
Selepas mengantar istrinya ke kantornya Rio memutuskan untuk pergi ke kantornya, para staff kantor termasuk adit nampak heran mengapa bosnya sudah mulai masuk kerja.
Adit mengekori Rio masuk ke dalam ruangan, dengan membawa beberapa lembar dokumen untuk Rio tandatangani, setelah Rio duduk di depan meja kerjanya Adit mulai menyerahkan dokumen tersebut.
"Kenapa, kamu masih di sini Dit?" tanya Rio.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Pak Rio" ucap Adit dengan ragu-ragu.
"Kalo begitu katakanlah."
"Bolehkah aku menjadi kekasih Lyra?"
Rio menyerngitkan keningnya, ia merasa terkejut dan heran dengan pertanyaan Adit.
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja kepada orangnya?"
"Sudah, tapi ia menyuruhku untuk bertanya kepada Pak Rio."
"Aku tidak hak untuk memutuskan kebahagiaan orang lain termasuk adikku sendiri. Jadi kau bicarakanlah lagi dengannya, tapi satu hal yang pasti aku belum mengizinkan ia menikah dalam waktu dekat ini. Tunggu hingga dua atau tiga tahun lagi, aku ingin Lyra fokus dengan kuliah dan cita-citanya dulu. Jodoh tidak akan kemana Dit, percaya lah."
"Tapi Pak Rio tidak berniat menjodohkan lyra dengan salah satu mitra Pak Rio?"
"Kamu minder? Berusahalah untuk fokus meraih apa yang harusnya kamu raih, aku akan menjaga adikku untukmu"
"Terima kasih banyak Pak Rio" Adit menghela nafas leganya mendapatkan restu dari Rio, kemudian ia meninggalkan ruangan Rio.
Rio hanya tersenyum, ia seperti mengingat dirinya setahun yang lalu, sehingga ia dapat memahami perasaan Adit, meskipun Rio belum mengizinkan Lyra untuk menikah namun Rio telah merestui keduanya.
Sore harinya Rio bersiap menjemput istrinya di tempatnya bekerja, ia menunggu Ana di depan kantornya. Lima belas menit kemudian dari kejauhan Rio melihat Ana mendekat ke arahnya, Rio pun keluar dari mobilnya membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"How was your day?" tanya Rio sambil mengemudikan mobilnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" jawab Ana dengan ragu-ragu.
"Iya, ada apa sayang?" tanya Rio kembali, sekilas ia melihat ke arah istrinya kemudian ia kembali fokus pada kendaraannya.
"Handoverku tertunda karena calon pegawai yang akan menggantikan aku mengalami kecelakan sehingga aku harus menunggu sampai HRD mendapatkan penggantinya" ucap Ana sambil menundukan kepalanya, ia takut jika suaminya marah terhadapnya.
Rio terdiam, menghela nafas beratnya "Selesaikanlah tanggung jawabmu" ucap Rio, meski sedikit kecewa namun Rio berusaha untuk menerima kabar tersebut dengan lapang dada.
"Kamu tidak marah kan sayang?" tanya Ana.
"Tentu saja tidak, kan di awal aku sudah mengizinkanmu bekerja di tempat itu. Lagi pula kita masih punya banyak waktu untuk berlibur, toh di rumah pun kita cuma berdua kan?" Rio mentap Ana dengan tatapan menggoda, ia meraih tangan istrinya kemudian menciumnya, ia tak sampai hati untuk memarahi istrinya hanya karena masalah sepele.
"Terima kasih ya" Ana memeluk suaminya dengan hangat, ia sangat bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian.
Dua minggu kemudian Ana sudah menyelesaikan semua tanggung jawab pekerjaannya, kini ia telah resmi resign dari tempatnya bekerja. Sesuai rencana yang telah di susun secara matang ia dan suaminya akan pergi berbulan madu.
__ADS_1
Siang itu Rio membantu Ana mempacking barang-barang yang akan di bawa untuk mereka bulan madu ke pulau flores yang terletak di Nusa Tenggara Timur.
"Sayang ini catokan untuk apa, kamukan sudah pakai kerudung?" tanya Rio.
"Agar rambutku tetap rapih, walau kau acak-acak saat kita bercinta haha... bawa saja ya sayang."
"Ia tapi koper kita sudah tidak muat sayang." protes Rio.
"Kalau begitu bajumu saja yang di kurangin haha..."
Saat tengah sibuk berkemas, tiba-tiba saja handphone Rio bergetar, ada satu panggilan masuk dari Adit.
"Ada apa Dit?" tanya Rio.
"Apa Pak Rio sedang bersama istri Bapak?"
"Iya memangnya kenapa Dit, kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku akan menginformasikan sesuatu kepada Pak Rio dan mengirimkan sebuah link kepada Pak Rio. Tapi aku sarankan Pak Rio jangan berada di sebelah istri Pak Rio" ucap Adit dengan serius.
"Memangnya ada apa Dit?" tanya Rio penasaran.
"Percayalah padaku Pak."
"Oke baiklah, nanti aku akan meneleponmu."
Rio menutup teleponnya dan mencari alasan untuk keluar dari kamarnya tanpa Ana curiga padanya. Saat Rio menuju taman belakang rumahnya, Rio mendapatkan chat dari Adit berupa sebuah link internet, Rio yang penasaran pun segera membukanya.
"Apa maksud dari link yang kamu kirimkan?" tanya Rio dengan nada penuh amarah.
"Link itu sudah tersebar di internet, pihak IT kami sedang melacak siapa dalangnya. Saat ini berita di media sosial sudah ramai membicarakan tentang istri Pak Rio bahkan sudah ada di berita gosip yang tayang di TV nasional" ucap Adit.
"Persiapkan tim legal kita, blok semua situs yang menampilkan video istriku" perintah Rio dengan nada tegas.
Prrrrraaaangg....
Rio segera mematikan handphonenya kemudian berlari menuju kamarnya, karena sumber suara tadi berasal dari kamarnya, Rio nampak panik dengan kondisi istrinya dari tangan istrinya keluar banyak sekali darah segar, bahkan istrinya sudah tidak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang Rio membopong tubuh Ana ke dalam mobilnya dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah sakit Rio kembali membopong tubuh Ana menuju ruang IGD sambil berteriak memanggil para perawat.
Rio menidurkan tubuh istrinya di atas brankar IGD kemudian salah seorang perawat meminta Rio untuk keluar dari ruangan IGD karena dokter akan mengobati istrinya.
Dengan langkah gontai Rio keluar dari ruang IGD, keringat dingin keluar dari tubuhnya, matanya perlahan mulai berkaca-kaca, rasa kalut mulai menyelimuti dirinya.
Lima menit kemudian salah seorang perawat keluar dari ruang IGD, Rio segera menghapiri perawat tersebut.
"Bagaimana istri saya sus?" Tanya rio dengan panik
"Istri bapak memerlukan banyak darah, apa keluarga Pak Rio ada yang memiliki golongan darah sama dengan istri bapak? karena stok di rumah sakit ini kebetulan sedang kosong, jika kita ambil ke PMI akan memakan waktu yang lama."
__ADS_1
"Golongan darah saya sama dengan istri saya, suster bisa ambil darah saya."
"Baik kalo begitu, Pak Rio bisa ikut saya ke lab untuk pengambilan darah Pak Rio."
Rio mengikuti perawat tadi menuju lab untuk mendonorkan darahnya, setelah proses pengambilan darah Rio selesai, suster meminta Rio ke ruang administrasi untuk mengurus administrasi perawatan Ana.
Sesampainya di ruang administra Rio baru tersadar jika dirinya tidak membawa dompet maupun handphone, bahkan ia hanya mengenakan celana pendek ke rumah sakit karena sangat panik melihat kondisi istrinya.
"Boleh saya pinjam teleponnya? tadi saya sangat panik sehingga tidak membawa handphone maupun dompet."
"Silahkan Pak Rio."
Rio mencoba untuk menghubungi kakak iparnya, pada deringan ke dua Risti mengangkat panggilan telepone dari Rio.
"Hallo Kak, ini aku Rio."
"Dek kamu di mana? aku dan Papa ada di rumahmu tapi tidak ada orang, pintu rumah juga tidak terkunci dan banyak darah di lantai" tanya Risti dengan panik karena melihat banyak darah di kediaman adiknya.
"Aku sedang berada di rumah sakit Kak, ana mencoba memutus nadinya."
"Bagaimana sekarang kondisi adikku?" tanya Risti panik.
"Saat ini dokter masih menanganinya, aku mau minta tolong kepada ka ristri untuk membawakan aku pakaian, dompet dan handphoneku, semuanya ada di kamarku."
"Ia Kek, aku dan Papa akan segera ke sana" Risti menutup panggilan teleponnya.
"Maaf pak, sebaiknya Pak Rio menunggu di ruang IGD saja khawatir jika dokter keluar dari ruangan."
"Terima kasih, saya permisi."
Rio kembali menunggu ke ruang IGD, rio benar-benar sangat mencemaskan keadaan istrinya, tak hentinya mulutnya meminta doa untuk keselamatan istrinya."
Beberapa menit kemudian pintu ruang IGD terbuka, Rio bergegas menghampiri dokter yang menangani istrinya, dokter meminta Rio untuk ke ruangannya karena banyak hal yang ingin dokter sampaikan kepada Rio.
"Bagaimana dok keadaan istri saya?"
"Tenang Pak Rio, kami telah berhasil menghentikan pendarahan di nadinya. hanya saja sepertinya istri bapak mengalami depresi, sehingga kami memberikannya obat penenang. Kami telah menyiapkan psikiater terbaik di rumah sakit ini untuk menangani depresinya, tapi kami minta bantuan kerja sama dari Pak Rio dan pihak keluarga untuk sementara menjauhkan istri anda dari sosial media dan TV. Ada berita baik untuk Pak Rio, istri bapak sedang mengandung, tapi Pak Rio sebaiknya menunggu moment yang tepat untuk menyampaikannya kepada istri Pak Rio."
"Benarkah dok?"
Dokter mengeluarkan hasil USG dan memberikannya kepada rio.
"Tadi dokter kandungan telah memeriksanya, sebentar lagi dokter kandungan akan menjelaskan kondisi kandungan istri bapak secara lebih rinci. saya ucapkan selamat ya pak."
Tok... Tok...
Dokter kandungan masuk kedalam ruangan, dan menjabat tangan rio
"Saya ucapkan selamat kepada Pak Rio atas kehamilan istri bapak, namun begini pak dampak depresi saat kehamilan sangat beresiko mengalami gangguan perkembangan dan rentan mengalami keguguran. Kita harus segera mengatasi depresi istri Pak Rio, peranan bapak sebagai suaminya sangatlah di butuhkan berikan support system yang kuat untuk istri bapak. Saat ini istri bapak telah kami pindahkan keruang perawatan, Pak Rio suah bisa menemuinya."
__ADS_1
Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, Rio nampak gamang entah harus senang atau bersedih. Rasa takut mulai menghantui dirinya, ia takut jika terjadi sesuatu dengan janin yang berada di kandungan istrinya.