Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 97 TERJEBAK DALAM KEBIMBANGAN


__ADS_3

Jam makan siang aku tidak keluar ruangan. Aku hanya menitip makanan pada Pak Tedi yang hendak keluar.


"Tumben tidak keluar sendiri?" tanya pak Tedi.


"Lagi malas, Pak. Lagian di luar panas banget" sahutku.


"Tapi saya baliknya agak lama ya? Soalnya saya mesti ke kantor leasing dulu. Ada yang harus diselesaikan disana" ujar pak Tedi.


Aku menurut saja. Karena aku pun belum terlalu lapar.


"Asal jangan besok saja sampainya, Pak" sahutku. Pak Tedi hanya tersenyum.


Pak Tedi memang orang yang jarang sekali becanda. Bawaannya serius terus.


Aku memainkan ponselku sambil duduk santai di sofa kecil di ruang kerjaku. Kemarin mas Angga menaruh sofa di ruanganku, katanya biar aku bisa santai pas istirahat.


Lagi asik browsing, mas Angga masuk ke ruanganku. Aku diam saja. Pura-pura tidak melihatnya.


Dia duduk di sebelahku. Karena sofanya kecil, membuat tubuhnya yang kekar menempel di tubuhku. Aku bergeser sedikit menjauh.


"Kenapa?" tanya mas Angga.


"Gak apa-apa" jawabku.


"Masih marah?" tanyanya lagi.


"Enggak" jawabku lagi.


"Deket sini dong kalau enggak marah" ajaknya.


"Gak mau" tolakku.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Gak apa-apa" jawabku lagi.


Lalu dia menggeser duduknya hingga tak ada jarak lagi. Aku berdiri. Tapi ditariknya tanganku, hingga aku terjatuh lagi.


"Kalau kamu begini terus, aku juga akan begini terus" ucap mas Angga, tangannya melingkar di pinggangku.


Aku berusaha melepaskannya. Tapi tenagaku kalah kuat. Aku menyerah.


"Kamu mau apa?" tanyaku.


"Aku mau kamu!" jawabnya. Lalu tangannya meraih leherku dan menekannya, sehingga dia bisa dengan bebas mencumbuku.


Aku berusaha diam tak merespon. Dia terus mencumbuku.

__ADS_1


Aku berusaha memalingkan wajahku agar ciumannya terlepas. Tapi dia terus menekan leherku dengan lebih kuat.


Aku ingin mengerahkan seluruh tenagaku untuk melepaskan diri, tapi aku khawatir suaraku akan terdengar sampai keluar.


"Kunci dulu pintunya." Aku akhirnya mengalah.


Mas Angga menatap mataku dengan tajam, lalu mengecup keningku.


Dia berjalan hendak mengunci pintu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan yang entah dari siapa.


"Aku keluar dulu" ucapnya lalu keluar dari ruanganku. Aku bernafas dengan lega.


Akhirnya ada juga yang membuatnya keluar dari ruanganku. Aku merapikan pakaianku. Dan mengambil tasku.


Sepertinya aku perlu keluar juga sebentar, agar pikiranku lebih segar. Butek kalau di dalam ruangan terus.


Aku keluar dari showroom, hendak mencari warung. Sekedar ingin menikmati udara diluar saja.


Dari pintu masuk showroom, aku melihat mas Angga naik ke sebuah mobil, yang aku tau itu bukan mobilnya.


Aku memperhatikan lagi siapa orang yang ada di sebelahnya. Istri mas Angga.


Aku hanya menelan ludahku yang terasa kering. Istrinya datang lagi ke sini. Untung saja tidak masuk ke dalam ruanganku.


Kalau dia tau tadi suaminya sedang memaksaku, bakalan habis aku di maki-makinya.


"Hallo, Wid" sapa seseorang yang suaranya aku kenal. Aku menoleh ke arah suara itu.


Pak Andre. Sedang apa dia di jalanan ini? Apa sama sepertiku, mencari tempat buat makan siang?


"Lagi ngapain kamu disini?" tanya pak Andre.


"Cari tempat makan, Pak" jawabku.


"Sudah dapat?" tanyanya lagi.


"Belum" sahutku singkat.


"Disana itu, yuk. Kebetulan aku juga belum makan siang" ajaknya. Aku mengangguk, lalu kami berjalan bersama menyeberangi jalan.


Pak Andre berteman baik dengan kakakku, mas Andi. Bahkan setahuku dulu, dia yang merekomendasikan aku agar bisa diterima kerja di showroom. Walau pun setelah aku tau, ternyata showroom ini milik mas Angga.


Pak Andre lebih suka memanggil langsung namaku, jika sedang di luar kantor. Tapi aku tetap memanggilnya dengan sebutan 'Pak' untuk menghormatinya. Karena usianya di atas mas Andi.


Kami memilih tempat agak ujung. Biar tidak banyak orang lalu lalang. Malas juga lagi makan di lewati orang terus.


"Kata Andi, kamu lagi mengajukan gugatan cerai ya?" tanya pak Andre saat kami sudah duduk dan menunggu pesanan kami.

__ADS_1


"Iya" jawabku singkat. Bukannya tidak mau panjang lebar menjawab, tapi aku pikir dia sudah banyak tau dari mas Andi.


"Kenapa mesti bercerai?" tanyanya. Aku menatapnya.


"Panjang ceritanya, Pak" jawabku.


"Iya, Wid. Setiap rumah tangga itu pasti ada ujiannya. Kalau kamu memang sudah memutuskan, ya dijalani dengan baik" ucapnya.


Pesanan makan siang kami datang. Aku segera memakannya karena waktu istirahat tinggal sebentar lagi.


"Gak usah buru-buru. Angga lagi keluar kota dengan istrinya" ucap pak Andre. Aku menghentikan suapanku.


Keluar kota dengan istrinya? Tadi memang aku melihatnya dengan istrinya. Tapi aku tidak mengira kalau dia pergi ke luar kota. Aku kembali menyuap makananku.


"Wid, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan Angga" ucap pak Andre lagi.


Aku menatapnya lagi, meminta penjelasan darinya.


"Angga memang tidak pernah mencintai istrinya. Karena menurut ceritanya, dia dulu di jodohkan dan di jebak agar menikahi Vika, istrinya itu" ucap pak Andre.


Aku menyimak cerita pak Andre sambil terus menyuap makanan ke mulutku.


"Tapi Angga gak akan bisa lepas dari Vika. Kamu tau kenapa?" tanya pak Andre.


Aku menggeleng, karena mas Angga tak pernah cerita apapun tentang istrinya. Hampir semua cerita tentang istrinya, aku dengar dari orang lain. Termasuk mas Andi.


"Keluarga Angga terlibat banyak hutang pada keluarga Vika. Tidak hanya hutang uang, tapi juga hutang nyawa." Pak Andre menghentikan ceritanya, dan mulai memakan makanannya.


Hutang nyawa? Apa maksudnya? Aku hendak bertanya, tapi hape pak Andre tiba-tiba berbunyi. Dan dia menerima panggilan itu.


Aku cepat-cepat menghabiskan makananku. Biar nanti setelah pak Andre selesai menerima telpon, aku bisa bertanya lagi.


Pak Andre lama sekali menerima telponnya. Bahkan dia sampai menjauh dariku. Dan meninggalkan makanannya.


Dia baru kembali setelah jam makan siang habis. Walaupun mas Angga ke luar kota, tapi aku tidak enak kalau mesti terlambat ke kantor.


Apalagi pak Tedi juga bilang akan terlambat masuk. Aku pamit pada pak Andre. Dan aku simpan dulu pertanyaanku tentang mas Angga.


Walaupun sebenarnya aku kepo banget. Karena setahuku, mas Angga juga sedang mengajukan perceraiannya.


Apa pak Andre tidak tahu itu, jadi dia bilang mas Angga tidak bisa melepaskan istrinya.


Harusnya aku tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Karena tidak akan ada untungnya buatku.


Kenapa hidupku harus dihadapkan pada orang-orang yang rumit? Padahal hidup itu bisa di buat simple.


Aku juga membuat hidupku sendiri rumit. Padahal masalahnya bisa di selesaikan dengan cepat kalau saja aku bisa tegas.

__ADS_1


Tegas pada suamiku. Tegas pada mantan istri suamiku dan tegas pada mantan pacarku. Aku merasa seperti terjebak dalam kebimbanganku sendiri.


__ADS_2