
Damar pergi dari rumah membawa hati dan perasaanya yang hancur, mengingat mungkin saja Ayu telah menyerahkan dirinya pada Tristan, walau jujur saja hati kecilnya mengatakan tidak. Tapi menurutnya, tidak mungkin Tristan akan mengembalikan uangnya, kalau dia tidak mendapatkan apa yang dia mau. Apalagi uang itu masuk ke rekening pribadi Ayu.
Arggghhhhh.....Damar terlihat frustasi, dia memukul setir yang tidak bersalah dan tidak tau apa-apa. Perasaanya saat ini benar-benar kacau, dia tidak bisa berfikir jernih karena rasa cemburu dan api amarah yang membakar hati dan jiwanya.
Bayangan Tristan mencumbui istrinya terus saja membayangi pikiran Damar. Dia sungguh tidak rela jika hal itu benar-benar terjadi, atau itu memang sudah terjadi, pikir Damar.
"Kenapa kamu tega melakukan itu padaku Yu?. Kenapa kamu melakukannya?." Gumam Damar seraya kembali memukul-mukul kemudi.
Tidak Damar, tidak. Ayu tidak mungkin mengkhianati kamu. Apa kamu tidak melihat kejujuran dimatanya?. Apa kamu tidak mendengar dia bersumpah tidak melakukanya?. Tapi....bagaimana mungkin Tristan menyerahkan uang itu begitu saja, kalau dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dari Ayu. Arggghhh....Br*ngseekk.
Perang batin terjadi dalam hati Damar saat ini. Sebelah hatinya merasa kalau Ayu berkata jujur, tapi sebelah hatinya yang lain berkata sebaliknya.
Damar melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tanpa tahu akan pergi kemana. Dia hanya ingin menghindari kemungkinan terburuk yang mungkin akan dia lakukan pada Ayu saat dirinya sedang emosi. Damar tidak ingin berkata atau bersikap kasar pada Ayu, seperti yang dia lakukan beberapa tahun lalu saat dia menuduh Ayu mengkhianatinya, hingga akhirnya dia menyesal.
Disisi Lain
Ayu masih menangis dikamarnya, mengingat Damar yang saat ini mungkin membencinya, juga nasib rumah tangganya yang dia pikir mungkin benar-benar akan berakhir. Walau dari awal dia tahu semua ini akan terjadi, dia tetap merasakan sakit itu.
Tidak apa kamu membenciku mas Damar, yang penting kamu tidak harus kehilangan perusahaan kamu dan kamu tidak hidup menderita. Aku harus ikhlas, ya aku harus ikhlas. Semoga suatu hari nanti kamu mengerti mas Damar. Aku melakukan semua ini karena aku sangat menyayangi dan peduli sama kamu. Batin Ayu.
__ADS_1
Dia lalu pergi ke kamar anak-anaknya menyuruh sikembar mengemasi pakaian mereka, sedangkan dia sendiri mengemasi pakaian Gara.
"Kita mau kemana sih mah?. Kok mama nyuruh kami beresin baju. Kita mau liburan ya mah?." Tanya Alana, yang hanya dibalas senyuman sekilas oleh Ayu.
"Liburan?. Asiikk!! Kita mau liburan kemana mah?. Ke pantai ya?." Timpal Gara.
"Enggak sayang. Kita gak akan liburan. Kita akan ke Bandung." Jawab Ayu, sambil menahan air matanya yang hampir menetes.
"Asiiik ke Bandung. Aku udah kangen sama kakek dan nenek di Bandung." Sahut Gara senang.
"Kita mau nginep berapa hari di Bandung mah?. Apa papa juga ikut?." Tanya Kanaya. Ayu diam, tapi air matanya yang susah payah dia tahan dari tadi akhirnya jatuh membasahi pipinya mendengar pertanyaan Kanaya.
"Tidak sayang, papa tidak ikut. Papa.......papa banyak kerjaan." Jawab Ayu memunggungi ketiga anaknya dengan suara bergetar, menahan tangisnya yang hampir pecah.
Ayu sudah selesai mengemasi baju Gara, lalu dia keluar dari kamar itu. Tangisnya pun pecah, begitu dia menutup pintu kamar. Sakit sekali rasanya harus pergi meninggalkan suami yang dia cintai, tapi ini lebih baik, daripada Damar lebih dulu mengusirnya dan harus mendengar ucapan Damar yang menyakitkan seperti waktu itu.
Air matanya semakin deras mengalir kala teringat peristiwa itu. Dia segera masuk ke kamarnya karena takut anak atau art-nya melihatnya menangis. Ayu luruh, duduk dilantai kamarnya, bersandar pada pintu kamar, karena masih merasakan sesak didadanya, membayangkan nasib anaknya, setelah ini, setelah dia berpisah dengan Damar. Apalagi Gara begitu dekat dengan Damar.
Sudahlah Ayu, kamu jangan pikirkan hal itu. Sekarang lebih baik kamu segera bereskan barang-barang kamu, sebelum mas Damar datang dan kembali memakimu. Kamu harus ingat, saat ini dia pasti membenci dan sangat marah sama kamu. Dia tidak akan pernah mau mendengar penjelasan kamu atau siapapun saat dia sedang marah, ingat itu. Kata Ayu dalam hati.
__ADS_1
Adzan maghrib berkumandang, Ayu segera bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat maghrib. Dia berdo'a dengan khusyuk, memohon yang terbaik untuknya dan keluarganya. Dia sudah pasrah menerima semua ini. Dia lalu berdzikir sampai datang waktu sholat isya.
Ayu selesai melaksanakan sholat isya, hati dan pikirannya terasa lebih tenang sekarang, walau matanya masih sembab dan merah, karena terus menangis. Ayu meminta Tina mengajak anak-anaknya makan malam, karena saat ini dia sendiri tidak berselera untuk makan. Selama ini dia selalu menasehati suaminya, seberat apapun masalah yang dihadapi, jangan sampai lupa makan, tapi sekarang dia sendiri yang tidak mau makan.
Ayu mengambil travel bag, memasukkan beberapa baju juga barang pribadinya, yang dia beli dengan uangnya sendiri. Dia tidak akan membawa satupun barang pemberian Damar, kecuali sertifikat ruko.
Jam menunjukan pukul setengah sembilan malam, tapi Damar belum juga kembali, Ayu sangat mengkhawatirkan suaminya itu. Dia takut Damar kenapa-napa, atau melakukan hal buruk. Lindungi suami hamba, dimanapun dia berada ya Allah. Do'a Ayu dalam hati seraya memasukkan bajunya.
Tak lama kemudian, ceklek....pintu kamar terbuka. Ayu berharap itu suaminya, dan memang Damar yang membuka pintu. Ayu menoleh sekilas, perasaan lega bercampur perasaan takut dia rasakan bersamaan saat ini. Ayu tidak berani menatap wajah Damar yang saat ini berdiri kurang lebih dua meter dibelakangnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?." Suara Damar terdengar ditelinga Ayu, membuat jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Dia yakin Damar masih marah dan akan kembali membahas tentang Tristan.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang sedang kamu lakukan?." Suara tanya Damar terdengar sedikit naik meninggi, membuat Ayu semakin yakin Damar memang masih sangat marah kepadanya. Ayu menghela nafas sebelum dia menjawab." Aku....aku hanya membereskan baju-bajuku." Jawabnya dengan suara tertahan. "Kamu gak perlu mengusirku seperti dulu mas. Aku cukup tahu diri untuk pergi dari rumah ini. Aku tahu, kamu tidak percaya apapun yang kukatakan padamu. Sekali lagi aku katakan, aku memang menemui Tristan, tapi aku bersumpah, aku tidak melakukannya. Apapun yang Tristan katakan padamu, itu hanya caranya yang ingin menghancurkan kebahagian rumah tangga kita. Aku hanya mencintai kamu mas Damar. Aku tidak pernah mengkhianati kamu." Jawab Ayu tanpa berbalik, dengan air mata yang terus berjatuhan, tapi dia segera mengusapnya, dan kembali memasukkan bajunya ke dalam travel bag.
Damar melangkahkan kakinya mendekati Ayu, lalu merampas baju yang baru saja akan Ayu masukan ke dalam travel bag. Ayu tersentak, apalagi Damar langsung melempar baju itu juga travel bag-nya dengan kasar.
"Apa yang kamu lakukan mas Damar?." Tanya Ayu kaget sambil menatap Damar.
Damar pun menatap Ayu dengan tatapan yang tidak bisa Ayu mengerti. Raut wajah Ayu berubah melihat ekspresi wajah Damar, juga air mata yang menganak sungai dimata suaminya itu. Ayu tahu suaminya sedang tidak baik-baik saja saat ini, tapi tidak ada tatapan kebencian dimata Damar padanya.
__ADS_1
"A-a-aaada apa mas?. Kenapa kamu ..." Ayu tidak menyelesaikan kata-katanya karena terkejut dengan perlakukan Damar yang tiba-tiba memeluknya dengan erat sambil menangis.
TBC💚❤️💚