
Selesai makan malam bersama, Ana berendam di atas bathtub untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya. Rio sengaja memilih untuk mandi di kamar sebelah kamarnya karena ia tidak ingin menggangu istrinya yang sedang berendam.
Setengah jam setelah Rio kembali dari kamar sebelah, ia belum juga melihat tanda-tanda istrinya keluar dari kamar mandi, ia pun mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, udahan yuk mandinya kita jamaahan dulu." ajak Rio.
"Ia sayang, sebentar lagi" jawab Ana.
Ana bergegas memakai handuk pajamasnya kemudian keluar dari kamar mandi
"Jangan mandi malam lama-lama nanti masuk angin."
"Ia sayang." Ana mengenakan mukenanya kemudian memposisikan dirinya di belakang Rio.
Selesai shalat, ana mencium tangan rio dan rio mencium kening ana. Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, Rio duduk di sofa kembali dengan gadgetnya memantau grafik trading forex miliknya.
Sedangkan Ana di depan lemari nampak masih bingung mau tidur dengan pakaian apa, ia terpaksa kembali mengenakan lingerie kerena ia hanya itu yang ia bawa.
"Pakai yang ini saja." Bisik rio dari belakang sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Ana dan menempelkan dagunya di pundak Ana.
Ana menuruti permintaan suaminya, ia mengambil lingerie renda berwarna merah menyala, Rio membantu Ana memakaikan lingerinya.
"Mau tidur lagi?" tanya Rio.
"Ngantukku hilang sehabis berendam tadi."
"Karaokean yuk." ajak Rio.
Ana menganggukan kepalanya, mengikuti Rio dari belakang menuju televisi yang ada di dalam kamarnya. Rio memutarkan lagu Versace on the Floor milik Bruno Mars.
...So baby let's just turn down the lights...
...And close the door...
...Oooh I love that dress...
...But you won't need it anymore...
...No you won't need it no more...
__ADS_1
...Let's just kiss 'til we're n*ked, baby...
Rio bernyanyi sambil memeluk pinggang Ana, mereka berjalan secara perlahan menuju dinding kamar, saat tubuh Ana telah merapat ke dinding Rio melempar mic yang di pegangnya ke arah sofa, kemudian ia mengangkat kedua tangan Ana dengan satu tangannya sementara tangannya yang satu lagi membelai wajah cantik istrinya, kemudian perlahan turun kebawah menggerayangi tubuh sexy istrinya.
Rio mencum*ui setiap inci tubuh mulus istrinya, Ana berusaha mengimbangi Rio dengan memuaskan hasrat suaminya.
Puas mencum*ui istrinya, Rio membuka seluruh pakaiannya, kemudian ia membuka lingerie yang di kenakan Ana dan mulai membuat penyatuan.
Lama berada di posisi itu kemudian Rio menggendong Ana menuju sofa, dengan tidak melepaskan penyatuannya, entah sudah berapa macam gaya yang mereka coba namun Rio seakan tidak kehabisan energi. Malam itu menjadi malam yang sangat panas bagi keduanya, mereka menghabiskan malam untuk bercinta.
Tiba-tiba alarem dari handphone Rio berbunyi, tanpa terasa tanda waktu subuh tiba. Rio menghentikan aktivitasnya bersama istrinya, ia mematikan handphonenya kemudian membawa Ana ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rio melihat dada mulus Ana yang di penuhi oleh tanda kepemilikan buatannya, ia mengelusnya dengan lembut "Maafin aku ya sayang" bisik Rio.
"It's ok baby, I like it," Ana tersenyum lalu mencium bibir Rio, seakan ia sedang kembali menggoda suaminya.
Rio pun mulai terpancing, hingga akhirnya adegan panas itu kembali terulang lagi dan lagi.
"Terima kasih ya, kamu sungguh luar biasa" Rio mengecup kening Ana.
"Kita akan terus seperti ini sayang" Bisik Ana sambil mengecup pipi Rio.
Keduanya mandi bersama-sama kemudian melakukan ibadah bersama, barulah setelahnya mereka beristirahat.
Rio terbangun oleh suara ketukan pintu kamarnya, Rio bergegas mengenakan pakiannya, kemudian membuka pintu kamarnya, ia hanya membuka sedikit pintu kamarnya karena Ana sedang tidur tanpa mengenakan pakaian.
"Ana mana?" tanya Risti.
"A-ana masih tidur kak" jawab Rio dengan terbata-bata, ia pasrah jika harus kena omelan kakaknya lagi.
"Ya ampun Rio, ini sudah jam 12 siang loh. Ya sudah sini aku saja yang bangunin Ananya." Risti hendak menerobos masuk ke dalam kamar, dengan cepat Rio menahannya.
"Jangan!!! Aku janji 30 menit lagi kita sudah turun ke bawah" ucap Rio.
"Ok. 30 menit tidak pake telat!!!" Risti berlalu pergi meninggalkan kamar Rio.
Rio mengacak-acak rambutnya, ia nampak bingung harus berbuat apa. Disatu sisi ia tidak tega membangunkan istrinya namun disisi lain acara resepsinya akan segera di laksanakan.
"Siang cantik cup..." Rio mengecupi kening Ana dengan lembut.
__ADS_1
Secara perlahan-lahan Ana membuka matanya, ia nampak terkejut karena di hadapannya ada Rio. Ana langsung membuka selimutnya, ia sangat syok melihat tubuhnya tak mengenakan pakaian sehelai benang pun.
"Kenapa sayang?" tanya Rio yang merasa aneh dengan ekspresi istrinya.
"Di mana kita? kenapa aku tidak memakai baju?" tanya Ana panik.
Rio tertawa melihat sikap istrinya yang lupa jika mereka telah resmi menikah, bahkan Ana lupa jika semalaman suntuk dirinya dengan Rio bercinta dengan panas.
"Lihat ini!!" Rio mengangkat jari Ana dan menujukan cincin nikah yang di kenakan.
"Ya ampun kenapa aku bisa lupa, maaf ya sayang, maafkan aku" Ana melingkarkan tangannya di leher Rio kemudian mencium kedua pipi Rio
"Kita siap-siap yuk, hari ini kita resepsi" Rio mengulurkan tangannya bersiap menggandeng Ana.
Saat hendak akan berjalan, Ana merasakan perih di bagian sensitifnya.
"Aduh perih." Ana meringis sambil memegangi area sensitifnya.
"Kenapa sayang?" Rio mengecek bagian sensitif Ana, agak kemerahan di bagian sensitif Ana.
Perasaan bersalah menyelimuti hati Rio, ia teringat semalam mencum*ui bagian sensitif Ana dengan agresifnya.
"Maaf ya sayang, aku sudah membuatmu seperti ini" Rio menciumi tangan istrinya, ia benar-benar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok sayang, kita mandi yuk sudah siang" ajak Ana.
Rio menggendong ana ke dalam kamar mandi, kemudian memandikan ana secara perlahan, Rio juga membantu Ana mengenakan pakaiannya dan mengobati bagian sensitif ana.
"Gimana udah enakan?" tanya Rio.
"Udah kok, yuk"
Keduanya berjalan ke bawah, menuju ruangan yang telah di sediakan untuk Ana make up, Rio menghampiri Risti yang sedari tadi nampak sibuk mempersiapkan acara resepsinya.
"Maafin aku ya kak, aku akan berkeliling mengecek semuanya. Jolong jangan omeli istriku, jika mau marah, marahlah saja padaku"
"Sudah bosan aku ngomelin kalian. Sudah sana kamu cek sudah sesuai belum dengan keinginanmu yang banyak maunya itu."
Setelah berkeliling venue resepsi pernikahannya, rio kembali menemani ana yang sedang di make up oleh MuA ternama, sambil ana di makeup rio menyuapi ana makan karena ana belum makan dari pagi tadi.
__ADS_1
Dari kejauhan pak reino dan ibu nampak memperhatikan ana dan rio, pak reino mengucapkan terima kasih kepada ibu karena telah menerima ana sebagai anak mantunya dan pak reino juga berterima lasih kepada ibunya rio karena telah melahirkan putra yang sungguh luar biasa.
"Aku selalu mengajarkan kepada putraku, untuk memuliakan istrinya, semoga putraku selalu ingat itu."