Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 100 MULAI BERMIMPI


__ADS_3

Aku dan mas Angga sampai di kantor agak pagian. Karena aku memang janji pada pak Tedi untuk menyerahkan berkas yang dimintanya pagi ini.


Baru ada Bayu yang datang. Dia yang memang diserahi tugas membuka showroom dan membersihkannya, selalu konsisten dengan tugasnya.


"Selamat pagi pak Angga. Selamat pagi bu Widhi" sapa Bayu dengan hormat.


"Pagi juga, Bayu" ucapku dan mas Angga berbarengan. Lalu aku menuju ke ruanganku. Mas Angga malah mengikuti aku.


"Kok ke sini?" tanyaku.


"Memang gak boleh?" Mas Angga langsung duduk di sofa.


"Ya bolehlah. Siapa yang bisa melarang bos?" sahutku, lalu aku menuju ke kursiku.


Aku langsung mengambil berkas yang nanti akan aku serahkan pada pak Tedi. Lalu mengerjakannya.


"Tumben rajin, kamu?" tanya mas Angga menyebalkan.


"Tuh kan. Aku rajin malah diledekin" sahutku sambil memonyongkan bibirku sendiri.


"Bukan ngeledekin. Cuma kaget saja" ucap mas Angga sambil tertawa.


"Auk ah" sahutku lalu mulai menyelesaikan berkas yang belum sempat aku kerjakan kemarin.


"Ngerjain apa?" tanya mas Angga.


"PR" jawabku singkat. Mas Angga malah tergelak.


"Kalau PR ngerjainnya di rumah, Bu. Bukan di kantor" sahut mas Angga.


Aku tak mempedulikan lagi ocehannya. Aku hanya ingin pekerjaanku selesai sebelum pak Tedi datang.


"Coba lihat!" Mas Angga lalu mengambil berkas yang sedang aku kerjakan.


"Ini sih, berkas yang aku minta dari pak Tedi. Buat meeting jam sembilan nanti" ucap mas Angga.


Aku kesal mendengarnya. Rupanya dia yang meminta aku menyelesaikannya pagi-pagi.


Aku menyerahkan berkas itu pada mas Angga.


"Nih, selesaikan sendiri. Aku mau ke toilet" ucapku, lalu aku berikan berkas itu pada mas Angga.


"Lho, gimana sih? Masa bos suruh ngerjain sendiri?" tanya mas Angga.


"Perutku mules. Aku mau ke toilet dulu" sahutku, lalu aku bergegas ke toilet.


Mungkin karena terlalu kenyang tadi pas makan pagi, perutku jadi mulas.


Selesai dari toilet, aku tidak langsung ke ruanganku. Tapi mampir ke ruang display.


Tiba-tiba aku merasa tertarik dengan mobil keluaran terbaru. Mumpung belum ada yang datang, pikirku. Tidak ada salahnya aku melihat-lihatnya dulu.

__ADS_1


Lalu aku mengambil sebuah katalog. Aku nanti akan membacanya di ruanganku.


Sudah lama aku memimpikan mempunyai mobil sendiri. Mobil yang tak terlalu besar.


Aku membayangkan diriku menyetir sendiri mobilku. Pasti keren. Aku tersenyum sendiri.


"Ngapain senyum-senyum sendiri?" Suara mas Angga mengagetkanku. Dia tiba-tiba sudah ada di dekatku.


"Hehehe. Gak apa-apa. Cuma pingin lihat-lihat saja. Jadi kalau ada yang tanya, aku kan bisa menjelaskannya" sahutku asal.


"Kalau ada yang tanya, kamu cukup membawa orang yang bertanya itu kemari. Nanti SPG yang akan menjelaskannya. Atau kamu temukan denganku. Tapi khusus yang perempuan, cantik dan masih muda" ucap mas Angga sambil tertawa.


"Hu...maunya!" sahutku. Lalu aku tinggalkan mas Angga di ruang itu. Tak lupa aku bawa sebuah katalog yang tadi aku ambil.


Aku kembali ke mejaku. Aku membuka lagi berkas yang hendak aku kerjakan.


Owh. Sudah selesai? Apa mas Angga yang menyelesaikannya? Cepat sekali.


"Pagi bu Widhi" sapa pak Tedi yang baru saja masuk ke ruangan kami.


"Pagi, Pak" sahutku.


Pak Tedi menuju ke kursinya, lalu menanyakan berkas yang dimintanya kemarin.


"Sudah beres berkasnya?" tanya pak Tedi.


Aku menyerahkan berkas itu ke mejanya.


Pak Tedi membukanya sekilas.


"Bisa tolong serahkan ini ke ruangan pak Angga" ucap pak Tedi.


Alamak! Kalau berkas ini mesti di serahkan ke ruangannya mas Angga, kenapa tadi mas Angga tidak membawanya sendiri. Bikin kerjaan orang saja.


"Baik, Pak" sahutku. Aku kan ingin bisa bekerja secara profesional, jadi aku menurut saja. Lalu aku bawa berkas itu ke ruangan mas Angga.


Tok.


Tok.


Tok.


Aku mengetuk pintu ruangan mas Angga, lalu membukanya sebelum dia menjawab.


"Belum dijawab sudah masuk saja. Nanti kalau aku lagi ngapa-ngapain bagaimana?" ucap mas Angga yang sedang asik duduk di kursi kebesarannya sambil membuka ponsel.


Aku tak menghiraukan protesnya. Aku kesal padanya yang suka banget ngerjain aku.


"Nih!" Aku meletakan berkas itu di mejanya. Lalu berbalik, hendak kembali ke ruanganku.


"Eh, Wid. Nanti jam sembilan ikut aku ya?" ucap mas Angga.

__ADS_1


Aku membalikan lagi tubuhku.


"Mau kemana?" tanyaku. Enak bener jadi bos, bisa ngajak pergi karyawannya saat jam kerja. Walau pun yang diajak aku sendiri.


"Aku ada meeting di hotel Kusuma. Dian tidak bisa ikut. Lagi datang bulan katanya" jawab mas Angga.


"Memang apa hubungannya ikut meeting dengan datang bulan?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


"Mana aku tau. Kan aku tidak pernah datang bulan" sahut mas Angga. Lalu kembali asik dengan ponselnya.


Ingin sekali aku getok kepalanya, seandainya saja dia bukan bosku.


Aku kembali membalikan tubuhku. Tak menjawab ajakannya. Toh dia sedang asik dengan ponselnya.


"Hey, Wid. Kamu belum jawab ajakanku" seru mas Angga melihatku yang sudah sampai di dekat pintu.


"Memang perlu di jawab? Kalau aku menolak pasti nanti diancam potong gaji" sahutku malas. Lalu aku keluar dari ruangan mas Angga.


Aku kembali ke ruanganku. Aku melihat jam yang melingkar di tanganku. Sudah jam setengah sembilan. Itu artinya setengah jam lagi, aku harus pergi.


Mau ngerjain apa dengan waktu yang hanya setengah jam?


"Jam sembilan saya akan ikut pak Angga meeting, Pak Tedi" ucapku sebelum pak Tedi protes karena aku tak mengerjakan apa-apa.


"Oh iya, Bu" sahut pak Tedi masih asik dengan laptopnya.


Aku pun membuka ponselku. Sekali-kali aku ingin membuka medsosku.


Lama sekali aku tak membukanya. Tidak banyak notifikasi yang masuk, karena aku jarang mengaktifkannya.


Hanya beberapa teman yang menandai aku dalam postingannya saja. Itu pun sudah lama.


Tak lama, mas Angga masuk dan mengajakku berangkat sekarang. Takut macet di jalan katanya.


Aku pamit pada pak Tedi.


"Nanti biar pak Andre yang akan membantu pak Tedi. Saya sudah bilang tadi. Sebentar lagi dia akan kesini" ucap mas Angga.


"Iya, Pak" sahut pak Tedi singkat tapi penuh rasa hormat.


Aku berjalan beriringan dengan mas Angga. Lalu dia membukakan pintu mobil untukku.


"Kenapa mesti aku yang ikut meeting, sih?" tanyaku saat mas Angga sudah melajukan mobilnya.


"Biar kamu belajar menghadapi orang. Belajar mengetahui tentang perusahaan. Pokoknya belajar hal-hal baru" jawab mas Angga.


"Kenapa? Tugasku kan hanya membantu pak Tedi memeriksa berkas yang akan diajukan ke leasing" sahutku.


"Memang kamu mau bekerja seperti itu terus? Tak mau meningkat seperti mas Andi?" tanya mas Angga.


Menjadi seperti mas Andi? Menjadi kepala cabang? Tak pernah terbersit dalam pikiranku.

__ADS_1


"Aku akan mendidikmu pelan-pelan, untuk bisa mengurus perusahaan. Biar hidupmu bisa lebih maju. Aku akan selalu support kamu" ucap mas Angga membuatku ingin mulai bermimpi. Karena dari dulu, aku tak pernah memimpikannya.


__ADS_2