Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 30


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Rio kembali menjaga Ana, ia ingin menjaga Ana lebih dekat kemudian Rio masuk ke ruang ICU memakai pakaian khusus.


Rasa sakit kembali melandanya ketika Rio memperhatikan sekujur tubuh Ana terlihat begitu lemah dan banyak memakai alat bantu, ia masih tidak menyangka jika wanita yang sangat dicintainya berada dalam kondisi seperti ini.


"Sayang sampai kapan kamu mau tidur seperti ini? aku rindu sekali denganmu" ucap Rio lirih menahan tangisnya.


"Sebentar lagi kita akan menikah, kamu masih mau kan menikah denganku? aku mohon, bangunlah sayang"


"Sayang maafkan aku, harusnya aku yang melindungimu, bukan kamu yang justru menyelamatkan aku" Rio tidak bisa lagi menahan isakan tangisnya, air matanya mengalir deras jatuh ke wajahnya, ia menumpahkan semua rasa kesedihannya.


Sebelum Rio pergi meninggalkan ruang ICU ia membisikan surat Ar-Rahman, surat yang rencananya ingin ia persembahkan kepada Ana saat dirinya dan Ana menikah nanti.


"Shadaqallahul Adzim. Aku ke luar dulu ya, nanti aku akan masuk lagi" Rio melangkahkan kakinya keluar dari ruang ICU.


Ketika Rio keluar dari ruang ICU, ia melihat ibu sedang berbicara dengan seorang pria dan seorang wanita. Rio nampak tak asing dengan wanita tersebut, wanita itu adalah Risti kakak kandung Ana.


Pria itu menoleh ke arah Rio kemudian menghampiri Rio, ia hanya menatapnya datar.


"Saya Reino Alfian, ayah kandung Ana" Pak Reino mengulurkan tangannya kepada Rio.


"Saya Rio." Rio menerima jabatan tangan ayahanda Ana.


Pak Reino mulai berkaca-kaca, raut kesedihan nampak jelas di wajahnya meskipun ia berusaha untuk tetap tenang dan tegar, Pak Reino memeluk Rio dengan hangat.


"Terima kasih telah menjaga Ana, saya ingin bertemu dengan putrinya"


Rio mengangguk dan mempersilahkan Pak Reino untuk masuk ke dalam ruang ICU.


Pak Reino mengenakan pakaian khusus untuk bisa menemui putri bungsunya di ruang ICU, ia mulai mendekat ke arah Ana yang berbaring lemah di atas tempat tidur, rasa penyesalan memenuhi relung hatinya.


"An, maafkan papah. Maafkan papah yang belum bisa menjadi papah yang baik untukmu, maafkan papah yang tidak bisa menjagamu."


"Maafkan papa nak, maafkan... huuuu....hiks..." Pak reino tidak dapat lagi menahan menahan kesedihannya.


Ana masih saja tetap diam, tak bergerak sedikit pun. Setelah beberapa lama Pak Reino berada diruang ICU, ia memutuskan untuk keluar dari ruang ICU, karena ia sudah tidak tega melihat kondisi putrinya.


Melihat papa nya keluar dari ruang ICU Risti mendekati papanya, menanyakan kondisi ana.


"Pah, bagaimana kondisinya Ana?" tanya Risti dengan raut wajah cemas.

__ADS_1


Pak Reino hanya menggelengkan kepanya, ia menangis sambil memeluk putri sulungnya.


"Pah, Risti mau lihat keadaan Ana" ucap Risti.


"Jangan!!! aku tidak ingin kau menyakiti Ana lagi" Rio berbicara dengan nada yang tegas kepada Risti.


Masih jelas dalam ingatan Rio bagaimana Risti mengusir Ana dari rumahnya, Rio tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti wanita yang ia cintai.


"Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi, aku hanya ingin mengetahui kondisinya dan meminta maaf kepadanya" ucap Risti memelas.


Rio menatap wajah Risti dengan sungguh-sungguh, ia menangkap raut penyesalan dan kesedihan di wajah Risti sehingga Rio memperbolehkan Risti masuk ke ruang ICU.


Dengan ragu-ragu Risti berjalan mendekat ke arah adiknya, kemudian ia duduk di samping Ana.


Buliran-buliran bening menetes di pipinya tanpa ia bisa tahan, sesak rasanya melihat satu-satunya saudara kandung dalam kondisi seperti ini, penyesalan demi penyesalan menggerogoti hatinya.


"Dek, Ma..mafkan kakak hiks..." Risti berbicara secara terbata-bata.


"Dek, maafin kakak yang selalu jahat kepadamu, kakak tidak pernah bisa menjadi kakak yang baik untukmu."


"Maafin kakak yang selalu menyalahkanmu atas meninggalnya mama, padahal kamu sama sekali tidak bersalah, harusnya kakak bisa menjadi pengganti sosok mama yang menjaga dan merawatmu."


"Aku sadar mama meninggal karena sudah atas kehendak Allah, bukan karenamu"


Tiiiit... tiiiit... tiiiit...


Monitor pengukur tekanan detak jantung ana secara bertahap mengalami kenaikan, Risti nampak bingung dan panik dengan apa yang terjadi.


"Apa ini sebuah kemajuan atau justru sebaliknya." gumam Risti


Tiiiit... Tiiiiit... Tiiiiit...


Detak jantung pada grafik semakin bertambah, Risti yang mulai menyadari itu bergegas memanggil perawat.


Satu orang perawat menghubungi dokter jaga dan dokter spesialis, sementara perawat lainnya mengecek kondisi Ana.


Tak lama kemudian dokter jaga dan dokter spesialis datang ke ruang ICU untuk memeriksa Ana, salah seorang perawat meminta Risti untuk keluar dari ruang ICU.


Melihat beberapa dokter masuk ke dalam ruang ICU serta melihat risti yang keluar dari ruang ICU dengan muka panik, membuat rio segera menghampiri risti.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan terhadap Ana?" tanya Rio dengan setengah berteriak kepada Risti, hingga membuat Risti ketakutan.


Sebenarnya Rio menyadari jika dirinya hanya sebatas tunangan Ana, belum menjadi bagian dari keluarga Ana namun Rio tak akan membiarkan siapa pun menyakiti wanita yang ia cintai.


"A...aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya meminta maaf atas semua kesalahanku padanya" ucap Risti terbata-bata, ia tak berani menatap Rio.


Ibu yang melihat anaknya dalam keadaan emosi segera menghampiri Rio untuk menenangkan putra sulungnya.


"Le yang sabar dulu, kita tunggu dokter memeriksa Ana. Kita duduk dulu yuk." Ibu menarik tangan Rio untuk duduk bersamanya di ruang tunggu.


"Jika terjadi apa-apa dengan Ana, aku akan membuat perhitungan padamu" ancam Rio kepada Risti, kemudian ia berbalik mengikuti peintah ibunya untuk kembali duduk menunggu dokter yang sedang memeriksa Ana.


Satu jam kemudian pintu ruang ICU terbuka, beberapa anggota tenaga medis keluar dari sana, semuanya langsung menyerbu dokter yang keluar dari rungan.


"Bagaimana keadaan tunanganku dok?" tanya Rio.


"Bagaimana keadaan putriku dok?" pertanyaan secara beruntut datang dari Rio dan Pak Reino.


"Semuanya harap tenang, kondisi pasien baik-baik saja. Kami telah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap pasien, saat ini pasien sudah mulai stabil. Namun kami masih memantau perkembangannya, jika sudah memungkinkan pasien akan di tempatkan di ruang perawatan."


"Apa kami sudah bisa melihatnya dok?" tanya Rio.


"Bisa tapi hanya terbatas, dua orang saja itu pun waktunya terbatas.Tadi saya sempat mendengar pasien menyebut nama Kak Risti, jika ada bisa silahkan masuk."


"Saya dok." jawab Risti.


Dokter mempersilahkan Risti untuk kembali masuk ke dalam ruang ICU, Risti pun kembali mengenakan pakaian khusus kemudian mendekat ke arah Ana.


"Dek, bagaimana keadaanmu?"


"Kak... maafin Ana ya" ucap Ana terbata-bata.


"Enggak dek, harusnya kakak yang minta maaf karena sudah terlalu sering menyakitimu, kakak bukan kakak yang baik, huuuu...hiiiiks..." Risti menangis tersedu-sedu.


"Kakak janji akan jadi kakak yang baik untukmu, kakak sayang kamu dek."


"Ana juga sayang sama kakak."


Saat Risti sedang memeluk Ana, perawat datang menghampiri perawat tersebut meminta Risti untuk keluar karena waktu berkunjung telah habis, Ana masih belum bisa berlama-lama di ajak berbicara.

__ADS_1


Sementara itu di luar ruangan, Rio meminta ibunya untuk kembali ke rumahnya karena sudah sore.


Rio tak ingin ibunya jatuh sakit karena kelelahan, Rio menyuruh karyawan gerainya menjemput dan mengantarkan ibu berserta Bik Ima pulang.


__ADS_2