
Aku memulai pekerjaanku hari ini dengan pikiran yang tidak menentu. Gara-gara pesan ojol dapat drivernya suami yang sedang aku gugat cerai. Dan bos yang sedang ngambek karena melihatnya.
"Ini tolong di salin, Bu." Pak Tedi memberikan beberapa berkas kepadaku.
"Kalau sudah beres tolong dibawa ke ruangan pak Angga" lanjut pak Tedi.
Aku menepuk jidatku. Kenapa juga harus aku yang mengantarkannya? Tapi aku tidak bisa menolak karena tidak ada orang lagi di ruangan ini. Dan pak Tedi juga pastinya sedang banyak pekerjaan, makanya memintaku yang mengantarkannya.
Selesai dengan pekerjaanku, aku pamit pada pak Tedi mengantarkan berkas itu ke ruangan bos. Dengan malas aku berjalan ke ruangan mas Angga.
Tok.
Tok.
Tok.
Lalu aku langsung membuka pintunya tanpa menunggu jawaban atau dibukakan. Dan sekali lagi, aku melihat Lisa ada di sana.
Bahkan kali ini Lisa berada di sofa, dan mas Angga ada di sebelahnya.
Mereka tampak sibuk merapikan pakaian. Aku hanya menatap sekilas. Lalu aku masuk dan meletakan berkas dari pak Tedi di atas meja kerja mas Angga.
"Itu berkas dari pak Tedi!" Lalu aku membalikan tubuhku dan melangkah keluar dari ruangan laknat itu.
Aku menyebutnya ruangan laknat, karena sudah dua kali aku melihat mereka sedang berduaan di sana.
Aku menutup pintunya tanpa menolehkan wajahku lagi. Dan aku hempaskan dengan cukup keras.
Blum!
Lalu aku kembali ke ruanganku. Aku mengambil gelas berisi air putih, dan menghabiskan isinya. Rasanya tenggorokanku kering kerontang.
"Ibu tidak habis berpanasan kan?" tanya pak Tedi.
"Tidak, Pak. Kenapa?" tanyaku heran.
"Itu tadi minum seperti orang habis berpanas-panasan" sahut pak Tedi.
Aku tidak habis berpanas-panasan, Pak. Tapi habis melihat orang beradegan panas, sahutku dalam hati.
"Bisa saja pak Tedi. Cuma haus saja, Pak" sahutku. Lalu berdiri dan mengisi lagi gelasku dengan air dari dispenser.
Baru saja aku duduk, pintu ruanganku terbuka. Mas Angga sudah berdiri di sana saat aku menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Ikut ke ruanganku!" seru mas Angga ke arahku. Karena tak ada manusia lagi selain pak Tedi, aku berdiri dan mengikutinya.
Malas sekali aku harus masuk lagi ke ruangan laknat itu. Andai aku punya jabatan, atau aku tidak bekerja untuknya, pasti aku akan menolaknya.
Mas Angga membuka pintu ruangannya, setelah aku ikut masuk, dia menguncinya.
Aku menghela nafasku. Dan menatapnya sekilas.
"Duduk!" ucap mas Angga dengan tegas. Aku memilih duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
Jijik rasanya duduk di sofa yang habis digunakan untuk mereka beradegan panas.
Mas Angga lalu duduk di kursi lainnya. Dia geser tepat di sebelahku.
Aku diam. Cukup menunggu saja apa maunya. Dia pasti akan memberi alasan tentang kejadian tadi. Bahkan akan mengelaknya.
"Kamu lihat Lisa tadi di sini?" tanya mas Angga. Aku menganggukan kepala. Pertanyaan yang tidak bermutu menurutku.
"Lalu apa yang kamu pikirkan tentang kejadian itu?" tanya mas Angga lagi.
Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku harus memikirkannya? Toh ini perusahaannya, kantornya dan juga ruangannya.
Aku juga bukan istrinya. Bukan kekasihnya. Aku hanya...selingkuhannya.
"Kenapa diam?" tanyanya lagi.
Aku menatap wajahnya yang kelihatan sangat kesal. Aneh, mestinya aku yang kesal padanya.
"Kenapa aku harus menjawab?" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Aku malas berfikir tentang peristiwa itu.
"Dengar aku, Wid. Tadi Lisa memaksa masuk ke ruanganku. Aku sedang menikmati kopi di sofa itu. Otakku kacau melihat kamu berboncengan dengan Agung. Aku mengabaikannya. Tapi dia terus saja nerocos membicarakan tentang kamu. Dia terus memanas-manasiku." Aku masih terdiam mendengarkan ocehannya.
"Lalu dia perlahan-lahan duduk di sebelahku dan tiba-tiba dia menyerangku dengan cumbuannya". Mas Angga menelan ludahnya.
"Dan kamu menikmati cumbuannya?" tanyaku tanpa ekspresi.
"Tidak, Wid. Dan kamu tiba-tiba datang. Itu yang terjadi" ujar mas Angga.
"Oh. Jadi kalau aku tidak datang, kamu akan terus menikmatinya bahkan akan memintanya lebih?" Mataku menatap tajam ke matanya.
"Tidak, Wid. Aku berusaha menghindar. Dan kedatanganmu sangat tepat. Lisa jadi melepaskan aku" ucap mas Angga tanpa rasa bersalah.
"Maaf aku jadi mengganggu kalian. Lisa jadi melepaskan cumbuannya kan?" Aku terus saja berusaha memojokannya.
__ADS_1
"Wid! Jangan memojokan aku! Aku bercerita yang sebenarnya."
"Aku juga melihat yang sebenarnya!" Aku tak mau kalah. Mas Angga menghela nafasnya.
"Seandainya saja istrimu tadi yang datang dan melihatnya, dia akan menyesal dan meminta maaf padaku karena pernah melabrakku. Dan dia tidak akan membiarkan Lisa terus bekerja di sini" ucapku menyindirnya.
"Dia akan aku pecat sekarang juga!" sahut mas Angga.
"Nanti kamu tidak punya hiburan lagi di sini dong." Aku terus saja menyindirnya.
"Kamu pikir aku laki-laki seperti itu?" mas Angga menatap tajam ke arahku.
Aku hanya mengangkat bahuku, lalu beranjak dari kursi.
"Mau kemana, kamu? Urusan kita belum selesai!" ucap mas Angga. Tangannya meraih tanganku dan memegangnya dengan erat.
"Urusan apa lagi? Urusan kita hanya urusan kerja. Permisi." Aku berusaha melepaskan tanganku. Tapi mas Angga menggenggamnya makin erat.
Bahkan dia menarikku hingga aķu jatuh ke pangkuannya. Dia langsung memeluk pinggangku, dan tangan satunya menekan leherku hingga wajahku menyatu dengan wajahnya.
Dan bibirnya langsung ******* bibirku dengan kasar. Aku tak terima dengan perlakuannya ini. Aku berusaha melepaskan diri.
Aku injak kakinya dengan keras, hingga dia yang tak siap dengan seranganku, melepaskan ******* di bibirku.
Aku segera berdiri dan menampar keras pipinya. Aku tajamkan mataku ke arahnya.
"Aku benci kamu!" Lalu aku segera berlari ke arah pintu dan membukanya.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucapku, lalu aku hempaskan pintu ruangannya dengan keras.
Lebih keras dari yang tadi saat aku melihatnya bercumbu dengan Lisa. Aku berjalan ke ruanganku dengan terburu-buru.
Saat aku hendak menutup pintu ruanganku, Lisa melintas di depanku. Dia membawa tas ransel kecil yang biasa dipakainya.
Langkahnya lunglai. Wajahnya terlihat lesu. Di tangannya aku lihat selembar kertas yang entah apa isinya.
Dia berhenti tepat di depan pintu ruanganku. Matanya menatap ke arahku.
"Urusan kita belum selesai!" ucapnya, lalu dia berlalu.
Aku menatap punggungnya. Urusan apa? Kenapa kalimatnya sama dengan yang diucapkan mas Angga?
Aku menutup pintu ruanganku, dan menuju ke kursiku. Aku duduk dengan masih memikirkan apa yang diucapkan mas Angga dan Lisa barusan.
__ADS_1
Kenapa mereka jadi melibatkan aku ke dalam urusan mereka. Mereka yang melakukannya, kok aku yang di intimidasi. Mereka yang berbuat, aku lagi yang kena.