Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 137 GARA GARA DITINGGAL KE TOILET


__ADS_3

Jam empat sore aku memaksa Yoga untuk keluar. Meski badanku terasa pegal-pegal semua.


Lebih baik keluar mencari udara segar daripada harus melayani Yoga yang lagi merapel malam pertama kami.


"Kenapa minta keluar? Kamu capek?" tanya Yoga.


Aku hanya mengangguk. Mestinya tak perlu ditanyakan lagi. Jelas-jelas dia pelakunya.


"Ga. Boleh enggak aku ngomong sama kamu?" tanyaku saat kami sudah meluncur dengan mobil Yoga.


"Mau ngomong aja pakai pamit segala. Mau ngomong apa?" jawab Yoga sambil terus fokus menyetir.


"Besok-besok jangan membabibuta begitu dong? Aku kan capek banget, Ga. Mana punyaku ini sekarang perih banget."


Yoga tertawa. Lalu melirik ke arahku. Tepatnya ke arah bagian yang aku bilang perih.


"Aku pikir kamu menikmatinya?"


"Menikmati sih menikmati, tapi kalau diserang bertubi-tubi gempor juga, Ga."


"Oke. Maaf, maaf. Nanti malam sekali saja ya?"


Aku melotot ke arah Yoga. Ingin sekali aku tonjok sampai bonyok.


Sudah dibilang perih, malah minta lagi.


"Ga. Please deh. Libur dulu seminggu."


"Apa? Seminggu? Bisa karatan lagi punyaku, Wid!"


Ganti aku yang tertawa.


"Entar aku beliin oli biar enggak karatan."


"Ngapain beli? Punyamu saja banyak olinya."


Hhmm. Geram sekali aku mendengarnya.


"Ah, kamu enggak asik. Nanti aku laporin ke komnas perempuan lho," ancamku. Yoga malah ketawa.


"Terus bikin laporannya bagaimana? Bu, lapor. Saya telah di cumbui suami sampai gempor. Begitu?"


"Auk ah. Males aku sama kamu." Aku menatap keluar lewat jendela samping.


Repot juga menikah dengan orang konyol macam Yoga. Kitanya serius malah dianggap becanda terus.


"Ga. Beli minuman yuk?"


"Hah! Kamu mau minum? Mau mabok?" tanya Yoga dengan keras.


"Iih. Apaan sih? Minuman maksudku aku haus, Yoga! Masa aku mau mabok. Entar keenakan kamu dong.!"


Lalu tanpa aku minta dua kali, Yoga membelokan mobilnya ke sebuah kedai yang khusus menjual aneka minuman.


"Ayo turun."


Yoga malah sudah turun duluan dan masuk ke dalam kedai itu.


Enggak romantis banget. Bukannya membukakan pintu buatku, malah masuk sendiri.


Aku turun dan berjalan tertatih-tatih karena bagian bawahku masih nyeri.

__ADS_1


"Mbaknya abis melahirkan, ya?" tanya seorang pengunjung.


Aku malu setengah mati. Pasti dia memperhatikan cara berjalanku yang kayak orang baru selesai melahirkan.


Aku mengangguk saja daripada mesti jujur. Toh aku enggak kenal dia.


Aku mencari Yoga yang tadi tiba-tiba masuk. Karena emggak menemukan Yoga, aku mencari meja yang kosong saja.


Seorang pelayan mendatangiku. Padahal yang lainnya langsung pesan ke meja kasir.


Mungkin dia kasihan mengira aku benar-benar habis melahirkan.


"Mbaknya mau pesan apa? Ini daftar menunya." Dia memberikan daftar menu padaku.


Aku memilih es capucino. Eh, pelayan itu malah protes.


"Mbak, kata embahku kalau habis melahirkan tidak boleh minum es. Nanti bayinya pilek."


Asli aku kepingin ngakak. Aturan dari mana itu si embah. Hh. Dasar orang jadul.


"Enggak apa-apa, Mbak. Nanti aku minum obat pilek biar bayinya ikutan sembuh."


Pelayan itu malah ketawa.


"Hahaha. Mbaknya ini lucu." Lalu dia pergi membuatkan pesananku.


Lucunya dimana coba? Aku kan cuma menjawab omongannya. Dia yang aneh kok aku yang dianggap lucu.


Yoga juga kemana sih? Malah ngilang. Apa jangan-jangan dia ke toilet? Tapi kok lama banget?


Mau menelpon, hapeku ketinggalan di dalam mobil. Yoga juga kayaknya enggak bawa hape.


Mau jalan mencari toilet, entar orang-orang makin heran melihat cara jalanku yang belum bener.


Tanpa menunggu Yoga, aku meminumnya sampai tinggal setengah. Asli enak banget. Pantas saja kedainya ramai terus.


Cewek yang tadi mengataiku kayak orang habis melahirkan, mendekatiku. Dia mencari meja kosong, tapi tidak ada lagi.


Karena aku duduk sendirian, dia permisi untuk duduk di depanku.


"Mbak, boleh aku duduk di sini?"


Waduh, aku bingung jawabnya. Kalau aku bilang boleh, nanti kalau Yoga muncul dia mau duduk di mana.


Tapi kalau bilang enggak boleh, kayaknya kejam amat ada kursi kosong tidak boleh di duduki.


"Duduk aja. Tapi nanti ada suamiku."


Akhirnya aku dapat juga jawaban yang menurutku tepat.


"Ooh, datang sama suami? Kemana suaminya?"


Waduh, aku makin bingung jawabnya. Kan enggak lucu kalau aku bilang suamiku ilang entah kemana. Atau aku bilang dia menghilang tiba-tiba.


Entar aku dibilang punya suami dedemit yang bisa ngilang.


Iih. Jadi sebel sama Yoga. Dia kemana sih?


Cewek itu malah mengajak aku ngobrol. Dia banyak menanyakan tentang proses melahirakan. Kayaknya dia lagi bikin program hamil.


Tapi pas aku tanya dia sudah menikah apa belum, dia jawab masih single. Terus ngapain nanya-nanya soal rasanya orang melahirkan?

__ADS_1


Untungnya aku sudah punya pengalaman. Jadi bisa menjawab pertanyaannya dengan lancar.


Dia terus saja bertanya. Kenapa enggak tanya bagaimana cara membuat anak?


Pasti akan aku jelaskan panjang kali lebar. Apalagi kalau tanya bagaimana rasanya membuat anak. Begini ini rasanya, buat jalan saja susah.


Pedih. Perih. Gara-gara Yoga yang menyerangku bertubi-tubi.


Setelah minumanku kandas, Yoga baru muncul dari belakang.


Aku menatapnya dengan kesal. Sementara Yoga menatapku sambil senyum-senyum tanpa rasa bersalah.


Cewek di depanku melihat ke arahku, lalu menoleh ke belakang mengikuti pandanganku. Dan berbalik lagi menatapku.


"Mbak, mbak. Katanya sudah punya suami. Kalau melihat laki-laki ganteng jangan melotot begitu. Nanti suaminya cemburu lho."


"Aku enggak melotot ke cowok itu kok. Cuma sebel aja liatnya."


"Kalau kata embahku, orang lagi hamil jangan sebel sama orang lain. Nanti anaknya ketularan. Eh, sebentar." Dia menoleh lagi.


"Tapi kalau ketularan ganteng kayak dia enggak masalah sih mbak. Malah seneng. Asal jangan sampai suami Mbaknya cemburu saja, karena anaknya malah mirip masnya itu," lanjutnya.


Ih, aku jadi kesel sama cewek ini. Banyak omong banget. Akhirnya aku beranikan diri mengusirnya dengan halus.


"Mbak. Maaf ya, suami saya sudah datang. Bisa enggak pindah duduknya?"


"Oh iya, Mbak. Silakan. Saya bisa duduk di sana deket mas ganteng itu."


Aku jadi kepingin ketawa. Yoga dibilang ganteng.


Aku melambai ke arah Yoga yang sedang memesan minuman.


Cewek tadi yang sudah duduk dekat Yoga menatapku agak melotot. Entah apa maksudnya.


Tak lama Yoga menghampiriku dengan membawa minumannya.


"Kemana saja sih kamu, Ga? Bete tau nungguin kamu."


"Bete apa kangen?"


"Bete! Abisnya kamu pergi tanpa pesan!"


"Udah kebelet banget. Mau kirim pesan gak bawa hape. Emangnya kamu bawa hape?"


"Enggak."


Cewek yang tadi jalan melewati mejaku. Entah sengaja apa tidak. Terus dia nyeletuk.


"Mbak. Kalau udah punya suami, kasih kesempatan aku yang masih jomblo dong."


Hah! Aku melongo sesaat.


"Kesempatan apa?" tanyaku.


"Ya kesempatan deketin masnya ini," jawabnya dengan jujur.


Yoga menatap cewek itu dengan bingung.


"Masnya ini suamiku. Kamu mau menambah panjang daftar pelakor?"


"Oh, maaf Mbak. Aku enggak jadi deh. Aku enggak mau jadi pelakor."

__ADS_1


Lalu dia berjalan menjauh dari mejaku. Tapi matanya masih melirik-lirik Yoga.


__ADS_2