Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 60


__ADS_3

Dua minggu sudah Ana merasa perubahan sikap yang terjadi pada diri suaminya, Rio yang ia kenal perhatian dan lembut terhadapnya semakin hari semakin sirna.


Ana sudah tidak dapat menyembunyikan raut kesedihannya, bahkan Lyra turut merasakan kesedihan kakak iparnya.


"Mba, coba deh sekali-sekali Mba Ana ke kantor Mas Rio. Mba Ana bawakan makan siang untuk Mas Rio" ucap Lyra memberika ide kepada kakak iparnya.


Ana berfikir tidak ada salahnya jika ia mencoba ide Lyra, ia melihat jam di pergelangan tangannya.


"Sudahlah Mba percayakan meeting kali ini kepada aku dan Mas Adit." ucap Lyra.


Ana memesan taxi online untuk mengantarnya ke kantor suaminya, sebelum ke kantor suaminya Ana membelikan makanan kesukanaan suaminya yaitu ayam bakar kalasan.


Sesampainya di kantor, Ana langsung menuju ke ruang kerja suaminya. Sebelum masuk kedalam, ia merapihkan penampilannya dan menyemprotkan minyak wangi di tubunya setelah itu barulah Ana membuka pintu ruang kerja suaminya.


Ana sangat terkejut di meja kerja suaminya ada seorang wanita cantik dengan pakaian super sexy (rok mini dan kemeja sempit sehingga membuat belahan dadanya terlihat) sedang duduk bersebelahan dengan suaminya, Ana meremas pakaiannya dan mengontrol nafasnya.


Tak kalah terkejutnya dengan Ana, Rio pun di buat terkejut dengan kedatangan istrinya secara tiba-tiba. Rio bergegas menghampiri Ana yang mematung di pintu ruang kerjanya.


"Kenapa tidak mengabariku jika kamu mau ke sini?" tanya Rio sambil mencium kening Ana.


"A-aku hanya ingin membawakanmu makan siang" jawab Ana menahan air matanya menetes.


"Masuklah!!" Rio menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya duduk disofa.


"Fell, bisa tolong tinggalkan aku dan istriku sebentar?" Rio menyuruh Felly untuk keluar dari ruangan Rio, Felly pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Rio dengan muka cemberut.


"Apa kamu tidak bisa meminta sekretarismu untuk berpakaian dengan sopan?" tanya Ana.


"Aku tidak punya hak untuk mengatur pakaian orang lain, sudahlah jangan berfikir yang tidak-tidak itu akan mengganggu perkembangan anak kita. Aku dan Felly tidak ada hubungan apa-apa, justru felly sangat membantuku selama ini" ucap Rio sambil melihat jam di tangannya.


"Aku mau meeting, sebaiknya kamu pulang!!" Rio menelepon supirnya, memintanya untuk mengantarkan istrinya pulang.


Rio mengantar Ana sampai ke depan kantornya, ia mencium kening Ana dan kembali masuk ke dalam kantornya.


Sepanjang perjalanan Ana tidak bisa menahan air matanya, bahkan setelah sampai di kantor Ana langsung berhambur memeluk Lyra dan menangis di pelukan Lyra.

__ADS_1


"Mba Ana kenapa?" tanya Lyra sambil mengelus punggung kakak iparnya dengan lembut.


Ana tidak menjawab pertanyaan Lyra, ia hanya menangis di pelukan adik iparnya hingga tangisan Ana mereda barulah ia mulai bercerita, Lyra menyeka air mata Ana dengan tangannya.


"Apa ini adalah sebuah karma ya Lyr, dulu aku menjadi orang ketiga dalam pernikahan temanmu Retno dan sekarang aku yang berada di posisi Retno huuuu..."


"Ya jelas beda dong Mba, dahulu Mba Ana kan tidak tahu jika Julio memiliki istri" bantah Lyra "Apa Mas ku benar-benar selingkuh?" gumam Lyra.


"Aku tidak tahu, tadi yang aku cuma liat masmu sedang bersama wanita lain berdua di ruangannya dan kemarin masmu mengantar wanita itu Hikss..."


"Kalau begitu aku harus bilang Ibu, Mas Rio sudah benar-benar keterlaluan." ucap Lyra.


"Jangan Lyr, aku mohon jangan!! Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri dan tolong kamu bersikap biasa saja terhadap Masmu."


"Maaf Mba Ana, aku tidak bisa" Hati Lyra terasa sakit mendengar cerita kakak iparnya, ia tidak bisa membiarkan kakaknya berbuat seperti itu terhadap kakak iparnya terlebih Ana tengah mengandung.


"Aku mohon padamu Lyr" Ana terus memohon pada Lyra.


Sebenarnya lyra ingin sekali menampar dan memaki kakaknya namun, melihat Ana terus memohon kepadanya ia urungkan niatnya.


"Baiklah Mba, aku akan lakukan apa pun yang Mba inginkan" Lyra kembali memeluk Ana dan mengelus punggung Ana dengan lembut, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk kakak iparnya.



Begitu mendengar suara mobil rio datang Ana menyambut kedatangan suaminya dengan senyum terbaiknya.


Rio nampak memperhatikan penampilan Ana dari atas hingga ke bawah.


"Kamu tidak perlu mengenakan pakaian seperti itu, aku benar-benar capek. Nanti saja jika pekerjaanku sudah selesai" ucap Rio.


Penolakan Rio membuat hatinya sakit, tapi Ana tetap mencoba bersikap setenang mungkin.


Ana menganggukan kepalanya, ia menyiapkan air hangat untuk suaminya membersihkan diri dan pakaian tidur untuknya, begitu Rio selesai mandi Ana memberikan teh hangat untuknya.


"Sayang, besok jadwalku periksa kandungan, apa kamu bisa menemaniku?" tanya Ana.

__ADS_1


"Besok aku mau ke Singapore, kamu minta tolong Lyra saja untuk menemanimu."


"Berapa hari? Apa bersama dengan Felly?"


"Dua samapi tiga hari, hingga client mau memperpanjang kontrak kerja samanya. ia tentu saja bersama Felly, dia kan sekretarisku." jawab Rio.


Ana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia memalingkan wajahnya dari suaminya karena ia tidak ingin Rio melihatnya menangis.


Pukul 03.00 dini hari sayup-sayup Ana mendengar Rio sedang berbicara di meja kerjanya, perlahan-lahan Ana merubah posisinya, ia duduk di atas tempat tidurnya menajamkan pendengarannya, ia mendengar Rio menyebut nama Felly.


"Terima kasih banyak ya Fell, kau benar-benar sangat membantuku. Sampai bertemu besok pagi di bandara, jaga kesehatanmu" Rio menutup sambungan teleponnya.


Ana masuk ke kamar mandi, ia menangis sesegukan di dalam kamar mandi. Setelah puas menumpahkan kesedihannya, Ana membasuh wajahnya, ia tidak ingin Rio melihat wajahnya yang sembab.


Ketika keluar dari kamar mandi Ana melihat suaminya sudah tertidur di atas tempat tidur, Ana berjalan memuju lemari, ia membereskan pakaian suaminya dan memasukannya ke dalam koper, ia juga menyiapkan semua keperluan suaminya untuk suaminya pergi ke Singapore.


Selesai membereskan pakaian suaminya, ana merebahkan tubunya di tempat tidur kemudian memeluk suaminya dari belakang dan membisikan "Aku sangat merindukanmu sayang."



Paginya seperti biasa Ana mengantar Rio sampai ke depan rumah dengan membawakan Rio bekal meski pun Ana tak yakin jika Rio mau memakannya.


Ana memeluk rio dengan erat "I will be miss you." ucap Ana.


"Me too, udah ya. Aku takut telat, aku mau ke kantor dulu ada berkas yang mau aku ambil" Rio mencoba melepaskan pelukan Ana, namun Ana justru mempereratnya.


"Sebentar lagi sayang." Ana masih enggan melepaskan pelukannya.


"Please An, aku bisa telat check in kalo begini." Rio mencoba kembali melepaskan pelukan Ana, kemudian masuk ke dalam mobil.


Penolakan demi penolakan dari Rio membuat hati Ana semakin sangat sakit, ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Ana memandangi foto-foto pernikahannya dengan Rio di dinding kamarnya, ia merindukan sosok Rio yang dulu, air matanya tak terasa kembali menetes ke pipinya.


Ana mendekat ke meja kerja Rio untuk melihat foto dirinya dan suaminya saat berlibur ke Jepang kemarin, foto tersebut berada di atas meja kerja Rio.


Secara tak sengaja ana melihat komputer Rio yang masih menyala, ia melihat beberapa email dari perusahana Pak Richard

__ADS_1


Ana membuka satu persatu email tersebut, ada draft perpanjangan kerja sama yang di tolak oleh Pak Richard yang nilainya cukup fantastic mencapai angka puluhan miliar rupiah, dan yang terakhir email balasan pengajuan negosiasi perpanjangan kerja sama yang akan di laksanakan siang ini, Ana memejamkan matanya mengingat-ingat sesuatu.


"Aku tahu sekarang" gumam Ana.


__ADS_2