
Sudah hampir sebulan aku dan Yoga tinggal berdua saja. Yoga sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Aku hanya jadi ibu rumah tangga yang kesepian. Karena di rumah ini hanya ada aku dan Yoga saja.
Yoga pernah menawariku untuk mencari pembantu untuk menemani, tapi aku menolak.
Bukan karena tak mau ditemani atau dibantu, tapi malu sama pembantunya nanti. Soalnya Yoga suka menyerangku dengan tiba-tiba tanpa kenal tempat dan waktu.
"Kenapa enggak mau? Katanya kamu sering kesepian?" tanya Yoga beberapa hari yang lalu.
"Malu sama pembantunya. Kamu kan sukanya serangan mendadak," jawabku.
Yoga tertawa.
"Ya enggaklah kalau ada orang lain di rumah ini. Nanti kalau dianya kepingin bagaimana?"
"Tidak usah dulu, Ga. Kalau cuma kerjaan rumah, aku masih bisa ngerjain sendiri kok."
"Iya aku paham kalau itu. Maksudku kan biar kamu enggak kesepian."
"Kalau soal itu Tari juga sering ke sini. Aku juga bisa ke rumah ibu dan main seharian sama Berlian."
"Kalau begitu, jangan suka mengeluh kesepian, Non." Yoga mengacak rambutku.
Tapi hari ini aku benar-benar merasa kesepian. Tari yang aku suruh datang, katanya lagi banyak tugas dari kampusnya.
Ibu pun bilang katanya mau pergi ke rumah saudara sama Berlian dan bapak, sampai sore.
Untuk menghilangkan bete, aku kirim pesan pada Yoga.
Lalu Yoga malah menelponku.
Dan sudah aku duga, dia pasti akan ngomel-ngomel lagi. Mengatai kalau aku enggak konsistenlah, manja lah. Pokoknya semua kata-kata yang bikin aku makin bete saja.
Padahal aku kan cuma bosan saja di rumah terus. Sendirian juga.
Akhirnya Yoga pulang lebih cepat dari biasanya.
"Kok pulang cepat, Ga?"
"Katanya butuh teman? Apa aku balik lagi ke kerjaan?" sahut Yoga.
"Jangan! Enak aja. Udah di rumah enggak boleh pergi lagi."
"Kalau begitu, kasih aku sesuatu dong?"
Pasti minta jatah lagi. Padahal semalam kan sudah dua kali.
"Boleh. Tapi aku beliin martabak yang isi ketan item dulu," sahutku.
"Itu sih gampang. Tinggal buka hape. Beres kan?" jawab Yoga merasa menang.
"Enggak mau. Aku maunya kita beli langsung. Aku pingin lihat cara bikinnya!"
__ADS_1
"Kalau cuma pingin lihat cara bikinnya, buka tutorialnya saja di youtube. Gitu aja kok ribet. Jaman udah maju, Wid. Bukan lagi jaman purba!"
Ih, aku kesel banget dengan jawaban Yoga. Meski semua tak ada yang salah, tapi bukan itu mauku.
Selain maksud lainnya juga biar Yoga enggak minta jatah sore-sore begini.
"Ya sudah, pesan di online aja. Tapi kita makan di teras ya? Sambil minum teh. Kan enak tuh sore-sore begini duduk-duduk di teras sambil minum teh."
"Oke. Tapi nanti malam jatahnya double," sahut Yoga, lalu tertawa.
Alamak. Enggak mau rugi juga ini orang.
"Siap!"
Pasrah sajalah, daripada sore-sore udah keringetan lagi.
Yoga lalu masuk ke kamar dan mandi. Aku memesannya lewat aplikasi. Biar ada alasan duduk di teras sambil menunggu pesanan datang.
Setelah itu, aku bikin dua gelas teh panas dan langsung aku bawa ke teras.
Tak lama, Yoga menyusul sambil membawa laptopnya.
"Aku selesaikan pekerjaanku dulu, ya?"
Walaupun bete karena Yoga pasti tidak mau diganggu, aku mengangguk juga.
Daripada benar-benar sendirian di rumah, mending kan meski hanya didiamkan saja.
Sampai pesananku datang, Yoga belum juga selesai.
"Ya udah dimakan. Katanya tadi kepingin?" Yoga melihatku yang tak menyentuh martabakku lagi.
Entah kenapa tiba-tiba selera makanku hilang. Bahkan aku tidak mau memakannya sama sekali.
Akhirnya pekerjaan Yoga selesai juga. Dan martabak itu masih utuh juga.
"Mau aku suapin?" Yoga mengambil sepotong dan mendekatkan ke mulutku.
"Enggak, ah. Buat kamu semua aja!" Aku mellengos menghindar.
"Kamu marah?" tanya Yoga.
"Enggak. Udah enggak pingin aja!"
"Jangan gitu dong. Kasihan kan yang jualan sudah capek-capek bikin malah enggak kamu makan. Ayo buka mulutnya." Yoga memaksaku menerima suapannya.
Akhirnya aku buka mulut juga.
"Nah, gitu dong. Anak pinter." Yoga mengacak rambutku.
Ternyata martabak itu rasanya enak banget. Bagai orang kelaparan, aku memakannya lagi bahkan sampai hampir habis.
"Woy, baca Bismilah kalau makan. Jangan kayak orang tiga hari enggak makan," ucap Yoga.
__ADS_1
"Abis enak banget sih. Besok sore beli lagi, ya?"
"Boleh. Tapi makannya kira-kira. Entar kekenyangan, perutmu sakit."
"Iya deh. Tapi besok kamu pulang cepet lagi. Nanti kita makan kayak gini lagi, di sini," pintaku.
Yoga hanya menghela nafasnya.
Dan sampai beberapa hari ke depan, aku selalu memesan martabak yang sama.
Dan selalu aku habis banyak makannya. Yoga sampai geleng-geleng kepala.
"Kamu enggak bosen tiap hari makan ginian terus? Kan yang isi lainnya juga enak. Coklat, keju. Aku saja bosan walaupun cuma makan beberapa potong saja," ucap Yoga.
"Enggak, Ga. Aku maunya yang isi ketan item kayak begini. Titik."
"Iya deh. Terserah kamu saja." Yoga hanya pasrah saja.
Yoga juga hanya pasrah saat aku memintanya pulang lebih awal terus. Meski dia harus menyelesaikan pekerjaannya di rumah.
"Apa kantor aku pindah ke rumah aja, ya?" gerutu Yoga.
"Ide yang bagus itu, Ga. Atau aku yang pindah ke kantormu. Di sana ada kamar kosong, kan?"
"Ada! Di gudang mau?" tanya Yoga.
"Ih, jahat banget. Masa aku suruh tidur di gudang, sih."
"Lah memang adanya cuma gudang yang enggak ada orangnya. Semua ruangan sudah dipakai buat kerja karyawan."
"Iya! Tapi kamu mesti janji harus pulang cepet. Terus kita makan martabak isi ketan item!"
"Kayak orang ngidam aja. Gak ada bosan-bosannya," gerutu Yoga pelan. Tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.
"Ngidam?" tanyaku.
"Iya. Kata orang, kalau perempuan ngidam sukanya yang aneh-aneh," jawab Yoga.
Aku jadi kepikiran. Apa benar aku lagi ngidam?
Lalu aku bergegas ke dalam. Mau lihat kalender. Aku mau lihat kapan terakhir aku menstruasi. Karena biasanya aku melingkari tanggal menstruasiku biar bisa siap-siap.
"Enggak bakalan ada lingkarannya. Sejak kamu tinggal di sini belum pernah kamu menstruasi. Bahkan sejak kita menikah," ucap Yoga yang sudah ada di belakangku.
Astaga! Aku malah enggak ingat.
"Masa sih, Ga?" tangaku tak percaya.
"Lah, kan kamu yang mens, kenapa jadi nanya ke aku?"
"Iya juga ya? Pantas saja kamu tiap hari minta jatah terus," sahutku.
"Mumpung belum ada lampu merah. Jalan terus kan? Eh, tapi bukannya itu berarti kamu...hamil?"
__ADS_1
"Hah? Hamil?" Aku melongo. Masa secepat ini, pikirku.
"Biasa saja dong jangan pake melongo. Seneng kek bisa hamil lagi. Jadi kamu kan bakal ada kesibukan baru. Sibuk makan martabak ketan item setiap hari."