
Mobil mas Angga sudah terparkir di halaman rumah orang tuaku.
"Tuh calon suami kamu sudah menunggu. Buruan turun. Entar aku kena SP, lagi."
Yoga segera melepaskan helmku, karena aku sengaja menyodorkan kepalaku padanya.
"Manja!"
"Biarin. Biasanya juga gini." Aku menjawab dengan manja.
"Sampai jumpa besok ya, Ga." Aku mengambil kantong belanjaanku. Lalu masuk ke dalam rumah.
Mas Angga sedang berbicara dengan bapakku. Ibu juga ada di teras sambil menggendong Berlian.
Tumben, biasanya mas Angga yang akan menggendong Berlian.
Aku menyalami bapak dan ibuku, juga Berlian. Dengan mas Angga aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Lalu aku masuk ke dalam rumah. Rasanya gerah banget seharian di luar rumah.
Selesai mandi aku tak keluar kamar. Aku sengaja memang. Karena malas ketemu mas Angga.
Aku pura-pura sibuk saja di kamar. Sampai ibu menghampiriku ke kamar.
"Wid. Ada Angga kenapa kamu tidak keluar. Sudah dari tadi lho."
Aku malah meraih Berlian lalu membawanya ke tempat tidur, dan mengajaknya becanda.
"Kamu ini!" Lalu ibu keluar dari kamarku. Aku tertawa dalam hati.
Biarin aja bapak dan ibu yang menemuinya. Toh dia tidak mencariku atau pun menyapaku.
Aku masih tetap di kamarku sampai akhirnya tertidur bersama Berlian.
Besok paginya, aku berangkat kerja seperti biasa. Ikut mobilnya mas Andi.
Saat melewati ruangan Yoga, aku melirik sekilas. Dia tak nampak. Spontan aku melirik jam tanganku. Sudah jam delapan. Lebih malah. Karena tadi kita ngantri di pom bensin dulu.
Tidak biasanya Yoga belum datang jam segini. Atau dia tidak masuk? Tapi kenapa?
Aku buru-buru naik ke lantai tiga dan masuk ruanganku. Kebetulan mas Andi tadi langsung pergi. Jadi aku bebas menelpon Yoga.
Aku mendial nomor Yoga. Tapi hanya memanggil saja. Ponselnya tidak aktif.
Setengah berlari aku turun ke lantai dua, ke ruangan Yoga. Di sana cuma ada Toni.
"Pak Toni, Pak Yoga mana?"
"Dia belum datang, Bu."
Rupanya Toni juga tidak tau alasan Yoga belum datang sampai jam segini. Bahkan dia sudah mencoba menghubungi Yoga, tapi hapenya tidak aktif.
"Ada apa ya, Pak?"
__ADS_1
"Saya juga kurang tau, Bu. Kita tunggu saja."
Akhirnya aku naik kembali ke ruanganku. Sampai siang tak ada kabar apa pun dari Yoga.
Aku makin gelisah. Karena biasanya Yoga sudah berkali-kali mendatangi ruanganku, bahkan sebentar lagi dia pasti akan mengajakku makan siang.
Dan sampai waktunya makan siang, Yoga tak juga muncul. Aku kecewa. Sampai akhirnya aku memesan makanan di aplikasi online.
Malas rasanya jalan sendirian. Walau pun di sini banyak teman, tapi selama kerja di sini aku selalu makan dengan Yoga. Jadi gak nyaman saja kalau dengan yang lain.
Berhari-hari Yoga tak ada kabar. Nomornya tetap tidak bisa dihubungi.
Aku seperti kehilangan semangat kerja. Tak ada teman senyaman Yoga.
Dan aku semakin kecewa saat tau kalau posisi Yoga digantikan oleh Toni.
"Kok kamu yang memberikan laporan ini? Yoga kemana?" tanyaku pada Toni saat dia ke ruanganku.
Toni lebih muda dari aku, jadi kadang aku hanya ber-aku dan kamu saja dengan Toni.
"Kelihatannya pak Yoga sudah resign, Bu. Saya yang disuruh pak Andi menggantikannya."
Aku terkejut sampai menjatuhkan pulpen yang aku pegang. Bagaimana mungkin Yoga tiba-tiba resign? Sebelumnya dia tak pernah bicara apa-apa.
Bahkan hari terakhir bertemu Yoga, tak ada tanda-tanda dia akan berhenti bekerja.
Aku ingat sekali terakhir kali bersamanya kami bertemu seorang perempuan bernama Irene. Atau ini ada hubungannya dengan Irene?
Aku menerima laporan dari Toni. Dengan malas aku mengeceknya.
"Kamu kenapa Wid? Dari tadi bengong terus?" tanya mas Andi yang sejak Toni keluar dari ruanganku, masuk.
"Mas! Apa benar Yoga resign?"
"Iya. Beberapa hari yang lalu dia mengajukan pengunduran diri. Memangnya tidak pamit sama kamu? Kamu kan soulmate-nya."
"Sama sekali tidak. Bahkan sampai sekarang hapenya tidak aktif." sahutku.
"Oh. Mungkin dia sibuk, sudah dapat pekerjaan baru" jawab mas Andi dengan santai.
Itu bukan jawaban yang aku inginkan.
"Dia mengajukan surat pengunduran dirinya dengan resmi?" Aku masih saja penasaran.
"Itu, ada di mejaku." Mas Andi mengarahkan mukanya ke meja kerjanya.
Aku segera ke meja mas Andi. Aku cari surat pengunduran diri dari Yoga.
Sementara mas Andi pamit keluar lagi.
Setelah mendapatkannya, aku baca semuanya. Untung di situ tertulis alamat tempat tinggal Yoga.
Segera aku foto surat itu. Aku juga menyalinnya di selembar kertas.
__ADS_1
Sepulang kerja, aku memesan ojek online ke alamat Yoga. Cukup jauh juga dari tempat kerja kami.
Hingga sampai di sebuah rumah yang tak terlalu besar.
"Sudah sampai, Mbak." kata si pengendara ojol.
Aku cek lagi, ternyata memang benar itu alamat yang aku cari.
Aku segera turun dan membayar ojolnya. Aku melangkah perlahan menuju ke teras rumah tanpa pagar yang terlihat sepi.
Tak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Pintu dan semua jendela terkunci.
Aku mencoba mengetuknya. Tak ada jawaban sama sekali.
Setelah berkali-kali mengetuk, seorang perempuan tua mendatangiku.
"Cari siapa, Neng?" Dia mengamatiku.
"Oh. Apa benar ini rumahnya Yoga, Bu?" tanyaku sambil mengamati ibu itu juga.
"Oh, Mas Yoga?" Aku mengangguk.
"Iya, benar. Tapi dia jarang pulang, Neng" jawab ibu itu, lalu duduk di sebuah kursi rotan yang ada di teras itu.
Aku merasa sepertinya si ibu tau banyak tentang Yoga. Aku mencoba mengorek informasi tentang Yoga.
"Oh, begitu ya Bu. Memangnya di rumah ini tidak ada orang lain, Bu?"
"Sejak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, mas Yoga tinggal sendirian. Karena dia memang anak tunggal" jawab si ibu.
Aku menganggukan kepalaku. Tatapan mataku memintanya untuk bercerita lebih banyak.
Tapi si ibu itu malah pamit untuk pergi. Aku memutar otakku, agar si ibu mau sedikit lagi memberikan informasinya.
"Maaf, Bu. Boleh saya titip pesan pada ibu, buat Yoga?"
Si ibu itu menoleh. Lalu tersenyum padaku.
"Boleh."
Nah loh. Aku bingung akan menitipkan pesan dalam bentuk apa.
Akhirnya aku mengambil note book yang selalu aku bawa. Lalu menuliskan pesan untuk Yoga.
"Ibu jadi ingat, dulu ada seorang anak perempuan cantik yang juga sering menitipkan suratnya pada ibu. Tapi itu sudah lama sekali. Kalau tidak salah, waktu mas Yoga masih sekolah."
Mungkin cinta monyetnya Yoga. Karena jaman masih pake surat-suratan, pikirku.
"Ibu kenal anak perempuan itu?" tanyaku menyelidik.
Si ibu menggeleng.
"Dia hanya sering menuliskan namanya di amplop surat. Kalau tidak salah, namanya Irene."
__ADS_1