
Yoga sudah tiga hari di rumah sakit. Kondisinya sudah mulai membaik.
Kami sudah minta ijin kepada dokter yang merawatnya biar besok Yoga bisa pulang. Sebab lusa adalah hari pernikahan kami.
Tadinya dokter keberatan. Dokter menyarankan untuk mengadakan ijab qobulnya di ruang rawat saja.
Yoga terus berusaha meyakinkan dokter dengan merasa seolah-olah sudah sangat membaik. Padahal aku tau sebenarnya Yoga masih merasa sakit.
Karena keinginan Yoga yang kuat akhirnya dokter memberikan ijin pulang. Tapi Yoga harus kontrol dua hari lagi.
Semua persiapan untuk hari H sudah dihandle oleh ibu dibantu Tari. Karena aku selama tiga hari ini full menjaga Yoga.
Untunglah aku memiliki orang-orang yang baik, yang selalu dengan ikhlas membantuku.
Malam ini terakhir kalinya aku dan Yoga tidur di rumah sakit. Aku sudah mulai menyiapkan barang-barang Yoga.
Tidak terlalu banyak sih, hanya beberapa baju ganti saja. Karena Yoga tidak mau repot-repot bawa ini dan itu.
Ada beberapa camilanku yang belum dimakan. Ibu dan bapak yang membawakannya ke sini saat bezuk Yoga. Katanya yang membelikan mas Andi.
"Kamu mau makan camilan, Ga?" tanyaku sambil mengacungkan camilan ke arah Yoga.
"Enggak. Buat kamu saja. Aku cuma pingin merokok."
Aku tertawa ngakak. Yoga pasti sangat tersiksa tiga hari ini tidak bisa merokok.
Kemarin dia sempat merokok di kamar mandi. Tapi terus ketahuan perawat akhirnya rokoknya disita oleh perawat itu.
Aku jadi ingat jaman sekolah dulu. Banyak anak lelaki yang disetrap oleh kepala sekolah karena ketahuan merokok.
Rokok mereka disita. Lalu mereka dijemur sampai pulang sekolah. Mungkin salah satunya termasuk Yoga.
"Kenapa ketawa?" tanya Yoga sambil menatapku. Mukanya sudah kelihatan bete.
"Enggak merokok di kamar mandi lagi saja? Lumayan kan barang sebatang? Nanti aku nunggu di pintu deh. Entar aku kasih tau kalau perawat dateng" jawabku sambil terus ketawa.
"Gak usah ngeledek deh. Awas kamu kalau aku sudah bisa berdiri. Aku kitikin kamu sampe kencing di celana!" Yoga makin bete.
"Makanya aku berani ngeledekin kamu, mumpung kamu gak bisa bales. Weeekk." Aku menjulurkan lidahku. Lalu ketawa ngakak.
Seorang perawat tiba-tiba masuk.
"Maaf, Bu. Bisa dikecilkan suaranya? Takutnya mengganggu yang lainnya."
"Sukurin. Omelin aja itu, Sus. Dari tadi ngeledekin suaminya terus" sahut Yoga.
Aku melotot ke arah Yoga. Bukannya membelaku, malah menyuruh perawat itu memarahiku.
__ADS_1
Dan aku lebih terkejut lagi saat Yoga mengatakan ngeledekin suaminya. Ijab aja belum udah ngaku-ngaku jadi suami.
"Iya maaf, Sus." Lalu perawat itu menutup pintu kembali.
Aku pikir-pikir lucu juga kita berdua. Beberapa hari tinggal di rumah sakit, beberapa kali ditegur. Persis kayak jaman sekolah dulu.
"Ga. Kamu jaman sekolah dulu pasti sering disetrap sama kepala sekolah ya?" tanyaku. Jaman sekolah dulu aku tak begitu memperhatikan sosok Yoga.
Aku jarang bergaul dengan teman laki-laki. Sahabat-sahabatku waktu itu hanya cewek-cewek. Itu pun bukan cewek-cewek yang favorit.
Aku malas bergaul dengan cewek-cewek yang ngetop. Karena berat diongkos. Mereka suka nongkrong di cafe-cafe. Suka jalan ke mal-mal. Belum lagi penampilan mereka yang berlebihan dan saling bersaing.
Aku lebih memilih teman yang biasa-biasa saja. Itu kenapa aku tak begitu dekat dengan Yoga. Hanya kenal saja karena kami pernah satu kelas.
Yoga yang lumayan ganteng, banyak digandrungi cewek-cewek yang ngetop di sekolah. Bahkan seperti jadi rebutan.
Aku tak berani bersaing dengan mereka. Lebih baik menyimpan dan memupus rasa sukaku pada Yoga.
Lagi pula, kedua orang tuaku melarang aku dan kakakku untuk berpacaran saat masih sekolah.
Kata mereka sayang sekali kalau saat-saat SMA yang indah hanya dihabiskan dengan pacar saja.
Nanti malah gak punya kenangan dengan teman yang lain. Malah membuat kita jadi kuper. Karena kalau sudah punya pacar, pasti tidak bebas bergaul.
Ada benarnya juga sih pendapat orang tuaku. Lagi pula aku gak mau pusing-pusing memikirkan satu orang saja.
"Kadang-kadang apa sering?"
"Kadang-kadang sering juga." Yoga tertawa, tapi langsung ditutupnya mulutnya dengan kedua tangan.
Jangan sampai perawat itu datang lagi karena suara berisik kami.
"Sstt...entar perawatnya ke sini lagi. Kamu mau kalau di setrap? Tuh nanti kamu disuruh berdiri di pojokan sana sampai pagi."
Aku menunjuk ke arah pojokan.
"Gak apa-apa. Siapa tau perawatnya mau megangin aku sampai pagi."
Aku melotot lagi ke arah Yoga. Yoga ketawa lagi.
"Ya udah tidur sini biar aku enggak disetrap." Yoga menggeser sedikit tubuhnya.
"Mana cukup?"
"Cukup. Badan kamu kan kecil. Jadi kita bisa pelukan sampai pagi."
"Gak usah aneh-aneh deh. Kita belum sah, Ga."
__ADS_1
"Kan cuma tidur bareng. Enggak aneh-aneh." Yoga mengangkat dua jarinya tanda damai.
"Enggak ah. Sempit, Ga."
Aku selalu berusaha menolak, Yoga terus saja memaksa.
"Ayolah. Naik sini."
"Ga. Kita belum sah. Gak enak kalau mereka lihat." Aku terus saja menolak.
"Mereka gak akan tau. Mereka taunya kita suami istri."
Aku tetap menolak. Dan melangkah ke sofa lalu menyelimuti tubuhku rapat-rapat.
Yoga masih meledek dengan pura-pura merengek. Aku tau itu cuma becanda saja. Jadi aku abaikan hingga aku tertidur lelap.
Jam lima pagi aku baru bangun. Tubuhku terasa pegal semua. Tiga malam tidur di sofa membuat tubuhku tak bisa bergerak bebas.
Aku lihat Yoga masih terlelap. Aku ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Masih ada waktu buat sholat subuh.
Selesai sholat, aku lihat Yoga sudah bangun.
"Sudah bangun, Ga?" tanyaku.
"Udah. Nih...mau lihat."
Aku melotot ke arah Yoga. Pasti yang dimaksud lainnya.
"Pagi-pagi udah ngeres saja. Ayo siap-siap. Nanti siang kita pulang."
Aku melipat mukenaku. Tak lama dua orang perawat sudah datang ke kamar. Mereka membuka semua jendela kamar dan mrngecek cairan infusnya Yoga.
"Nanti siang jadi pulang, Bu?" tanya salah satu perawat.
"Iya jadi, Sus. Nanti diperhatikan saja bapaknya. Obatnya jangan sampai terlambat, biar luka bekas operasinya cepat kering. Dan jangan terlalu capek dulu ya, Pak?"
"Siap, Suster." Seperti biasanya, Yoga suka menggoda perawat-perawat itu meski di depanku. Jiwa usilnya selalu meronta saat lihat cewek-cewek cantik.
Aku cuma mendengus saja. Bukan kesal tapi heran saja. Usil kok enggak ilang-ilang.
"Ga. Nanti kita pulang ke mana?" Aku baru ingat soal itu. Kan gak mungkin, belum akad sudah menginap di rumah.
"Ke rumah kamu saja ya?" jawab Yoga memelas.
Nah loh. Aku bingung juga mau jawab bagaimana. Kalau Yoga pulang ke rumahnya, lalu siapa yang akan mengurusnya.
Sementara Yoga belum bisa melakukan apa-apa sendiri.
__ADS_1