Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Apa Yang Akan Kamu lakukan?


__ADS_3

Jum'at sore, Damar kembali ke Bandung menjemput Ayu dan anak-anaknya, dan berangkat ke jakarta hari sabtu paginya. Jam setengah sebelas siang mereka sampai di rumah besar Damar.


Ayu disambut hangat oleh keluarga besar Damar yang sudah menunggunya. Tidak hanya keluarga besar Damar, tapi juga para art dirumah itu, mereka semua menunggu dan menyambut kehadiran Ayu.


"Selamat datang sayang!! Mama senang akhirnya kamu kembali kerumah ini." Sapa bu Sekar seraya memeluk Ayu.


"Makasih mah."Ucap Ayu membalas sapaan bu Sekar. Ayu menyalami dan memeluk keluarga Damar. Mereka juga melakukan hal yang sama pada Gara dan sikembar.


Setelah itu mereka mengobrol lalu makan siang bersama. Selesai makan, Ayu menemui Tina dan art yang lain. Mereka sangat senang saat tahu Ayu dan Damar telah rujuk, dan Ayu akan tinggal lagi dirumah itu.


"Tidak Tin, aku gak akan tinggal disini."Terang Ayu.


"Kenapa?. Bukannya kamu udah rujuk sama pak Damar Yu?." Tanya Tina heran.


"Iya, aku dan mas Damar memang udah rujuk, tapi aku tidak bisa tinggal disini. Maksudku, untuk saat ini, aku belum bisa tinggal disini."Jawab Ayu, dia menjelaskan alasannya pada Tina, sampai dia mengerti.


Ayu juga mengatakan hal yang sama pada keluarga Damar, dan mereka mengerti. Mereka tidak keberatan sama sekali, yang penting Ayu dan Damar sudah rujuk, itu yang paling penting.


Untuk saat ini Ayu memang masih akan tinggal di Bandung. Dia akan menemui Damar hanya pada akhir pekan, baik itu dia yang datang ke Jakarta, atau Damar yang datang ke Bandung.


Ayu belum bisa sepenuhnya mempercayakan produksi kuenya pada bi Elin ataupun pegawainya, Damar mengerti dan menyetujui apapun yang dikatakan Ayu, walau sebenarnya dia ingin sekali Ayu dan anak-anak segera kembali tinggal dirumahnya.


Setelah makan siang, keluarga Damar pulang. Damar mengajak Ayu istirahat di kamar mereka. Gara dan sikembar sudah terlelap lebih dulu. Mereka tidur di kamar yang Ayu tempati dulu.

__ADS_1


Perasaan Ayu tak menentu, saat menginjakkan kakinya di kamar Damar. Mata Ayu menjelajah seisi kamar. Tidak ada yang berubah, semua masih sama seperti saat terakhir kalinya dia berada di kamar itu. Bahkan foto pernikahan mereka juga masih berada ditempatnya. Ayu tidak tahu Damar sempat menyingkirkan foto-foto itu dari sana.


Ada sesuatu yang menarik perhatian Ayu saat ini. Dia melihat foto dirinya, dengan ukuran raksasa di dinding kamar itu. Foto yang entah kapan diambil, karena seingatnya dia tidak pernah berfoto seperti itu.


Damar tersenyum melihat Ayu yang berdiri keheranan. Dia memeluk pinggang Ayu dari belakang, lalu meletakkan dagunya dibahu Ayu." Kamu kenal dia?."Tanya Damar sambil tersenyum.


"Mas, kenapa ada foto itu disini?. Maksudku kapan aku difoto seperti itu?." Tanya Ayu keheranan.


"Foto itu aku ambil, saat kita diPangandaran. Maaf ya, aku mengambil foto itu tanpa seijin kamu. Waktu itu aku begitu terpesona melihat senyum manis kamu. Kamu nggak marah kan?."Jawab sekaligus tanya Damar.


Ayu tersenyum mendengar jawaban Damar."Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau aku marah mas?."Ayu kembali bertanya.


"Yang aku lakukan?." Tanya Damar dengan senyumnya, seraya menghadapkan tubuh Ayu ke hadapanya."Kamu mau tahu apa yang akan aku lakukan?." Tanyanya lagi, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu.


Ayu melepaskan ciumannya saat merasakan tangan Damar hendak melepaskan pakaianya. "Masih siang mas."Kata Ayu.


Damar tidak menghiraukan perkataan Ayu. Dia kembali mencumbunya, seraya membuka resleting dress yang dipakai Ayu, hingga dalam sekejap dress itu lepas dari tubuhnya, menampilkan pemandangan indah yang sudah lama tidak dilihat Damar.


Damar menatap tubuh Ayu, yang semakin terlihat indah dimatanya. Dia yang sudah sangat merindukan Ayu, tidak kuasa lagi menahan hasratnya. Siang itu mereka melepaskan semua rasa rindu dan hasrat yang sudah lama mereka pendam.


Setelah itu Damar membawa Ayu ke kamar mandi, melakukanya lagi disana, lalu mandi bersama. Selesai mandi, mereka berisitirahat dengan perasaan bahagia.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


Andreas ditahan di polres, semua bukti memberatkanya, dan Ambar sendiri masih berada di Bandung. Saat ini dia mengunjungi suaminya di sel tahanan. Andreas memohon pada Ambar, agar Ambar tidak meninggalkanya. Dia berjanji akan menuruti semua keinginan Ambar, termasuk keinginanya untuk tidak lagi berpetualang mencari wanita-wanita untuk dijadikan teman bercinta. Ambar tidak menyahuti. Dia diam saja menatap Andreas dengan tatapan yang begitu dingin.


Ambar pergi dari sana, setelah memberikan surat gugatan cerai untuk Andreas. Andreas sangat shock. Dia tak terima dan tak mau bercerai dengan Ambar. Andreas menyobek surat itu dihadapan Ambar."Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu. Apa kamu melakukan ini, karena sekarang aku dipenjara?. Kamu tenang saja honey, aku akan segera bebas, dan kita akan secepatnya bersama lagi." Ucap Andreas penuh keyakinan.


"Tidak, aku melakukan ini bukan karena itu. Aku hanya tidak yakin kamu bisa bertahan denganku. Aku takut suatu saat nanti kamu akan membuangku, seperti kamu membuang istrimu dulu." Ujar Ambar.


"Tidak honey, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku sangat mencintai kamu. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu."Sahut Andreas berusaha meyakinkan Ambar.


"Kalau kamu memang mencintaiku, kamu tidak akan mengkhianatiku Dre."Ujar Ambar.


"Aku berjanji, aku tidak akan lagi melakukanya. Aku akan setia kepada kamu. Aku akan turuti semua keinginan kamu."Ucap Andreas, berusaha meyakinkan Ambar, yang sepertinya memang sudah kehilangan kepercayaanya pada Andreas.


Dia menatap Andreas sesaat, sebelum akhirnya meninggalkannya tanpa berkata apapun. Keputusanya untuk bercerai dengan Andreas sudah bulat. Dia tidak mau terus-terusan dibodohi olehnya, apalagi hanya menjadi objek pelampiasan nafsunya. Walau dulu Ambar tidak peduli dengan semua itu, tapi rasanya kini dia tidak terima.


Menurut Ambar, Andreas tidak sungguh-sungguh dengan janjinya. Dia hanya bermulut manis dan merayunya agar dirinya tidak meninggalkan Andreas dan membantunya keluar dari tahanan.


Entah kenapa dia merasa benci dan muak pada lelaki yang awalnya begitu dia cintai dan dia bangga-banggakan, hingga membuatnya nekat meninggalkan Damar yang dulu begitu mencintainya.


Hatinya berdenyut nyeri saat menyebut nama Damar, juga saat dia ingat bagaimana dulu Damar sangat mencintai dan menuruti semua permintaanya, termasuk permintaanya untuk menikahi Ayu.


Ambar menyesal sekarang. Dia menyesali semua perbuatan bodohnya dulu. Ambar menyesal karena menuruti hawa nafsunya, dia rela meninggalkan laki-laki yang benar-benar mencintainya dengan tulus, demi laki-laki seperti Andreas. Ambar kini menyadari kalau yang dia rasakan pada Andreas bukanlah cinta, tapi nafsu. Nafsu yang telah membutakan mata hatinya.


Penyesalan yang kini dia rasakan, setelah menyadari semuanya. Ambar tahu penyesalanya itu tidak berguna dan tidak akan mengubah apa-apa, apalagi membuat Damar kembali padanya. Dia tahu Damar benar-benar sangat mencintai Ayu, dan membenci dirinya. Dia tersenyum sendiri saat mengingat perbuatan bodohnya yang meminta Damar menikahi Ayu.

__ADS_1


"Ahh...kenapa aku harus mengingat semua itu?. Apa yang aku fikirkan?. Apa yang aku harapkan?. Aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri."Gumam Ambar.


__ADS_2