
Anak buah Devan segera berjalan ke dekat Diki.
Diki sama sekali tidak menyadari dengan kedatangan anak buah Devan.
Anak buah Devan dengan sengaja menabrakkan diri pada Diki,, tapi Diki lah yang merasa bersalah.
"Maaf tante,," ucap Diki sambil membantu anak buah Devan berdiri.
Hah tante? emang aku udah terlihat seperti tante-tante yah,,, batin anak buah Devan yang sebenarnya masih seorang gadis.
Anak buah Devan pun segera berdiri sambil tersenyum pada Diki,,, walaupun dia sedikit kesal karena Diki memanggil dirinya tante.
"Ekhhemm apa aku terlihat seperti tante di mata kamu?" ucap anak buah Devan sambil melihat Diki dengan perasaan sedikit kesal.
Diki pun hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Memang kamu bukan tante-tante yah? aku melihatnya begitu,, habis dandanan kamu seperti tante-tante pada umumnya,, maaf kalau salah," ucap Diki sambil berusaha tersenyum pada anak buah Devan.
Astaga begini lah kalau tidak pernah dandan seperti layaknya seorang wanita,,, jadi pas dandan langsung di kira tante-tante,, pasti aku menor banget kali yah dandanannya,,, isshh sungguh memalukan,,, batin anak buah Devan lagi.
"Hmm jangan lihat orang dari dandanannya saja,, karena belum tentu dia itu tante-tante,, ini aku buktinya bukan tante-tante,, walaupun dandanan aku seperti ini,," ucap anak buah Devan lagi sambil masih merasa kesal.
"Oh gitu yah,, ya udah maaf kalau gitu kalau aku salah mengira,, tadi kan aku udah minta maaf memang,, ini sekedar saran yah dari aku jangan lagi dandan seperti itu disaat kamu belum jadi tante-tante,," ucap Diki lagi sambil menahan tawanya begitu melihat ekspresi anak buah Devan.
"Kalau mau tertawa yah tertawa aja,, jangan ditahan-tahan,," ucap anak buah Devan lagi.
"Nggak kok,, aku nggak ingin tertawa,," ucap Diki lagi.
"Hmmm nggak ada maaf gratis,," ucap anak buah Devan lagi sambil tersenyum pada Diki.
Diki tampak mengernyitkan dahinya begitu mendengar ucapan anak buah Devan.
__ADS_1
"Jadi aku mesti bayar nih?" ucap Diki sambil melihat anak buah Devan.
Anak buah Devan langsung tertawa begitu mendengar ucapan Diki.
Haduhh bos ini,, nyuruh aku ngurus cowok seperti ini,,, terlalu polos banget yah,, bisa-bisa dia ini mau di bunuh saja nggak sadar loh kalau mau di bunuh,, tapi tumben juga yah bos menyuruh aku bukan untuk membunuh,, tapi emang pantas sih dia ini nggak di bunuh sepertinya dia ini orang baik,, tapi dia ada masalah apa yah dengan bos sampai-sampai aku harus turun tangan seperti ini,, batin anak buah Devan lagi sambil melihat Diki.
"Kamu kenapa lihatin aku seperti itu?" ucap Diki sambil melihat anak buah Devan.
"Aku lihatin kamu,, karena mikir aja kok ada yah orang goblok sekaligus polos seperti kamu," ucap anak buah Diki lalu tertawa bahagia.
Diki benar-benar langsung melongo begitu mendengar ucapan anak buah Devan.
Anak buah Devan lagi-lagi tertawa begitu melihat ekspresi wajah Diki.
"Bercanda om,," ucap anak buah Devan lagi lalu tertawa.
__ADS_1
"Aku bukan om-om yah,, sembarangan aja kalau bicara," ucap Diki cepat sambil melihat kepada anak buah Devan.
"Oke deh,, kamu kenapa sih jalan seperti tadi,, akhirnya kamu nabrak aku,, untung aja kan jatuhnya aku bagus,,, nggak nyungsep,," ucap anak buah Devan lagi sambil melihat Diki.