuk menghentikan pekerjaan yang mereka lakukan itu bisa. Aku berencana untuk menyergap para pekerja dan para lelaki hidung belang dan juga staf atau siapapun yang terlibat dengan itu. Setelah kamu membawa Halima dari tempat itu.” jelas Roni.


”Apa kamu akan memenjarakan para wanita penghibur itu?" tanya Halim serius.


”Mereka adalah para korban, mereka akan saya tahan sementara waktu bersama dengan Halima untuk menjadikan mereka saksi. Setelah kasus ini selesai dan Kevin bersama mamanya resmi menjadi tahanan polisi, baru aku akan melepaskan Halima dan yang lainnya.” jelas Roni.


”Baiklah, mana baikmu saja, Ron. Sekarang mending kita ke lokasi. Kita harus datang lebih awal di tempat itu untuk mengatur semuanya.” ucap Halim.


”Ok.” sahut Roni. ”Apa kamu sudah tahu seluk beluk tempat itu, Halim?”


”Iya, Halima sudah menjelaskan tentang tempat itu padaku.” sahut Halim. ”Ayo kita pergi, sebelum jam kita harus selesai memasang perangkap. Karena Halima dan Kevin berjanji akan bertemu jam delapan malam disana.”


”Ok,” ucap Fahroni.

__ADS_1


Halim bersama Roni dan rekannya pergi lebih awal ke Club. Halim dan Roni menempatkan beberapa orang di lorong gelap itu untuk merekam pembicaraan Halima dan Kevin. Fahroni sendiri berada di dalam ruangan Club bersama Halim.


Fahroni dan rekan-rekannya memakai baju biasa agar tidak ada yang curiga jika mereka adalah polisi. Sesuai rencana yang di rancang Fahroni. Ia menempatkan para rekannya di antara para karyawan Kevin dan mamanya, tanpa kecurigaan sedikitpun.


__ADS_2