Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 21


__ADS_3

GLEG..


Ana menelan ludahnya, perasaan sesak mulai menguasainya. tubuhnya terasa kaku dan lidahnya menjadi kelu, Ana tak bisa bekata-kata, ia hanya menatap Rio dengan tatapan tidak percaya.


Hatinya mulai menduga-duga, apakah Rio hanya merasa iba padanya? sehingga Rio melamarnya, tapi itu sungguh tidak perlu. Aku bisa merawat anak ini sendiri, aku tidak ingin dinikahi hanya karna ia iba terhadapku. Lama Ana terdiam, ia sendiri bingung tidak tau harus menjawab apa.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang nduk, pikirkan semuanya dengan matang"


Tiba-tiba ibu dan lyra mendekat menghampiri Rio dan Ana, ibu mengambil kotak beludru dari tangan rio kemudian memberikannya kepada Ana.


"Simpanlah, jika nanti kamu sudah menemukan jawabannya, kamu bisa memakainya. Sekarang mari kita makan, kita rayakan kelulusanmu." ucap Ibu.


Lyra mendong kursi roda ibu kembali ke meja makan, kemudian di ikuti oleh Ana dan Rio dari belakang.


Mereka semua menikmati makan malam dengan penuh suka cita sebagai perayaan kelulusan Ana.



Keesokan paginya Ana mempacking barang-barangnya bersiap kembali ke Jakarta untuk mengikuti acara wisuda. Saat tengah memasukan baju-bajunya ke koper pintu kamar Ana di ketuk dari luar oleh ibu.


"Nduk boleh ibu masuk?" tanya ibu dari balik pintu.

__ADS_1


"Tentu saja bu." Ana menghapiri ibu dan mendorong kursi roda ibu masuk ke dalam kamarnya.


Ibu memberikan kebaya lengan panjang berbahan brokat, berwarna broken white, serta kain songket panjang berwarna merah muda kepada ana.


"Pakailah nduk untuk acara wisudamu nanti"


"Bagus sekali bu kebayanya, terima kasih." Ana memeluk ibu kemudian menggenggam tangannya.


"Bu maaf, semalam Ana belum bisa menjawab ajakan kak Rio"ucap Ana sambil menundukan kepalanya.


"Nduk, ibu mengerti jika kamu masih ragu terhadap Rio. Tapi kamu juga harus memikirkan jika anakmu membutuhkan figur ayah dan membutuhkan legalitas agar ia bisa mendapatkan akte kelahirannya dengan mudah tanpa melalui proses sidang" Ibu berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi kata-katanya.


"Dalam agama kita sebenarnya tidak memperbolehkan menikahi wanita yang sedang mengandung, terlebih anak yang berada dalam kandunganmu bukanlah anak kandung Rio. Ibu sudah mengatakan kepada Rio seandainya kamu menerima lamarannya, Rio tidak boleh menyentuhmu sampai selesai masa nifasmu dan setelah masa nifasmu selesai kamu dan Rio menikah akan lagi secara agama" terang ibu.


Kebimbangan mulai menghantui di dalam batinnya, Ana tidak ingin di nikahi hanya karena Rio merasa iba terhadap dirinya, namun ia tidak dapat menyangkal apa yang di katakan oleh ibu memang benar adanya.


"Nduk, kenapa kamu menangis? maaf ya nduk jika perkataan ibu ada yang menyakiti hatimu."


Ana menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya, dengan terbata-bata Ana berusaha untuk berbicara.


"Ti..dak bu, semua yang ibu kataka memang benar adanya, hanya saja ana masih belum siap."

__ADS_1


"Ya sudah nduk kamu pikirkan semuanya dengan matang, apa pun keputusanmu ibu akan mendukungmu, kalo gitu ibu kembali ke kamar ibu ya."


Ana mengantar ibu keluar dari kamarnya, di depan kamar Ana sudah ada bik Sri asisten rumah tangga ibu yang akan mengantar ibu ke kamarnya.


Sore hari sebelum Ana dan Rio berangkat kebandara, mereka berpamitan kepada ibu.


"Bu, rio dan ana pergi dulu ya."


"Hati-hati ya le, jaga Ana baik-baik. Maaf ibu tidak bisa mengantar kalian ke bandara."


"Tidak apa-apa bu, ibu kan masih harus banyak istirahat"


Rio dan ana secara bergantian menyalami dan mencium ibu, setelah berpamitan keduanya berangkat menuju bandara di antar oleh lyra.


Pukul 15.45 pesawat lepas landas. perjalanan mereka membutuhkan waktu 50 menit untuk bisa sampai di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta.


Rio membeli tiket pesawat business class agar ana bisa istirahat dengan nyaman selama di perjalanan.


"An, istirahat lah" Rio menyelimuti tubuh ana dengan menggunakan selimut.


"Terima kasih ya kak"

__ADS_1


Selama perjalanan rio memandangi wajah ana yang sedang tertidur dengan lelap. hanya dengan memandangi wajah Ana saja, rio sudah merasa begitu senang. Rio tidak terlalu banyak berharap ana dapat membalas cintanya, apa pun yang dapat membuat Ana bahagia maka ia pun akan bahagia.


__ADS_2