
Setelah sarapan pagi, Yoga merasa mual perutnya. Lalu dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
"Kamu kenapa, Ga?" Aku memijit-mijit tengkuknya.
"Enggak tahu. Kayaknya masuk angin. Perutku mual banget."
Aku membantunya membersihkan mulut dan tangannya. Lalu mengikutinya kembali ke meja makan.
"Singkirkan nasi goreng itu. Baunya bikin perutku makin mual."
Aku singkirkan nasi goreng itu sambil terus tertawa. Aku yang hamil, dia yang mual. Tapi enggak apa-apa sih, malah enak. Aku enggak perlu pakai acara muntah-muntah segala.
"Kamu kenapa ketawa? Ngeledek?" Muka Yoga udah kelihatan bete banget.
"Enggak. Cuma seneng aja."
"Apa? Seneng? Jadi kamu seneng lihat aku muntah-muntah kayak tadi?" Yoga udah pasang muka garang.
"Iyalah. Kan jadi adil. Aku yang hamil, kamu yang morning sickness. Hahaha."
"Maksud kamu?"
"Kadang memang ada Ga, istrinya yang hamil, suaminya yang ngidam. Ya kayak kamu ini."
Yoga langsung menepuk dahinya. Lalu menyandarkan kepalanya.
"Ternyata enggak enak banget ya ngidam. Perut mual. Bau apa-apa rasanya enggak enak. Mana kadang kepinginnya makan makanan yang aneh-aneh."
"Kan kamu yang ngejar-ngejar aku biar cepet hamil. Kamu cuma mual doang. Aku nih masih harus bawa anakmu sembilan bulan di sini. Dua lagi." Aku menunjuk perutku yang masih rata.
Yoga meraih tanganku lalu mengelus perutku.
"Baik-baik di sana ya jagoannya Papa. Nanti kalau kalian Papa ajak keliling dunia."
"Eit. Sebelum mereka lahir, janjinya dulu ditepati."
"Janji apa?" Yoga lupa apa pura-pura lupa ya?
"Honey moon!" jawabku dengan tegas.
"Oh iya. Tapi nanti ya, kalau aku udah enggak mual-mual lagi. Kan enggak enak banget kalau di jalan aku muntah-muntah."
"Ah, kelamaan!" Aku pura-pura marah. Padahal aku enggak mau juga honey moon malah ngurusi orang muntah-muntah.
"Ya terus gimana dong? Hari ini aja aku enggak berangkat ke kantor dulu. Perutku mual banget."
"Iya. Aku cuma becanda kok. Aku juga enggak mau kamu di jalan muntah-muntah. Entar dikira pergi ngajakin orang kampung!"
Yoga mencubit hidungku. Wajahnya kelihatan kesal banget.
"Ya sudah kamu istirahat dulu sana. Nanti siang mau dimasakin apa?"
"Ah, udah deh. Jangan ngomongin makanan dulu. Perutku makin mual." Lalu Yoga masuk ke kamar.
Aku lihat dia tiduran. Wajahnya sedikit pucat. Kasihan sekali dia.
Aku berinisiatif memasak buat makan siang nanti. Biar enggak perlu keluar rumah. Takutnya Yoga masih lemas dan enggak bisa fokus nyetir mobil.
__ADS_1
"Wid...! Bau apa sih ini?" teriak Yoga dari dalam kamar.
Aku mematikan dulu kompornya. Lalu datang ke kamar.
"Masak buat makan siang kita," jawabku.
"Enggak usah. Singkirin itu semuanya. Aku enggak tahan sama baunya!"
"Terus mau diapain, Ga? Nanggung, sebentar lagi mateng."
"Please deh, Wid. Aku enggak tahan banget sama baunya." Yoga langsung lari ke kamar mandi. Yang artinya semakin mendekati bau masakanku.
Yoga semakin kayak orang mau pingsan. Buru-buru aku singkirkan masakanku. Dan aku bersihkan dapur hingga tak ada bekasnya sama sekali.
Wah, kalau begini caranya, bakalan makan sembarangan lagi. Masa setiap mau makan mesti beli, atau ngumpet biar enggak kecium baunya sama Yoga.
Ternyata orang ngidam itu enggak cuma menyusahkan diri sendiri, tapi juga nyusahin orang lain.
Yoga kembali ke kamar dan meringkuk. Badannya terasa lemas katanya.
Jam sepuluh pagi, ibu telpon. Dia menanyakan kabar kami dan calon bayi kami. Tapi bukan kabar bayi yang ter-uptodate. Karena kami belum mengumumkan pada siapapun.
"Kabar kami baik, Bu. Cuma Yoga lagi mual-mual perutnya. Sekarang malah badannya lemas. Kelihatannya dia yang ngidam," ucapku di telepon.
"Baguslah kalau Yoga yang ngidam," sahut ibu.
"Kok bagus, Bu?" tanyaku tak mengerti.
"Ya, artinya bayi kamu bakalan sehat. Kan kamu bisa makan apapun."
"Jadi kamu enggak masak hari ini?" tanya ibu.
"Enggak, Bu. Mau beli juga malas keluarnya. Yoga pasti enggak mau ngantar, soalnya dia sudah tak bertenaga."
"Ya sudah. Kamu di rumah saja. Nanti Ibu ke situ."
Ibu enggak bilang mau ke sini jam berapa dan sama siapa.
Aku membersihkan rumah. Enggak enak kalau nanti ibu ke sini rumah masih berantakan.
Ternyata tak lama setelah telepon tadi, ibu datang bersama Tari. Berlian juga pastinya.
Aku membangunkan Yoga yang masih meringkuk.
"Ga. Bangun. Ada ibu sama Tari."
"Bilang aja aku lagi enggak enak badan." Yoga merapatkan selimutnya lagi.
"Udah. Malah aku bilang kamu lagi ngidam."
"Apa?" Yoga terlonjak dan langsung duduk.
"Kok kamu bilangnya gitu sih? Aku kan malu?" protes Yoga.
"Malu kenapa, Ga? Itu wajar kok. Itu artinya anak kalian enggak mau merepotkan mamanya saja. Papanya juga mesti kebagian repot," sahut ibu yang kebetulan lewat mau ke kamar mandi.
"Mereka sudah tahu kalau kamu hamil?" tanya Yoga pelan.
__ADS_1
"Mereka tahunya yang edisi pertama. Kalau yang ter-update mereka belum tahu," jawabku.
"Kok kamu enggak kasih tahu mereka?"
Ih, gemes banget. Pingin rasanya aku getok kepalanya. Kalau aku ngomong duluan entar terjadi lagi kasus kayak edisi pertama kemarin itu. Enggak bilang, malah disuruh bilang.
"Kamu aja deh yang bilang. Ayo bangun!"
"Bilang apa?" Ibu sudah balik lagi.
"Enggak, Bu. Nanti saja," sahutku.
"Ayo cepetan, Ga."
Aku singkap selimutnya. Dan dengan langkah gontai, Yoga keluar kamar.
"Kalau masih mual, tiduran saja Ga. Kamu kepingin makan apa? Nanti biar Tari yang carikan," ucap ibu.
Tari malah tertawa terbahak-bahak. Yoga melemparnya dengan bantal kecil.
"Ada juga ya ternyata, bapak-bapak ngidam. Rasanya kayak apa, Bang?" Tari kembali tertawa.
Yoga semakin kesal.
"Sudah. Tari jangan ngeledek begitu ah. Kamu mau makan bakso, Ga? Atau mie ayam?"
"Bakso saja, Bu," jawab Yoga.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tukang bakso keliling pas lewat.
"Itu saja ya, Ga. Biar enggak usah keluar." Yoga mengangguk setuju.
Ibu langsung memesan empat porsi. Kami menyambut bakso yang diantarkan ke ruang tamu dengan pandangan lapar. Apalagi aku yang tadi pagi hanya sarapan sedikit.
Aku mengaduk baksonya, aroma khas yang sangat sedap menguar. Yoga langsung lari ke kamar mandi.
Kami semua menatap ke arahnya.
"Bang Yoga kenapa, Wid?" tanya Tari.
"Howek, howek."
"Hah...? Sampai segitunya?"
Aku mengangguk.
"Mengenaskan sekali. Bisa kurus dia kalau keterusan," ucap Tari.
"Enggak akan lama. Paling sampai usia kandungan empat bulan saja," sahut ibu.
"Memang sekarang berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Tari lagi.
"Dua bulan."
"Berarti dua bulan ke depan dia masih begitu?"
Aku mengangguk. Tari menepuk dahinya.
__ADS_1