Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 28


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, namun Ana masih tak kunjung sadar. Rio kembali menemui dokter yang menangani Ana untuk menanyakan prihal perkembangan kondisi calon istrinya, dokter akan mengevaluasi dan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi Ana.


Beberapa dokter spesialis mulai melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kondisi ana secara teliti, serta melakukan beberapa tes di beberapa bagian tubuh Ana.


Namun tubuh Ana sama sekali tak bereaksi, kenyataan yang membuat rio semakin terpukul.


Rio hanya bisa memandangi tubuh Ana yang di penuhi dengan peralatan medis, rasa bersalah berkecamuk dalam benaknya. Rio merasa seharusnya dirinyalah yang berada di sana, karena yang Julio incar adalah dirinya bukan Ana, dengan berurai air mata Rio keluar dari ruang ICU.


Di setiap sujudnya Rio tak hentinya memohon kesembuhan untuk Ana, baginya tidak ada tempat bergantung dan berharap selain pada illahi.


"Le, yang sabar. Kamu sudah mengusahakan semua yang terbaik untuk Ana." Ibu mendekat ke arah rio dan duduk di sebelah rio mengelus pundak putra sulungnya yang nampak terlihat rapuh.


"Bu, saat aku pernah mengikhlaskan Ana untuk bersama pria lain yang aku pikir pria itu bisa membahagiakannya, tapi kali ini huuu...huuu." Rio menangis di pangkuan ibunya.


"Sudah Le, Ibu yakin Ana pasti akan pulih kembali. Kamu harus sabar dan banyak berdoa" Ibu mengelus punggung putra sulungnya dengan lembut.


Setelah mulai tenang Rio meminta Ibu dan Lyra untuk beristirahat di rumahnya, ia tidak ingin ibu dan adiknya kelelahan karena menemaninya di rumah sakit.


"Ibu dan Lyra pulanglah, biar aku yang menjaga Ana di sini" Rio mengambil kunci mobilnya dari saku celanya, kemudian memberikan kepada Lyra.


"Nanti, mas share alamatnya kamu tinggal ikuti GPSnya atau telepon saja Bik Ima"


"Tapi mas, bagaimana dengan Mas Rio yang sendirian di sini?" tanya Lyra.


"Mas sudah tidak apa-apa, kau pulanglah bersama ibu." jawab Rio


Dengan berat hati lyra pergi meninggalkan kakaknya, lyra sendiri bingung harus berbuat apa. Disatu sisi ia tidak ingin meninggalkan kakaknya yang sedang rapuh sendirian di rumah sakit, disisi lain ibunya juga membutuhkan istirahat setelah beberapa hari berada di rumah sakit menemani kakaknya.


Drrrt... Drrrt... Drrrrt...


Satu panggilan masuk ke handphone Rio dari sekretaris kantornya, ia baru tersadar jika selama beberapa hari ini ia melalaikan tanggung jawabnya sebagai manager di tempatnya ia bekerja.


"Ia Hallo, ada apa Wid?" tanya Rio pada sekretarisnya.


"Begini pak, maaf sebelumnya. Saya ingin memberi tahu jika pak rio mendapat SP (surat peringatan) karena bapak sudah tiga hari tidak masuk kantor tanpa keterangan." ucap sekretarisnya dengan hati-hati.


"Kau taruh saja suratnya di mejaku, besok aku usahakan masuk kantor dan satu lagi Wid, tolong kamu email semua berkas-berkas yang masih menjadi tanggung jawabku."

__ADS_1


"Baik pak."


"Ok. terima kasih ya wid." Rio mematikan sambungan teleponya.


Sejenak rio mehela nafasnya dalam-dalam, kemudian rio menghubungi karyawan gerainya untuk memintanya membawakan laptop miliknya ke rumah sakit.


Tak lama kemudian karyawan rio tiba di rumah sakit, dengan membawa laptop yang ia minta.


"Terima kasih ya Dit." ucap Rio.


"Sama-sama pak."


Rio membaca mimik wajah Adit yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu namun sepertinya Adit ragu untuk mengatakannya kepada Rio.


"Kamu kenapa Dit? apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Rio.


"I..itu pak, tadi saya dapat kabar jika orang yang menabrak tunangan Pak Rio menyewa beberapa pengacara terkenal untuk meringankan tuntutannya." Ucap adit.


Rio nampak geram mendengar informasi yang di sampaikan oleh Adit, namun ia mencoba untuk fokus menyelesaikan masalahnya satu persatu.


"Kita lihat saja nanti di pengadilan Dit, aku akan memikirkan cara agar ia bisa mendekam di penjara untuk selamanya."


"Ok. terima kasih dit"


Adit pun berlalu meninggalkan rio, selepas adit pergi, rio menghubungi perusahaan external auditor yang mengaudit laporan keuangan perusahaan tempat ia bekerja.


Rio menyadari betul bahwa jika hasil auditnya baru akan beres tiga hari ke depan namun, ia tetap memaksa agar pihak external auditor untuk mengirimkan draft hasil auditnya ke email rio.


Tak lama kemudian pihak external auditor mengirimi rio draft hasil auditnya ke email rio. Sesuai dengan dugaan rio, hasil audit perusahaan tempat rio bekerja dinyatakan Adverse Opinion ( pendapat tidak wajar) pada periode julio menjabat sebagai manager keuangan.


Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas perusahaan sesuai dengan perinsip akuntansi yang berlaku.


Rio menduga adanya penyelewengan dana yang di lakukan oleh julio pada masa ia menjabat sebagai manager keuangan, rio tersenyum tipis.


"Ini akan dapat menjerat si breng*ek itu." Gumam rio.


Rio mengambil handphone dari saku celananya, ia menghubungi widya sekertarisnya agar ia menginformasikan kepada anggota tim yang lain, bahwa besok pagi akan ada meeting bersama dengan dewan direksi perusahaan.

__ADS_1


Setelah menghubungi widya, rio kembali berkutat dengan laptopnya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawabnya dinkantor.


Rio juga mengumpulkan semua bukti-bukti untuk menjerat julio dalam kasus penyelewengan dana perusahaan, ditengah kesibukannya tiba-tiba perut rio berbunyi.


krucuk.. krucuk..


Rio jadi teringat saat dirinya tengah sibuk dengan pekerjaannya, analah yang sering menyuapinya makan. Sesaat rio menghentikan sejenak pekerjaannya, Rio membuka galeri di handphonenya yang di penuhi dengan wajah Ana, Rio mengecup foto Ana dengan lembut.


"Cepat sembuh sayang, aku sangat merindukanmu."


Rio memaksakan diri untuk makan walau sebenarnya ia sama sekali tidak berselera untuk makan, ia harus sehat agar bisa menjaga ana dan menjebloskan julio ke dalam penjara.



Sementara itu di kediaman Rio, Lyra dan ibu beristirahat di kamar tamu yang telah di siapkan oleh Bik Ima. Ibu yang sedang menunggu lyra mandi tiba-tiba terbesit dalam benak ibu mengenai keluarga ana, setelah lyra selesai mandi ibu membicarakannya dengan lyra.


"Lyr, apa tidak sebaiknya kita memberi tahu keluarga ana tentang kondisi ana saat ini?"


"Apa Mas Rio setuju bu?" tanya Lyra.


"Urusan masmu biar ibu nanti yang bicara, karena mau bagaimana pun keluarganya berhak mengetahui kondisi Ana. Apa Ana pernah bercerita kepadamu dimana keluarganya?" tanya ibu.


lyra mengingat-ingat kejadian saat dirinya dan ana bertemu retno dan julio sedang makan siang di sebuah cafe dimall.


"Ya benar, saat itu retno berkata kepada ana 'mba yang tempo hari kerumah saya itu kan? yang rumah neneknya sudah kami beli.' " Gumam lyra dalam hati.


"Bu lyra sepertinya tau di mana rumah alm.neneknya mba ana."


"Dimana lyr?"


"Masih satu kampung dengan kampung kita, besok pagi aku akan kesna. tapi ibu jangan beri tahu mas rio dulu, nanti kalo aku sudah dapat nomor kontak ayahnya mba ana, lyra akan kabarin ibu."


"Tapi kamu jangan lama-lama ya."


"Ia bu, lyra PP (pulang pergi) kok. Lyra berngkat penerbangan awal, sore dah balik lagi ke sini."


"Ya sudah kalo begitu, cepat kamu cari tiket pesawat untuk besok kamu pulang."

__ADS_1


lyra mengangguk mengiakan perkataan ibunya.


__ADS_2