
Tristan merebahkan diri diatas kasur empuknya, menatap langit-langit kamar, tapi fikiranya melayang mengingat wajah cantik yang selalu menggoda dipelupuk matanya.
"Ayu". Semua yang dikatakan suami kamu memang benar. Dia sangat beruntung memiliki wanita secantik kamu. Kenapa harus dia yang menjadi suamimu?. Kenapa dia harus berpisah dengan Ambar. Hahh... Ambar, aku akui kamu juga cantik , tapi sayang kamu sangat mudah didapatkan." Gumamnya.
...
Tristan dan Damar kembali merayakan keberhasilan proyek mereka, dan saat ini keduanya sepakat menjalin kerjasama kembali dalam sebuah proyek besar bernilai triliunan. Dalam surat kontrak kerjasama itu, Damar sepenuhnya yang akan bertanggung jawab mengawasi proyek tersebut, dan Tristan yang membiayai.
Poyek pembangunan perumahan mewah itu sudah berjalan hampir lima puluh persen. Tristan sendiri sudah menggelontorkan semua dana untuk biaya pembangunan proyek itu pada Damar.
Damar harus menelan pil pahit saat dia tahu semua dana yang masuk ke rekeningnya di bobol hacker. Tak hanya itu, tapi semua saldo tabunganya juga habis tak bersisa. Damar segera mengecek saldo tabunganya yang ada di bank lain, dia tersentak saat melihat saldo rekeningnya ternyata nol rupiah.
Damar mengacak rambutnya frustasi, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia langsung mendatangi pihak bank, dan melaporkanya ke pihak berwajib. Damar juga meminta detektif David menyelidikinya.
Karena kejadian ini, Damar terpaksa harus membiayai proyek itu dengan uangnya sendiri. Untung saja dia masih punya simpanan uang dan barang berharga yang dia simpan dalam brankas di rumahnya. Tapi semua itu tidak akan cukup untuk menyelesaikan proyeknya.
Damar berfikir keras bagaimana caranya dia bisa mengatasi permasalahan yang menimpanya, apalagi proyek tersebut harus selesai secepatnya sesuai jadwal yang sudah ditargetkan. Tak ada jalan lain saat ini kecuali dia harus memakai uang perusahaan. Damar tidak menceritakan masalah ini pada Ayu atau keluarganya yang lain. Hanya Seno, asisten Damar yang tahu semua ini.
__ADS_1
Singkat cerita dengan susah payah, Damar akhirnya bisa menyelesaikan proyek itu. Dalam waktu beberapa bulan kemudian setelah proyek itu selesai, Tristan mengajak Damar bertemu disebuah restoran. Damar mengerti maksud Tristan mengajaknya bertemu. Dia tentunya akan menanyakan pembagian hasil dari proyek itu.
Damar tidak tahu apa yang dilakukanya ini benar atau salah, tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya pada Tristan, dan memintanya tidak menagih pembagian hasil dari proyeknya itu sekarang. Damar sangat berharap Tristan akan mengerti keadaanya.
"Maaf pak Damar, saya bukan ingin menanyakan pembagian hasil proyek kita, tapi saya ingin menagih uang yang saya keluarkan untuk mendanai proyek anda kemarin. Kalau masalah pembagian hasil, anda bisa memberikanya kapan saja, saat ini saya butuh uang itu." Ujar Tristan.
Damar tercekat mendengar jawaban Tristan. Darimana dia bisa mendapatkan uang triliunan sekarang, sedangkan semua tabunganya lenyap tak tersisa sedikitpun. Kalaupun dia menjual mobil dan propertinya, tidak akan cukup untuk mengembalikan uang Tristan. Lagipula dia dan keluarganya akan tinggal dimana, kalau semua propertinya dia jual. Damar terus memohon pada Tristan agar memberinya waktu. Dia menjaminkan perusahaanya pada Tristan.
"Baiklah pak Damar saya akan memberi anda waktu satu bulan untuk mengembalikan uang saya. Tapi maafkan saya, jika dalam waktu satu bulan anda tidak bisa mengembalikan uang itu, perusahaan anda yang akan jadi jaminannya. Saya permisi. Semoga berhasil!! Tristan pun pergi meninggalkan Damar dan asistenya.
Damar semakin frustasi saat melihat laporan keuangan perusahaan yang semakin menurun. Dia benar-benar diambang kehancuran. Tapi tidak, dia tidak mau perusahaanya hancur atau jatuh ke tangan orang lain. Dia berjanji akan berusaha keras mendapatkan uang dan mengembalikan kondisi perusahaanya seperti semula.
"Baiklah pak Damar, saya akan memberi anda waktu satu minggu dari sekarang. Kalau dalam waktu satu minggu anda tidak bisa mengembalikan uang itu, anda harus merelakan perusahaan ini atau anda akan berurusan dengan hukum."Ujar Tristan dengan nada mengancam, seraya beranjak pergi.
Beni hendak membukakan pintu, saat Tristan menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya ke arah Tristan. "Saya akan beri anda penawaran lain yang tentunya akan sangat menguntungkan anda pak Damar. Anda tidak perlu mengembalikan uang itu ataupun kehilangan perusahaan anda." Ujar Tristan tersenyum miring.
"Penawaran lain?. Apa maksud anda pak Tristan?." Tanya Damar.
__ADS_1
Tristan membalikkan badan, lalu melangkah mendekat ke arah Damar dengan senyum yang sangat aneh. Dia merangkul bahu Damar lalu berbisik: "Berikan istrimu padaku, aku akan menganggap lunas semua hutang-hutangmu." Ucap Tristan terus terang, membuat Damar tersentak, matanya membola, mendengar ucapan Tristan. Kilatan api amarah seketika menyala dihatinya membakar seluruh tubuhnya, membuatnya terasa begitu panas. "Kurang ajar...Brengs*k!!! Apa yang kamu katakan hah?. Kamu fikir istriku barang?. Jangan kamu fikir aku akan melakukan hal gila seperti itu." Maki Damar seraya menarik kerah kemeja Tristan dan hendak memukulnya, namun Beni dengan cepat menghalangi dan menjauhkan Damar dari bosnya.
"Tenang pak Damar...tenang!! Kenapa anda emosi?. Saya hanya memberikan anda penawaran, bukan memaksa. Tapi kalau difikir-fikir apa susahnya anda meminjamkan istri anda yang cantik itu pada saya semalam saja. Hanya satu malam saja, hutang anda bisa lunas, dan perusahaan anda bisa selamat. Atau kalaupun anda mau memberikan dia selamanya pada saya, saya dengan senang hati akan menerimanya. Dan anda bisa menikahi wanita lain, atau bagaimana kalau kita bertukar pasangan?. Ah itu ide yang bagus bukan?."
"Jaga mulut kamu!! Sampai mati pun aku tidak akan pernah melakukan apa yang kamu katakan."Hardik Damar dengan emosi.
"Sebaiknya anda jangan terburu-buru mengambil keputusan pak Damar, fikirkan baik-baik. Apa anda tega melihat semua keluarga anda hidup miskin hanya karena anda?." Pungkas Tristan lalu benar-benar pergi dari ruangan Damar.
Damar yang emosi melemparkan apapun yang ada didepanya, hingga ruanganya berantakan. Wajahnya yang putih tampak merah padam karena api amarah yang berkobar di dadanya. Dia tidak percaya Tristan memberinya penawaran konyol seperti itu. Mana mungkin dia akan menyerahkan istrinya hanya untuk membayar semua hutangnya pada Tristan.
Damar semakin emosi saat dia mendapat laporan dari David tentang pembobolan rekeningnya waktu itu, yang ternyata adalah perbuatan Tristan. Dia membayar hacker profesional untuk meretas saldo rekening Damar.
David mengatakan kalau Tristan memang sengaja melakukan semua ini untuk menjebaknya."Kemungkinan besar dia melakukan ini, karena ,menginginkan bu Ayu."Jelas David.
Damar menyesali kebodohanya yang percaya pada Tristan. Sebelum kerjasama diantara mereka terjalin, Damar pernah meminta David menyelidiki semua tentang Tristan, dan menurut David tidak ada yang mencurigakan darinya. Sejak saat itu dia pun percaya pada Tristan, yang memang lebih pintar darinya ataupun Andreas.
Kerja sama antara Damar dan Tristan terjalin sebelum kejadian tabrakan itu, atau sebelum Tristan bertemu dengan Ayu. Dia dan Ayu sudah tahu, kalau mobil yang menabrak mobil Ayu adalah mobil Tristan, dan selama ini, Tristan sama sekali tidak menunjukan gerak-gerik yang mencurigakan.
__ADS_1
Sekarang Damar baru menyadari, kenapa selama ini Tristan sering sekali mengajaknya makan malam atau menghadiri acara-acara penting, dan memintanya membawa pasangan masing-masing, rupanya dia sengaja melakukan itu, hanya karena ingin bertemu dengan istrinya."Sialan." Umpatnya.