Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Digigit Nyamuk


__ADS_3

"Jangan mas." Tolak Ayu seraya melepaskan tangan Damar dari dadanya. Tapi Damar yang sepertinya sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, tidak menghiraukan ucapan Ayu. Dia kembali mencoba melepaskan gaun itu.


"Jangan ma...." Ayu belum menyelesaikan kalimatnya, karena Damar membungkam mulut Ayu dengan mulutnya.


Dia kembali mencoba melepaskan gaun merah yang melekat ditubuh Ayu, hingga gaun itu hampir saja terlepas. Ayu melepaskan ciuman mereka lalu mendorong tubuh Damar sekuat tenaga, dan dia berhasil.


"Jangan mas Damar." Ujar Ayu seraya menjauh dari Damar, lalu membalikkan badan memunggungi Damar, membenarkan gaunya yang sudah setengah melorot.


"Kenapa Yu? Bukankah kamu sudah memaafkan dan menerimaku?."Tanya Damar.


"Iya mas!! Aku memang sudah memaafkan dan menerimamu lagi, tapi bukan berarti mas Damar bisa melakukan itu padaku."Jelas Ayu.


"Kenapa gak bisa?. Kita masih suami istri yang sah."


"Dimata hukum mungkin kita memang masih suami istri yang sah, tapi mas Damar jangan lupa, dimata agama kita tetap sudah bukan suami istri lagi mas." Ujar Ayu mengingatkan Damar yang saat ini memang melupakan hal itu.


Damar yang hampir tidak bisa mengendalikan diri dan sudah sangat merindukan Ayu sampai melupakan status mereka. Dia sadar kalau yang Ayu katakan memang benar. Mereka tidak boleh melakukan hal itu, jika tidak mereka sama saja melakukan dosa besar.


Ayu pun sedikit menyesali dirinya yang tak bisa mengendalikan diri saat Damar mencumbunya. Seharusnya dia menolak, bukanya malah membiarkan. Ayu akui dia juga sangat merindukan Damar, hingga sempat terbawa suasana dan terbuai dalam hangatnya sentuhan Damar tadi.


Tapi itu tetap bukan alasan untuk mereka melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Bagaimanapun juga dimata agama, mereka bukan lagi suami istri.


Damar kembali mendekati Ayu dan memeluknya dari belakang."Maafkan aku Yu. Aku kelepasan. Aku....aku sangat merindukanmu, sampai aku tidak bisa menahan diri. Secepatnya aku akan menghalalkanmu. Kalau bisa, sekarang juga aku akan menikahimu lagi." Kata Damar.


Ayu tersenyum, lalu berbalik menghadap Damar."Jadi kamu ingin menikahiku, hanya karena kamu tidak bisa menahan diri kamu mas?."Goda Ayu.


"Tidak, bukan begitu. Maksudku itu salah satunya. Yang paling penting, aku ingin memilikimu seutuhnya dan hidup bersama kamu juga anak-anak kita. Selama ini aku sangat merindukanmu. Aku cinta kamu Yu. Aku sangat mencintai kamu."Ujar Damar, seraya memegang tangan Ayu dan mencium tangan itu seraya menatapnya.

__ADS_1


Ayu tersenyum tulus mendengar ucapan Damar."Makasih mas!! Ucapnya. Damar membalas senyum itu tidak kalah tulus, mereka kembali berpelukan.


"Papa."Suara Gara yang tiba-tiba terbangun, membuat Damar dan Ayu segera melepaskan pelukan mereka. Damar bergegas menghampiri Gara."Iya sayang. Papa disini."Sahut Damar.


"Aku mau dipeluk papa."Rengek Gara. Damar pun langsung memeluknya.


Hati Ayu menghangat melihat adegan itu. Gara sepertinya memang benar-benar sangat menyayangi dan membutuhkan kehadiran Damar. Bahkan saat Gara terbangun yang dia panggil adalah Damar, bukan dirinya.


Gara memejamkan mata, namun kemudian dia kembali membuka matanya."Mama mana pah?."Tanyanya. Ayu segera menghampiri, dan duduk disamping kirinya."Ini mama sayang."Sahut Ayu sambil tersenyum menatap Gara.


Mereka bertiga akhirnya tidur didalam kamar itu. Damar dan Ayu berbaring disamping kiri dan kanan Gara, dan Gara ditengah-tengah.


"Mah, badan mama kenapa merah-merah gini?."Tanya Gara membuat Ayu dan Damar terkejut dan saling pandang. Mereka tidak menyangka ternyata Gara memperhatikan tubuh Ayu.


Damar tersenyum lalu mengambil jas yang tadi dia lepaskan dari tubuh Ayu, lalu memberikannya."Mama digigit nyamuk, jadi badanya bentol-bentol. Makanya Gara cepettan tidur, biar nggak digigit nyamuk."Jawab Damar berbohong. Dia tersenyum seraya menoleh ke arah Ayu.


Damar tersenyum mendengar ancaman Ayu."Aku gak akan macem-macem kecuali khilaf." Ujarnya sambil tersenyum, Ayu membelalakan mata.


"Kamu jangan takut Yu, aku cuma mau tidur sama kamu. Aku janji gak bakal macem-macem."Jelas Damar. Lalu melingkarkan tanganya ke perut Ayu, dan memejamkan matanya.


Ayu memeluk Gara dan memunggungi Damar. Dia mencoba memejamkan matanya, tapi dia tidak bisa tidur. Ayu masih memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.


Ayu tak mengerti kenapa Ambar sampai menembak suaminya sendiri, dan membiarkan mereka pergi. Ayu juga penasaran kenapa Damar bisa menemukan vila itu dengan mudahnya.


"Mas...Kamu udah tidur?." Tanya Ayu.


"Kenapa?. Kamu mau kita lanjutin adegan tadi?." Jawab sekaligus tanya Damar.

__ADS_1


"Bukan mas. Aku cuma mau tahu, kenapa kamu bisa menemukan kami dengan mudah?."


"Besok aja aku ceritain. Sekarang mending kita tidur. Aku takut imanku goyah kalau aku tidak segera tidur." Jawab Damar tanpa membuka matanya. Ayu tersenyum mendengar jawaban Damar, lalu dia kembali memejamkan matanya.


....


Andreas baru saja ditangani seorang tenaga medis di salah satu klinik daerah yang letaknya sangat jauh dari vila. Mereka baru saja mengeluarkan peluru yang bersarang di tangan kanannya.


Ambar juga ada disana, berdiri menatap Andreas yang terbaring dibrankar pasien. Andreas juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh benci. Dia sepertinya sangat marah pada Ambar.


"Kamu tidak perlu menatapku seperti itu Dre!! Aku tahu kamu pasti sangat marah dan mungkin saja membenciku. Maafkan aku!! Aku tidak bermaksud melukai atau melawanmu.


Aku melakukan semua ini, karena aku tidak mau dan tidak rela kamu meniduri wanita itu, atau wanita manapun. Kamu tahu Dre, rasanya sakit sekali saat aku tahu kamu ingin meniduri wanita lain."


"Jangan egois kamu Ambar. Dulu kamu juga suka melakukanya saat kamu masih menjadi istri Damar. Siapa yang tahu kamu juga masih melakukannya sampai sekarang."Sahut Andreas.


"Iya kamu benar Dre. Dulu aku memang seperti yang kamu katakan.Tapi aku bersumpah tidak pernah melakukanya setelah menjadi istri kamu. Aku sangat mencintai kamu."


"Kalau kamu memang mencintai aku, seharusanya kamu tidak melakukan semua ini padaku Ambar." Sergah Andreas.


"Aku tahu, mungkin aku sudah salah karena menembakmu, tapi aku tidak menyesal. Setidaknya aku sudah mencegahmu melakukan sesuatu yang akan sangat melukai hatiku. Sekarang aku hanya ingin tahu, apa kamu benar-benar mencintaiku?."Tanya Ambar.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?. Apa pentingnya semua itu?. Bukankah selama ini kamu merasa bahagia karena aku selalu bisa memuaskanmu?."


"Kamu benar, tapi aku tetap ingin kamu menjawabnya." Kata Ambar


"Aku tidak perlu menjawabnya." Sahut Andreas.

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab. Aku sudah tahu semuanya Dre, dan aku tidak bisa menerima. Aku memang sangat mencintai kamu, tapi bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya. Aku tidak mau berbagi ranjang dengan wanita lain. Kalau kamu tidak bisa setia padaku, lebih baik kita berpisah."Kata Ambar, membuat Andreas terkejut.


__ADS_2