
Sesampainya di hotel Rio dan Ana di ajak untuk berkeliling melihat-lihat venue akad dan resepsi, Rio dan Ana sangat puas dengan kinerja dari wedding organizer yang membantu mereka mempersiapan acara pernikahannya.
Tim wedding organizer mengajak Rio dan Ana menuju meeting room hotel untuk membahas kembali konsep pernikahan mereka.
"Bagaimana Mba Ana dan Mas Rio apa sudah pas dengan tempatnya?" tanya tim WO.
"Kami puas dengan tempat yang di tawarkan, tapi kami ingin merubah konsep resepsi pernikahan kami menjadi konsep yang di awal kami ajukan." Jawab rio.
Setelah membahas konsep acara mulai dari malam midodaremi, akad hingga resepsi. kemudian mereka membahas mengenai undangan pernikahan, catering, dekorasi, dokumentasi, MC acara hingga souvenir pernikahan.
Khusus untuk wedding dress, mereka sepakat untuk memesan khusus di salah satu desainer ternama.
Begitu semua konsep di rasa pas, Rio membayar down payment acara pernikahannya kepada tim WO agar tim WO bisa segera mengerjakan tugasnya dengan baik.
Selesai dari hotel Rio mengajak calon istrinya pergi ke suatu tempat, ia menghentikan mobilnya di depan tanah kosong seluas 500 meter persegi.
Ana masih belum mengerti apa tujuan Rio mengajaknya ke tanah kosong yang cukup luas tersebut.
"Aku sengaja hanya beli tanahnya saja, karena aku mau kamu yang desain sendiri istana impianmu yang akan kita tempati nanti bersama anak-anak kita."
"Tapikan kamu sudah punya rumah, untuk apa bikin lagi?" tanya Ana.
"Rumahku hanya ada tiga kamar, lalu anak-anak kita? keluargaku saat mereka berkunjung? keluargamu?"
"Anak-anak?" tanya Ana yang nampak menerawang ke atas.
"Kita akan punya anak setelah kita benar-benar siap, aku sudah jadwalkan konsultasi ke psikolog untuk menyembuhkan traumamu, setelah itu kita akan sama-sama belajar ilmu parenting." Rio mengelus bahu Ana dengan lembut.
"Aku sudah tidak tahu lagi mau ngomong apa, kamu benar-benar seperpare dan sedetail itu. Bahkan untuk hal-hal yang sama sekali tidak pernah terfikirkan olehku, kamu memikirkannya. Aku benar-benar beruntung punya calon suami seperti kamu." ucap Ana.
"Sebenarnya rumah yang akan kita bangun ini jangka panjang kok, sekitar dua atau tiga tahun lagi baru bisa kita tempati, jadi untuk sementara kita masih tinggal di rumahku yang lama."
"Kita bangun sama-sama ya..." Ana menggenggam tangan Rio.
Rio menganggukan kepalanya kemudian menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Kita pesan baju pengantin ya. ajak Rio.
"Iya sayang, tapi untuk gaun dan seragam keluarga serta seragam panitia acara. Kali ini biar aku ya yang bayar."
"Tidak perlu sayang, aku sudah siapkan anggarkan dana untuk pernikahan kita."
__ADS_1
"Tapi sayang tadi malam papa dan Kak Risti sudah mentransferku uang untuk tambahan biaya pernikahan kita."
"Kamu simpan saja sayang."
"Sayang, ini kan pesta pernikahan kita bukan hanya pestamu, aku dan keluargaku juga ingin berpartisipasi dalam acara ini."
Perdebatan pun tak terhindarkan lagi, keduanya sama-sama ingin membayar baju pernikahan mereka. Akhirnya Rio memutuskan langsung mengantar Ana pulang ke rumahnya, karena ia tidak ingin perdebatan semakin panjang.
Tak lama setelah Rio mengantar Ana pulang, Rio menerima panggilan masuk dari Risti.
"Dek, kamu sama Ana berantem lagi?" tanya Risti tanpa berbasa-basi.
"Tidak kok, Kak" elak Rio.
"Jangan bohong kamu!!! Tadi ART di rumah bilang kalau kalian ribut lagi. Tiga hari lagi aku tiba di Indonesia biar aku dan adikmu lyra yang mengurusi semuanya, kamu dan Ana terima beres saja."
"Tapi kak..."
"Sudahlah aku tidak ingin kamu dan Ana bertengkar terus, kamu beri saja Lyra cek untuk biaya pernikahan kalian setelah itu biar kami yang mengurus berapa persen menggunakan uangmu dan uang kami. Dek, aku tahu kamu sangat mampu tapi acara ini adalah acara kita semua jadi izinkan kami berpartisipasi."
"Iua kak aku mengerti."
"Iya kak, terima kasih ya."
"Sama-sama dek" Risti mematikan teleponnya.
Rio memutar arah kendaraannya, ia kembali lagi ke rumah Ana untuk berbaikan dengan Ana. Sesampainya di rumah Ana, Rio melihat ana sedang duduk melamun di taman belakang rumahnya, perlahan Rio memeluk Ana dari belakang.
"Maafin aku ya sayang" bisiknya.
"Maafin aku juga ya, aku sering membantah perkataanmu."
"Bukan kamu yang salah, aku yang egois. Besok kita lanjutin lagi ya persiapan pernikahannya." Rio duduk di sebelah Ana
"Besok foto prewedding ya?" tanya Ana.
"Ia besok foto prewedding sama pesan baju, masalah pembayaran biar nanti kak risti dan lyra yang mengurusi. Mereka juga yang melanjutkan persiapan acara pernikahan kita." ucap Rio.
Drrrttt.... Drrrrttt....
Handphone rio kembali bergetar, namun kali ini panggilan masuk dari Adit.
__ADS_1
"Kenapa Dit?" tanya Rio.
"Maaf mengganggu pak rio, saya hanya ingin menyampaikan jika mitra yang di cabang bandung sudah tiga kali melakukan pelanggaran kontrak." jawab adit.
"Ya sudah untuk sementara di tutup saja dulu gerainya, lalu adakan audit, kita ambil alih kembali gerainya."
"Baik pak."
Rio mematikan sambungan teleponnya.
"Ada masalah apa sayang?" Tanya ana.
"Biasa masalah kantor, tapi ya sudahlah tidak perlu di fikirkan." Rio merebahkan kepalanya di pangkuan Ana, mengobrol santai dengannya.
Keesokan harinya rio pagi-pagi sekali sudah datang menjemput ana, ana sudah menunggu rio di depan teras rumahnya dengan membawa kotak bekal untuk sarapan bersama rio di mobil.
"Waktu kamu di Jerman, mudah sekali untuk mengontrol pola makan dan olah raga. berbulan-bulan aku membentuk tubuh yang ideal, sekarang aku jadi gendut karenamu." gerutu Rio.
Ana hanya tersenyum, mendengar gerutuan rio, meskipun rio menggerutu ia tetap membuka mulutnya ketika ana hendak memasukan sendok ke dalam mulutnya.
"Kita pesan baju dulu ya, aku sudah janjian sama desainernya." Ajak rio.
Untuk urusan baju, rio yang lebih mendominasi pembicaraan di bandingkan dengan ana. Rio tidak ingin ana memakai pakaian yang terbuka dan membentuk lekuk tubuhnya, rio begitu protektif terhadap apa yang di kenakan ana.
Bukan hanya pakaian pengantin yang di rancang khusus untuk pernikahan ana dan rio, aksesoris yang nanti yang akan di kenakan ana dan rio pun di rancang secara khusus untuk keduanya.
Selesai dari gerai desainer, rio melajukan kendaraannya menuju studio foto. mereka akan melakukan sesi foto prewedding. Ada dua sesi foto yang akan di ambil oleh ana dan rio outdoor dan indoor, namun hari ini mereka hanya mengambil indoor untuk outdoor menyusul minggu depan pada saat semua keluarga berkumpul.
Sambil memantau perkembangan kurva sahamnya rio memperhatikan ana yang sedang di makeup, terkadang rio masih tidak percaya wanita yang bertahun-tahun hanya ada di dalam mimpinya kini ada di hadapnnya bahkan sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Sayang, kok bengong? aku sudah selesai, cantik tidak?" tanya Ana.
"Tiap hari kamu selalu tampak cantik sayangku."
"Gombal, sudah yukk biar cepet beres." Ana menggandeng tangan Rio menujuntempat pemotretan.
Foto prewedding konsep living room yang di pilih Rio, konsep ini memberikan kesan yang seakan memperlihatkan kehidupan yang kelak akan dijalani oleh ana dan rio, seperti besantai dan memasak bersama.
Rio yang sama sekali tidak pernah berfoto studio terlihat sangat kaku, dengan sabar Ana mengajari Rio untuk melakukan beberapa pose agar terlihat lebih natural.
__ADS_1