
Tak terasa sudah lima bulan Ana bergabung mengelola perusahaan suaminya, Net Income perusahaan Rio meningkat tajam berkat inovasi-inovasi yang Ana berikan dan tata kelola keuangan yang baik oleh Ana.
Pembangunan rumah baru mereka juga sudah mencapai 45%, mereka berdua sangat menikamati hari-hari kebersamaan yang mereka jalani berdua, bekerja sama baik itu di kantor mau pun di rumah.
Kandungan Ana kini sudah memasuki trisemter ke dua, perut dan tubuhnya sudah terlihat semakin membesar, naf*u makannya yang semakin bertambah membuat bobot tubuhnya naik lebih dari delapan kilogram.
Ia juga sudah mulai mengganti size pakaiannya yang lebih besar, Ana memegangi pipinya di depan cermin sambil cemberut. Rio yang melihat perilaku istrinya datang menghampiri istrinya kemudian memeluknya dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak Ana.
"Terima kasih, sudah mau mengandung anakku. I love you so much" ucap Rio sambil mencium pipi istrinya.
"Selepas melahirkan kira-kira lama tidak ya mengembalikan berat badanku seperti semula? aku takut kamu melirik wanita lain" ucap Ana sambil cemberut.
Rio membalikan tubuh Ana menghadapkannya pada dirinya, kemudian merangkum wajahnya.
"Sayang, setelah semua pengorbanan yang telah kamu lakukan untuk anakku. mengandungnya selama sembilan bulan menahan semua ketidaknyamanan hanya demi anakku kemudian melahirkannya dengan bertaruh nyawa. alangkah bodohnya aku jika aku melirik wanita lain" Rio membawa Ana kedalam dekapannya.
"Please untuk tidak mengkawatirkan hal yang tidak akan pernah terjadi, bagiku kamu tetap yang terbaik entah berapapun berat badanmu nanti" bisik Rio.
Tok... Tok... Tok...
Bik Ima mengetuk pintu kamar Rio, ia memberitahukan jika doula Ana sudah datang dan sedang menunggu di ruang tamu. Rio menghapus air mata Ana dengan tangannya, lalu mengecup kening dan bibir Ana.
"Sudah yuk, jadwal kamu yoga kan sayang."
Selagi Ana dan Mitha doula Ana sedang yoga, Rio membuatkan istrinya makan siang, ia membuatkan sop buntut tanpa daun bawang untuk istrinya, ia juga membuatkan jus mangga kesukaan istrinya.
"Maaf Pak Rio, ada Pak Reino menunggu Pak Rio di ruang tamu" ucap Bik Ima.
"Kalau begitu tolong Bik Ima lanjutkan ya, ini hanya tinggal nunggu daginya empuk saja. kemudian tolong jus ini di berikan kepada istriku dan satu lagi tolong buatkan minum untuk papa ya" Rio menyerahkan jus mangga yang ia buat kepada Bik Ima, kemudian ia bergegas menuju ruang tamu menemui papa mertuanya.
"Gimana keadaanmu dan Ana?" tanya Pak Reino.
"Alhamdulillah baik pah." Rio mencium tangan mertuanya kemudian menyalami kakaknya iparnya.
"Kemana adikku? bagaimana kehamilannya? apa merepotkanmu?" tanya Risti.
"Ana sedang yoga di halaman belakang bersama dengan doula, Alhamdulillah Ana dan janinnya sehat, ia sama sekali tak pernah merepotkanku" jawab Rio sambil tersenyum
"Jadi begini nak, maksud kedatangan papa dan kakakmu ini kemari, Papa ingin memintamu mengelola perusahaan Papa. Jadi beberapa hari yang lalu papa medical cek up di Singapore, hasilnya ada sedikit masalah di jantung papa dan rencananya papa mau berobat di Jerman" terang Pak Reino.
"Maaf pah, tapi bukankah selama ini perusahaan Papa di kelola oleh Kak Risti?" tanya Rio.
"Aku akan menemani papa berobat di Jerman, lagi pula semua project yang sedang di kerjakan oleh suamiku berada di sana. Aku capek dek LDR dengan suamiku, aku ingin menemaninya" ucap Risti.
"Tapi aku merasa belum pantas untuk memimpin perusahaan sebesar itu" ucap Rio.
"Kita percaya dengan kemampuanmu nak dan kita juga percaya kamu orang yang amanah."
"Tapi bagaimana dengan perusahaanku?" tanya Rio.
__ADS_1
"Bukankah saat ini Ana membantumu? tentu Ana sudah paham seluk beluk perusahaanmu, dia bisa menggantikan posisimu." ucap Risti.
"Tapi saat ini istriku sedang hamil, aku tidak ingin membuatnya kelelahan jika harus menghandle semuanya" ucap Rio.
"Kamu bisa meminta Lyra untuk membantu Ana, aku melihat adikmu mempunya jiwa kepimpinan yang kuat, lagi pula adikmu sudah lulus kan? dan ada Adit juga, orang kepercayaanmu yang sudah lama bekerja denganmu, pasti ia akan membatu Ana dan Lyra" ucap Risti.
Di tengah obrolan mereka tiba-tiba Ana datang mengantar doula hingga ke pintu depan, setelahnya barupah Ana bergabung bersama suaminya di ruang tamu.
"Ada apa pah? kok tumben ke sini tidak memberi tahu dulu" Ana mencium tangan papa dan kakaknya secara bergantian, kemudian ia duduk di sebelah papanya.
Risti menceritakan kondisi kesehatan papanya kepada Ana, mendengar jantung papanya bermasalah Ana pun bersedih kemudian ia memeluk papanya.
Ana mendoakan agar papanya bisa pulih seperti sedia kala, Ana juga meminta agar papanya memberitahu setiap perkembangan pengobatannya di Jerman. Setelah puas memeluk papanya Ana beralih kepada suaminya.
"Kamu pasti bisa sayang" Ana mengelus lengan suaminya dengan lembut, Rio hanya tersenyum mendapatkan dukungan dari istrinya.
Selepas kepulangan Pak Reino dan Risti, Rio lebih banyak melamun. Bahkan beberapa kali Ana mengajaknya berbicara, Rio hanya menanggapi seperlunya.
"Sayang kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa aku hanya kepikiran...."
"Aku yakin kamu pasti bisa sayang."
"Perusahaan papamu itu bergerak di bidang kimia yang sama sekali aku tidak paham, belum lagi aku harus memimpin ribuan karyawan yang bekerja di sana. It's not easy for me Ana." Rio pergi meninggalkan istrinya, ia memilih untuk tidur di kamar tamu menenangkan pikirannya.
Sore menjelang malam, Ana membangunkan suaminya yang tidur di kamar tamu, ia mengelus dengan lembut wajah suaminya dan mengecup pipinya.
Rio mengucek matanya dan perlahan merubah posisinya menjadi duduk, kemudian menatap istrinya.
"Aku masih mau sendiri boleh?" tanya Rio.
Ana menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan Rio, ia mengambil pakaian ganti suaminya serta makan malam untuk Rio. Ana meletakannya di atas meja kamar tamu yang di tempati oleh Rio kemudian ia pergi lagi ke kamarnya.
Keesokan harinya Lyra sudah tiba di kediaman Rio, Ana menyambut kedatangan Lyradengan hangat.
"Ibu tidak ikut Lyr?" tanya Ana.
"Ibu tidak ikut mba, tapi Ibu membawan banyak oleh-oleh untuk mba Ana" Lyra memberikan sebuah tas besar berisi oleh-oleh yang di sipakna oleh ibu.
"Wah terima kasih ya, Mba jadi merepotkan ibu" ucap Ana, sambil menerimanya, kemudian ia menyuruh asistennya untuk membereskan oleh-oleh tersebut.
"Ya sudah, kamu taruh barang-barangmu di kamar tamu yang di dekat dapur ya."
"Loh kenapa di situ? aku bisa tidur di kamar tamu yang di depan sini" tanya Lyra heran.
Saat sedang mengobrol dengan Lyra tiba-tiba Rio keluar dari kamar tamu yang Lyra tunjuk, Rio nampak berpenampilan rapih.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya." Rio berlalu meninggalkan Ana dan Lyra.
Ana segera menyusul suaminya ke depan kemudian ia menarik tangan Rio dan mencium tangannya.
"Hati-hati ya sayang" ucap Ana sambil tersenyum dan mencium pipi suaminya.
Rio hanya menganggukan kepalanya kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Ana. Lyra merasa heran dengan perubahan sikap kakaknya terhadap Ana.
"Mba lagi ada masalah ya sama Mas Rio?"
"Tidak kok, sudah yuk Mba bantu kamu rapihin barang-barangmu" ajak Ana.
Menjelang malam hari Rio belum juga pulang ke rumah, rasa khawatir menyelimuti hati Ana. Ia memberanikan diri untuk menghubungi suaminya, namun Rio tidak mengangkat telepon dari istrinya.
Tak lama kemudian ada seseorang dari showroom mobil datang ke rumah Ana, ia mengantarkan mobil toyota alphard untuk Ana .
"Bu, mohon untuk di tanda tangani bukti penerimaaannya." Orang tersebut menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Pna.
"Tapi saya tidak merasa membeli mobil Pak."
"Tadi pagi Pak Rio yang sudah membelinya, ia meminta untuk di antar ke rumahnya."
"Ooh begitu" Ana menandatangani bukti penerimaannya dan menerima semua surat-surat kendaraan yang telah di beli oleh Rio.
Selang beberapa menit kemudian, Rio pulang ke rumahnya. Ana menyambut kedatangan suaminya di depan pintu, ia meraih tangan suaminya dan menciumnya.
"Kamu beli mobil sayang?" tanya Ana.
"Iya untukmu besok ke kantor, nanti pagi akan ada supir yang akan mengantarmu. Mulai besok aku mulai mengurus kantor papamu, jadi aku akan berangkat lebih awal karena tempatnya lebih jauh" jawab Rio.
"Boleh aku berbicara sebentar denganmu?" tanya Ana.
Rio mengganggukan kepalanya, Ana mengajak suaminya untuk duduk di ruang tamu, ia mentap wajah Rio dalam-dalam.
"Sayang, kalau kamu belum siap aku bisa kok bantu ngomong sama papa. Aku akan minta papa menyuruh orang kepercayaannya saja untuk mengelola perusahaannya."
"Sudahlah, papamu sedang sakit, jangan kamu membebani beliau."
"Tapikan kamu....."
"Tidak bisakah kamu untuk tidak terus membantah perkataanku?" Rio pergi meninggalkan Ana.
Secara tak sengaja Lyra melihat kakaknya membentak kakak iparnya, sontak saja hal itu membuat Lyra sangat kesal, ia pun bergegas menyusul kakaknya, namun Ana menahannya.
"Aku tidak apa-apa kok Lyr."
"Tapi Mba, Mas Rio sudah keterlaluan."
"Masmu tidak salah Lyr, ini tidak seperti yang kamu lihat kok, percayalah dengan Mba !!!" Ana tidak ingin Lyra bertengkar dengan suaminya hanya karena dirinya.
__ADS_1
Lyra mencoba mengerti dan percaya dengan kakak iparnya, ia pun mengurungkan niatnya untuk menegur kakaknya.