Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 51


__ADS_3

Keesokan harinya Rio dan Ana mengantar Ibu dan Lyra ke bandara, mereka ingin segera pulang ke kampung halamannya karena Lyra tengah di sibukan dengan persiapan pembuatan skripsi.


"Le, Ibu pulang dulu. Sekarang kamu sudah punya tanggung jawab baru, jaga istrimu baik-baik" ucap Ibu, memberikan nasehat kepada putra sulungnya.


"Iya Bu, hati-hati di jalan. Kabari aku jika Ibu dan Lyra sudah sampai" ucap Rio sambil mencium tangan Ibundanya.


"Terima kasih banyak ya Bu, hati-hati di jalan" Ana memeluk dan mencium tangan Ibu, lalu beralih ke Lyra


"Tarima kasih banyak ya Dek, hati-hati di jalan. Semangat buat skripsinya, kalo menemukan kesulitan kabari Mba atau Mas Rio" ucap Ana sambil mencium pipi kanan dan kiri Lyra.


"Iya Mba Ana, terima kasih. Bye..." Lyra menggandeng tangan ibunya masuk ke dalam bandara.


Setelah Ibu dan Lyra masuk ke bandara, Ana dan Rio pulang ke rumah. Di sepanjang perjalan tangan kiri Rio menggenggam tangan istrinya sambil sesekali menciumi tangan istrinya, sedangkan tangan kananya memegang stir kemudi.


"Sayang, tadi aku menyuruh Bik Ima untuk libur dua minggu. Aku ingin berduaan sama kamu, boleh kan?" tanya Ana.


"Twntu saja boleh sayang." Rio tersenyum ke arah istrinya kemudian kembali mencium tangannya.


Setibanya di kediamannya, Rio mengajak istrinya untuk ke meja kerjanya.


"Sayang, aku mau membicarakan masalah keuangan rumah tangga kita" ucap Rio.


Ana hanya mengangguk, menyimak apa yang akan di bicarakan oleh suaminya.


"Ini semua asset yang aku punya. Ada deposito, tabungan euro, dolar, beberapa asuransi, kartu kredit, saham, sertifikat rumah ini, bpkb kendaraan, sertifikat tanah, dan reksa dana."


"Ini semua ATM dan kartu kredit yang selalu aku pakai untuk semua pengeluaran dan pemasukanku dan ini semua list pengeluaran dan pemasukan yang rutin maupun tidak."


"Mulai sekarang semua ini kamu yang pegang dan kamu juga yang mengelola, aku cukup pegang ini saja" Rio mengambil satu ATM yang ia jejerkan di atas meja kerjanya bersama dengan dokumen asset lainnya yang ia berikan kepada Ana.


"Isinya hanya lima juta, jadi tiap bulan jangan lupa kamu transfer ya" Rio memasukan ATMnya ke dalam dompetnya.


"Tapi ini semua kan milikmu sayang? mengapa aku semua yang pegang?"


"Sayang, kamu sekarang udah jadi istriku, harta yang aku punya semuanya milikmu." Rio mempercayakan semua assetnya kepada ana.


"Tapi sayang"


"No debat, aku tidak menerima penolakan dan bantahanmu. Ini token, username dan pasword semua Internet bankingku, mulai sekarang kamu yang pegang."


Sebenarnya Ana merasa sangat tidak enak menerimanya, namun ia tidak ingin berdebat dan membantahnya, ia memilih untuk menurut perkataan suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, sudah percaya kepadaku" ucap Ana, Rio menganggukan kepalanya.


"Sayang, kalau di rumah aku boleh pake hot pants lagi kan?" tanya Ana.


"Kamu tidak pakai baju pun boleh sayang, justru aku akan sangat senang sekali haha.." goda Rio.


"Bisa masuk angin nanti aku, ya sudah aku bikinin makan siang dulu ya." Ana melangkah keluar dari ruang kerja Rio, baru beberapa langkah Ana keluar dari kamar suaminya, Rio sudah memanggilnya kembali.


"Sayang, nanti malam kita ada acara syukuran di panti asuhan. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Rio.


"Tentu tidak sayang, ya sudah aku ke dapur ya. Bye."


Ana beranjak dari ruang kerja Rio, menuju dapurnya, melihat stok di kulkas hanya ada daging sapi, kentang dan wortel, Ana memutuskan untuk makan sup daging, ketika sedang asik masak tiba-tiba Rio datang memeluk Ana dari belakang.


"Sebentar lagi kok sayang, kamu tunggu di meja makan saja ya."


Rio menggelengkan kepalanya, ia justru menciumi tengkuk dan leher istrinya.


"Please sayang geli, ini beneran sebentar lagi kok tinggal nunggu kentangnya empuk."


Rio menghentikan menciumi istrinya, namun ia tetap tidak beranjak ia masih terus memeluk istrinya dari belakang, beberapa menit kemudian Ana meminta Rio untuk mencicipi masakannya.


"Enak tidak?" tanya ana sambil menyuapi Rio.


"Mau makan dulu atau mau mandi dulu?" tanya Ana sambil mematikan kompor, kemudian menghadap ke suaminya.


"Makan kamu dulu boleh?" Rio mengecup bibir Ana, Ana melingkarkan tangannya ke leher suaminya dan membalas kecuapan suaminya, keduanya mencoba sensasi bercinta di dapur rumahnya.



Tepat pukul 19.00 Rio mengajak istrinya ke panti asuhan tempat Rio biasa berdonasi, sambil menunggu istrinya yang sedang berdandan di kamarnya Rio mengecek grafik pergerakan harga pasar pada chart forexnya.


Tak lama kemudian Ana keluar dari kamarnya dengan mengenakan dress panjang berwarna cream, di padukan dengan scarf berwarna senada yang ia kenakan di pundaknya.


Rio menghampiri istrinya, kemudian mengambil scarf di pundak Ana, ia memakaikannya di atas kepala Ana dengan perlahan.


"Sayang, kamu mau bantu meringankan tanggung jawabku tidak?"


"Maksud kamu?"


"Aurat istri merupakan tanggung jawab suaminya, kelak di akhirat nanti apa yang kamu kenakan saat ini akulah yang akan di mintai pertanggung jawabannya. Aku ingin sekali bisa bersama denganmu bukan hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak." ucap Rio.

__ADS_1


Ana terdiam sejenak mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh suaminya, Rio selalu punya cara untuk mensehati Ana tanpa harus mengguruinya.


"Tidak perlu sekarang jika kamu belum siap, tapi semoga bisa menjadi bahan pertimbanganmu ya sayang" Rio mengusap bahu Ana dengan lembut ia kemudian mengecup kening istrinya.


"Yuk kita berangkat" ajak rio sambil menulurkan tangannya.


"Tunggu sebentar sayang, aku ke kamar dulu ya." Ana berlari kembali kekamar.


Ana mencar-cari jarum peniti di dalam tasnya, ia teringat jika kemarin saat kamarin di ruang makeup Lyra menitpkan satu box kecil jarum peniti ke dalam tas makeupnya dan Lyra lupa untuk mengambilnya kembali.


Ana segera mengambilnya dan mengikat rambutnya dengan rapih kemudian ia mengenakan scarfnya di atas kepalanya dengan rapih. Setelah siap barulah Ana kembali menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di mobil.


Rio nampak terkejut dengan penampilan baru Ana, yang terlihat lebih cantik dengan menggunakan jilbab dengan rapih.


"Memangnya udah siap 100%?" tanya Rio.


Ana mngenggukan kepalanya, selain ia tidak ingin memberatkan tanggung jawab suaminya ia juga ingin menjadi istri yang terbaik untuk suaminya.


"Istiqamah ya sayang"


"Ingetin aku terus ya sayang."


Rio mengangguk, kemudian iq memacu kendaraannya menuju panti asuhan. Selama acara berlangsung, Ana melihat Rio nampak dekat sekali dengan anak-anak yang berada di panti, ia mengelus perutnya berharap bisa segera memberikan suaminya keturunan.



Keessokan harinya Rio terbangun oleh suara alarem dari handphonenya, Rio meraba kasurnya mencari keberadaan istrinya, ia tidak menemukan Ana di dalam kamarnya.


Kemudian Rio keluar kamar, dilihatnya mesin penyapu otomatis sedang bergerak berputar-putar di ruang keluarga. Ia pun mencari keberadaan Ana di dapur namun ia juga tidak menemukannya, Rio mulai panik kemana istrinya pergi pagi-pagi buta seperti ini.


Tak sengaja Rio melihat pintu belakang rumahnya terbuka, Rio segera berlari ke arah pintu tersebut, ia sangat terkejut melihat istrinya sedang menjemur pakaiannya di halaman belakang rumahnya, Rio mendekat ke arah Ana.


"Kamu sedang apa?" tanya Rio.


"Jemur baju-baju kita, tapi udah selesai kok, yuk kita masuk. Aku mau siap-siap ke kantor." ajak Ana, ia menggandeng tangan Rio masuk ke dalam.


Ana menghentikan langkahnya ketika ia melewati dapur.


"Aku sudah siapin sarapan buat kamu, kamu mau mandi dulu apa sarapan dulu?" tanya ana.


Tak tahan dengan sikap istrinya, Rio meminta Ana untuk duduk di meja makan dan berbicara dengannya sebentar, ia menatap mata Ana dalam-dalam kemudian menggengam tangannya.

__ADS_1


"Sayang, aku menikahimu untuk jadi pasangan hidupku, pendampingku bukan untuk menjadi asisten rumah tangga atau baby sitterku. Kamu tidak perlu mengerjakan ini semua sendirian. Ada go-clean, ada laundry atau kamu bisa bangunin aku, kita kerjain ini semua sama-sama."


"Jika kamu berfikir itu semua pekerjaan seorang istri, kamu salah besar!!! itu tugas kita bersama sayang. Sebentar lagi kamu ke kantor pasti nanti kamu capek banget, please jangan jadikan aku suami yang dzolim kepada istrinya." Rio memeluk Ana dengan erat, "Aku sayang kamu" bisik Rio.


__ADS_2