
Jam lima tepat tim perias pengantin datang. Aku sudah bersiap di kamarku. Rencananya jam delapan nanti acara ijab qobulnya akan dilaksanakan di kantor KUA.
Jadi aku pikir jam tujuh aku harus sudah siap dan berangkat ke sana.
Seorang penata rias yang memperkenalkan dirinya dengan nama mama Lin mulai me-make over penampilanku.
Hampir dua jam aku duduk di kursi kecil hingga bokongku terasa panas.
Selesai wajahku di-make over, mama Lin memakaikan pakaianku. Sebuah kebaya yang benar-benar pas di tubuhku.
Semua sudah terpasang di tubuhku. Mama Lin mengijinkan aku untuk melihat hasil karyanya di kaca meja riasku.
Aku benar-benar tercengang dan hampir tak mengenali diriku sendiri. Kalau kata orang manglingi. Aku benar-benar pangling dengan diriku.
Aku sentuh sebentar wajahku. Aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata. Aku berubah menjadi perempuan cantik.
Bisa jadi Yoga tidak akan mengenaliku karena dia tidak melihat prosesnya. Begitu juga Ibuku dan Tari. Entah kemana mereka saat aku dirias tadi.
"Tunggu di sini dulu ya? Mama akan keluar sebentar." Mama Lin menyuruhku duduk di tepi tempat tidur.
Aku pun menurutinya. Aku ambil ponselku. Iseng-iseng aku selfie sendirian, buat menghilangkan kejenuhan.
Aku melihat jam di dinding kamar. Sudah jam setengah delapan. Kenapa belum ada yang masuk menjemputku. Bukankah acara di KUA-nya jam delapan pagi.
Bagaimana kalau terlambat sampai di sana?
Aku menelpon Tari, tapi tidak diangkat. Aku telpon mas Andi juga tidak diangkat. Akhirnya aku beranikan diri menelpon Yoga, tetap tak diangkat.
Sedang apa mereka? Suara musik yang agak kencang membuatku tak bisa mendengar suara dari luar kamar.
Aku sudah sangat panik. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar kecilku.
Hingga hampir jam delapan. Aku merasa tak bisa lagi menunggu. Jangan sampai penghulu membatalkan acara hanya karena kita datang terlambat.
Aku membuka pintu kamarku, bertepatan dengan mama Lin yang juga akan masuk ke kamarku.
"Ayo kita keluar" ajak mama Lin.
"Bukannya acara di KUA jam delapan, Ma? Ini sudah hampir jam delapan. Kalau terlambat bagaimana?"
Hampir aku menangis karena kesal.
"Jangan nangis, nanti make-up nya luntur." Mama Lin membimbingku keluar kamar.
Sesampainya di ruang tamu, aku tercengang saat menatap ke halaman rumah dan teras. Dalam waktu kurang dari tiga jam, halaman sudah disulap menjadi tempat resepsi yang mewah.
__ADS_1
Tenda sudah terpasang dengan megah. Nuansa putih dan emas mendominasi.
Mama Lin menggandengku sampai ke teras yang sudah dipasangi pelaminan.
Didepan pelaminan ada sebuah meja besar yang dikelilingi beberapa kursi. Seperti akan dipakai untuk acara akad nikah.
Di sana sudah ada bapak dan dua orang lelaki yang aku tidak mengenalnya.
Ibu dan Tari duduk di dekat meja itu. Dan anakku sudah didandani juga. Aku tersenyum melihatnya.
Di sebelah kanan dan kiri tenda ada banyak meja yang berisi makanan. Aku melihat banyak stand-stand aneka makanan dan minuman.
Tapi aku tak melihat Yoga dan mas Andi. Kemana mereka? Aku mengedarkan pandanganku.
Dan tiba-tiba dari samping rumah muncul mas Andi yang memapah Yoga. Mereka berjalan menuju ke arahku.
Yoga memakai pakaian dengan warna senada dengan kebayaku. Dia terlihat sangat sempurna meski jalannya masih tertatih dipapah mas Andi.
Kepala Yoga yang masih terlilit perban ditutupi dengan peci dengan ukuran lebih besar mestinya, agar bisa masuk ke kepala Yoga.
Setelah dekat, Yoga meraih tanganku dan membawaku ke meja besar yang sudah dikelilingi beberapa laki-laki termasuk bapak.
Mas Andi ikut duduk di antara mereka. Aku dan Yoga dipersilakan duduk berjajar.
Sepertinya mereka merubah rencana. Yang tadinya akad akan diselenggarakan di kantor KUA, malah diadakan di rumahku.
Salah satu dari lelaki itu memperkenalkan diri sebagai petugas penghulu yang akan menikahkan aku dan Yoga.
Sedang satu lainnya katanya saksi dari pihak Yoga. Saksi lainnya kakakku sendiri, mas Andi.
Aku masih tercenung dengan semua yang serba mendadak dan menjadi sebuah kejutan buatku.
Ibu memasangkan kerudung putih di kepalaku dan kepala Yoga. Aku jadi teringat lagi saat pernikahanku dulu.
Mataku terasa berembun. Tak aku kira, aku akan melaksanakan lagi pernikahan.
Hatiku terasa bergetar. Semoga ini adalah pernikahan terakhirku.
Yoga menyenggol bahuku yang masih diam termenung. Mas Andi melihat ke arahku dan memberi kode agar aku fokus. Aku pun mengangguk mengerti.
Aku harus membuang jauh-jauh kenangan masa laluku yang tiba-tiba melintas.
Penghulu mulai membacakan syarat sah menikah dan memberikan sedikit wejangan pada kami. Aku dan Yoga mengangguk mengerti.
Sampai akhirnya Yoga mengucapkan ijab qobul yang sudah dicontohkan oleh petugas Penghulu dengan menjabat erat tangan bapak.
__ADS_1
"Bagaimana, sah?" tanya Penghulu.
"Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka. Ini tidak sah!"
Semua mata menatap ke arah sumber suara. Mas Angga berdiri di pintu masuk tenda diantara dua meja penerima tamu.
Lalu datang beberapa orang yang langsung menyeret mas Angga untuk pergi menjauh.
Aku berpandangan dengan Yoga. Mas Andi segera berlari keluar.
Mas Angga terdengar meronta-ronta dan terus saja berteriak.
Terdengar memalukan sekali. Aku seperti orang yang telah menghianatinya. Yoga menggenggam tanganku. Dia percaya padaku karena sudah tau bagaimana jalan ceritanya.
Acara dilanjutkan. Aku dan Yoga menandatangani surat nikah kami. Tak terasa air mataku menetes.
Acara yang sakral harus dikotori oleh mas Angga yang tiba-tiba muncul. Dan parahnya, semua terekam oleh kamera yang mengabadikan momen berharga ini.
Selesai acara ijab qobul, aku dan Yoga diminta untuk berfoto dulu di pelaminan yang sudah diseting di teras rumah.
Aku menuju pelaminan dengan digandeng oleh Tari dan Yoga yang dipapah oleh bapak.
Toni si fotografer teman Yoga yang pernah aku datangi, mengambil banyak pose kami di atas pelaminan.
Tapi kebanyakan pose kami duduk, terutama Yoga karena dia masih belum bisa berdiri sendiri.
Selesai sesi foto, datanglah rombongan orang-orang yang kata Yoga mereka teman kuliahnya.
Ramai-ramai mereka naik ke pelaminan dan menyalami kami. Tak lupa juga berfoto bersama.
Kemudian datang lagi serombongan orang, kata Yoga itu keluarganya. Mestinya mereka tadi menyaksikan acara akad, tapi karena kendala mobil sempat mogok di jalan, mereka jadi terlambat datang.
Ada seorang perempuan yang paling tua dan dipapah oleh Tari. Kata Yoga itu neneknya. Nenek Tari juga.
Meski sudah tua, penampilannya sangat elegan. Menunjukan kalau dia bukan dari kalangan bawah.
Dia naik ke pelaminan dan langsung memelukku dengan erat.
"Kamu cantik sekali. Ini Omanya Yoga. Omanya Tari juga." Dia memperkenalkan dirinya.
Aku kembali mencium tangannya dengan takzim. Ternyata Yoga masih punya Oma. Masih punya keluarga.
Bahkan lebih banyak dari yang aku kira. Satu per satu diperkenalkan kepadaku. Ada tantenya, omnya, pakdenya, budenya, keponakan-keponakannya.
Pantas saja Yoga dan Tari mempersiapkan banyak makanan dari catering, karena mereka sengaja akan menjamu keluarganya di rumah keluargaku.
__ADS_1
Aku bersyukur keributan yang dilakukan mas Angga tadi terjadi sebelum keluarga Yoga datang. Kalau mereka melihatnya, mau ditaruh dimana mukaku.