Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 115 KENAPA BEGITU MUDAH


__ADS_3

Hari ini aku benar-benar di rumah saja. Menghabiskan waktu dengan anakku dan ibuku.


Satu beban pikiranku berkurang lagi, setelah proses perceraianku dengan suamiku selesai.


Aku tidak menyangka kalau semua yang dilakukan mas Angga hanya karena obsesinya saja untuk memilikiku.


Kalau dipikir-pikir lucu juga. Aku hanya perempuan biasa saja, yang tak pernah merasa cantik atau populer. Malah dikejar-kejar oleh lelaki hebat seperti mas Angga.


Aku menyebutnya hebat, karena dia kini memiliki segalanya. Usaha yang sukses, rumah, apartemen dan mobil.


Showroomnya ada di mana-mana. Mobilnya tinggal pilih saja. Kalau mau berganti-ganti setiap hari juga bisa.


Aku tak mengira kalau obsesinya hanya kepada perempuan seperti aku.


Kalau dulu, okelah. Dia hanya seorang karyawan swasta biasa. Punya hubungan dengan gadis biasa juga.


Ah, sudahlah. Semoga kakakku bisa menyelesaikan masalah ini. Dan menyadarkan mas Angga bahwa aku bukanlah tujuan hidupnya.


Aku pun ingin melihatnya bahagia dengan istrinya. Meski mereka hanya dijodohkan. Meski mereka sampai saat ini tak memiliki anak.


Banyak jalan untuk meraih kebahagiaan walau tak memiliki anak. Tak selamanya anak menjadikan rumah tangga bisa bertahan.


Contohnya diriku. Begitu punya anak, malah kami bercerai. Bahkan mantan suamiku tak pernah memberi kasih sayangnya kepada anakku.


Sudahlah. Toh aku masih bisa bahagia. Anakku juga bahagia tumbuh ditengah orang-orang yang menyayanginya.


"Sejak kapan kamu dekat dengan temanmu yang semalam itu?" tanya ibu.


"Sejak aku pindah ke kantor baru, Bu. Kita ketemu di sana." sahutku sambil menyuapi anakku.


"Kamu serius sama dia?" tanya ibu lagi. Aku mengangguk.


"Nanti sore dia akan datang ke sini lagi. Dia ingin bicara dengan bapak."


"Bicara apa?" ibu mengernyitkan dahinya.


"Entahlah. Dia cuma bilang mau bicara."


"Dia mau datang sendiri, atau...?" ibu tak melanjutkan kalimatnya. Tapi aku tau apa maksud ibu.


"Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia anak tunggal."


"Kamu sudah pernah ke rumahnya?" tanya ibu penuh selidik.


"Sudah, Bu. Kemarin sore" aku malu-malu menjawabnya. Mau bohong sama ibu takut dosa.


"Terus mobil yang semalam dia bawa?" ibu masih terus saja menyelidik.


Aku pikir ibu tidak memperhatikan mobil yang Yoga bawa.


"Aku tidak tau, Bu. Semalam kan ujan, pas aku mau pulang dia tau-tau ngeluarin mobil dari garasi samping rumahnya."


Aku bahkan tak pernah mengira Yoga memiliki mobil, apalagi mobil semewah itu.

__ADS_1


Karena selama bekerja, Yoga hanya menaiki motor matic yang bukan keluaran terbaru juga.


"Ya sudah. Nanti kamu bilang bapakmu, biar pulangnya tidak kesorean." ucap ibu penuh kesabaran.


"Oh, iya. Apa Yoga tau statusmu yang sudah pernah menikah dan punya anak?"


"Yoga malah yang mengantarkan aku mengambil akta cerai, Bu."


Ibu tersenyum mendengarnya.


"Ibu harap kamu jangan memaksakan keinginanmu. Kali ini biar bapakmu yang memutuskan." ucap ibu.


Aku mengangguk. Aku yakin bapak tak akan menghalangi, karena tak ada alasan bagi bapak untuk menolak Yoga.


Walau pun usia kami hanya selisih beberapa bulan, tapi malah membuat kami seperti teman.


Komunikasi kami pun selama ini sangat nyambung. Tak ada basa basi. Mengalir saja.


Yoga yang selengekan, justru membuat aku semakin menyukainya. Hidup yang aku bayangkan nanti akan menyenangkan. Tidak kaku.


Aku menelpon bapak, bilang kalau ada yang mau ketemu nanti sore. Bapak mengiyakan.


Aku juga memberitahukan pada mas Andi, bagaimana pun dia adalah kakakku. Aku juga meminta mas Andi mengajak serta Tari. Biar makin rame.


Ibu yang aku kira bersikap biasa saja, malah menyiapkan banyak masakan untuk nanti sore.


"Ibu kenapa masak banyak banget?"


Saat aku berkirim pesan dengan Yoga, aku juga bilang jangan sampai dia tidak jadi datang. Karena ibu sudah memasak banyak untuk makan malam bersama.


Yoga malah meledek aku.


(Duuh, yang mau dilamar...)


Aku hanya membalas dengan emot bingung. Bingung dengan candaannya.


Yoga memang kadang nyeleneh. Tapi justru itu aku suka.


Sore harinya, aku bingung memilih pakaian apa yang akan aku pakai.


"Kamu kenapa belum ganti pakaian?" tanya ibu yang melihatku masih memakai kaos rumahan.


"Aku bingung mau pakai baju apa, Bu." sahutku.


"Asal rapi saja. Kan cuma makan malam bareng." sahut ibu lalu pergi lagi ke depan.


Aku juga melihat ibu hilir mudik seperti orang bingung. Kadang duduk di depan. Kadang masuk lagi ke dalam.


Selesai berganti pakaian, aku keluar dari kamar.


"Ibu kenapa?" tanyaku. Ibu malah menatapku.


"Kenapa, Bu?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Ibu cuma tidak enak dengan kakakmu. Dia saja belum sekali pun melamar perempuan, kamu malah sudah mau dua kali."


"Ini kan bukan acara lamaranku, Bu?" sahutku.


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk. Karena Yoga tak bilang kalau hari ini dia akan melamarku. Dia hanya bilang ingin bicara pada bapak.


"Ya sudah. Kita lihat saja nanti." sahut ibu.


Tak lama bapak pulang. Padahal baru jam empat. Biasanya hampir jam lima bapak baru sampai di rumah.


"Bapak mau langsung mandi apa ngopi dulu?"


"Langsung mandi saja." sahut bapak. Ibu lalu menyiapkan baju batik untuk bapak.


"Lho kok bapak pakai baju batik, Bu? Katanya makan malam biasa?"


"Bapakmu maunya begitu."


Bahkan ibu pun lalu berganti pakaian yang senada dengan pakaian bapak. Termasuk Berlian ibu dandani dengan cantik.


Aku malah jadi bingung. Ada apa dengan bapak dan ibuku? Apa mereka akan sekalian merayakan anniversary-nya?


Ah entahlah. Aku masuk kembali ke kamarku. Mematut diriku yang hanya mengenakan celana panjang dengan kemeja biasa.


Aku mengirim pesan pada Yoga.


(Ga. Jadi ke rumah kan?)


Tak dibaca. Tapi sudah centang dua.


Aku cuma tidak enak kalau Yoga tak jadi datang. Sementara bapak dan ibu sudah rapi.


Dan tak lama, mas Andi pulang. Dia tak lagi membawa mobilnya mas Angga.


Mas Andi datang berboncengan dengan Tari. Tidak menaiki motor bututnya. Tapi motor baru yang baru aku lihat.


Dan di belakang mas Andi, mobil Yoga mengikuti. Kok mereka bisa datang beruntun? Sengaja atau hanya kebetulan saja?


Saat mobil Yoga berhenti, mas Andi mendatanginya. Lalu mas Andi membuka pintu samping mobil. Dan mengeluarkan beberapa barang dibantu oleh Tari.


Aku hanya melihatnya saja. Sepertinya mereka mau membuat kejutan. Tapi entah untuk siapa.


Yoga masuk dan menyapaku seperti biasanya. Yoga juga menyapa bapak dan ibu dengan sopan.


Setelah kami semua duduk di kursi tamu, Yoga membuka pembicaraan.


"Bapak, ibu...saya Yoga Prasetya, berniat melamar putri bapak. Apa bapak dan ibu mengijinkannya?" ucap Yoga to the point.


Aku benar-benar terkejut. Apalagi saat bapak langsung mengijinkan.


Kenapa semudah dan secepat ini? Semua yang hadir malah tertawa melihat aku yang bengong.

__ADS_1


__ADS_2